Jodoh Di Tangan Tuhan, Cinta Susah Di Lepaskan

Jodoh Di Tangan Tuhan, Cinta Susah Di Lepaskan
persiapan goes to Singapore 2


__ADS_3

setelah selesai berbincang dengan Bu Nita lewat telepon lalu Bu Tuti mengangkat semua barang tersebut menuju dapur di bantu pak Iwan suaminya meninggalkan anak-anak yang sedang bermain, Bu Tuti melanjutkan pekerjaannya membuat cemilan.


di teras rumah meiling, Nena, elen dan Nina sedang berbincang.


"na...ibumu mengizinkan Nina untuk menginap di rumah Malam ini" mei mebelai rambut Nina.


"oh...baguslah kalau di izinkan...oh..adem jangan nakal ya dengerin apa kata kak mei..harus sopan sama mama papanya kak mei ok?" Nena memberikan wejangan singkat namun dia tak khawatir karena dia tahu adiknya itu sangat baik.


kemudian mereka membahas tentang persiapan goes to Singapore nanti apa saja yang akan di bawa.


"Nena..elen..kalian bawa apa aja"


"kalau aku sih bawa barang seperlunya aja mei... nggak tau kalau elen.. karena kulihat tadi barang bawaannya cukup banyak sekitar 3 koper, punyaku cuma 1 koper itupun nggak penuh..aku heran kenapa punya elen bisa sebanyak itu... punya kamu sedikit juga kan mei?" Nena memandang meiling


"punya elen justru sedikit punyaku sampe 8 koper he.,.. hehehe" Nena dan elen sangat terkejut.


"tuh...na mendingan aku daripada mei...aku kenapa punya kamu cuma 1 koper padahal kan mesti bawa perlengkapan Pramuka dan baju ganti nggak mungkin sedikit dong bawaannya" elen heran kenapa temannya itu cuma bawa sekoper pakaian meiling yang mendengar perkataan elen juga mengangguk.


"HM ..kan pakaian bisa di cuci setelah mandi jadi nggak akan kehabisan pakaian nanti" elen dan meiling menggelengkan kepala mereka mendengar jawaban sahabat mereka itu mereka lupa kalau Nena itu berbeda.


mereka pun melanjutkan percakapan tentang apa aja yang di bawa dan apa aja yang akan mereka lakukan di sana nanti, asyik bercakap-cakap tak terasa sore hari sudah tiba dan sopir yang menjemput meiling sudah tiba.


"Nena,,,elen makasih yah untuk hari ini dan Nina ayo kita berangkat" meiling menggandeng tangan Nina belum sempat mereka keluar rumah Bu Tuti memanggil mereka.


"dik mei tunggu sebentar...ini buat kamu sudah ibu kemas seperti punya elen dan nena banyak nya juga sama..dan ini untuk keluargamu yah...titip salam buat ibumu...dan Nina jadilah anak yang baik" ibu Tuti mencium kening Nina dan mei secara bergantian lalu menyerahkan bingkisan kepada sopir.


"ma...mmakasih yah buk... kebetulan punya saya sudah habis di makan sama orang rumah..ibu tau aja punya saya sudah habis" meiling sumringah menerima bingkisan itu lalu mencium tangan Bu Tuti dan berpamitan pulang.


selepas meiling pulang elen juga berpamitan mereka sangat antusias menantikan kepergian mereka ke Singapura. di perjalanan pulang meiling tak henti-hentinya bercengkrama dengan Nina sopir yang di belakang kemudi memperhatikan lewat Sion dia tersenyum dalam hatinya berkata "Nona sudah lebih baik di banding dulu yang banyak diam pertemuannya dengan dik Nena dan elen itu suatu berkah semoga nona nggak murung lagi, dan yah adik dik Nena ini sangat imut dan menggemaskan" lalu dia melajukan mobilnya membelah jalanan dengan perlahan tak terasa mereka sudah sampai sopir membukakan pintu mobil dan membantu mengangkat barang.


meiling menggandeng tangan Nina dan membawanya masuk ke dalam rumah, Indra yang berada di ruang tamu terkesima melihat gadis kecil yang di gandeng oleh meiling dan perlahan mendekati mereka "wah mei siapa ini cantik sekali dan sangat imut?" spontan Indra mencubit pipi Nina tanpa sadar saking menggemaskannya Nina di matanya.


