Jodoh Pasti Bertemu

Jodoh Pasti Bertemu
Episode 13 - Wajah yang Menyilaukan Mata


__ADS_3

Pintu gerbang pesantren pondok Jambu terasa sejuk. Angin pegunungan menerpa tubuhku, daun-daun kering jatuh, burung-burung lompat dari dahan satu ke yang lainnya. Suara tawa anak-anak kecil, mereka berlarian telanjang kaki menggiring kambing. Kurang lebih delapan jam aku tiba di sini, sebuah pondok pesantren di daerah pegunungan yang terletak di Cirebon. Perlahan kakiku melangkah, memasuki kawasan santri.


Mata ini menyapu seluruh sudut ruang yang kulewati. Beberapa santri perempuan tengah berdiskusi di bawah pohon, dan yang lainnya tengah mengerjakan sesuatu, seperti membersihkan taman, ada yang menyapu halaman rumah asri yang berdiri kokoh di tengah-tengah pondokan. Aku perhatikan, ada juga yang tengah menganyam, membuat peralatan dari bambu. Aku tersenyum padanya, ketika salah satu dari mereka menganggukkan kepala. Suasana sangat tenang dan bersahabat, berbeda dengan di Jakarta yang panas dan sangat individualis.


“Assalamu’alaikum,” sapa seorang santri perempuan.


“Wa’alaikumussalam,” jawabku.


“Mau bertemu dengan siapa?”


“Dengan Ibu Masriyah, ada?”


“Ada. Mari ikut saya…”


Aku mengikuti langkah santri perempuan itu. Dia berpakaian sangat sederhana yang serba longgar, menyerupai gamis, tentu saja memakai jilbab. Perawakannya tinggi semampai, wajahnya putih bercahaya, seolah tak tergurat kepedihan dalam hidupnya sehari-hari.


Kami terhenti di sebuah bangunan yang sederhana, namun terkesan elegan. Di pekarangannya banyak sekali tanaman hias, kolam ikan, bersih, dan sejuk. Setelah mengucapkan salam, seorang wanita paruh baya keluar dari rumah itu. Wajahnya sangat cerah, padahal usianya menurutku tidak muda lagi, tampak wajah ketegaran tersirat. Tatapan matanya tajam namun tutur katanya ramah dan penuh senyuman.


“Permisi, ada tamu, Ibu…”


Hm, pantaslah ia begitu disegani para santrinya, halus sekali budi pekerti sang murid menghadap gurunya. Dengan bahu yang sedikit menunduk dan suara yang perlahan. Aku jadi teringat dengan seorang tetanggaku di Jakarta yang pernah mondok di pesantren dan dia kabur karena menganggap pesantren seperti penjara yang mengikat seluruh kebebasan dan hanya sebatas perbudakan semata. Ah tidak, kini aku tahu setelah beberapa langkah kaki ini memasuki lingkungan santri di sini, ternyata tak sekejam yang tetanggaku ceritakan tentang gambaran pesantren. Bahkan yang kurasakan ketika memandang satu persatu orang-orang yang kulihat, mereka sangat meneduhkan dan hatiku terasa begitu tersentuh. Tiba-tiba rindu yang dalam akan Tuhan semakin nyata mengalun indah dalam sanubariku yang gersang ini.


Wanita yang dipanggil Ibu Masriyah oleh sang santri itu terus memandangku, mungkin ia sudah bisa menebak bahwa aku datang dari jauh, dari kusut wajahku, dari lusuh pakaianku, dan tas rangsel yang menggembung. Duh, malunya aku dengan keadaanku yang serba tak segar. Tapi entahlah, apa yang sebenarnya aku inginkan sehingga aku harus berada di tempat ini. Hati dan pikiranku tak menentu. Bayang-bayang orang-orang yang kukasihi menerbangkan kesadaran bahwa kini aku sudah berdiri di depan pintu rumah sang guru para santri.


“Mari masuk…”


Tiba-tiba lamunanku buyar, bu Masriyah mempersilakanku masuk. Aku mengikutinya masuk ke dalam rumah, ternyata di dalamnya lebih sejuk lagi. Lukisan-lukisan alam menghiasi ruang tamu, semua perabotannya terbuat dari ukiran rotan dan jati. Sehingga menimbulkan kesan klasik yang sungguh mengesankan siapa saja yang melihat.


