
Hari berganti seperti biasanya nena bangun pukul 5 pagi menyelesaikan tugasnya, setelahnya bersiap - siap ke sekolah. Tiba di sekolah sesuai penyampaian kepala sekolah para kakak SMA sudah hadir berpakaian pramuka lengkap dengan aksesorisnya layaknya peserta pramuka. Kata elen "nena, coba lihat deh para kakak !! Cakep - cakep yah ?, apalagi yang ujung kanan ganteng deh".
"yah kamu deh el nggak bisa apa lihat cowok cakep dikit langsung hm" sahut nena sambil menggelengkan kepalanya heran dengan sahabatnya yang masih kecil udah kayak orang dewasa.
"emang ganteng kan na katanya dia kristen loh! Katanya antusias.
"oh ya? tau dari mana kamu?. Tanya nena
"ituloh katanya dian tetanggaan sama dia".
"oh. kata nena sambil meluruskan pandangannya kembali pada guru yang memberikan arahan.
"lah kok oh doang sih, ganteng loh" sahut elen
"yah terus ? Aku harus bilang wow gitu?" sahut nena yang acuh tak acuh. Elen hanya menggelengkan kepalanya sangat heran dengan sahabatnya yang sangat tomboi dan agak bar - bar ini, beda dengannya yang sudah punya pacar yah walaupun cinta monyet.
Setelah selesai apel pagi semua siswa menuju ruangan kelas masing - masing, siswa SD melati sangat antusias dengan kedatangan para kakak dari SMA taruna. Tidak lama berselang ibu wali kelas datang bersama 4 orang siswa SMA memasuki ruangan.
ketua kelas "berdiri, beri salam!"
"selamat pagi bu guru" jawab siswa serempak.
ibu guru memulai pembicaraan "anak - anak ini kakak - kakak dari SMA taruna yang datang untuk pemilihan siswa yang akan ikut lomba pramuka di daerah makasar, kalian akan di seleksi selama 3 hari, sebelum itu kakak - kakak akan memperkenalkan diri" kata bu guru.
kemudian kakak pertama memperkenal kan diri "halo adek - adek perkenalkan nama kakak indri kakak yang paling manis di antara mereka berempat hehehe, betul tidak?" kata indri sambil tertawa sontak membuat para siswa ikut tertawa.
lalu kakak kedua "hay adek - adekku yang manis nama kakak sena bisa juga di panggil cantik, karena memang paling cantik di SMA taruna" katanya sambil cekikikan sontak para siswa pangsung tertawa lagi.
kakak ke ketiga "halo adek nama kakak indra senang bertemu kalian".
kakak ke empat "halo adek - adek nama kakak bryan senang bertemu kalian" sambil tersenyum dan melambaikan tangannya, tiba - tiba para siswa cewek riuh "woah kakak ganteng sekali" teriak siswa cewek sambil tersipu. nena yang sedari tadi diam sambil melamun sontak kaget karena elen juga ikut berteriak "astaga kaget, kenapa sih el?" tanya nena keheranan.
"ituloh na kakak yang tadi aku ceritain ke kamu ternyata namanya bryan" sahut elen ternyata kakak yang menarik perhatian elen ini adalah kakak yang tadi di bicarakan di barisan.
"oh, itu doang kirain apaan bikin kaget ajah" kata nena sambil memanyunkan bibirnya lalu melanjutkan aktivitasnya ialah melamun sambil corat coret kertas buram yang tak terpakai, tanpa nena dan elen sadari mereka di perhatikan oleh kak indra dan kak bryan yang heran dengan mereka yang asyik dengan dunianya sendiri padahal yang lain sangat antusias terutama kak bryan yang sedari tadi matanya mencuri pandang ke arah nena, mungkin dia heran kenapa nena saja yang tak antusias dan lebih memilih melamun gadis kecil itu agak menarik menurutnya karena memang nena itu termasuk cantik, rambutnya lurus, hitam dan agak tebal di kuncir kuda, hidung kecil yang mancung, kulit putih berbulu halus dan punya kimis tipis di atas bibirnya kalau di perhatikan dari dekat kumis itu akan terlihat, bulu matanya lentik, alisnya agak tebal, bisalah di kategorikan cantik. Elen pun tak kalah cantik karena dia blasteran china dan indo ayahnya seorang mualaf, gen ayahnya menurun ke elen yah gadis cantik putih bermata sipit, mereka berdua jadi ikon kelas 5 hehe:).
