
Satu tahun berlalu dan aku masih dalam ketakutan ku. Rasanya tiada hari tanpa bayang-bayang mas Ryan. Bahkan saat tidur pun aku harus terbangun karena ketakutan, seolah-olah ada yang mengejar ku.
Suara dering telpon menyadarkan ku dari lamunan. Siang itu kafe dalam keadaan sepi, jadi aku bisa beristirahat sejenak. Ku rogoh ponsel yang ada di dalam saku celana jeans ku. Tertera nama Fajar adik ku. Aku pun segera mengangkatnya, takutnya ada sesuatu yang penting. Aku selalu pias saat Fajar menelpon ku.
"Assalamualaikum?"
"Waalaikum salam!" Terdengar suara ibuk yang membalas salam ku.
"Ada apa buk?"
"Kamu gak pulang nduk? Ini udah setahun kamu gak pernah pulang."
"Senja gak berani pulang buk, Senja takut." Cicit ku.
"Pulanglah, Ryan gak ada di rumah. Kata orang-orang Ryan pergi kerja ke Kalimantan udah sekitar dua bulan ini. Barangkali kalau gak ada Ryan di rumah, kamu bisa menemui Bagas." Mendengar kata Bagas, seketika air mata ku menetes.
"Ibuk tau dari mana mas Ryan gak ada di rumah? Takutnya itu hanya pancingan agar aku datang. Senja takut buk, hiks.. hiks.."
"Tenanglah, Bu Jami tidak akan mungkin membohongi ibuk. Kalau Bu Jami bilang A ya A, gak mungkin B."
"Baiklah buk, nanti Senja minta izin sama boss dulu."
__ADS_1
Setelah panggilan terputus, aku segera menghampiri Mbak Yuni yang sedang menonton televisi.
"Mbak!" Aku duduk di samping mbak Yuni.
"Heeemm, ada apa?" Balas mbak Yuni tanpa mengalihkan perhatiannya pada televisi.
"Besok aku izin pulang bagaimana?"
"Ya nggak apa-apa, pulang aja. Emangnya kamu berani pulang sendiri?" Aku mengangguk.
"Kata ibuk, Mas Ryan nggak ada di rumah. Kata orang-orang Mas Ryan kerja ke Kalimantan udah dua bulan."
"Bagus itu, ini kesempatan buat kamu bisa bertemu Bagas anak kamu." Lagi aku mengangguk. "Nanti izin dulu sama bos." Aku pun mengangguk lagi.
"Cincai itu mah buat gue, sabar ya tungguin, nggak sabar ya pergi aja cari tempat lain. Beres kan?" Aku pun tergelak. Ya begitulah Mbak Yuni, orangnya simpel nggak mau ribet. Memang pembeli adalah raja, tapi kalau nggak sabaran nggak bakalan ditanggepin sama Mbak Yuni. Kadang sampai si pembeli itu maki-maki, Mbak Yuni mah tetep cuek aja. Gak ngurus! kata orang Jawa.
*****
Setelah mendapat izin dari boss semalam, pagi ini selepas sarapan aku langsung berangkat pulang kampung. Enam jam lebih lamanya perjalanan karena naik angkutan umum, akhirnya aku sampai di rumah.
"Ibuuuukk!" Teriak ku saat turun dari motor ojek. Aku berlari menubruk ibu ku yang saat itu duduk di bangku depan rumah. Mungkin sedang menunggu kedatangan ku. "Kangen, hiks.. hiks.."
__ADS_1
"Eh, kok nangis nduk?" Ibuk mengurai pelukan ku. "Ayo masuk dulu. Sehat kan anak ibuk?" Aku mengangguk.
"Bapak mana buk, kok sepi? Fajar?"
"Bapak baru saja berangkat cari pakan sapi. Kalau Fajar belum pulang."
"Makan dulu ya, baru istirahat." Lanjut ibuk.
Aku segera masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri terlebih dahulu, setelah itu baru makan siang. Sudah lama rasanya aku tidak merasakan masakan ibu ku. Memang benar adanya, masakan ibu memang selalu ngangenin. Setelah makan siang aku langsung kembali ke kamar untuk beristirahat. Aku ingin tidur sampai sore untuk menggantikan waktu tidur ku yang kurang selama ini.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ââðð