Jodoh Di Tangan Tuhan, Cinta Susah Di Lepaskan

Jodoh Di Tangan Tuhan, Cinta Susah Di Lepaskan
seleksi 1


__ADS_3

fajar menyingsing, pagi menyapa bibi nena masih di rumah membantu keperluan berkemah nena selama 3 hari paman nena telah berangkat lebih dulu kepasar untuk berdagang, bibi tinggal dan akan menyusul sebentar lagi, nena bangun lebih pagi dari biasanya pukul 5 pagi, nena bangun setengah 4 pagi bersama paman dan bibinya dia menyiapakan perlengkapan dan keperluannya sendiri sekali-kali di bantu bibinya karena bibinya juga membantu paman yang akan berangkat ke pasar lebih dulu.


selesai berkemas nena mengecek elen yang juga sudah selesai bersiap, mereka menunggu jemputan dari pihak sekolah. Sambil menunggu mereka berbincang sebentar "el kamu bawa apa aja"' tanya nena menengadah menghadap wajah elen sambil liat-liat barang bawaan elen.


"oh ini yah sama kayak kamu sih" kata elen singkat.


tiba-tiba sang bibi memanggil nena "nena semuanya sudah siap dan mobil jemputan kalian sudah menuju kemari, ayo siap-siap sayang".


bibi nena sangat menyayanginya memperlakukan nena seperti anak kandungya dia selalu menyiapkan kebutuhan nena pada saat seperti ini.


"nena ini uang jajanmu untu beberapa hari di perkemahan, jangan sungkan untuk jajan, belilah apa yang ingin kamu beli bekalmu ada di kantong hitam itu kalau ada waktu bibi akan menengokmu di perkemahan okeh?"kata bibi sambil memberikan beberapa lembar uang,


"baiklah bi, terima kasih bibi boleh berangkat itu mobil baknya sudah sampai" sambil menyalami bibinya.


"baiklah hati-hati, jangan sungkan untuk jajan kalau habis nanti kasih tau bibi lewat gurumu yah, nanti bibi datang sama paman" bibi memperingati nena, karena dia tau nena itu anak yang sangat hemat dan sangat sungkan untuk menghabiskan uang jajannya, selama belum terlalu lapar atau haus dia tidak akan jajan, selama masih bisa di tahan dia tidak akan membeli apapun. Itulah nena yang tak suka menghamburkan uang walaupun bibinya sering memberinya uang lebih, dia lebih memilih menabung, dia saja sudah punya rekening tabungan sendiri, dengan cara mengumpulkan sisa uang jajan selama seminggu di tambah dengan uang pemberian bik inah karena membantunya di kantin sekola, yah setelah istirahat nena akan langsung membantu bik inah melayani pembeli di kantinnya seperti menyiapkan hidangan dan mencuci piring dia hanya akan makan sebuah gorengan dan minum segelas air lalu langsung membantu bik inah, dia merasa sudah sarapan dari rumah jadi tak perlu jajan makanan di kantin, adakalanya uang jajannya tak akan berkurang di tambah dengan sedikit uang dari bik inah karena upah membantunya, bik inah sangat senang karena di bantu nena yang notabenenya memang anak yang rajin, semua guru menyayanginya padahal sekolah tempat nena mengenyam pendidikan termasuk elit walau tak se elit SD krisan, awalnya banyak anak yang membulinya lama kelamaan mereka sudah tak berani lagi karena banyak guru yang melindunginya, bahkan sekarang ada beberapa anak yang mengikuti jejaknya namun bekerja di kantin lain mereka senang karena bisa dapat jajan tambahan, baru masuk 2 tahun dia bersekolah di SD melati sudah di jadikan murid teladan karena pandai, rajin dan pekerja keras. Bik inah memeberikan upah berdasarkan banyaknya siswa dan yang makan di kantinnya kalau banyak maka akan lebih kalau kurang maka hanya pas-pasan pula yang di berikan apalagi pada saat sekolah mengadakan pertemuan dengan wali murid otomatis sekolah akan tambah ramai uang upah pun otomatis bertambah apalagi saat pertemuan dengan wali murid otomatis tak akan belajar selama waktu tertentu selama itu pula dia akan membantu. nena sangat jarang bermain dengan teman sebayanya selama di sekolah, dia akan bermain setelah sampai di rumah itupun setelah selesai mengerjakan tugasnya di rumah. Buku tabungan nena sudah lumayan banyak isinya.


