
Entah berapa lama aku menangis sampai tak ku sadari aku tertidur lelap hingga pukul satu siang baru terbangun. Ku kerjabkan mata ku beberapa kali kemudian segera membersihkan diri. Perut juga terasa perih karena sejak pagi belum terisi sama sekali. Tadi pagi aku langsung pergi ke rumah mas Ryan, sedangkan pulangnya aku langsung mengurung diri di kamar dan menangis sejadi-jadinya.
Ku langkahkan kaki menuju ke dapur, rumah terlihat sepi, entah dimana ibu ku. Ku buka tudung saji di atas meja, nampak ada nasi jagung kesukaan ku dan sayur asem lumbu serta ikan pindang dan tempe goreng. Tak ketinggalan sambel orek yang nampak menggugah selera. Aku segera mengambil piring dan mengisinya dengan secentong nasi serta sayur dan lauk. Namun saat baru ingin menyuapnya ke mulut, tiba-tiba air mataku merembes membasahi pipi. Aku pun tetap melanjutkan makan ku meski dengan air mata yang berlinang.
Sore harinya sekitar pukul empat, aku meminta Fajar untuk mengantarkan ku kembali ke rumah mas Ryan. Namun sesampainya disana, rumah dalam keadaan sepi tanpa penghuni. Sudah beberapa kali aku mengetuknya namun tak ada tanda-tanda orang di dalam rumah. Aku juga sudah bertanya dengan tetangga kanan kiri rumah, namun tak ada yang melihatnya. Tak lupa aku juga bertanya kepada bu Sum, tapi ia juga tak tau kemana perginya mas Ryan dan ibu mertua ku. Kalau menurut perkiraan ku, ibu mertua ku pasti sengaja bersembunyi di dalam dan mengunci rumahnya. Sedangkan mas Ryan entahlah, mungkin sedang keluar main atau mungkin ngopi bersama temannya.
Akhirnya ku putuskan untuk kembali ke rumah saja. Air mata sudah tak bisa ku bendung lagi, sepanjang perjalanan pulang hanya Isak tangis yang membersamai kami.
Aku segera masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya kemudian meringkuk ke atas tempat tidur. Ingin rasanya aku menjerit sekeras mungkin untuk meluapkan rasa sakit yang bersarang di dalam dada.
Tok.. tok.. tok..
Terdengar pintu kamar di ketuk dari luar, kemudian di susul suara ibu ku memanggil-manggil nama ku.
__ADS_1
"Nduk Nja, buka pintunya nduk."
Tok.. tok.. tok..
"Senja! Buka pintunya nduk." Ibu ku tak berhenti mengetuk pintu. Akhirnya aku pun segera membuka pintu kamar ku.
Ceklek!
Aku langsung berhambur ke pelukan ibu ku. Menangis sejadi-jadinya dalam pelukannya yang terasa hangat.
"Sudah ya, yang sabar. Mungkin ini ujian dari Gusti Allah untuk mengukur seberapa besar kesabaran mu." Ibuk mengelus pelan punggung ku.
"Kita hanya manusia biasa, kita gak akan bisa merubah ketetapannya. Jalani saja dengan hati yang ikhlas dan sabar." Ibuk mencoba menguatkan ku. Aku pun hanya bisa mengangguk dalam pelukan ibu ku.
__ADS_1
*****
Beginilah hari-hari ku selama hampir sebulan, hanya bisa menangis seorang diri di dalam kamar merenungi nasib diri yang di pisahkan dari anak yang selama ini aku idam-idamkan kehadirannya. Rasanya hidup segan mati pun enggan setelah kebahagiaan ku di renggut oleh suami ku sendiri dan ibu mertua ku. Namun ibuk dan bapak tak henti-hentinya memberiku nasihat serta kekuatan untuk tetap bertahan agar aku jangan sampe terlihat lemah di mata suami ku dan mertua ku. Aku pun juga berusaha tetap tegar dan kuat. Benar kata orang tua ku, aku harus bangkit dari keterpurukan ini. Akan aku tunjukkan kepada mereka kalau aku bisa berdiri tegak meski badai datang menghantam.
*****
*****
*****
*****
*****
__ADS_1
Semangat Nja 💪💪 Jemput bahagiamu 🤗🤗
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