Jodoh Pasti Bertemu

Jodoh Pasti Bertemu
Episode 23 - Kemenangan adalah Kegagalan yang Tertunda


__ADS_3

Pengumuman pemenang lomba dakwah akan diumumkan, semua menyambut gembira. Membuat kesibukan di pesantren pondok Jambu, panitia yang sudah dibentuk mempersiapkan semuanya, panggung lebih meriah dari biasanya. Pengisi acara juga lebih banyak, lebih beraneka ragam. Bukan hanya itu, pihak pesantren mengundang Da’i kondang untuk mengisi di acara tersebut, siapa lagi kalau bukan Ustadz Abdul Somad.


Para santri sering melihat Abdul Somad tampil di televisi untuk memberikan ceramah, dan suatu kebahagiaan bagi para santri bisa bertemu dengan ustad kondang itu. Begitu juga dengan aku, ketika di Jakarta aku memiliki keinginan bertemu dengannya, apalagi bisa mencurahkan isi hati ini, namun itu sudah bukan keinginan lagi. Sebab, aku di sini telah membaik, menemukan jalan hidupku, yang pasti aku merasakan kecemasan untuk menanti pengumuman itu.


Dan kecemasan itu juga tidak terlihat dari wajahku saja, para santri yang mengikuti lomba ini menanti dengan harap-harap cemas. Beberapa tamu undangan telah berdatangan, dari pejabat setempat dan para pemimpin pondok pesantren di sekitar Cirebon. Acara seperti ini bukan hanya sebuah perayaan semata, melainkan ajang silaturahmi bagi para pemimpin pondok pesantren.


Bu Masriyah dan pak Kyai duduk di depan panggung. Aku hanya duduk di barisan tengah bersama Khodijah dan Aisyah, sementara di barisan depan santri laki-laki memadati, mata ini mencari Subhan, sudah beberapa hari ini aku tidak melihatnya. Dia seolah ditelan oleh waktu, setelah kejadian itu aku memutuskan untuk tidak tergabung di majelis taklim, pimpinan Fatimah. Biarlah aku yang tahu diri, bahwa aku tidak diterima oleh Fatimah.


Bu Masriyah juga belum mengetahui, aku yakin dia pasti memanggilku jika mengetahui bahwa aku absen di forum itu. Tetapi, Fatimah terlihat olehku, dia berada di barisan penerima tamu, tentu saja sebagai panitia, tampak dia sibuk mengatur orang-orangnya. Fatimah memiliki jiwa pemimpin, aku menyadari itu. Namun, bakatnya itu digunakan untuk sebuah kesombongan, itu yang sangat disayangkan.


“Nyari siapa?” Aisyah menyenggol lenganku.


“Tidak ada… hanya melihat keadaan saja,” jawabku.


“Jangan bohong deh! Pasti nyari Subhan kan? Tuh… dipojokan!” tunjuk Aisyah.


Aku mengikuti arah petunjuk Aisyah. Subhan memang tengah duduk santai di pojok ruangan, dia tidak menampakan diri di muka umum, lebih senang menyendiri seperti itu. Apakah dia memang seorang penyendiri? Seperti juga aku yang senang dengan kesunyian. Aku merasa sunyi adalah teman yang paling setia daripada yang lain.


“Ciee… ada yang kangen!” celetuk Aisyah lagi.


Aku sadar, kemudian pura-pura mengalihkan pandangan, sambil mencubit tangan Aisyah. Mungkin yang dikatakan Aisyah juga ada benarnya bahwa aku mengalami gejolak kerinduan, tapi mengapa? Bukankah Subhan juga tidak peduli denganku, dia tidak pernah memberikan tanda-tanda bahwa dia menyukaiku.


“Sst… jangan diledekin terus, nanti malah kabur…” Khodijah juga ikut nimbrung.


Rupanya mereka ingin balas dendam setelah kejadian bersama Abdullah. Sebelum mereka memulai, pembaca acara sudah naik panggung, kemudian membacakan susunan acara. Lalu, beberapa penampil naik, kami terhayut dengan tarian sufi dari Turki, dan penyair membaca puisi dengan penuh penghayatan. Musik mengiringi, penari berputar-putar, pembaca puisi menangis, segalanya larut dalam puisi.