"halo...kak nama saya Nina saya adiknya kak Nena...kalau kakak siapa" Nina sudah terbiasa dengan itu dia tersenyum lebar dengan sangat menggemaskan saat memperkenalkan dirinya pada Indra, perasaan Indra seperti tertusuk sesuatu "ah...dia benar-benar imut" tiba-tiba ada sesuatu yang mengalir di hidungnya, yah Indra mimisan saking tak kuatnya menahan diri karena keimutan Nina yang keterlaluan


"wah...Nina ya namanya, nama kakak Indra adik cantik sini kakak gendong" lalu Indra langsung menggendong Nina, ya Nina hanya menurut saja melihat' Nina yang tidak membantah sontak Indra langsung menggendong Nina dan menciumi pipi Nina kanan kiri saking gemasnya.


"hey..kak dia itu aku yang bawa kenapa jadi kakak nyosor sih...dasar mesum" meiling kesal dengan Indra yang main menyerobot padahal dia yang membawa Nina kerumahnya.


"eh...cebong ini nanya kegemasan kamu sih pikirannya negatif Mulu ke aku" Indra dan meiling memang suka saling mengerjai dan itu sudah biasa walaupun Indra kadang bikin meiling menangis masa kecil mei juga menggemaskan Indra yang banyak mengajaknya bermain Bryan sendiri hanya sekali-kali mau meladeni meiling.


"ada apa sih ribut-ribut" tiba-tiba Bu Nita sudah di ruang tamu.


"mah ini Nina adiknya Nena dia aku ajak main kerumah malam ini dia nginep dan itu ..." belum kelar meiling berbicara entah bagaimana caranya Bu Nita sudah memangku Nina "hahhh... apakah ini yang di maksud elen keluarganya melupakannya karena Nina" tadinya meiling mau bilang pasal bingkisan namun omongannya tertahan melihat ibunya yang sudah sangat gemas dengan Nina, meiling hanya bisa pasrah sambil menggelengkan kepalanya, Nina seperti zimat pembawa kebahagiaan.


"nak...kamu namanya siapa cantik sekali mirip Nena tapi versi menggemaskan" tak henti-hentinya Nita menciumi pipi Nina dengan sangat gemas.


"halo Tante nama saya Nina yah saya adiknya kak Nena" Nina tidak risih dengan apa yang dilakukan oleh Bu Nita.


"wah...pinter kamu udah sekolah"

__ADS_1


"iya...saya jelas 2 SD Tante"


"jangan panggil Tante panggil mama saja soalnya kakakmu juga manggil Tante mama"


"baik mama cantik" mendengar jawaban Nina Nita tambah senang lalu Nita di kagetkan dengan suara meiling yang memanggilnya


"mah ini ada titipan dari ibu Nena, ini buat mama sama yang lain dan spesial untukku kalian nggak boleh sentuh yang ini sudah cukup punyaku kalian habiskan Tempo hari" meiling bergerak cepat menyelamatkan cemilannya dan membawanya ke kamar.


"Nina ayo ke kamar kakak, kita main di sana" Nina hanya mengiyakan dan berpamitan dengan Indra dan Bu Nita. keduanya menuju kamar sesampainya di kamar mata Nina terbelalak melihat kamar meiling yang sangat mewah penuh dengan boneka dan barang lainnya " wow...kak mei kamarnya bagus sekali" Nina melihat sekeliling.


"ini hanya kamar nggak apa-apa ayo kamu mau main apa" meiling mengajak Nina ke ruang bermain yang terhubung langsung dengan kamarnya.


"waw...kak ada yang seperti ini juga keren" mata Nina berbinar-binar melihat banyaknya mainan seumur hidup dia belum pernah melihat mainan sebanyak itu.


"yah kakak jarang memainkannya karena nggak punya teman sekarang kan ada Nina, ayo kita main" Nina mengangguk dengan kuat karena sudah tak sabar ingin bermain, mereka bermain berbagai macam mainan dari boneka hingga masak-masak.


di tempat lain Bu Nita merapikan bingkisan yang di bawa oleh meiling dan Indra menuju ke kamar Bryan sesampainya di sana ternyata Bryan Bru selesai mandi dan berganti pakaian


"woy bro adik iparmu datang tuh...tau nggak dia itu sangat imut dan menggemaskan kalau Nena kan terkesan cool dan dewasa kalau Nina khas anak-anak aku Ama mama cantik aja Ampe gemas, ternyata emang keturunan yah itu cantik mamanya cantik, adiknya juga dulu kita datang kerumah Nena kayaknya Nina sudah tidur deh makannya kita nggak lihat".