....


setelah selesai memuat barang nena dan elen pun akan naik ke mobil bak terbuka itu tapi tiba-tiba ada mobil yang berhenti di depan mobil bak mereka, dan ternyata itu mobil bryan.


bryan segera bergegas turun dari mobilnya dan menawarkan tumpangan untuk nena dan elen "nena, elen kalian ikut mobil kakak saja kebetulan kakak juga mau ke lokasi perkemahan".


"gak usah kak kita naik mobil ini saja sama teman-teman kami" jawab nena dengan sopan.


namun bryan tidak menyerah dia langsung bicara dengan guru pendamping yang mengawal siswa "pak agus biar nena sama elen ikut saya ya pak? kan sana-sama akan ke perkemahan saya cukup jenuh duduk sendiri".

__ADS_1


pak agus agak bengong kemudian "ah baiklah, tidak apa-apa. nena elen kalian ikut saja toh mobil ini sudah agak sesak".


bryan senang bukan main karena pak agus mau membantunya agar nena mau ikut mobilnya "iya, nena lagian terlalu panas naik bak terbuka seperti itu" dengan wajah yang agak memohon, akhirnya nenapun luluh dan mengajak elen untuk naik ke mobil bryan. "elen ayo kita naik di sini saja" sambil menggandeng sahabatnya itu.


"baiklah" elen ikut saja dengan senang karena tak perlu panas-panasan di mobil bak terbuka itu.


flash back..


bryan bengong menatap peralatan berkemahnya yang sudah di packin dalam mobil, tiba-tiba indra menelponya "bro, kayaknya gue datengnya agak sorean soalnya mau jenguk nenek gue dulu ke rumah sakit lu duluan aje, lagian kita gak semobil oke?".


bryan mendesah "huft, baiklah". Bryan duduk sebentar mengecek nama-nama siswa yang akan dia dampingi, membaca keseluruhan tiba-tiba dia berhenti di satu nama iyalah SELENA ADILA, dia tersenyum dan bergumam "gimana kabarmu gadis kecil" sambil membayangkan wajah nena yang menurutnya sangat cantik juga manis "andai kamu sudah agak besar, seperti adik kelasku atau mungkin seleting denganku pasti bagus" kemudian menggelengkan kepalanya "aduh, apaan sih masa suka sama gadis kecil".


dari dalam rumah terdengar suara meiling "kak, aku ikut kamu yah, aku juga mau seleksi".


"gak ah, bawaanmu banyak bangat pakelah mobil sendiri mana sopirmu, lagian kakak masih ada sedikit urusan" lalu melengos pergi.


bryan memacu mobil dengan kecepatan sedang tiba-tiba melintas sebuah mobil bak berspanduk rombongan SD mawar, lalu teringat nena diapun memutar balik mobilnya yang hampir sampai di tempat berkemah dengan kecepatan penuh seperti orang buru-buru "mudah-mudahan masih sempat". Saat mau dekat di lokasi rumah nena dia melihat mobil bak mengangkut barang nena dan elen dan langsung mau jalan, dia pun buru-buru menghentikannya.


flash back end..


...


dalam perjalanan mobil sangat hening, tak lama kemudian elen memulai percakapan karena perjalanan akan lumayan jauh "kak, kenapa kakak menjemput kami?" tanya elen penasaran nena hanya menyimak sambil melihat ke ke arah samping. Dengan muka memerah menahan malu bryan menjawab "ah, bukan menjemput kalian hanya kebetulan kakak ada urusan di dekat sini karena kebetulan lewat dan kakak lihat kalian belum berangkat juga jadi kakak nawarin tumpangan daripada panas-panasan dan sempit-sempitan mending di sini kan dah gitu kakak malas cuma sendiri tak ada teman ngobrol" sambil melirik nena lewat cermin spion dengan deg-degan khawatir nena gak percaya. Memang dalam hati nena gak percaya "apaan, jelas-jelas sengaja jemput masih ngelak, boong bangat sih" namun kata itu tertahan tak mampu di unkapkan, karena nena pun bersyukur tak perlu panas-panasan di bak terbuka walau agak egois tapi sekali-kali begini gak papa diapun sudah capek dari pagi buta sudah bangun ingin tidur walau hanya sebentar di mobil ini, tak lama diapun segera tertidur. Elen yang melihat sahabatnya tidur niat mau membangunkan namun di berhentikan bryan "jangan kelihatannya dia mengantuk" sambil mengeluarkan bantal kecil berbentuk bola dari dashbor untuk menyangga leher, dia mengentikan mobil sebentar dan menyangga leher nena dengan hati-hati takut nena terbangun, elen yang melihat hanya menatap heran dan bingung namun tak brtanya.