Puisi ternyata bukan hanya gombalan yang sering teman-teman lontarkan di sekolah dulu, puisi adalah sebuah doa, harapan bagi Tuhan, dan penghayatan itu bisa menjadi tangisan, penyesalan atau berserah diri. Aku terhayut, dan mendapatkan pelajaran baru dari penampilan ini. Sungguh, aku memang harus banyak belajar.


Tak terasa tetes air mata juga membasahi pipi penonton yang tersentuh hatinya. Suasana mendadak berlinang air mata, sorak-sorai bergembira pada awalnya sirna seketika hanya oleh sebuah puisi. Diakhir penampilan puisi, tepuk tangan riuh, semua merasakan puas dengan penampilan itu, semoga saja mereka mendapatkan makna dari kata-kata di dalam puisi tersebut. Semoga saja…


“Itu bukannya Fatimah?” Khodijah memberi isyarat.


Aku melihat Fatimah menghampiri Subhan, kemudian mereka mengobrol, sesekali terlihat tertawa. Kini, aku semakin yakin bahwa Fatimah memang menyukai Subhan, mungkin dia cemburu padaku, sebab Subhan selalu memerhatikan aku, walaupun tidak setiap saat, hanya dalam waktu tertentu, itupun jika bertemu.


Sungguh picik jika dia menumpahkannya padaku, mengapa tidak berterus terang saja kepada Subhan, itu lebih bertanggung jawab, dan tidak merusak rasa hormatku padanya. Walaupun aku menghormatinya sebagai ketua majelis, tapi sekarang, aku sudah tak ingin tunduk lagi padanya. Aku harus melawan, sebelum diinjak-injak olehnya. Bukan dendam, tapi aku tak terima diperlakukan seperti itu, apalagi dia adalah seorang muslim.


“Kok mukamu sinis begitu?” bisik Aisyah.


Khodijah melirik ke arahku, dia pasti menduga bahwa ada masalah antara aku dan Fatimah. Walaupun aku belum cerita kejadian yang sebenarnya, mereka pasti sudah bisa menduga apa yang terjadi denganku.

__ADS_1


“Nggak ada apa-apa kok…,” jawabku datar.


“Aku tidak tanya ada apa? Hanya mengapa wajahmu berubah sinis, seolah kamu membenci Fatimah.”


Aku diam. Disembunyikan juga pasti akan ketahuan, seperti menyimpan bangkai, jika menyimpan kebencian.


“Cemburu boleh saja… tapi jangan sampai membenci…,” kata Khodijah.


“Aku tidak cemburu!” tukasku sengit.


Aisyah dan Khodijah saling pandang. Kebencian ini memang telah menjalar ke dalam isi hati, aku sudah tak bisa lagi memaafkan perlakuan Fatimah, aku harus berontak, tak ingin aku kalah oleh orang-orang yang sengaja ingin menghancurkan hidupku. Aku bukan Anggun yang dulu, yang hanya bisa pasrah dalam setiap menghadapi ujian. Aku telah bangkit, siap untuk melawan atau bertahan.


“Lalu apa yang terjadi antara kalian?” tanya Aisyah.


Aku mencoba mengumpulkan keberanianku untuk mengatakan yang sebenarnya, namun belum juga dapat aku mengeluarkannya, aku sangat terpukul dengan sikap Fatimah yang seolah aku ini adalah musuhnya.


“Hhhh… dia…”


Sejenak kami terdiam. Aisyah sudah tak sabar, begitu juga dengan Khodijah, namun Khodijah lebih tenang, tidak seperti Aisyah.


Tiba-tiba terdengar riuh tepuk tangan, penampilan tarian sufi dan pembacaan puisi telah berakhir, kini pembawa acara naik panggung, lalu meminta bu Masriyah untuk naik ke atas panggung, membacakan pengumuman pemenang lomba dakwah. Bu Masriyah berjalan dengan santai, wibawa seorang perempuan tak bisa kupungkiri, sangat jelas terlihat dari auranya.


“Sebaiknya nanti kita bicarakan lagi,” kata Khodijah.