Setelah para kakak selesai memperkenalkan diri mereka membicarakan sesuatu dengan bu guru tak lama berselang bu guru mengundang nena ke depan kelas "selena adila, kesini sebentar" kata bu guru. nena pun maju ke depan kelas "iya , bu ada yang bisa nena bantu?" tanya nena.
"oh, iya kamu temani kak bryan ke bagian kesiswaan untuk mengambil data siswa kelas 5 yang biasanya ikut pramuka" pinta bu guru.
nena pun langsung melangkah pergi seolah dia diperintahkan pergi sendiri, langkahnya terhenti karena tiba - tiba kak bryan memegang tangannya "hey, dek pelan sedikit."
"oh, ya kak maaf, bisa lepaskan tangan saya sekarang" kata nena dengan wajah datar dan senyum canggung.
__ADS_1
"kamu agak galak yah?"
" boleh kenalan tidak nama kakak bryan pratama?" kata bryan dengan wajah yang tersenyum dalam hatinya heran kenapa bisa dia yang seorang siswa SMA kelas 11 yang jadi rebutan para gadis di sekolah, tak pernah menghiraukan semua itu dia hanya fokus belajar karena cita - citanya ingin jadi dokter bedah malah tertarik dengan gadis kecil bisa di hitung bocil karena masih kelas 5 SD.
"kakak kan sudah tau nama saya dari bu guru!" jawab nena datar.
"wah, beneran galak maksud kakak biar nyaman berbincangnya?" sahut bryan yang agak kaget dengan respon nena.
"oh, nama saya selena adila, biasa di panggil nena" jawabnya masih dengan datar tanpa ekspresi dan pandangan yang terus mengarah ke depan, kayak orang dewasa maklum selain teman dan keluarganya dia jarang bicara apalagi sama orang yang baru di jumpai.
"nena, nama yang cantik dan manis seperti orangnya" katanya dengan suara agak kecil sehingga hampir tak terdengar.
"apa kak?" tanya nena
"oh, nggak apa - apa kok" jawab bryan sambil tersenyum di hatinya seperti tersentuh sesuatu "aku gila atau apasih masa jatuh cinta sama bocil bisa dikira predator anak gue, hadeh...,karma kali yah sekian banyak gadis yang suka aku tolak, mungkin ada kali yang nyumpahin aku, tapi aku kok bahagia ya,," keluhnya dalam hati sambil senyum - senyum sendiri sesekali melirik nena yang berwajah datar tapi cantik dan manis.
Tak terasa sampailah di ruang pak bandi bagian kesiswaan "assalamu alaikum pak bandi" kata nena.
"wa'alaikumsalam, oh nena ini yang di minta sama wali kelasmu" katanya sambil memberikan map merah.
"pamit pak!" nena sambil berlalu
"eh,, tunggu ini bawa juga, kasih ke wali kelasmu bilang semuanya sudah di situ" sambil menyerahkan ransel hitam kepada kak bryan. Nena dan bryan pun berlalu tak lupa mengucap salam sebelum pergi, selama perjalanan kembali ke kelas tak satupun kata yang keluar dari mulut mereka hanya diam sambil berjalan pandangan nena tetap ke arah depan, berbeda dengan bryan yang senyum - senyum sendiri sambil sesekali melirik nena yang di sampingnya, "benar - benar udah gak waras aku" dalam hati sambil menggelengkan kepalanya. Tak terasa sampai di kelas nena dan bryan menyerahkan bawaan mereka ke ibu wati wali kelas 5 "ini bu kiriman dari pak bandi" kata nena.
kemudian nena berlalu dan langsung duduk di bangkunya tanpa memperhatikan banyak mata siswa yang mengarah padanya termasuk bryan yang benar - benar telah terpikat dengan gadis kecil itu padahal mereka baru bertemu beberapa menit saja, seperti kebiasaan, nena acuh tak acuh suka tak sadar ada yang memperhatikan dirinya.