"emang iya nggak mengejutkan sih kakak dan ibunya aja cantik apalagi adiknya"


"HM., sekarang dia lagi main sama meiling di kamarnya".


selepas ganti pakaian Bryan sebenarnya ingin melihat Nina namun langkahnya tertahan saat mendengar suara meiling yang terdengar sangat bahagia sudah lama dia tidak mendengar adiknya bermain layaknya anak-anak pada umumnya, dia mengurungkan niatnya dan mengajak Bryan pergi ke halaman belakang.


sedang asyik main meiling dan Nina di kejutkan dengan suara Bu Nita " anak-anak ayo mandi dulu cukup dulu mainnya yah" meiling mengikuti perintah ibunya dan Nina juga ikut apa kata Bu Nita tapi "astaga maaf buk saya lupa bawa baju ganti...gimana yah apa saya pulang saja nggak enak kalau nggak mandi terus tidur"


"ayo anak-anak sini biar mama yang mendandani kalian"


"no..mom aku ganti baju sendiri aku kan sudah mandiri di ajarkan sama Nena jadi mama atau pelayan nggak usah bantuin aku" meiling melengos pergi menuju lemari pakaiannya, Bu Nita beralih ke Nina dengan wajah memelas Nina mengerti "mama aku saja yang mama dandanin nggak apa-apa kan" sebenarnya Nina juga mandiri dia bisa mengikat rambut dan berganti pakaian sendiri namun dia merasa kasihan dengan Bu Nita yang sangat ingin mendandani mereka.


mendengar apa yang di katakan Nina Bu Nita seketika girang "wah benarkah...kamu memang yang terbaik sayang mmnuuuaachh" Bu Nita mendaratkan ciuman gemes ke pipi Nina, melihat tingkah ibunya meiling hanya bisa geleng-geleng kepala "HM...untung Nina peka" meiling sendiri sudah melihat Nina yang bisa ganti pakaian sendiri dan merapikan rambutnya sendiri.


di ruang keluarga sudah berkumpul semua orang termasuk orang tua Indra yang tiba-tiba datang berkunjung mereka berbincang-bincang dengan santai tak lama meiling dan Bu Nita serta Nina juga datang


"halo semuanya...wah mil kapan datangnya kok nggak ada yang beritahu aku" Nita melihat Mila bersama Rudi datang tanpa sepengetahuannya.


"itu buk tadi saya sudah ngomong ke ibu tapi ibu tengah asyik mendandani nona Nina sampai apa yang saya katakan tidak di dengar oleh ibu" pelayan itu tersenyum mengingat kejadian itu sudah sangat lama majikannya tidak sebahagia itu.


"oh ya..maaf saya nggak dengar abisnya saya sangat senang" Nina masih bersembunyi di balik badan Bu Nita karena Bu Nita sendiri yang meminta agar bisa memberikan kejutan untuk semuanya.


"mama cantik mana ninanya" tiba-tiba Indra menyela.


"oh..baiklah ini dia Mutiara baru keluarga" Nita mengeluarkan Nina di balik badannya, begitu Nina muncul semua orang tercengang dan berseru bersamaan "woow ...imutnya" Bryan yang coolpun tak ketinggalan, Nina memang sangat imut kulitnya putih bersih dengan badan berisi tapi tidak gendut pipi tembem bibir kecil mungil dan merah mata agak kecil namun bulat sempurna, hidungnya kecil tapi mancung pokoknya cocok dengan wajahnya saat ini dia memakai gaun pink cerah rambutnya di kuncir dua memakai ikat rambut model kelinci sehingga terlihat sangat imut juga cantik "halo semua nama saya Nina saya adiknya kak ne..." belum kelar dia memperkenalkan diri tiba-tiba saja dia sudah melayang karena di angkat oleh pak Alex Nina memang berumur 8 tahun tapi dia kecil seperti anak umur 6 tahun tidak seperti Nena yang pertumbuhannya termasuk cepat.


