JODOH KE-2

JODOH KE-2
Bab 23. Tidak Dibutuhkan Lagi!


__ADS_3

Tok.. tok.. tok..


Aku mengetuk pintu rumah mas Ryan yang terlihat sepi tersebut dengan perasaan yang campur aduk. Sedikit-sedikit ku tengok ke belakang melihat Fajar yang masih ada di atas motornya dan gak mau ikut turun.


Ceklek!


Pintu rumah terbuka, nampak ibu mertua ku yang terlihat kaget dan melotot tajam ke arah ku. Ku lihat ibu menggendong Bagas yang sedang menyusu menggunakan dot.


"Bu!" Sapa ku ramah ingin mencium tangannya tapi segera di tepis oleh ibu mertua ku.


"Mau apa kamu! Pergi sana!" Teriak ibu mertua ku mengusir ku.


"Biar Bagas aku susuin Bu, kasihan dari kemarin belum nyusu." Aku mencoba mengambil hati ibu mertua ku dengan berbicara seramah mungkin.


"Tidak perlu! Bagas sudah nyusu dot! Kalau kamu susuin lagi entar dia gak mau susu formula lagi." Ketus ibu mertuaku seraya mendorong ku.


"Tapi Bu, kasihan, Bagas tidak terbiasa nyusu dot. Dia gak mau susu formula." Aku mencoba menjelaskan ke ibu mertuaku, karena selama ini Bagas tidak mau susu dot.


"Biarkan saja, lama-kelamaan pasti juga terbiasa! Pergi sana, gak usah kembali lagi kesini!" Teriak ibu mertua ku sekali lagi seraya mendorong ku. Namun aku berusaha berpegang pada daun pintu dan mencoba meraih Bagas untuk ku gendong.


"Ryan!" Teriak ibu mertua ku memanggil mas Ryan. Gemetar tubuh ku saat mendengar nama mas Ryan.


"Ada apa ini!" Teriak mas Ryan dari dalam kemudian menghampiri kami.


"Aku mohon mas, aku hanya ingin menyusui Bagas. Kasihan dari kemarin belum nyusu." Mohon ku pada mas Ryan yang mukanya terlihat merah padam seperti menahan amarah yang sebentar lagi akan meledak.

__ADS_1


"Pergi kamu dari sini!" Teriak mas Ryan seraya mendorong ku hingga tersungkur ke lantai teras.


"Aaaahh!" Sakit rasanya, tapi tak sebanding dengan sakitnya hati ku yang di pisahkan dengan anak ku.


"Mbak!" Fajar berlari ke arah ku ingin menolong ku.


"Aku mohon mas, biarkan aku menyusui Bagas sebentar saja. Hiks.. hiks.." Ku raih kaki mas Ryan dan ku pegang erat seraya berlutut memohon kepadanya.


"Pergi kamu!" Lagi dan lagi mas Ryan mendorong ku hingga terjengkang ke belakang.


"Aaahh!"


"Mbak! Mas, jangan kasar donk!" Teriak Fajar tak kalah keras.


"Heh, anak kecil, gak usah ikut campur! Bawa mbak mu pulang, aku sudah gak butuh dia lagi!"


Sakit rasanya hati ini mendengar ucapan mas Ryan. Benarkah aku sudah tidak di butuhkan lagi? Apakah aku hanya di jadikan mesin pencetak anak, dan setelah menghasilkan anak aku di buang begitu saja karena sudah tidak di butuhkan lagi?


"Ayo buk masuk!" Mas Ryan mendorong pelan bahu ibunya untuk masuk ke dalam rumah kemudian membanting keras pintu rumahnya.


Brak!


"Hiks.. hiks.. Mas Ryan!" Aku segera bangkit dan menggedor pintu rumah mas Ryan.


Dok.. dok.. dok..

__ADS_1


"Mas Ryan! Buka pintunya, aku mau nyusuin Bagas. Mas!" Teriak ku memohon untuk di bukakan pintu.


Dok.. dok.. dok..


"Mas Ryan! Kembalikan anak ku! Hiks.. hiks.."


"Sudah mbak, ayo kita pulang."


"Tapi Bagas, hiks.. hiks.."


"Sudah, ayo pulang dulu." Fajar menarik tangan ku kemudian menuntun ku menuju ke motornya yang ada di halaman. Kami pun pulang dengan tangan kosong tanpa membawa pulang anak ku kembali ke dalam pelukan ku.


*****


*****


*****


*****


*****


Emak nulis ini sambil sesenggukan 😭😭


Pengen nimpuk kepala Ryan dan emaknya 🤬🤬

__ADS_1


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂


__ADS_2