
Malam harinya seusai makan malam, kami berempat duduk lesehan di karpet depan televisi. Tadi ketika makan, aku sempat mengutarakan ingin berbicara kepada kedua orang tua ku setelah makan. Setelah membereskan piring-piring bekas makan kami, ibu langsung menarik ku untuk duduk di ruang televisi bersama bapak dan Fajar yang sudah terlebih dahulu menonton televisi.
"Ada apa? Tadi katanya mau ngomong." Cecar ibu ku tak sabaran. Aku terlebih dahulu menatap ibu ku, kemudian beralih menatap bapak. Namun aku tak menatap Fajar karena ia lagi asik nonton televisi.
"Bagaimana menurut bapak dan ibu kalau aku mengurus perceraian ku dengan mas Ryan sekarang?" Bapak dan ibuk terlihat kaget.
"Apa sudah kamu pikirkan baik-baik nduk?" Ibuk mengelus kepala ku.
"Sudah buk, mumpung Mas Ryan nggak ada di rumah. Kalau Mas Ryan ada di rumah, Senja nggak berani Buk." Perlahan air mataku menetes. "Dulu kata Mbak Yuni, Mbak Yuni juga mengurus perceraiannya sendiri tanpa suaminya, karena suaminya dulu juga berada di luar pulau seperti halnya Mas Ryan."
"Bapak setuju saja nduk. Kapan rencananya?" Bapak langsung mendukung keputusan ku.
"Besok Senja mau ke rumah orang tua Mas Ryan lagi pak, buat minta restu untuk berpisah dari anaknya. Setelah itu Senja akan langsung ke rumah Mbah Moden. (Kalau di desa bukan pengacara yang membantu proses perceraian, melainkan Mbah Moden yang dulu mendampingi proses ijab kabul)
"Iya terserah kamu nduk, ibuk dan bapak akan selalu mendukung keputusan mu selama itu baik buat kamu." Ibuk langsung memeluk ku dengan tubuh gemetar menahan isak tangis.
__ADS_1
*****
Keesokan harinya, dengan mengendarai sepeda ontel mini, aku datang lagi ke rumah orang tua mas Ryan. Pintu rumah nampak terbuka, aku pun langsung mengetuknya dan langsung masuk saat melihat ibu mertua ku yang sedang duduk di ruang tamu. Namun tanpa anak ku, dimana kira-kira anak ku di sembunyikan? Apa masih tidur di kamar?
"Bu!" Ingin ku raih tangannya, namun ibu mertua ku segera melipat kedua tangannya di dada.
"Mau apa lagi datang kesini?" Tanya ibu mertua ku ketus.
"Bagas mana Bu?" Aku pun celingukan mencari anak ku.
"Gak usah cari Bagas lagi. Sekarang keluar dari sini." Teriak ibu mertua ku.
"Mimpi, sampai kapan pun aku tidak akan pernah mengizinkannya." Teriak ibu mertua ku lagi. Tak terasa air mata ku pun menetes. Rasanya percuma meminta belas kasih kepada ibu mertua ku yang hatinya sekeras batu itu.
"Baiklah Bu, kedatangan ku kali ini ingin meminta restu sama ibu selaku orang tua Mas Ryan, aku ingin mengurus perceraian ku dengan Mas Ryan." Ucap ku takut-takut.
__ADS_1
"Pergi kamu dari sini!" Ibu mertua ku beranjak dari duduknya kemudian menarik ku untuk keluar dari rumahnya. "Aku gak peduli lagi, pergi sana!"
Braakk!
Pintu rumah langsung dibanting oleh ibu mertua ku setelah berhasil mendorong ku keluar dari rumah. Beruntung aku gak sampe tersungkur. Ku ayunkan langkah kaki ku mendekati sepeda ontel yang tadi aku letakkan di halaman. Segera ku kayuh sepeda itu menuju ke rumah Mbah Moden untuk membantu ku mendaftarkan gugatan cerai ku kepada Mas Ryan ke pengadilan agama yang ada di kota.
*****
*****
*****
*****
*****
__ADS_1
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, Saweran kopi dan bunganya juga boleh ââ ðđðđ