"wah kamu benar-benar imut dan menggemaskan...sial aku jadi pengen punya anak lagi" pak Alex sangat senang belum tuntas rasa senangnya tiba-tiba Nina direbut oleh Rudi "waaahhh...aku banyak berjumpa dengan anak-anak yang menggemaskan tapi yang ini keterlaluan gemasnya" Rudi benar-benar gemas sampai-sampai menciumi Nina di pipi kiri kanan tanpa sadar.


"hey...para pria tua anak orang bisa takut sama kalian" Mila yang tak sabar ingin memangku Nina akhirnya bersuara

__ADS_1


"takut apanya aku pria tampan begini masa dia takut yah kecuali Alex sih kucing aja takut Ama dia ha..ha..ha" Rudi meledek Alex karena memang Alex punya aura menakutkan orang asing tak mau berbicara dengan Alex lebih lama karena aura penindasan yang menakutkan menurut mereka tapi bagi keluarganya itu hal biasa.


"Nina takut sama papa Alex?" Alex memandang ke arah Nina, pandangan Nina Alex seperti puppy yang malang.


"nggak kok..papa ganteng kan sangat baik juga sangat tampan" pujian Nina membuat Alex tambah gemes dia merebut kembali Nina dari pelukan Rudi, dalam hati Nina bergumam "yah kapan ini akan berakhir" Nina menangis dalam hati saking capeknya pipinya terasa kebas dengan ciuman 2 pria besar itu. Bryan yang sedari tadi hanya diam mengamati situasi kemudian bertindak "hey para pak tua lihat Nina sudah capek dengan kali sini Nina sama aku aja" belum sempat merebut Bryan keduluan sama Bu mika "eiitz biar Nina sama saya" meiling hanya bisa pasrah "kasihan Nina" di matanya Nina sudah sangat menderita namun apa boleh buat resiko jadi orang gemes yah begitu, sementara Bu Nita mempersiapkan makanan untuk semua orang.


...


di rumah Nena keluarganya sedang berbincang tentang kepergian Nena ke Singapura tiba-tiba Paman Nena menanyakan perihal Nina yang tak kelihatan anaknya yang masih kecil menangis mencari teman mainnya sudah tak kelihatan Sukmo sangat menyukai Nina karena selalu mengajaknya bermain "kakak ipar Nina mana kenapa nggak kelihatan dari tadi sore kok nggak ada".


"ya...Nina diajak sama meiling kerumahnya katanya untuk teman main biar cuman semalam".


"meiling siapa kakak ipar kok nggak pernah dengar" Paman dan bibi Nena selama ini hanya sibuk berdagang jadi tidak tahu perihal meiling teman baru Nena ini mereka hanya pernah melihat Bryan.


"dia adiknya Bryan" Paman dan bibi Nena mengangguk, bibi Nena terdiam seperti memikirkan sesuatu pak Iwan yang memperhatikan tingkah bibi Nena itu lalu bertanya "ada apa adik ipar, apa ada masalah?"


"nggak apa-apa kok, cuman saya heran dari mana Nena kenal keluarga besar seperti mereka"


"memang kenapa dek" ibu Tuti penasaran dengan apa yang dikatakan adiknya.


"gini loh mbak, orang tua Bryan dan meiling itu adalah orang terhormat dan terkaya di kota ini bukan seperti kita ini, ayahnya pak Alexander itu punya perusahaan besar, hotel bintang lima, restoran juga pusat perbelanjaan sebagian punya keluarga mereka dan usahanya itu tersebar di seluruh Indonesia maupun di negara asing, terus ibu Nita istrinya adalah seorang dokter terkenal di kota ini dia adalah dokter terbaik sekaligus pemilik rumah sakit yang cabangnya ada di seluruh Indonesia, dia juga punya universitas kedokteran yang terkenal di Indonesia saat ini, keluarga mereka nggak main-main kekayaannya"


pak Iwan dan buk Tuti terkejut dengan penjelasan bibi Inong itu "hahh...sekaya itu,,tapi penampilan Bryan dan meiling terkesan sederhana seperti itu mobil mereka juga terlihat sederhana seperti mobil pada umumnya".