Semua menyimak, mataku melirik ke arah Fatimah dan Subhan, mereka juga memerhatikan dengan seksama.


“Saya sangat bangga terhadapa santri-santri di pondok pesantren ini, mereka memiliki daya juang yang tinggi. Rela berkorban demi agama, dan ilmu pengetahuan. Sebagai orang-orang muda di dunia yang modern ini, mereka adalah generasi-generasi Islam yang harus diberdayakan oleh orang-orang tua, bukan dimanfaatkan,” suara bu Masriyah seperti menggelegar di aula ini. Semua semakin hening.


Para tamu juga ikut menyimak, mereka menganggukan kepala tanda setuju dengan ucapan bu Masriyah. Seorang perempuan yang patut dicontoh untuk seorang pemimpin, seharusnya Fatimah belajar dari bu Masriyah untuk menjadi seorang pemimpin.


“Dakwah bukan untuk mencari uang, melainkan mengajak masyarakat kembali ke jalan yang benar, begitu juga bagi seorang Da’i, mereka harus belajar dari apa yang disampaikannya, sebab hakikat manusia adalah untuk belajar, bukan untuk mengajari,” lantang bu Masriyah berkata.


Aku sependapat dengan bu Masriyah, sekarang banyak sekali acara lomba-lomba dakwah di TV, tapi akhirnya hanya untuk mencari uang, padahal jelas ada larangan dalam Al-quran bagi setiap muslim untuk tidak meminta uang dalam ilmu keagamaan.


“Saya sangat terharu menyaksikan para Da’i dari santri-santri di pesantren ini dalam satu minggu yang lalu, hingga pada akhirnya saya juga semakin terharu untuk membacakan siapa saja yang memenangkan perlombaan. Namun, harus diingat, bahwa kemenangan bukan akhir dari segalanya, bukan untuk mengukur kehebatan. Tapi, kemenangan adalah sebuah proses belajar untuk menjadi pribadi yang rendah hati.”


Kata-kata itu disambut oleh tepuk tangan yang meriah dari semua yang hadir, bu Masriyah tersenyum, dia memandang ke sekitar aula, dan sesorang menghampirinya, memberikan secarik kertas, itu pasti berisikan para pemenang yang sudah sangat dinantikan oleh para santri dan peserta.


“Baiklah, di tangan ini ada secarik kertas. Saya menyarankan para peserta mempersiapkan obat jantung agar tidak copot.”

__ADS_1


Gelak tawa dari para santri mencairkan suasana. Bu Masriyah juga bisa membuat lelucon rupanya di atas panggung, sehingga suasana tidak menjadi tegang.


“Baiklah… untuk juara ketiga saya mohon dengan hormat saudari Fatimah naik ke atas panggung,” ucap bu Masriyah.


Semua mata memandang ke sekitar, mencari Fatimah. Mataku langsung menemukan Fatimah yang tengah berdua dengan Subhan. Fatimah mencoba menguasai rasa senangnya, dia berjalan menuju panggung, semua tepuk tangan menyambutnya. Sedangkan aku tetap memandangnya berbeda, Fatimah terlihat congkak di atas panggung.


Bu Masriyah mencium kening Fatimah, kemudian dipersilakan duduk di tempat yang sudah disediakan.


“Untuk saudari Anggun mohon naik ke atas panggung, rupanya dia tidak sia-sia datang ke Cirebon untuk belajar,” bu Masriyah cukup tenang membacakan juara-juara dakwah, dia seperti tidak sedang mengumumkan pemenang. Sungguh suasana yang tegang menjadi biasa-biasa saja.


Namun bagiku, tetap saja tegang. Aisyah dan Khodijah memelukku yang masih tak percaya dengan kedataran bu Masriyah menyebutkan namaku sebagai juara kedua. Aduh, aku sungguh bahagia, malu dan juga cemas.


“Ayo naik ke panggung!” bisik Aisyah.


“Eh?”


“Kamu berhasil!” seru Khodijah.


Aku masih bingung, sementara semua orang menatap ke arah keributan yang ditimbulkan oleh Aisyah, sorak-sorai yang berlebihan. Memang sangat wajar jika seorang sahabat sangat bahagia jika mendapat kabar baik dari sahabatnya.