"na!!!" pangil elen
"hm.."sahut nena
"gimana tadi sama kak bryan, kalian ngobrolin apa aja?" tanya elen antusias
"yah, gak gimana - gimana, biasa aja, dia tanya namaku yah ku kasih tau, itu aja udah" kata nena dengan datar seperti biasa, maklum yah gays nena ini beneran masih sangat polos, periode menstruasi aja belum dapet beda sama elen yang sudah masuk periode ke 4 menstruasi makanya dia yakin kalau dia udah dewasa yang bisa pacaran.
"yah na, kamu gimana sih, masa ngelewatin kesempatan ngobrol sama kakak tampan itu, coba kalau aku yang di suruh bu guru pasti senang deh" kata elen sambil senyam - senyum
"apasih, mau kulaporin sama obet lu?" kata nena setengah mengancam, biar temannya ini berhenti bertanya tentang sesuatu yang sangat tidak penting menurutnya, asal dia menyebutkan nama obet pasti si elen langsung diam tak berkutik.
"jangan dong, iya deh aku gak tanya lagi" dengan wajah cemberut, nena hanya bisa menggeleng heran dengan sahabatnya ini, yang masih kecil udah pacaran.
Para kakak berdiskusi dengan bu guru yang entah apa yang mereka diskusikan. Tidak lama terdengar bunyi bel istirahat anak - anak di perintahkan wali kelas untuk istirahat walau ada beberapa siswa yang betah di kelas. Aktivitas berjalan seperti biasa 15 menit waktu istarahat telah usai semua siswa masuk kelas tak terkecuali kelas 5, sesampainya di kelas bu guru kembali memberitahukan "anak - anak dengar baik - baik nama yang bu guru sebut maju ke depan kelas, Aldarisma, elen idris, selena adila, wahyu purnomo, andreas fernandes dan iksan ibrahim" terang bu guru. Semua siswa yang di sebutkan namanya maju ke depan kelas.
"kalian ber 6 yang akan ikut seleksi, karena setiap kelas hanya 6 siswa yang akan dipilih, jadi total keseluruhan hanya sekitar 18 orang yang akan ikut seleksi, seleksi diadakan mulai besok, kalian ber 6 akan berkemah selama 3 hari di lapangan kompi garuda dekat sekolah SMA taruna sekolah asal para kakak ini, dan yang ikut bukan cuma dari sekolah ini, dari SDN mawar, SDN komboja dan SDN krisan yang akan ikut seleksi dan yang akan diambil hanya 30 orang dari semua sekolah yang ada, jadi bisa aja ada dari sekolah ini yang tidak akan terpilih, oke..apa kalian mengerti?" tanya bu guru menutup sambutannya.
__ADS_1
"baik bu" jawab siswa serempak, kemudian siswa yang terpilih kembali ke tempat duduknya.
Ibu guru melanjutkan perbincangan dengan para kakak. "nak indra di antara mereka ber 6 ada siswa yang saya suruh pergi bersama nak bryan tadi namanya nena, dia selalu ikut pramuka semenjak kelas 2 SD karena dia anak yang pandai dan cekatan, baik akademik maupun non akademik dia adalah yang terbaik yang di miliki sekolah ini, tak satupun mata pelajaran yang tidak dia kuasai begitupun olahraga kecuali yang belum pernah di mainkannya, sering juara terbaik dengan jumlah nilai tertinggi di seluruh sekolah SDN melati ini, belum lama ini dia ikut olimpiade matematika di tingkat nasional di jakarta dan dapat posisi ke dua itupun hanya karena selisih paham atau mungkin kesalahan yang di sengaja penyelenggara karena maklum yang ikut ada juga cucu perdana menteri pendidikan yang menempati posisi pertama padahal nilainya dan nena sama entah di mana selisih pahamnya, dia iuga sering ikut olimpiade olahraga semacam renang, lompat jauh dll. Yang biasa di lombakan untuk anak SD dan yah tak pernah mengecewakan selalu pulang bawa medali dan piala untuk sekolahnya, anaknya sangat membanggakan" puji bu guru membanggakan muridnya di depan para siswa SMA taruna, dan memang nena anak yg pandai dan rajin juga karena kepribadiannya yg tomboi dia bisa segala jenis permainan kecuali yang belum bisa dia mainkan. Para siswa SMA taruna tercengang "wah, buk ternyata dia ya yang katanya mewakili daerah kita ke jakarta untuk olimpiade matematika, hampir lolos untuk ke china namun karena posisinya hanya juara 2 jadi di batalkan jadinya yang ikut internasional hanya siswa dari AIG school di jakarta katanya cucu perdana menteri" sahut indra.
