
Sudah tiga bulan lamanya Aku dan Mbak Yuni bekerja di cafe ini. Semakin hari kafe semakin ramai, mungkin karena letaknya yang memang strategis karena dekat dengan tempat wisata.
Malam itu selepas cafe tutup, aku dan Mbak Yuni bergegas pulang ke rumah majikan kami. Memang kami tidur di rumah majikan kami tersebut yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kafe. Kami akan berangkat ke kafe sekitar pukul setengah sepuluh pagi, karena memang cafe bukanya jam sepuluh hingga jam dua belas malam.
Aku yang baru saja merebahkan tubuhku seketika tersentak saat ada panggilan masuk dari Fajar adik ku. Tak biasanya Fajar telpon tengah malam begini. Apa ada sesuatu yang penting yang ingin disampaikan kepada ku?
"Siapa Nja?" Mbak Yuni yang baru saja memejamkan matanya di sebelah ku kembali membuka matanya.
"Fajar mbak, ada apa ya? Tumben telpon tengah malam gini. Apa gak bisa besok saja?"
"Coba angkat saja, siapa tahu penting."
Aku segera menggeser tombol hijau tersebut dan langsung terdengar suara isak tangis ibu ku di ujung telepon, yang membuat ku seketika panik.
"Ibuk, assalamualaikum. Ada apa buk?"
"Waalaikum salam nduk, hiks.. hiks.."
"Buk, ada apa? Jangan membuat Senja khawatir begini."
__ADS_1
"*Kamu belum baca WA i*buk Nja?"
"WA? Senja baru aja pulang buk, belum sempet pegang hp."
"Dengarkan ibuk baik-baik Nja, untuk sementara waktu jangan pulang dulu."
"Memangnya kenapa buk?"
"Kamu tau Bu Sih yang punya warung kopi yang biasa di datangi Ryan itu?"
"Iya, ada apa dengan Bu Sih?"
Deg!
"I-ibuk tau dari mana?
"Bu Jami yang cerita sama ibuk setelah mendengar cerita Bu sih. Bu Jami bilang, pokoknya Senja jangan boleh pulang dulu, begitu."
Tak terasa air mata ku perlahan menetes, rasa takut tiba-tiba menyergap ku. Aku pun langsung mengakhiri panggilan tersebut.
__ADS_1
"Sudah, jangan di pikirkan." Ucap Mbak Yuni yang ikut mendengarkan cerita ibu ku karena memang sejak tadi telepon sengaja aku nyalakan speakernya. "Anggap saja wong edan! Otaknya gak waras gara-gara mendem." Geram mbak Yuni.
"Tap-tapi bagaimana jika nanti tiba-tiba mas Ryan menemukan keberadaan ku saat ini mbak?" Ucap ku ketakutan. "Kami saja belum bercerai, bagaimana mungkin Mas Ryan bisa bilang kalau aku akan menikah lagi?"
"Sudah-sudah, sekarang lebih baik kita tidur dulu. Istirahat, biar besok bisa kerja lagi." Mbak Yuni memejamkan matanya bersiap menjemput mimpi. Sedangkan aku masih setia terjaga hingga pukul dua dini hari. Setelah itu aku tak ingat lagi hingga telinga ku samar-samar mendengar suara adzan subuh berkumandang.
Ku kerjapkan mata ku beberapa kali guna mengurai rasa perih yang masih bergelayut di pelupuk mata. Setelah berhasil membuka mata ku sepenuhnya, kulihat Mbak Yuni yang masih terlelap di samping ku. Aku segera beranjak dari tempat tidur ku kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Ku ambil air wudhu dan segera menunaikan shalat subuh. Selepas shalat, ku tadahkan kedua tangan ku ke atas, ku panjatkan doa kepada sang pemilik semesta, memohon perlindungan darinya dari segala bentuk bahaya dan ancaman yang ada disekitar ku.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ââðð