JODOH KE-2

JODOH KE-2
Bab 40. Sedekah Bumi


__ADS_3

Seminggu kemudian, Tirta datang lagi. Namun kali ini bukan bersama bapak-bapak, melainkan dengan dua orang pemuda yang usianya ku perkirakan tak jauh di atas Tirta.


"Siang Nja?" Sapa Tirta saat aku menghampiri tempat duduk mereka.


"Si-siang mas!" Jawab ku sopan seraya tersenyum meskipun sedikit tergagap.


"Owh, ini ta mbak Senja yang kamu ceritakan itu Tir?" Ucap salah satu dari mereka yang tak ku kenali. Aku pun mengernyit.


"Ada apa memangnya? Apa yang diceritakan Tirta kepada teman-temannya?" Batin ku bertanya-tanya.


"Kenalin mbak, aku Galang!" Ucap pemuda tersebut seraya mengulurkan tangannya. Aku pun tak langsung menyambut uluran tangannya, namun aku malah menatap Tirta. Tirta yang seolah mengerti langsung menganggukkan kepalanya. Aku pun perlahan meraih tangan orang tersebut setelah mendapat angkutan dari Tirta.


"Aku Arvin mbak!" Ucap pemuda yang satunya lagi seraya mengulurkan tangannya. Aku pun segera melepaskan jabatan tangan ku dengan Galang kemudian beralih menjabat tangan Arvin.


Aku segera kembali ke dalam setelah mencatat pesanan ketiga orang tersebut.


(POV TETANGGA)


Dua bulan berlalu.....

__ADS_1


Hari yang dinanti-nanti oleh penduduk desa akhirnya tiba juga. Hari ini adalah hari di mana sedekah bumi diselenggarakan oleh masyarakat desa tempat asal Senja dan Yuni. Tradisi turun-temurun yang wajib dilakukan oleh penduduk desa setelah selesai musim panen. Ya, mayoritas penduduk desa tempat asal Senja adalah seorang petani.


Senja dan Yuni memilih untuk tidak pulang kampung karena bagi mereka itu tidak terlalu penting. Yang terpenting bagi mereka adalah, mereka bisa pulang ketika hari raya idul Fitri.


Setiap diadakannya sedekah bumi, pasti ada pagelaran Langen Tayub yang juga wajib diselenggarakan. Siang harinya selepas dzuhur masyarakat berbondong-bondong menyaksikan pagelaran Langen Tayub tersebut. Pagelaran Langen Tayub biasanya di mulai sekitar pukul setengah dua hingga jam lima sore.


Sebenarnya kesenian itu baik-baik saja, hanya saja sering diciderai oleh para penjogednya yang memang berasal dari kaum lelaki yang sukanya mabuk-mabukan. Seperti halnya saat ini, waktu baru menunjukkan pukul empat sore namun acara harus dihentikan karena adanya tawuran antar sesama penjoged. Hanya gara-gara mereka mabuk terus gak sengaja senggolan pas lagi joged, dan salah satu dari mereka ada yang tidak terima, maka terjadilah aksi tawuran tersebut yang mana melibatkan teman-teman dari kedua belah pihak.


Penonton langsung kocar-kacir berlarian untuk menyelamatkan diri masing-masing. Teriakan dan jeritan para penonton langsung menggema di ruangan terbuka tersebut.


Ada yang membawa batu di tangannya, ada yang membawa cangkul, ada yang membawa p@r@n9 dan ada juga yang membawa c31urit. Banyak pemuda dan juga papa-papa muda yang jadi korban, salah satunya adalah Ryan yang terlihat babak belur dan kepalanya juga nampak berdarah.


Malam harinya Ryan yang masih dalam keadaan mabuk, memanggil-manggil nama Senja mantan istrinya. Dengan sempoyongan ia masuk ke dalam rumah lalu mengambil p@r@n9 besar dan langsung melesat ke luar rumah lagi.


"Ryan!" Jerit Bu Retno saat melihat anaknya menggenggam p@r@n9 besar tanpa berani menghampirinya. "Bapak! Ryan pak!" Teriak Bu Retno memanggil pak Agus suaminya. Pak Agus langsung tergopoh-gopoh keluar dari dalam namun sudah tak melihat anaknya.


"Ada apa Bu?"


"Ryan sepertinya mabuk pak, dan tadi ia bawa p@r@n9." Ujar Bu Retno menangis sesenggukan dan juga ketakutan. Pak Agus langsung melesat keluar rumah untuk mengejar anaknya. Namun saat tiba di depan warung kopi milik bu Sih yang biasa di singgahi Ryan, orang-orang yang ada disana mengatakan kalau Ryan sudah dibawa oleh aparat kepolisian yang kebetulan memang sedang berpatroli untuk memantau situasi desa tersebut. Akhirnya pak Agus pun dengan lemas kembali ke rumah.

__ADS_1


"Mana Ryan pak?" Cecar Bu Retno saat melihat suaminya sudah kembali ke rumah namun tanpa anaknya.


"Dibawa polisi!" Jawab pak Agus singkat kemudian langsung masuk ke dalam meninggalkan Bu Retno yang semakin sesenggukan.


*****


*****


*****


*****


*****


Maaf kalau updatenya bolong-bolong, karena cerita ini berdasarkan realita kehidupan seseorang. Jadi nggak bisa asal ngarang seperti cerita emak yang lainnya ðŸĪ—


Lope-lope sekebun Pare 😘😘ðŸĪŠðŸĪŠ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕☕ðŸŒđðŸŒđ

__ADS_1


__ADS_2