
Aku terbangun saat matahari sudah menampakkan kegagahannya, terlihat dari sinarnya yang terang menembus celah atas jendela kamar ku. Pantas saja, ternyata sudah pukul tujuh pagi. Aku segera bangkit namun saat ku lihat di sebelah ku sudah tak ada lagi anak ku, aku pun menjerit keras.
"Bagaaaaass!" Entah mengapa pikiran ku jadi setakut ini. Aku takut tiba-tiba mas Ryan mengambil anak ku tanpa sepengetahuan ku.
Ceklek!
Ku lihat ibu masuk ke dalam kamar dengan menggendong Bagas. Huuuft, syukurlah, ternyata Bagas bersama ibu ku.
"Ada apa to nduk, kok teriak-teriak begitu?" Ibuk menghampiri ku yang masih terduduk di atas tempat tidur. Aku pun hanya menggeleng lemah kemudian segera meraih Bagas yang ada di dalam gendongan ibu ku untuk ku susui. Ternyata anak ku sudah ganteng dan wangi, saking lelapnya aku sampe tak menyadari saat Bagas terbangun.
Sesaat setelah merasa kenyang, Bagas pun tertidur. Namun saat akan ku tidurkan di atas kasur, ibu ku melarangnya dan langsung meraihnya untuk di gendong. Katanya takut ke bangun, soalnya baru saja merem.
"Sudah sana mandi dulu lalu sarapan." Aku pun hanya mengangguk kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah membersihkan diri aku segera keluar dari kamar. Kulihat Bagas yang masih di gendong ibu ku.
__ADS_1
"Tidurkan saja buk kalau sudah lelap." Ucap ku pada ibuk.
"Iya, sudah sana sarapan dulu." Aku pun langsung menuju ke dapur untuk makan. Meskipun mulut ku rasanya masih perih, tapi aku harus tetap makan agar bisa menghasilkan ASI yang banyak buat anak ku.
Saat baru sesuap nasi yang masuk ke dalam mulut ku, ku dengar suara motor yang amat sangat ku kenali berhenti di depan rumah. Itu suara motor mas Ryan, dan benar saja, tak lama terdengar suara ibu ku yang sedikit meninggi.
"Ryan jangan, nanti Bagas kebangun dan nangis." Aku hanya mendengarkannya saja dari dalam, kira-kira apa yang akan di lakukan mas Ryan.
"Aku hanya ingin menggendongnya Bu, dia juga anak ku." Akhirnya ibu ku pun memberikan Bagas kepada ayahnya dan membantu menggendongkannya. Namun sedetik kemudian terdengar teriakan ibu bersamaan suara motor mas Ryan yang semakin menjauh.
"Ryaaaaaaaan! Mau di bawa kemana Bagas." Aku pun segera berlari keluar.
"Hiks.. hiks.. kembalikan anak ku!" Teriak ku lagi.
"Sudah nduk, biarkan saja dulu. Nanti kalau Bagas haus pasti akan di kembalikan lagi kesini." Ibuk segera menuntun ku masuk ke dalam rumah. Aku pun segera masuk ke dalam kamar kemudian meringkuk di atas kasur dan menangis sejadi-jadinya. Ku rasakan tangan hangat ibu ku membelai kepala ku lembut.
__ADS_1
"Sudah, sekarang lanjutkan sarapan mu. Jangan menangis lagi." Aku yang sudah tak berselera makan pun hanya menggelengkan kepala ku. Ibuk pun memilih keluar dari kamar, membiarkan ku untuk menenangkan diri.
Seandainya saja bapak ada di rumah saat ini, pasti bapak tak akan membiarkan mas Ryan membawa pergi anak ku. Dan mas Ryan pun gak akan berani berkutik kalau ada bapak.
"Hiks.. hiks.." Aku menyesali perbuatan ku, harusnya tadi aku langsung keluar saat mendengar suara motor mas Ryan. Kenapa aku menunggunya dulu tadi? Kalau sudah begini, apa yang harus aku lakukan? Bodoh, bodoh, bodoh, aku merutuk diri ku sendiri dalam hati. Ternyata apa yang aku takutkan saat bangun tidur tadi menjadi kenyataan.
*****
*****
*****
*****
*****
__ADS_1
Ryan keparaaaaaatt ðŸ¤ðŸ¤¬ðŸ¤¬ðŸ¤¬ðŸ¤¬ðŸ¤¬ðŸ¤¬
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