bryan yang melihat nena terlelap dengan wajah yang kelihatan agak capek kemudian bertanya pada elen "elen kenapa bisa dia mengantuk dan capek seperti itu? seperti orang habis bergadang saja".

__ADS_1


elen pun meceritakan perihal kenapa nena bisa mengantuk "gimana gak ngantuk kak, kemarin sepulang sekolah dia gak tidur siang, langsung menyiapkan peralatan yang akan di bawa keperkemahan hari ini seperti packing baju dan peralatan dan itu memakan waktu sampai jam 3 sore karena lumayan banyak, ibuku saja yang membantuku packing barangku bisa makan waktu sampai 2 jam lebih apalagi nena yang packing sendiri, setelah packing dia mengerjakan tugas sekolahnya untuk di titipkan ke teman di serahkan ke guru, tugas sekolah kami lumayan banyak jadi selesai sekitar 1 jam karena dia juga membantuku menjelaskan yang tidak ku mengerti sampai bisa kalau dia kerjakan tugasnya sendiri gak akan selama itu paling 15 menit kelar karena orangnya sangat pandai, aku berteman sama dia sangat beruntung aku tadinya hanya peringkat 10 atau 11 bahkan ada sampai peringkat 15, setelah dia pindah ke sekolahku dia selalu mengerjakan tugas denganku apa yang tidak kumengerti dia bantu menjelaskan di sekolah pun sama aku juga yang malas belajar jadi suka belajar karena dia mengajarkan aku dengan cara yang sangat mudah di pahami hingga sekarang peringkatku naik sampai ke peringkat 4 bahkan bisa 3, banyak yang kagum dia hanya seorang murid baru bisa juara 1 itupun nilanya sangat tinggi hingga peringkat 1 umum di sekolah. Setelah mengerjakan tugas bersama dia langsung membersihkan rumah seperti nyapu sama ngepel kira-kira sampai jam 5 sore kerjaanya kelar habis itu begitu bibi dan pamannya pulang dia langsung ikut merapikan barang bawaan dan mencucinya gak terasa hari sudah gelap dia buru-buru mandi habis mandi langsung melipat pakaian yang di cuci bibinya sampai pukul 8 malam habis itu makan malam, selesai itu dia membantu menyiapkan bahan jualan paman dan bibinya karena lumayan banyak sampai selesai jam 10 malam baru itu dia tidur, masih sekitar setengah 4 pagi dia sudah bangun menyiapkan dagangan yang akan di bawa walau biasanya dia bangun jam 5 pagi, karena dia juga akan mengemas yang akan di bawa ke perkemahan, bibinya gak bisa bantu karena dia lagi masak untuk bekal nena dan pamannya lebih sibuk lagi karena mempersiapkan barang dagangan. Nanti selesai semua dia baru mandi jam 6 pagi, ngantuk gak, aku aja bangunnya nanti jam setengah 7 pagi" jelas elen panjang kali lebar yang bangga sekaligus prihatin dengan sahabatnya itu.


bryan tertegun sambil melirik ke arah nena yang sedang tidur dia sangat kagum gimana bisa anak sekecil ini mengerjakan itu semua, apakah kuat? Kok bisa, dia saja mungkin gak sanggup namun itu semua tertahan di hatinya, hatinya serasa teriris-iris mendengar penjelasan elen tentang kegiatan nena, kemudian bertanya "apa dia kuat dengan semua itu dia hanya gadis yang berbadan kecil loh?".


elen menjawab dengan bangga "kak, nena itu orangnya kuat dia itu bangunnya jam 5 pagi, sebelum berangkat sekolah kegiatannya banyak, sampai di sekolahpun dia akan bantu bik inah di kantin untuk melayani pembeli selama bel masuk belum berbunyi". Bryan tersentak "hah, kenapa dia bantu ibu kantin?"