Perlahan aku bangkit dari bangku, dan disambut oleh riuh tepuk tangan. Aku masih malu-malu melangkah, namun wajah bu Masriyah mendorongku untuk terus melangkahkan kaki. Sebaliknya, Fatimah memandangku dengan sinis, pandangan mata yang memendam kebencian, peperangan sepertinya akan segera dimulai.


Mata tamu-tamu undangan juga mengikuti langkah kakiku hingga sampai ke atas panggung. Bu Masriyah juga mencium keningku, tidak ada perlakuan yang berbeda antara aku dan Fatimah, hingga akhirnya aku dipersilakan di tempat di samping Fatimah. Aku mengulurkan tangan sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan Fatimah. Dia terlihat enggan menyambut, tapi, tentu dia tak akan terlihat sombong oleh semua yang hadir, hingga akhirnya menerima uluran tanganku.


“Selanjutnya, pemenang pertama untuk lomba dakwa kali ini adalah…”


Semua hening, menanti siapa nama yang akan disebutkan oleh bu Masriyah. Aku juga ikut merasakan ketegangan itu, menjadi juara dua memang sudah sangat luar biasa bagiku, tapi, dalam perlombaan tetap juara satu adalah hal yang paling membahagiakan. Wajah kesal Fatimah terlihat semakin tidak menyenangkan. Mungkin dia merasa kalah olehku, sebab dia mendapatkan juara ketiga.


“Subhan, dipersilakan untuk naik ke atas panggung!”


Santri laki-laki langsung bersorak bergembira, mungkin mereka juga merasa khawatir kalau yang memenangkan lomba dakwah adalah santri perempuan lagi. Tapi ternyata Subhan bisa mewakili mereka. Aku juga terkejut mendengar nama itu, walaupun sudah dipastikan dia akan menang. Subhan bangkit dari tempat duduknya, kemudian melangkah dengan tenang. Pak Kyai menyambutnya, dan mencium kening Subhan, tandanya memberikan semangat. Di sini, mencium kening adalah sebuah bentuk penghormatan bagi sesama. Subhan naik ke atas panggung, namun dia berdiri terpisah dengan kami, sebab berlainan jenis. Kemudian ustad Uje naik ke atas panggung untuk memberikan hadiah, berupa tropi dan beasiswa untuk satu semester. Di sini, setiap lomba selalu ada beasiswa sebagai hadiah, bukan berupa barang atau uang tunai.


“Ingat, aku tidak merasa kehilangan kamu tidak berada di majelis. Dan… bagiku, kamu belum menang dariku,” kata Fatimah.


Aku belum sepenuhnya mengerti maksud dari Fatimah, namun aku berusaha untuk tidak memedulikannya, simbol hadiah kuterima dari ustad Abdul Somad, lalu Fatimah juga mendapatkannya. Subhan melirik ke arahku saat aku mencoba mengalihkan pandangan dari Fatimah. Pandangan mata kita beradu, dan dia tersenyum padaku.


Usai acara pemberian hadiah selesai, aku turun dari panggung. Aisyah dan Khodijah menyambut dengan pelukan, mereka sangat senang dengan keberhasilanku. Subhan mendekatiku, senyumnya tidak juga hilang dari bibirnya.


“Alhamdulillah… kamu menjadi juara kedua. Aku suka dengan tema yang kamu bawakan waktu itu, sungguh sangat realistis,” katanya.

__ADS_1


“Terima kasih… kamu juga lebih pandai membuat semua yang hadir terpesona,” balasku.


Fatimah memandang kami. Tatapannya semakin penuh kebencian, aku berusaha untuk tidak menggubrisnya, hingga akhirnya kami disadarkan oleh suara ustad Abdul Somad membuka dakwahnya dengan salam. Acara penutup memang siraman rohani yang disampaikan ustad kondang tersebut. Dia membawakan tema yang menarik, sebuah tema yang akan mengingatkanku untuk tidak terbuai dalam keberhasilan. Semua mulai duduk di bangku masing-masing, mendengarkan ustad Abdul Somad ceramah, kemenangan adalah kegagalan yang tertunda.


__ADS_2