Kemudian aku dipersilakan duduk, dan santri perempuan itu pergi, entah kemana. Sementara sang pemilik rumah duduk berhadapan denganku. Aku yakin, dia adalah ibu Masriyah, yang aku cari.


“Selamat datang di Pondok Jambu, nama Ibu adalah Masriyah.”


“Terima kasih Ibu, saya Anggun.”


“Anggun?”

__ADS_1


Ibu Masriyah meneliti wajahku. Aku menunduk malu, tak kuasa memandang sorot matanya yang tajam.


“Oh ya, Anggun dari Jakarta?”


“Iya Ibu…”


“Bu Umay telah banyak bercerita dengan Ibu di telepon. Jika kamu tidak keberatan, silakan belajar di pondok yang sangat sederhana ini.”


Aku masih menunduk. Bu guru Umay memang memberikan aku nasihat untuk masuk pesantren di sini. Disaat aku berputus asa dalam kepedihanku sebatang kara, dia datang ke rumah. Sungguh, aku baru sadar jika guru itu sangat perhatian padaku. Ibuku telah pergi selamanya, Roman juga menjadi korban tawuran, aku tak tahu mesti kemana dan apa yang harus dilakukan. Dengan nasihat bu guru Umay, akhirnya aku memutuskan untuk menjual rumah, untuk bekal di pesantren ini.


“Saya sudah tak ada siapa-siapa lagi Bu…,” ucapku lirih.


Seketika pedihku terasa menyesakkan dada. Tak terasa air mata menetes. Aku tak pernah mengerti dengan apa yang terjadi pada diriku, mengapa begitu sangat memilukan kisah hidupku. Ditinggalkan orang-orang yang sangat aku butuhkan untuk menjadi semangat hari-hariku.


“Jangan pernah mengatakan itu. Di dunia ini, masih banyak orang-orang baik, setiap orang baik, adalah sahabat kita, keluarga kita, maka kita jangan pernah menyesali sesuatu yang itu bukan kesalahan kita.”


“Tapi… saya bukan orang baik. Aku terlahir dari keluarga yang berdosa.”


Air mata semakin deras. Bu Masriyah menghela napas, dia bangkit dari tempat duduknya, lalu duduk di sampingku.


Tak kuasa aku menahan tangis. Kupeluk ibu Masriyah, aku seperti menemukan ibu kembali, dia hadir dalam wujud yang lain. Dalam hati ini bertekad untuk menuntut ilmu di pesantren ini, dan tak akan pernah menginjak ibu kota lagi.


“Masa lalu biarlah menjadi masa lalu. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kamu bisa meraih masa depan yang lebih baik.”


Suara itu, perkataan itu, mengingatkan aku kepada Roman. Aku semakin menangis. Aku menemukan Roman dalam semangat ibu Masriyah. Inikah nasib yang harus aku jalani, atau ini baru sebuah awal dalam perjalananku.


“Ibu, tolong bimbing saya…”


Ibu Masriyah mengusap kepalaku.


“Kita belajar bersama di sini… sebab pada hakikatnya, setiap manusia selalu belajar untuk menjadi lebih baik.”


Sudah tak sanggup aku berkata-kata lagi, hanya air mata yang bercucuran. Deras sekali, seperti air bah yang memporak-porandakan kota, kepedihan ini tak bisa aku bendung lagi. Aku ingin melepaskan beban di sini, di dalam pelukan ibu Masriyah. Aku adalah wanita yang lemah, aku tak tahu mengapa Tuhan memberikan ujian yang begitu berat kepadaku. Atau ini sebuah siksaan? Tak mungkin bukan? Tuhan tak pernah menyiksa hamba-Nya. Bukankah Tuhan maha pengasih juga maha penyayang.


“Menangislah… lepaskan semua beban yang selama ini mengganjal di hatimu.”

__ADS_1


Suara ibu Masriyah sungguh sangat tenang, membuatku merasakan kesejukan tiada tara. Dia tak pernah melarang seseorang untuk menangis, dia juga tak pernah takut melihat air mata bercucuran. Dia seorang ibu yang bijaksana, baru pertama bertemu, aku sudah merasakan kecocokan, merasakan hidup kembali, merasakan keindahan dalam kesedihanku selama ini.


