JODOH KE-2

JODOH KE-2
Bab 28. Karena Itu Bukan Kuasaku


__ADS_3

"Mbak Yun gak kerja?" Tanya ku sambil rebahan di atas kasur busa yang ada di lantai kamar mbak Yuni. Ku pandangi langit-langit kamar yang nampak putih bersih seperti baru di cat. Sedangkan mbak Yuni sedang duduk di lantai bersandar di tembok seraya memainkan ponselnya.


"Tadi kerja setengah hari." Jawab mbak Yuni masih sambil memainkan ponselnya.


"Nanti setelah jam kerja usai, kita masuk buat daftar sekaligus kenalan sama Bu Lim dan Bu boss." Lanjut mbak Yuni.


"Bu Lim itu siapa mbak? Kira-kira galak-galak gak ya mbak orang-orang yang ada di pabrik?" Tanya ku penasaran.


"Bu Lim itu manager di pabrik. Orang kepercayaan Bu boss yang di tugaskan mengelola pabrik." Jelas mbak Yuni. Aku pun hanya manggut-manggut.


"Orang-orang di pabrik juga baik-baik. Tapi kalau orang Madura ngomongnya agak kasar, tapi sebenarnya mereka baik. Cuma pembawaannya aja yang kasar. Nanti kalau ada omongan yang agak nyelekit gak usah di masukin hati. Anggap aja orang kentut, baunya pasti berlalu. Hahaha." Tawa mbak Yuni memenuhi kamar. Aku pun jadi ketularan tawanya.


"Mbak, nanti kalau di tanya perihal status, bilang aja aku udah menikah ya?" Ucap ku takut-takut.


"Lah, emang kenapa? Tapi emang bener sih, kamu kan belum cerai. Kamu kapan mau ngurus perceraian?" Tanya mbak Yuni yang membuat ku terdiam karena tertohok dengan pertanyaan mbak Yuni. Benarkah harus ada perceraian? Apakah pernikahan kami tidak bisa di selamatkan? Bagaimana nanti nasib anak ku?


"Hey, kenapa?" Aku hanya menggelengkan kepala ku pelan.


"Entahlah mbak, untuk saat ini aku ingin fokus kerja dulu. Aku gak mau memikirkan sesuatu yang akan terjadi di kemudian hari karena itu bukan kuasa ku." Jawab ku lirih, tak terasa air mata ku membasahi pipi. Segera ku usap agar mbak Yuni tak melihatnya dan nanti ia merasa bersalah karena telah membuat ku menangis.


"Tapi, apa kamu ada rencana buat cerai? Atau mau balikan?"

__ADS_1


"Untuk saat ini aku belum mikirin cerai. Tapi kalau balikan, sepertinya tidak!" Sekali lagi aku menggelengkan kepala ku.


"Oh ya, jam berapa biasanya pabrik bubar mbak?" Tanya ku mengalihkan pembicaraan.


"Ya seperti jam kerja normal. Dari jam delapan sampe jam empat. Tapi kalau ada lembur biasanya sampe jam sembilan malam. Kalau lembur biasanya di hitung per jam dan akan di bayarkan saat itu juga uang lemburnya." Jelas mbak Yuni memaparkan.


"Ayo, udah jam setengah lima. Pasti udah sepi di pabrik." Mbak Yuni bangkit lalu keluar kamar, aku pun segera bangkit dan mengekor di belakangnya.


Kami menyusuri lorong yang tadi kami lewati saat baru saja datang. Pintu akses masuk pabrik ini hanya ada di depan saja. Ku perhatikan banyak tumpukan kertas, kardus dan juga palet di bagian samping kiri.


"Hey Yun, udah datang?" Tanya seorang wanita yang ku taksir umurnya sekitar lima puluhan, karena ada beberapa uban yang menyembul dari balik rambut hitamnya yang tergerai lurus sebahu karena efek rebonding. Mukanya sedikit agak keriput di bagian mata, bodynya sexy karena memakai kaos panjang pres body dengan celana jeans pensil.


"Iya mbak, tadi jam dua kalau gak salah. Kenalin ini Senja sepupu ku." Aku pun segera mengulurkan tangan ke arah wanita tersebut.


"Panggil saja mbak Lim! Gak usah takut begitu Nja, aku gak bakalan gigit kamu. Selamat bergabung bersama kami, besok udah siap kerja?" Tanya mbak Lim sambil tersenyum ramah.


"Sudah Bu, eh Mbak."


"Haha, gak usah grogi begitu." Tawa mbak Lim menepuk bahu ku.


"Siapa mbak Lim?" Tanya seorang wanita cantik yang masih terlihat muda, mungkin baru umur sekitar dua puluh limaan. Matanya sipit kayak orang Cina, pakaiannya bahkan jauh lebih sexy dari mbk Lim, kaos pendek yang super ketat dan memakai celana jeans pendek di atas lutut.

__ADS_1


"Eh Bu boss, ini sepupunya Yuni udah datang." Jawab mbak Lim sopan.


"Oh, Senja ya?" Tanya wanita tersebut seraya manggut-manggut. Aku pun mengangguk kemudian segera mengulurkan tangan. Dan Bu boss pun menjabat tangan ku.


"Selamat bergabung, semoga betah." Ucap Bu boss menepuk bahu ku kemudian berlalu.


"Ya sudah, istirahat sana. Besok biar semangat kerjanya." Ucap mbak Lim sambil mengulas senyum.


"Ayo Nja!" Mbak Yuni langsung keluar dari pabrik dan aku pun segera mengikutinya.


"Mari mbak, permisi." Pamit ku sopan.


*****


*****


*****


*****


*****

__ADS_1


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂


__ADS_2