"yah dia cari jajan tambahanlah kak, dia akan bantu bik inah sebelum apel pagi sama waktu istirahat atau jam kosong, bik inah akan memberinya upah" jawab elen dengan tersenyum.


bryan bingung "memang bibinya gak ngasih jajan?".


"kasihlah, malah lumayan menurutku" elen menengadah menjelaskan.


bryan makin bingung "terus ngapain kerja lagi emang dia gak main gitu sama kalian?".


"di sekolah dia gak akan main, dia main kecuali di rumah itupun ada waktunya, kalau bik inah tutup karena suatu alasan dia hanya akan baca buku dan ngulang pelajaran. Di sekolah sering dia bawa bekal dari rumah sangat jarang melihatnya jajan aku yang anak royal bisa di hitung jadi hemat berkat temenan sama dia, uang jajannya di simpan trus tambah yang dari bik inah jadi lumayan anak lain uangnya habis dari sekolah punya dia malah bertambah" jawab elen.


"lah terus uangnya buat apa gitu?" tanya bryan bingung sangat bingung.


"buat di tabunglah kak buat apalagi, kamu lihat dia begitu dia udah punya rekening tabungan yang di bantu bibinya uruskan, setiap seminggu sekali dia menyetor tabungan dari hasil ngumpulin uang jajan sama upah dari bik inah dan itu lumayan banyak, uang jajan yang di kasih bibinya setiap hari ada dua puluh ribu rupiah karena makanan kantin harganya sepuluh ribu minum lima ribu, sisanya yah buat jajan yang lain, upah dari bik inah berbeda kalau lagi sepi adakalanya cuma 25 ribu kalau ramai sampe 50ribu apalagi kalau ada pertemuan orang tua siswa bisa 100ribu upahnya coba di tambah-tambah bisa 400ribu lebih penghasilannya seminggu, hari libur dia akan membantu bibinya di pasar dan akan di berikan upah sampai 50 ribu gak masuk uang jajan walau nena gak mau terima karena dia bantu hanya karena terima kasih sudah di bantu sekolahnya, bibinya selalu memaksa, setiap senin sore dia akan menyetor ke bank di temani bibinya misalnya yang akan di setor hanya 230ribu akan di tambah ama bibinya jadi 300 begitu juga kalau 300lebih pasti akan di bulatkan sampai 400 dan begitu seterusnya aku sering ikut mereka ke bank dan yah tabungannya dah banyak aku saja iri sampai kemarin aku buka rekening sendiri minta papa bantu isikan hehe...?".


bryan sangat sangat sangat terkejut kok bisa ada anak yang seperti itu yah " terus orang tuanya gak kirim uang gitu?" selidik bryan.


"ada kok kak, yah tapi di balikin ama nena dan itupun di tambah sama dia karena dia tau orang tuanya susah, karena gak ada gunanya mengirim orang tuanya hanya mengiriminya beras sama bahan makanan hasil kebun mereka, bibi sama pamannya sudah senang dengan seperti itu, kakak tau gak dia beli buku sama perlengkapan sekolahnya sendiri. Hebat gak?" tanya elen pada bryan, bryan pun hanya mengangguk.


bryan diam, dalam hati sangat mengagumi sosok nena yang pekerja keras dan menyayangi orang tuanya, jantungnya tak karuan dia merasa sudah gila karena sudah mengagumi sosok gadis kecil, dalam diam dia berangan "andaikan dia jodohku aku akan membahagiakan dia, tak akan membiarkan dia bekerja sekeras itu" dia menghela napas dalam-dalam kemudian melepaskannya, demi mengurangi sesak yang menghimpit dada mendengarkan penuturan elen tentang nena yang sangat mengagumkan.

__ADS_1


...


tak terasa perjalanan mereka telah sampai di tujuan.


__ADS_2