"yah begitulah, jadi saya yakin dia pasti akan terpilih nanti untuk ikut pramuka di makasar" timpal bu wati.
di sisi lain bryan yang dari tadi menyimak pembicaraan mereka hanya senyum - senyum sendiri, dalam hati berkata "wah luar biasa gadis kecil itu" dia merasa semakin tertarik, bryan tdk sadar indra memperhatikannya yang selalu memandang ke arah bangku siswa yah tidak alin ialah nena.
indra menepuk bahu bryan "woy, naksir lu ya sama bocil itu" tanya indra dengan berbisik, sontak bryan tetkejut dan lansung mengelak "ih..apaan emang gue predator anak, naksir sama gadis kecil, ada - ada aja Lho" sahut bryan yang mukanya sudah merah padam karena malu ketahuan sahabatnya itu, dan seperti elen dan nena, indra dan bryan pun bersahabat walau mereka beda agama namun saling menghormati di sekolah hanya indra yang menjadi tempat mengeluh bryan begitupun sebaliknya mereka saling mengerti.
"ah...boong lu, gue udah tau gimana elo, sejauh ini lu gak pernah menatap lawan jenis ampe kayak gitu, loe kira gua nggak merhatiin dari tadi gelagat loe ampe keluar sama dia di suru sama bu wati, begitu masuk mata lu tertuju sama dia apalagi setelah pulang dari kesiswaan lu udah kayak orang kasmaran tau gak,..udah gi...hupp" perkataan indra terhenti karena mulutnya di sumpel sama bryan, karena bryan malu ntar ketahuan orang lain.
"apaan sih,, udah deh" wajahnya tambah merah menahan malu. indra hanya bisa tertawa dengan keadaan temannya itu, dalam hati dia bergumam "kok, bisa ya teman gua yang kayak kutub selatan kalau ketemu sama cewek bisa malu gitu, memang secantik apasih, apabisa ngalahin dewi sekolah" sambil memusatkan pandangannya kearah nena yang biasalah lagi melamun dan mencoret - coret buramnya, indra seketika terkejut "emang cantik ternyata, andai dia sudah besar atau minimal remaja pasti akan sangat cantik pantas si bryan ampe begitu,,tapi mo gimana orang masih bocah" imbuhnya dalam hati.
Tak berselang waktu pulang sekolah telah tiba, bu wati mempersilahkan yang lain pulang kecuali yang 6 orang terpilih masih ada yang akan di sampaikan pada mereka. Setelah selesai mereka di izinkan pulang. Nena dan elen di tawari oleh bryan agar pulang bersama mereka pakai mobilnya, makluk bryan anak orang berada ayahnya seorang pengusaha yang cukup sukses dan ibunya yang seorang dokter bedah profesional di kota ini, untuk sekedar membelikan anaknya mobil memang nggak seberapa, bryan hanya 2 bersaudara adiknya yang perempuan bersekolah di SDN krisan, Sekolah SD terbaik di kota dan kebetulan kelas 5 SD juga.
