
Keesokan harinya, dengan diantar oleh Fajar, aku datang untuk mengunjungi anak ku di rumah orang tua Mas Ryan.
"Kenapa nggak nanti sore aja sih Mbak? Ini kan udah jam setengah tujuh, bisa telat aku nanti." Gerutu Fajar selama perjalanan.
"Halah, sebentar aja." Aku monoyor kepala Fajar dari belakang. "Nanti turunin aja di pinggir jalan, mbak nanti bisa pulang sendiri jalan kaki."
Sesampainya di pinggir jalan depan rumah mas Ryan, aku segera turun dari motor Fajar. Pintu rumah mas Ryan nampak tertutup rapat dan juga nampak sepi seperti tak berpenghuni.
"Tunggu sebentar Jar."
"Ah elah mbak, tadi katanya suruh ninggal." Aku tidak memperdulikan gerutuan Fajar. Aku melangkah menghampiri pintu rumah Mas Ryan yang ternyata di gembok dari luar. Aku hanya bisa menghela nafas panjang. Aku kemudian melangkah ke sebelah tepatnya di rumah Bu Sum. Namun pintu rumah bu Sum juga tertutup rapat. Pada kemana orang-orang ini? Aku beralih ke tetangga sebelah, nampak seorang nenek-nenek sekitar umur enam puluh tahunan lebih duduk di amben (Ranjang bambu) depan rumah. Aku biasa memanggilnya Mbah Nari, dia adalah salah satu saksi hidup ku selama bersama mas Ryan.
"Mbah Nari, sehat Mbah?" Sapa ku saat sudah berada di dekat Mbah Nari. Ku raih tangan keriputnya kemudian ku cium.
"Ealah nduk." Matanya yang memang rabun tidak bisa mengenali orang dari kejauhan. "Piye, sehat to awak mu?" Mbah Nari mengelus kepala ku. (Gimana, kamu sehat?)
__ADS_1
"Sehat Mbah, alhamdulillah. Mbah gimana? Sehat?" Tanya ku balik.
"Alhamdulillah, Mbah yo sehat nduk. Piye, wes ketemu anak mu?" Aku menggeleng. (Alhamdulillah, Mbah juga sehat. Gimana, sudah ketemu anak mu?)
"Rumahnya di gembok dari luar Mbah."
"Lho, kemana? Wong tadi Mbah lihat masih beli sayur di perempatan sana." Mbah Nari menunjuk perempatan yang biasanya dijadikan pangkalan para tukang-tukang sayur. Biasanya disebut sebagai pasar krempyeng. "Kalau Ryan memang gak ada di rumah. Sudah dua bulan pergi kerja ke Kalimantan."
"Ya sudah Mbah, aku tak pamit dulu, soalnya Fajar mau berangkat sekolah." Ku cium sekali lagi tangan Mbah Nari kemudian segera pergi. Ternyata benar kalau mas Ryan gak ada di rumah.
"Ayo Jar kita pulang saja." Aku langsung naik ke atas motor Fajar, Fajar pun segera melesatkan motornya meninggalkan rumah mas Ryan.
"Gimana nduk?" Ibuk menghampiri ku. Saat ini aku sedang duduk di teras, merenungi segalanya. Dosa apa yang aku lakukan hingga ada manusia yang tega memisahkan ibu dari anaknya. Aku menggeleng.
"Rumahnya di gembok buk, hiks.. hiks.." Sekuat apapun aku mencoba untuk tetap tegar, jika sudah berada di dekat ibu ku pasti akan runtuh. Hanya ibulah tempat ku bersandar, mencurahkan segala keluh kesah yang selama ini mencoba aku pendam sendiri. Ibuk langsung merengkuh ku ke dalam pelukannya. Ku rasakan tubuh ibu ku yang juga ikut bergetar.
__ADS_1
"Sudah ya, gak usah di pikirkan. Suatu saat nanti jika Bagas sudah besar pasti akan mencari kamu ibunya." Suara ibuk terdengar sengau seperti menahan tangisnya. Aku mengangguk. "Ayo sekarang kita sarapan dulu. Nangis juga butuh tenaga biar bisa kenceng." Canda ibu ku yang membuat ku terkekeh.
"Ayo buk!" Aku segera menggamit lengan ibu ku mengajaknya masuk ke dalam rumah.
*****
*****
*****
*****
*****
Sekarang Mbah Nari sudah meninggal sekitar 5th yang lalu ðĒ
__ADS_1
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ââðð