
Hari ini adalah hari pertama ku kerja di pabrik kertas ini. Pukul setengah delapan pabrik sudah di buka, dan banyak karyawan yang sudah datang. Mereka bahu membahu membersihkan pabrik terlebih dahulu setelah itu baru mulai bekerja. Aku berada di bagian pengeliman, sedangkan mbak Yuni ada di bagian pengecekan dan perbaikan.
Meski pun belum mengenal semua karyawan yang ada di pabrik, tapi Alhamdulillah ada Susi dan beberapa tetangga kamar yang ada di bagian ini. Mereka semua nampak ramah dan sabar mengajari ku yang masih pemula. Tadi pas pertama, mbak Yuni dan mbak Lim sendiri yang mengajari ku. Setelah itu mbak Yuni dan mbak Lim kembali ke tempatnya masing-masing.
Pukul sebelas siang nampak mobil box masuk ke dalam pabrik untuk melakukan pengiriman barang. Nampak orang-orang di bagian pengepackan dan juga para pekerja laki-laki langsung sigap memasukkan barang-barang yang sudah di packing ke dalam kardus-kardus besar itu ke dalam mobil box.
"Hey! Anak baru!" Teriak Salah satu karyawan dengan suara lantangnya kepada ku, karena memang hanya aku disini yang anak baru. Mungkin memang belum dapat karyawan tambahan. Aku pun segera menghampirinya dengan takut-takut.
"A-ada apa mbak?" Sengaja aku panggil mbak, takutnya jika aku memanggilnya Bu, nanti ia marah karena mukanya terlihat garang! Badan tinggi besar, mata melotot seperti mau copot. Hiiiii! Aku bergidik ngeri.
"Hey, mbak Hu! Jangan teriak-teriak begitu. Dia anak baru, nanti ketakutan." Mbak Lim memperingatkan mbak Hu. Alhamdulillah syukur ada mbak Lim. Aku pun mengelus dada ku pelan.
"Gak usah takut Nja, mbak Hu memang kelihatannya aja garang. Tapi aslinya baik kok." Ucap mbak Lim kepada ku. Aku pun hanya mengangguk dan tersenyum saja.
__ADS_1
"Ada apa mbak tadi manggil saya?" Tanya ku sekali lagi.
"Ini, kembalikan palet ke tempatnya." Ucap mbak Hu seraya menunjuk beberapa palet kemudian berlalu. Aku pun segera mengangkat palet tersebut satu persatu. Ku kira berat, ternyata ringan. Kayu apa kira-kira yang di pakai untuk membuat palet, kok bisa seringan itu? Sepertinya jika kayu tersebut di taruh ke dalam air akan mengapung.
Setelah mengembalikan palet ke tempatnya, aku segera bergabung lagi dengan Tim ku.
"Hey Nja, gak usah di masukin hati." Susi menyenggol bahu ku pelan.
"Emang mbak Hu begitu kalau ada anak baru. Dulu aku juga begitu pas baru masuk kerja, malah lebih parah. Tapi lama kelamaan setelah akrab, mbak Hu bilang kalau sikapnya itu adalah sambutan buat anak baru agar mentalnya kuat." Jelas Susi. Aku pun hanya manggut-manggut paham.
"Di suruh bantu angkatin kardus-kardus yang sudah di packing ke atas palet."
"Mungkin karena badan mu besar makanya di suruh angkat kardus. Kalau aku kan badan ku kurus kerempeng gini, mana kuat angkat kardus. Makanya di suruh angkat palet aja. Hehe." Canda ku menghibur diri sendiri.
__ADS_1
"Iya juga ya, badan mu sama kardusnya aja gedean kardusnya. Hahaha." Susi tertawa lepas.
"Hust!" Aku menyuruh Susi berhenti tertawa dengan isyarat jari telunjuk yang aku letakkan di bibir, karena kami menjadi pusat perhatian disana.
*****
*****
*****
*****
*****
__ADS_1
Lope-lope sekebun Pare 😘😘
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