"nena, sama elen boleh kakak antar sampai kerumah" tanya bryan dengan ramah
"iya, cuaca sangat terik dan itu udah lewat jam pulang sekolah kalian biar cepat ikut kita saja" timpal indra.
nena berpikir sejenak sambil memandang elen karena memang kebetulan cuaca sangat panas hari itu, nena dan elen mengangguk bersamaan. Setelah itu mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah kota, di dalam mobil suasana agak hening tiba - tiba kak indra memulai percakapan "nena sama elen sudah lama sahabatan?" tanya indra, bryan memasang kuping sambil fokus menyetir.
"iya kak kita udah lama sahabatan semenjak nena di jemput sama bibinya waktu liburan sekolah kalau nggak salah saat itu baru kelas 1 SD saya yang pertama mengajaknya kenalan waktu masih di rumah karena rumah saya sama bibinya tetanggaan terus waktu udah kelas 4 SD nena pindah kesekolah kami" jawab elen dengan senyum manis di bibirnya yah nena hanya mengangguk aja.
"oh, berarti nena di sini nggak sama orang tua, hebat bangat nena masih kecil bisa tinggal sama orang lain, memang apa alasan bibi sama paman mengajak nena tinggal di sini" selidik indra.
"orang tua saya susah kak, kerjaan hanya bertani ibu saya hanya buruh pemetik teh, ayah mengolah sawah kecil peninggalan kakek hasilnya gak seberapa sembari menunggu hasil panen ayah kerja serabutan apa aja di kerjain asal halal dan menghasilkan, saya punya adik beda 2 tahun sama saya sekarang sudah mau kelas 3 SD, saya kasihan sama mama papa, yang tiap hari banting tulang memenuhi kebutuhan kami, waktu baru saya yang sekolah nggak terlalu berasa namun pada saat adik mulai masuk sekolah semua mulai terasa berat okelah untuk seragam dan perlengkapan masih bisa namun untuk uang jajan sama uang komite susah di pikirkan bibi saya prihatin dan menawarkan untuk menyekolahkan saya di kota dengan alasan biar anaknya yang masih kecil ada teman main karena sering di tinggal sama nenek doang karena mereka harus berdagang" cerita nena panjang lebar tanpa ada yang di tutupi maklum orang polos.
bryan dan indra seketika terdiam entah apa yang di pikiran mereka lalu..."terus bu wati bisa tau dari mana yah kalau nena ikut pramuka dari kelas 2 SD sedangkan dia masuk SDN melati nanti kelas 4" tanya indra ke bryan.
"eh,, dodol itu semua ada di buku laporan pendidikan, hadeuhhh...itu aja nggak tau!" jawab bryan menggelengkan kepala dan indra hanya tertawa mendengar jawaban temannya yang di rasa benar.
tak terasa nena dan elen sudah sampai. Mereka pun berpamitan pada indra dan bryan. "terima kasih tumpangannya kak" ucap nena dan elen bersamaan dan di balas anggukan oleh bryan dan indra. Setelah itu mereka pun berpamitan pulang memutar arah mobilnya ternyata rumah mereka arahnya berlawanan dengan rumah nena dan elen.
di dalam mobil tinggal mereka berdua menuju kerumah yang lumayan jauh.
"bro, lu terharu gak sama cerita nena" tanya indra.
"iye, gue heran masih kecil harus pisah sama ortu gitu" imbuh bryan.
"jadikan pelajaran tuh banyak bahkan lebih susah dari nena, loe kan anak orang kaya mungkin gak akan merasakan hidup kayak gitu, gue aja seketika sadar ternyata hidup kita tuh enak banget" kata indra sambil mengernyitkan dahinya. Walau bagaimanapun indra juga anak seorang pengusaha ayah dan ibunya punya beberapa toko furniture yang mereka rintis dari nol dan sekarang memiliki banyak cabang di bandung, indra juga punya mobil namun di tinggal di parkiran sekolah karena dia ikut mobil bryan waktu ke sekolah nena.
Tak terasa mereka pun sampai di sekolah SMA taruna, indra mengambil mobilnya dan bryan pulang lebih dulu walaupun masih banyak siswa di sekolah dan pelajaran masih berlangsung, para guru memaklumi karena mereka juga masih punya kesibukan.
__ADS_1