
Usai makan malam bersama, aku segera masuk ke dalam kamar kembali untuk berkemas, karena esok aku dan Mbak Yuni akan kembali ke Surabaya. Ku rebahkan tubuh ku ke atas tempat tidur, ku raih ponsel yang sejak tadi tergeletak di atas meja rias samping tempat tidur. Ku buka fitur galeri ku mencari foto Bagas yang sempat ku ambil saat ia lahir hingga berusia tiga bulan. Seketika itu air mata ku kembali berlinang hingga membuat ku sesenggukan. Ku bungkam erat mulut ku dengan bantal agar suara isak tangis ku tak terdengar hingga keluar kamar.
"Bunda kangen sama kamu nak." Ku elus dan ku ciumi foto anak ku dalam ponsel.
"Sudah sebesar apa kamu sekarang nak? Apakah sekarang kamu sudah bisa merangkak dan duduk sendiri?"
Tuhan tolong, ini sangat menyakitkan untuk ku! Aku yang mendambakan kehadirannya selama ini, aku yang mengandungnya selama sembilan bulan dan aku yang melahirkannya dengan bertaruh nyawa! Kenapa setega itu mereka memisahkan aku dengan anak ku? Bukankah ibu mertua ku juga seorang perempuan dan juga seorang ibu? Apakah ia tak merasakan bagaimana perasaan ibu yang di pisahkan dari anaknya? Bukankah tanpa aku Bagas tak akan terlahir ke dunia? Apa sehina itukah aku hingga aku tak di butuhkan lagi? Apa salah dan dosa ku Tuhan?
Ratap ku pilu dalam hati hingga tak terasa aku tertidur dengan memeluk ponsel ku erat.
"Bagas sayang, ini bunda nak."
"Bagas jangan nangis nak."
"Sini sayang, peluk bunda nak."
"Bunda sayang sama Bagas."
"Bagas!"
__ADS_1
"Sayang, jangan pergi nak."
"Bagas!"
"BAGAAAAAASS!" Teriak ku langsung terduduk dengan nafas yang memburu disertai linangan air mata. Bapak dan ibuk yang belum tidur tergopoh-gopoh masuk ke dalam kamar ku.
"Ada apa to nduk? Kamu mimpi? Ini minum dulu!" Ibuk menyodorkan segelas air putih yang langsung ku raih dan ku teguk.
"Mimpi apa?" Tanya ibuk setelah melihat ku tenang.
"Sakit buk, hiks.. hiks.. sakit disini." Aku menepuk dada ku berulang kali berharap rasa sakit yang menusuk di dada akan segera hilang. Ibuk langsung merengkuh ku ke dalam pelukannya dan juga ikut menangis.
Aku merebahkan tubuh ku kembali dengan memeluk ibuk di samping ku. Ku coba memejamkan mata, namun bayang-bayang jerit tangis Bagas dan lambaian tangannya yang seolah meminta untuk di gendong kembali membayang di pelupuk mata.
"Apa Bagas lagi sakit ya buk?" Gumam ku dengan suara parau, namun ibuk masih bisa mendengarnya.
"Doakan saja yang terbaik buat Bagas. Bagas pasti baik-baik saja."
"Tadi dalam mimpi ku, Bagas nangis kejer dan tangannya melambai-lambai kayak minta di gendong. Tapi saat aku melangkah ingin meraihnya, tiba-tiba Bagas menghilang. Hiks.. hiks.."
__ADS_1
"Sudah, itu cuma mimpi. Sekarang tidur, ini sudah malam." Ibuk mengelus punggung ku lembut. Layaknya anak kecil yang terhanyut dengan usapan lembut sang ibu, aku pun akhirnya bisa tertidur lelap hingga pagi menjelang.
Kukuruyuuuuuuuukk......
Suara ayam berkokok di belakang rumah saling bersahut-sahutan pertanda sebentar lagi matahari akan segera menunjukkan kegagahannya. Aku mengeliat sebentar, kebiasaan ku kalau bangun tidur. Rasanya gak afdhol kalau gak ngeliat dulu, karena setelah mengeliat badan terasa lebih enteng. Ternyata ibuk sudah tidak ada di samping ku. Aku langsung masuk ke dalam kamar mandi karena sebentar lagi mbak Yuni pasti akan datang menjemput ku.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare 😘😘
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂
__ADS_1