
Tok! Tok! Tok!
Akhirnya setelah sekitar empat bulan lamanya, suara ketuk palu sebanyak tiga kali menggema di ruang persidangan. Ya, hari ini adalah hari putusan sidang perceraian ku dengan mas Ryan. Dan hari ini aku dan mas Ryan dinyatakan sudah resmi bercerai.
"Alhamdulillah!" Ucapan syukur terlantun dari bibir kedua orang tua ku. Entah aku harus sedih atau bahagia, tapi air mata mengalir begitu saja. Bapak dan ibuk yang duduk di kanan kiri ku langsung bersamaan merengkuh ku.
Pukul satu siang kami keluar dari kantor pengadilan agama dan langsung pulang dengan mengendarai angkutan umum.
Sesampainya di rumah, aku langsung mengunci diri di kamar. Sesak yang sejak tadi bersarang di dalam dada langsung aku tumpahkan saat tiba di rumah.
"Kenapa sesakit ini ya Allah." Bukan ku meratapi perceraian ku bukan! Tapi sakit saat mengingat aku tak bisa memberikan keluarga yang utuh untuk Bagas anak ku. "Maafkan bunda sayang, maaf kalau bunda memilih menyerah." Ku tahan isak ku dengan menggigit bantal kuat agar suara tangis ku teredam oleh bantal. "Suatu saat nanti pasti kamu akan mengerti nak, kenapa bunda memilih jalan ini."
*****
Keesokan harinya aku langsung kembali lagi ke Gresik tempat ku bekerja. Aku tidak bisa terlalu lama mengambil libur karena aku sudah terlalu sering mengambil libur saat harus bolak-balik ke persidangan. Beruntung boss ku memahami keadaan ku saat itu. Dan Mbak Yuni yang mendukung penuh perceraian ku dengan mas Ryan.
"Gimana? Udah plong sekarang?" Tanya mbak Yuni saat kami duduk berdua di depan TV. Saat ini cafe dalam keadaan sepi karena baru saja di buka. Aku menggeleng. "Kenapa?" Mbak Yuni nampak mengernyitkan dahinya.
"Entahlah mbak, yang pasti aku masih merasa takut. Takut sewaktu-waktu bertemu di jalan. Bagaimana kalau mas Ryan marah karena aku menceraikannya?"
__ADS_1
"Ya itu salah sendiri! Kenapa gak datang saat mediasi dulu. Kalau dia datang kan bisa mengajukan banding. Atau mungkin kalau dia keberatan buat cerai kan bisa rujuk kembali." Ya, memang Mas Ryan tidak pernah datang sama sekali dalam sidang perceraian kami. "Ya udah, nggak usah dipikirin. Aku doain Ryan kecantol sama cewek di sana dan nggak pernah kembali lagi."
"Eh kok gitu mbak, nanti kalau anak ku cari bapaknya bagaimana? Sudah ibunya nggak ada di dekatnya sekarang bapaknya juga nggak ada. Hiks.. hiks.. malang nian nasib mu nak, maafkan bunda sayang."
"Eh, kok malah nangis." Mbak Yuni menyodorkan kotak tisu dan langsung kuraih.
Suara deru beberapa kendaraan bermotor berhenti di depan kafe, lebih tepatnya di parkiran cafe. Beberapa orang masuk ke dalam kafe dan langsung mengambil duduk. Kalau di lihat dari penampilannya yang memakai kaos dan celana pendek serta sarung yang disampirkan di pundak, menandakan bahwa mereka adalah para nelayan desa setempat. Atau mungkin tetangga desa, aku perkirakan masih daerah sekitar sini. Aku segera bangkit dari duduk ku kemudian menghampiri mereka.
"Mau pesen apa mas, pak?" Tanya ku dengan senyum ramah.
"Baru buka ya mbak?" Ucap salah satu dari mereka yang masih muda.
"Bukan, bukan itu maksud saya. Tapi kafenya yang baru buka."
"Alhamdulillah sudah lumayan lama Mas, udah beberapa bulan yang lalu." Nampak orang tersebut manggut-manggut.
"Boleh kenalan mbak?" Ucapnya menyodorkan tangannya ke arah ku. Aku pun tak langsung menjabat tangannya. Ku beranikan diri mengangkat kepala ku untuk memandangnya terlebih dahulu. Setelah orang itu menyunggingkan senyum ramah, baru aku mengulurkan tangan ku untuk menjabat tangannya yang sejak tadi menggantung di udara.
"Se-Senja!" Aku langsung menarik tangan ku kembali.
__ADS_1
"Jangan takut mbak, kami bukan orang jahat. Kami hanya ingin berteman dengan mbak."
"Oh ya, aku panggil Senja saja ya biar lebih akrab. Lagian umur kamu juga pasti jauh di bawah ku." Lanjut orang tersebut mencoba mengakrabkan diri. "Kenalkan, aku Tirta." Tirta menaruh tangannya di dada memperkenalkan diri seraya tersenyum ramah. Aku hanya mengangguk. "Kalau teman Mbak namanya siapa?" Tirta menunjuk Mbak Yuni yang masih duduk di depan TV.
"Yuni mas!"
Setelah mencatat pesanan mereka aku pun segera masuk ke dalam untuk menyiapkan pesanan mereka.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ââðđðđ