
Keesokan harinya dengan di temani mbak Yuni, aku pergi ke rumah mas Ryan untuk mengunjungi Bagas. Kira-kira segembul apa badannya? Sudah ku bayangkan di usianya yang sudah menginjak delapan bulan ini pasti ia udah bisa duduk dan merangkak.
Dengan membawa beberapa setel baju dan beberapa pasang sepatu yang aku beli kemarin pas libur kerja, aku di bonceng mbak Yuni dengan motornya menuju ke rumah mas Ryan.
Nampak rumah mas Ryan yang pintunya terbuka lebar. Aku dan Mbak Yuni pun segera menghampiri pintu rumah tersebut kemudian mengetuknya.
Tok.. tok.. tok..
"Assalamualaikum?" Sapa ku saat melihat mas Ryan sedang menonton TV sambil tiduran di sofa. Mas Ryan segera bangkit dari tidurannya lalu melangkah menuju pintu.
"Mau apa lagi kamu!" Bentak mas Ryan seraya mendelik tajam ke arah ku.
"Ma-mau ketemu anak ku mas." Jawab ku takut-takut.
"Hahaha, Bagas anak ku! Bukan anak mu! Pergi! Dan jangan pernah datang lagi kesini!" Teriak mas Ryan keras membuat nyali ku menciut. Air mata pun sudah tak bisa lagi ku bendung.
"Hey, Yan! Kalau gak ada Senja, gak bakalan ada Bagas!" Mbak Yuni ikut berteriak di depan mas Ryan.
__ADS_1
"Hahaha, memangnya aku peduli? Pergi sana!" Mas Ryan mendorong ku hingga hampir saja aku terjengkang ke belakang. Beruntung ada mbak Yuni yang sigap menangkap tubuh ku hingga aku tak terjatuh.
"Izinkan aku bertemu anak ku sekali saja mas. Ini aku belikan baju dan sepatu lucu buat Bagas." Pintaku memohon.
"Bagas gak butuh barang dari kamu! Sampai mati pun aku tak akan mengizinkan kamu bertemu anak ku!" Teriak mas Ryan kemudian membanting pintu dengan keras.
Braakk!
Tok.. tok.. tok..
"Hiks.. hiks.. Bagas, ini bunda nak. Bunda kangen sama Bagas." Teriak ku di depan rumah mas Ryan, mengharap belas kasihan dari mas Ryan agar mengizinkan ku menemui Bagas anak ku. Namun hingga tiga puluh menit berlalu, pintu rumah tak kunjung di buka.
"Di dunia ini banyak mantan istri dan mantan suami, tapi tidak ada yang namanya mantan anak. Sampai mati pun Bagas tetap anak mu!" Mbak Yuni berucap dengan lantang, mungkin karena ia juga ikut marah dan sakit hati melihat ku di perlakukan seperti itu. Aku pun menurut kepada mbak Yuni. Kami akhirnya kembali pulang tanpa bisa bertemu anak ku barang sebentar.
Di turunkannya aku di depan rumah, kemudian Mbak Yuni langsung melesat pergi karena ia juga akan mengunjungi anaknya yang rumahnya agak jauh. Meskipun satu kabupaten tapi berbeda kecamatan. Tadi rencananya aku pengen ikut, namun karena melihat keadaan ku yang saat ini tidak baik-baik saja, akhirnya mbak Yuni melarang ku untuk ikut bersamanya.
"Buk!" Aku langsung memeluk ibu ku saat masuk ke dalam rumah. Ku tumpahkan seluruh tangisan ku ke dalam pelukan ibu ku.
__ADS_1
"Kok nangis to? Bagaimana?" Tanya ibu ku sambil mengusap rambut ku. Aku hanya menggeleng lemah dalam tangis ku.
"Ya sudah, pasrah saja sama Gusti Allah. Yang penting kamu jangan pernah putus doa. Suatu saat nanti pasti Allah mempertemukan mu dengan anak mu." Ucap ibuk menyemangati.
"Wes biarin saja nduk. Kita lihat saja sejauh mana mereka bisa mendidik Bagas. Retno dan Agus saja tidak mampu mendidik Ryan dengan baik. Coba lihat kelakuan Ryan? Itulah hasil didikan kedua mertua mu!" Bapak nampak marah, namun ia tak banyak berucap. Hanya sesekali saja jika bapak sudah tidak bisa menahannya.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare 😘😘
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