JODOH KE-2

JODOH KE-2
Bab 22. Menjemput Bagas


__ADS_3

Sore harinya saat bapak baru pulang dari bekerja, aku langsung menghambur ke pelukannya dengan terisak yang membuat bapak ku kebingungan.


"Ada apa to nduk?" Ku rasakan tangan bapak mengelus punggung ku pelan.


"Bagas pak, hiks.. hiks.."


"Bagas kenapa? Ada apa sama Bagas?" Suara bapak terlihat panik.


"Bagas di bawa sama Ryan pak." Ibuk menyahut dari arah dalam.


"Kok bisa Bu?" Bapak mengernyit keheranan lalu mengurai pelukannya. Ibuk pun segera menjelaskan kronologi kejadiannya kepada bapak.


"Ya sudah gak papa, biarkan saja dulu. Biar dia tau rasanya mengurus bayi. Dari Bagas lahir dia gak mau tau keadaan anaknya atau anaknya butuh apa juga dia seolah gak peduli." Ya memang benar apa yang bapak katakan, dari Bagas lahir mas Ryan memang seolah tak peduli dengan kami. Jangankan uang, datang menjenguk kami saja hanya sesekali. Orang tua ku lah yang membiayai persalinan ku dan juga yang mencukupi kebutuhan kami dari mulai anak ku lahir.


"Sudah jangan terlalu di pikirkan." Ucap bapak sekali lagi kemudian berlalu ke belakang untuk membersihkan diri.


Ku seret kaki ku untuk melangkah menuju ke teras rumah. Ku dudukkan tubuh ku ke kursi yang ada di teras mencoba menunggu mas Ryan mengantarkan Bagas kembali kesini. Semilir angin sore membelai surai rambut ku yang ku biarkan tergerai melambai menutup pandangan ku. Sesekali ku selipkan rambut ku ke belakang telinga, ku perhatikan setiap motor yang lewat di depan rumah. Aku berharap salah satu dari mereka adalah mas Ryan. Namun hingga adzan Maghrib berkumandang, mas Ryan tak kunjung datang mengantarkan Bagas. Tanpa bisa ku bendung lagi air mata ku kembali berlinang. Bagaimana keadaan anak ku? Apakah dia baik-baik saja? Apakah ia tak menangis karena kehausan? Sudah sejak pagi tadi anak ku tak menyusu, susu ku saja sampe merembes membasahi daster yang ku kenakan. Sakit rasanya, pasti saat ini anak ku sedang kehausan. Atau mungkin saat ini anak ku sedang menangis? Membayangkannya saja rasanya aku ingin menjerit sekuat tenaga.

__ADS_1


"Hiks.. hiks.." Aku hanya bisa terisak meratapi keadaan.


"Nduk, ayo masuk, gak baik sandeolo gini ada di luar." Ibuk tiba-tiba sudah ada di samping ku.


"Bagas buk, kenapa sampe sekarang belum di kembalikan? Hiks.. hiks.."


"Sudah-sudah ayo masuk dulu." Ibuk menuntun ku masuk ke dalam rumah.


"Nanti kalau Bagas gak di anterin kesini, besok pagi Fajar anterin kesana mbak." Ucap Fajar sambil memakai sarung, sepertinya hendak sholat Maghrib.


"Iya nduk, besok biar di antar Fajar buat jemput Bagas." Ucap ibuk kemudian berlalu. Aku hanya mengangguk lemah.


*****


Rasanya baru saja mata ku terpejam tapi pagi sudah menyapa. Segera ku bersihkan diri ku kemudian mencari Fajar untuk mengantarkan ku ke rumah mas Ryan.


"Fajar mana buk?" Tanya ku pada ibuk yang sedang menjemur baju di depan rumah.

__ADS_1


"Tadi habis sarapan, di kamar mungkin." Aku segera menuju kamar Fajar. Saat akan mengetuk pintunya, tiba-tiba saja pintu sudah di buka dari dalam. Nampak Fajar menyembulkan kepalanya.


"Ayo mbak!" Fajar segera mengeluarkan sepedanya, aku pun segera keluar dari rumah.


"Loh nduk, gak sarapan dulu."


"Nanti saja buk, takutnya Bagas sudah kehausan. Aku berangkat dulu buk." Ku cium tangan ibu ku meminta restu agar di permudah jalan ku mengambil kembali anak ku. Setelah itu aku segera naik ke atas motor Fajar, Fajar pun langsung melesatkan motornya menuju rumah mas Ryan.


*****


*****


*****


*****


*****

__ADS_1


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂


__ADS_2