“Tidak ada yang mudah hidup di dunia ini. Semuanya memerlukan pengorbanan, dan pengorbanan yang baik, dilakukan dengan keikhlasan. Ibumu sudah dengan ikhlas mengorbankan dirinya untuk kamu, dan kamu juga pasti akan melakukan hal yang sama untuk anak-anakmu kelak. Menangislah… jika itu bisa membuatmu tenang.”


“Ibu… saya…”


“Ssst… jangan bicara lagi. Rasakan saja kepedihanmu, sebab hanya dengan itu kamu bisa membuang kepedihan itu. Disaat kamu merasakan bahwa kepedihan sangat sakit, maka rasa sakit harus segera hilang.”


Begitu dahsyat kata-kata itu, membuatku menyadari bahwa sesungguhnya kepedihanku hanyalah sebuah jalan untuk membentuk mentalku. Selama ini, aku terlalu cengeng, aku hanya bisa diam dan menangis, padahal, aku bisa melakukan hal yang lebih berguna, membuang kesedihan dengan cara yang tak harus menyakiti diri sendiri. Ya, membiarkan diri terkulai tanpa semangat hidup, itu sama saja membiarkanku mati sendiri.


“Ada yang lebih penting dalam hidup ini selain memikirkan dosa dan kesedihan, yaitu mengubah dosa menjadi doa, menciptakan kebahagiaan dari kesedihan.”


Perlahan aku mengangkat kepala, lalu menghapus air mata ini dengan jemari. Perkataannya menyadarkanku untuk tidak menangis, untuk kuat sebagai wanita, sebab wanita pada dasarnya memiliki ketegaran sejak lahir. Dia sudah memikul beban yang paling berat, untuk laki-laki dan anak-anaknya.


Ibu Masriyah memandang mataku, kemudian tersenyum. Senyum tulus dari seorang yang memiliki pengalaman hidup lebih banyak, mungkin dia juga pernah merasakan hal yang sama, atau mungkin dia kehilangan anak? Entahlah, yang aku rasakan dia memiliki kehangatan, seperti matahari pagi yang mengeringkan daun dari dinginnya kabut.


Tiba-tiba santri perempuan itu muncul, dia membawa segelas teh hangat, mimik wajahnya selalu cerah dan ceria, tanpa tersenyum saja, dia sudah seperti tersenyum. Aku beruntung berada di sini, di tempat yang paling tepat.


“Nah… silakan diminum dulu, biar tenggorokannya tidak kering.”


Tangan ini bergerak dengan sendirinya, mungkin rasa haus yang menggerakannya. Lalu, kuminum teh hangat dengan perlahan.


“Ini Hilmah, pengurus santri di sini. Jika ada pertanyaan tentang pondok pesantren ini lebih dalam, kamu bisa bertanya padanya.”


Hilmah tersenyum padaku. Aku juga membalas senyumnya, gadis secantik ini pasti akan menjadi incaran para lelaki jika hidup di kota, bahkan mungkin bisa menjadi korban kejahatan, pemerkosaan atau m penculikan. Tapi, di sini tidak ada rasa khawatir atau takut, semua berjalan dengan normal dan aman.


“Dihabiskan minumnya…,” kata Hilmah.


Sebenarnya, aku malu untuk meminum lagi. Akan tetapi, apa boleh buat, rasa haus memang sudah menyerang, ditambah aku menangis, mengeluarkan air mata sehingga rasa haus semakin terasa. Kuteguk habis teh itu, sehingga kerongkongannku lega. Aku seperti terbebas dari dehidrasi, aku bisa lebih tenang setelah meminumnya.


“Hilmah… ini adalah Anggun. Muridnya Bu guru Umay dari Jakarta. Dia ingin belajar di sini, kamu tolong bantu ya…,” ucap bu Masriyah.


“Baik Bu…”


“Nah… kalau begitu, sekarang Anggun boleh istirahat dulu. Hilmah tolong tunjukkan kamarnya, dan ajak berkeliling sebentar untuk melihat-lihat.”

__ADS_1


Tanpa basa-basi lagi, Hilmah mengantarkanku menuju kamar untuk menaruh barang-barang, dan beristirahat. Sepanjang jalan, Hilmah aktif memberikan penjelasan mengenai ruang-ruang yang kami lewati, termasuk juga jumlah keseluruhan santri di pondok Jambu. Hari ini, aku telah bersiap untuk melangkah, meraih masa depan yang gemilang. Bismillah…


__ADS_2