JODOH KE-2

JODOH KE-2
Bab 29. Not Bad Lah!


__ADS_3

Suasana lorong kamar terlihat rame saat aku membuka pintu kamar. Sepertinya terjadi antrian panjang di depan kamar mandi dan dapur. Ku perhatikan mereka membawa peralatan mandi di tangannya masing-masing dan juga handuk yang di sampirkan ke pundak. Aku pun segera ikut mengantri agar tak kemalaman karena hawa dingin sudah mulai menyapa permukaan kulit.


"Hey, anak baru ya?" Sapa salah satu cewek yang ada di depan ku dengan bahasa Indonesia tapi logatnya berbeda, yang terdengar kagok di telinga ku.


"Iya mbak!" Jawab ku sambil tersenyum ramah.


"Jangan panggil mbak, panggil aja Susi. Umur ku baru tujuh belas tahun." Ucap Susi memperkenalkan diri yang membuat ku sedikit terkejut. Karena jika di lihat dari postur tubuhnya yang tinggi dan agak gemuk, katakanlah montok itu, aku kira umurnya di atas ku, tapi ternyata aku salah. Aku pun segera menjabat tangannya.


"Senja!"


"Siapanya mbak Yuni?" Tanya Susi yang rupanya belum tahu.


"Aku adik sepupunya mbak Yuni."


"Owh...." Susi manggut-manggut. "Umur berapa Nja?" Tanya Susi lagi.


"Dua puluh satu Sus."


"Eh maaf mbak, aku pikir seumuran ku. Habisnya badan mu kurus kecil gitu."

__ADS_1


"Iya gak papa Sus, panggil nama aja biar lebih akrab. Toh umur kita gak terlalu jauh berbeda." Aku mengulas senyum lagi agar Susi tak merasa canggung.


"Kamu gak sekolah Sus?" Tanya ku penasaran yang di jawab Susi dengan gelengan kepala. "Kamu orang mana?"


"Aku asli Madura. Dari lulus SMP aku udah kerja di sini. Tepatnya dua tahun yang lalu." Terang Susi, aku pun hanya manggut-manggut. Pantas saja bicaranya kagok begitu, ternyata orang Madura. Tapi kok ini bicaranya gak keras. Kata mbak Yuni kan orang Madura keras-keras? Entahlah....


*****


"Mau makan apa Nja?" Tanya mbak Yuni yang sedang rebahan di atas kasur. Aku yang sedang melipat dan menata pakaian ku ke dalam lemari kecil yang ada di kamar itu pun langsung menoleh.


"Terserah mbak Yuni aja. Apa gak bisa masak sendiri mbak di sini?"


"Biasanya kami masak bergantian disini. Seminggu sekali, tiap habis gajian, kami mengumpulkan uang, atau lebih tepatnya iuran lah buat belanja. Kalau masak sendiri kan lebih hemat." Papar mbak Yuni.


"Bukan! Karena di sini yang kerja mayoritas emak-emak, jadi gajiannya di bayarkan tiap Minggu sekali sesuai dengan absennya. Biasalah emak-emak banyak kebutuhannya."


"Sesuai absen gimana mbak?"


"Ya kalau dalam seminggunya cuma masuk lima hari ya cuma di bayar lima hari. Maksudnya di sini itu sistemnya harian, hari Minggu tetap kerja dan tidak ada hari libur kecuali kamu izin sendiri tidak masuk kerja melalui mbak Lim." Jelas mbak Yuni lagi.

__ADS_1


"Owh...." Aku hanya manggut-manggut saja.


"Setiap hari Sabtu kita gajian, makanya pas hari Minggu pasti jarang yang masuk. Apalagi yang masih muda, pasti jalan-jalan lah sama doi."


"Kalau Mbak Yuni gimana? Mbak Yuni kan juga masih muda?" Tanya ku menggoda.


"Gampang lah, bisa di atur itu. Hahaha..." Tawa kami pun akhirnya pecah memenuhi kamar kecil tersebut.


Aku dan Mbak Yuni berjalan menyusuri sebuah gang hingga sampe di depan Alfamart. Banyak pedagang kaki lima dan warung-warung tenda yang berjejer rapi di pinggir jalan raya. Kami pun memutuskan masuk ke dalam tenda yang bertuliskan Pecel Lele Lamongan.


*****


*****


*****


*****


*****

__ADS_1


Karna emak gak bisa bahasa Madura, jadi emak pake bahasa Indonesia saja ya buat Susi similikiti 🤭😂😂😂


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂


__ADS_2