Jodoh Pasti Bertemu

Jodoh Pasti Bertemu
Episode 28 - Doa Bulan Purnama


__ADS_3

Aku tidak ingin memikirkan dia, laki-laki paruh baya di LAPAS. Aku hanya ingin meraih masa depan yang sudah lama tertunda. Dan dihadapanku, seorang pria memakai kemeja dengan rambut hitam, disisir rapi. Katanya, dia adalah keponakan pak Iwan. Sejak pak Iwan memberikan nomor HPku, dia sering telepon dan kirim pesan, kemudian ingin bertemu denganku.


Ibu kos sudah memberikan ruang tamu untuk menerima dia, dan sedikit camilan. Mungkin dia mengerti, sebab hampir tiga tahun aku di sini, tidak pernah menerima tamu laki-laki, kecuali Khodijah dan Aisyah.


“Jadi, kamu sudah mempunyai pandangan?” tanyanya.


“Pandangan? Tentang apa ya Ang Amir?” aku balik bertanya.


Ang, adalah panggilan untuk laki-laki yang memiliki kesamaan arti dengan kakak atau mas.


“Tentang aku,” jawabnya sambil tersipu malu.


Bukan tidak mau mengatakannya, namun hati ini merasa tidak cocok. Amir sangat pendiam, dan kaku. Sedangkan aku menginginkan lelaki yang cekatan dan periang, bertolak belakang dengan karakterku, sehingga kami bisa saling melengkapi nantinya.


“Aku belum bisa menjawab, terlalu sebentar waktunya.”


“Tapi… aku tak ingin lama-lama, jika kita sudah memiliki kecocokan, langsung menikah saja.”


Itu aku setuju, akan tetapi, masalahnya adalah aku belum merasakan kecocokan itu, lebih tepatnya belum menemukan.

__ADS_1


“Aku tidak ingin buru-buru dalam mengambil keputusan. Menikah itu untuk selamanya, sekali seumur hidup.”


“Iya… aku paham. Karena itulah aku tak ingin pacaran, aku ingin mencari yang serius tidak hanya main-main.”


“Tapi… mengapa Ang Amir sudah merasa cocok padaku, padahal kita saja baru bertemu.”


Amir diam. Sepertinya dia sedang mencari jawaban yang cocok, agar aku bisa menghargai jawaban itu, tidak sebaliknya berpikir negative padanya. Aku maklum jika dia ingin cepat menikah, pasti dia sudah sangat sering disakiti perempuan hingga tak ingin lagi bermain-main dalam urusan cinta.


“Hati ini merasa cocok saja…,” katanya datar.


Jawaban yang mengecewakan. Sudah sering aku mendengar laki-laki berkata seperti itu, dan pada akhirnya mereka akan lari dan menghilang. Pertemuan memang menciptakan pesona bagi orang-orang yang baru pertama kali bertemu, sebab biasanya orang baru pertama bertemu mempersiapkan diri, mempersiapkan penampilan agar tidak terlihat jelek.


“Jangan samakan perempuan dengan barang, ketika melihat pertama terasa cocok, langsung ingin dimiliki,” kataku.


Mimik wajah Amir berubah. Sebuah kalimat yang menampar wajahnya, aku juga tidak sengaja mengatakan hal itu, tapi, ini sudah terlanjur aku katakan. Ya, terkadang laki-laki harus dibuka mata hati dan pikirannya dalam memandang perempuan.


“Bukan itu maksudku,” bela Amir.


“Aku mengerti kok maksud Ang Amir… tapi, untuk saat ini biarlah kita saling mengenal terlebih dahulu,” tegas kuucapkan.

__ADS_1


Amir memandangku, untuk sesaat aku melihat wajah yang pasrah dari seorang laki-laki, mungkin dia memang tidak biasa berhadapan dengan perempuan sehingga tidak bisa mengambil hati perempuan.


“Baiklah kalau begitu, aku tunggu kabar darimu jika sudah siap,” katanya.


Loh? Apa maksudnya? Mengapa dia menunggu kabar dariku, bukankah kita ingin saling mengenal dulu, seharusnya kita saling memberi kabar dan informasi, mengobrol, berdiskusi dengan santai. Tapi, mungkin ini caranya, sebagai perempuan aku menghargai dia, dan memberikan banyak pilihan.


“Akan aku kabarkan secepatnya,” jawabku.


Amir tersenyum, senyum yang dipaksakan. Dia sepertinya ingin membahagiakan hatinya yang kalah dalam berperang. Dia ingin terlihat baik-baik saja.


“Aku pamit, sudah malam…”


“Terima kasih sudah mau berkunjung Ang… hati-hati di jalan.”


“Sama-sama, terima kasih juga sudah menerima aku dengan baik. Assalamualaikum…”


“Waalaikumussalam…”


Amir berdiri, dia melangkah keluar rumah, aku antar dia hingga pintu. Amir menghampiri motornya, kemudian menyalakan mesin dan melaju menembus malam, tanpa ada sepatah kata apapun lagi yang terucap. Aku memandangnya dengan rasa iba, dia adalah pemuda yang baik, pemuda yang ingin meraih masa depan dalam pernikahan.

__ADS_1


Bulan bersinar terang di langit malam. O, Tuhan… berikanlah jodoh untukku yang baik dan benar, yang dapat membawa diriku ke jalan yang lurus. Amiin.


__ADS_2