"yah..kalau anaknya yang tertua itu punya usaha sendiri mereka juga sengaja low profile biar nggak mencolok, kalau meiling walau pakaiannya sederhana itu semua adalah buatan langsung perusahaan ayahnya yang kalau di jual harganya bisa sampai jutaan untuk sepotong baju" bibi Inong pernah melihat harga kain yang di produksi oleh perusahaan pak Alex kualitas sangat bagus hingga hanya orang berduit yang bisa membelinya, tidak hanya kain mereka juga menjual berbagai macam jenis produk seperti, tas, sepatu, perhiasan dll.


"benar yang di bilang sama bibi Bu meiling aja membuatkan aku sama elen gelang persahabatan yang harganya 50juta..ini dia" Nena memperlihatkan gelanya pada semua orang, semua orang terkejut.


"nak ini nggak kemahalan untuk ukuran sekecil ini" Bu Tuti memperhatikan gelang tersebut dengan saksama lalu bibi Inong meminta gelang tersebut untuk dilihatnya "ini sih sepantas dengan harganya, gelang ini dari emas putih kualitas terbaik terus ini adalah berlian safir yang terbaik walau sudah ditutupi dengan baik tapi kalau orang yang teliti bisa tau kalau itu sangat mahal" sedikitnya bibi Inong tau tentang perhiasan.


"hahh, benarkah kalau gitu kembalikan saja Nena kalau hilang bagaimana kita tak punya uang buat ganti" ibu Tuti khawatir dengan Nena yang mengenakan barang mahal kalau hilang bisa berabe.


"sudah saya coba buk tapi kata mei sekali memakai ini harus di pakai terus di sini ada alat pelacak kalau misalnya aku hilang bisa di cari lewat alat pelacak ini dan gelang ini nggak akan bisa di lepas seumur hidup kecuali yang membuatnya yang bisa melepaskan ini"


"kok, bisa" ayah, Paman, ibu dan bibi Nena serempak bertanya.


"karena ini punya kode khusus hanya pembuat gelang ini yang tau, dan akan bisa hilang, gelang ini bisa melar mengikuti ukuran tangan pemakainya jadi seumur hidup bisa di pakai" sebenarnya Nena sudah tau cara melepas gelang ini karena dia mengerti komponen di dalamnya tapi dia tdk melakukannya karena ingin menjaga persahabatan mereka.


"wah... pantesan mahal yah" bibi Inong manggut-manggut begitupun dengan yang lain mereka sudah mengerti dan tidak memaksa Nena buat mengembalikan gelang tersebut.


setelah perbincangan itu para orang dewasa mempersiapkan barang dagangan buat besok dan Nena mengajak Sukmo bermain.


...


di rumah meiling ke seruan masih berlangsung dan pusatnya adalah Nina si bocah gemes, tiba-tiba Bu Nita mengundang mereka semua untuk makan semua orang bergegas menuju dapur Nina tidak berjalan karena dia sedang di gendong oleh pak Alex tadinya Nina tak mau namun Nina tak berdaya melihat pak Alex yang bersih keras. semuanya fokus makan di sela-sela makan Nina berbicara "kak Indra, kak Bryan kita main PlayStation setelah makan yuk aku dan kak mei satu tim kakak sama kak Indra satu tim bagaimana?" Indra terbatuk-batuk mendengar apa yang di ajukan oleh Nina "uhuk..uhuk...kamu bisa main PS nin?" semua orang termasuk Bryan juga sama terkejutnya


"bisa sedikit kak dulu waktu aku berkunjung ke kota kak Nena pernah ngajak aku ke warnet buat ngerjain tugas sekolahnya karena dia takut aku bosan dia ngajarin aku main game sebentar lalu dia menyewa 1 computer untukku bermain, asyik sih,,aku lihat tadi kakak-kakak pada main aku pengen coba" Bryan mengiyakan semuanya kembali fokus makan.


selepas makan mereka menuju ruang keluarga buat main PS timnya Bryan dan Indra vs meiling dan Nina

__ADS_1


"kak apa taruhannya?"


"kalau menang harus di hukum, dan hukumannya harus menuruti apa kata pemenang gimana?" Indra sangat antusias dalam hatinya "paling game anak-anak yang gampang memanglah.. hehehehe bisa tuh nyubit sama nyium pipi si gemes Ampe puas" seringai jail muncul di bibir Indra.


__ADS_2