JODOH KE-2

JODOH KE-2
Bab 34. Ada Yang Hitam Tapi Bukan Kopi?


__ADS_3

Tak terasa hari berlalu bulan berganti. Mbak Yuni yang sudah bekerja di pabrik kertas ini selama kurang lebih tiga tahun, memilih pindah saat mendapat tawaran kerja dari salah satu sahabatnya di sebuah cafe. Aku yang baru bekerja selama delapan bulan pun ikut pindah bersama Mbak Yuni bekerja di cafe tersebut, tepatnya di daerah Gresik dekat dengan tempat wisata pasir putih.


Setiap mengambil libur, pasti kami akan datang berkunjung ke tempat wisata tersebut. Biasanya penduduk asli sekitar tempat wisata bebas tiket alias gratis masuk ke dalam wisata pasir putih tersebut. Para petugas yang berjaga di pintu masuk yang sudah mengenali kami pun tak pernah memungut biaya masuk kepada kami. Mereka sering datang ke kafe sekedar untuk membeli kopi karena tempat wisata ini memang dekat dengan kafe tempat ku dan mbak Yuni bekerja.


Seperti halnya di pabrik, di cafe ini pun aku bertemu dengan banyak pengunjung dengan berbeda-beda karakter. Ada yang sabar dan ada juga yang nggak sabaran. Seperti sore ini saat cafe rame pengunjung.


"Mbak!" Teriak salah satu pengunjung laki-laki yang berbadan tinggi tegap dan berkulit hitam. Aku pun segera menghampiri laki-laki tersebut. Suasana cafe yang rame membuat kami keteteran karena kami hanya berdua saja, yaitu hanya aku dan Mbak Yuni yang bekerja di kafe ini. Kafe ini memang baru buka jadi pemilik cafe juga belum bisa memperkerjakan banyak orang, apalagi cuma sebuah kafe kecil.


"Iya mas maaf, harus menunggu. Kami harus melayani yang datang lebih dulu. Sekali lagi kami minta maaf. Mau pesen apa?" Ucap ku takut-takut.


"Saya juga sudah datang sejak tadi. Apa mbaknya nggak lihat kalau saya sejak tadi sudah duduk di sini."


"Ma-maaf mas." Aku menunduk takut saat melihat matanya yang melotot seperti mau copot. Orang tersebut kemudian menyebutkan pesanannya, aku pun segera mencatatnya.


"Tunggu sebentar mas, kami akan menyiapkannya." Aku segera berlalu masuk ke dalam untuk menyiapkan pesanan orang tersebut.

__ADS_1


"Hey, kamu kenapa kok kayak orang ketakutan gitu?" Mbak Yuni menyenggol lengan ku saat aku sedang mengaduk kopi.


"Habis ketemu setan Mbak, setannya galak, badannya tinggi, tubuhnya item. Hiiiiii.... serem pokoknya." Aku bergidik ngeri membuat Mbak Yuni tergelak karena paham dengan apa yang aku maksud.


"Sabar, orang sabar di sayang pacar." Ucap mbak Yuni masih sambil tergelak.


"Iya kalau punya pacar, kalau nggak punya? Pacar siapa yang mau nyayang? Pacar orang?" Balas ku kesal.


"Udah ah, aku mau ke depan takut setannya keburu ngamuk." Aku berlalu meninggalkan Mbak Yuni yang malah semakin terbahak.


"Permisi!" Ucap ku hati-hati saat meletakkan pesanan ke atas meja, karena takut mengganggu orang tersebut yang sedang bertelepon.


"Iya, ada lagi mas?"


"Kopinya tambah satu, teman saya akan datang kemari. Sekarang! Nggak pake nanti." Aku pun mengangguk dan segera berlari masuk ke dalam lagi.

__ADS_1


"Huh, amit-amit semoga nggak ada lagi pelanggan yang seperti itu."


"Ada apa lagi?" Mbak Yuni menghampiri ku.


"Nanti mbak Yuni saja ya yang nganterin pesanan orang tadi." Aku segera membuatkan kopi kemudian menyerahkannya kepada Mbak Yuni agar segera mengantarkannya ke depan. Mbak Yuni terkenal tegas di sini. Jadi jika ada pengunjung yang rewel, maka Mbak Yuni akan langsung turun tangan. Mbak Yuni pun melenggang ke depan dengan membawa secangkir kopi pesanan orang tersebut.


*****


*****


*****


*****


*****

__ADS_1


Lope-lope sekebun Pare 😘😘ðŸĪŠðŸĪŠ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂


__ADS_2