
Pak Iwan menyambutku tak seperti biasanya. Wajahnya sangat berseri-seri, apakah pak Teguh telah mengabarinya bahwa presentasi itu berjalan dengan sangat baik? Tak mungkin seheboh itu, sebab berbicara di depan umum tidak sama dengan hari ulang tahun, itu biasa-biasa saja.
“Ada yang menunggumu di ruang tunggu,” katanya.
Hah? Ada yang menungguku? Siapa? Aku tak memiliki saudara di sini, bahkan dimanapun. Mungkin kedua sahabatku itu?
“Siapa Pak?” tanyaku mencoba mengobati rasa penasaranku.
“Lihat saja sendiri…”
Dia malah mengerlingkan mata sambil mengacungkan jempol. Ini pasti ada udang dibalik batu, ada yang disembunyikan oleh pak Iwan. Aku melangkah menuju ruang tunggu, dengan jantung berdebar-debar.
Sesampainya di ruang tunggu, ada seorang laki-laki duduk sambil membaca koran. Sosoknya tidak asing bagiku, pantas saja pak Iwan bersemangat.
“Ang Amir?”
“Assalamu’alaikum,” sapa Amir kemudian meletakkan Koran.
“Wa’alaikumussalam. Ada yang penting ya? Sampai datang ke kantor segalanya…”
“Nggak ada kok, tadi sekalian mampir sambil nengokin Om Iwan. Ya… juga bertemu dengan kamu. Apa kabarnya?”
“Baik Ang…”
Aku duduk berhadapan dengannya. Tatapan mata yang memiliki makna, bahwa dia memang menginginkanku. Seorang perempuan seperti aku tentu bisa melihat hasrat yang besar dari seorang laki-laki.
“Aku tak pandai berbasa-basi…,” katanya.
“Maksudnya?”
“Mmm… sebenarnya aku ingin menanyakan tentang jawaban itu.”
Aku menunduk. Amir memang sudah sangat matang dari usia, dan dia bukan seorang laki-laki yang tidak menarik. Hanya aku tidak memiliki keinginan untuk bersanding dengannya, perasaanku tidak mengatakannya. Entahlah, apa aku harus menolak atau menerimanya.
Jika menolak, aku masih sendiri, tidak memiliki pasangan. Mengapa tidak aku coba terlebih dahulu, namun jika aku terima, aku masih bimbang, belum sepenuhnya mengenal Amir.
“Apa harus sekarang?” tanyaku.
“Jika kamu sudah memiliki jawaban, tentu aku sangat senang mendengarnya sekarang.”
Kembali hati ini diaduk-aduk. Amir adalah keponakannya pak Iwan, pantaskah aku menolaknya? Lalu bagaimana hubunganku dengan pak Iwan? Aku takut akan berimbas ke dalam pekerjaan jika aku menolak Amir.
“Aku belum sanggup memutuskan sekarang,” kataku.
__ADS_1
Amir menarik napas panjang. Wajah kekecewaan mulai terlihat, dia berusaha menguasai diri. Mungkin, perjalanannya kemari sia-sia, tapi bagiku tidak sia-sia, justru Amir telah menunjukan keseriusan dia untuk meminangku, hanya aku belum siap untuk memulainya, untuk mengakhiri masa lajang dengan Amir.
“Apa aku tidak terlihat sebagai laki-laki serius?” tanyanya.
“Bukan itu, bukan… tolong beri sedikit waktu. Tidak mudah untuk memutuskan tentang pernikahan, aku…”
“Aku mengerti. Pasti ada orang lain?”
“Tidak. Saat ini, aku belum memiliki siapa-siapa.”
Terlihat senang Amir mendengarnya, matanya yang redup, tampak berkilau, dia memang sangat berharap dapat meminangku, mungkinkah bunga-bunga cinta tumbuh di hatinya? Jika memang iya, begitu cepat seorang laki-laki mencintai perempuan? Sedangkan butuh waktu yang lama bagi perempuan untuk mendapatkan cinta tumbuh dalam hati.
“Butuh berapa lama untuk mendapatkan jawaban?”
“Aku belum bisa memastikan.”
“Tapi aku butuh kepastian.”
Kami saling berpandangan.
“Beri aku waktu sebulan,” kataku.
“Apa itu tidak terlalu lama?”
Amir menghela napas, sepertinya dia sudah menyerah untuk membuat aku menjawab apa yang dia inginkan. Dia memang sangat terburu-buru, membuat aku semakin ragu apakah dia memang serius atau hanya memainkan saja. Terkadang niat baik jika dilakukan dengan tergesa-gesa, apalagi dibarengi dengan hawa nafsu, tidak akan baik.
“Baiklah kalau memang itu membuat kamu nyaman, aku akan menunggu.”
“Terima kasih.”
Ruangan ini sunyi, hanya terdengar jarum jam berdetak. Aku dan Amir hanya terdiam, aku tak tahu harus berkata apa lagi, dan Amir juga sepertinya sudah kehabisan pertanyaan, dia tidak suka mengintrogasi perempuan, biasanya laki-laki lebih selektif dalam memilih, harus tahu bibit, bebet dan bobot.
“Aku pamit dulu, mungkin kamu akan melanjutkan pekerjaan.”
Aku mengangkat kepala.
“Terima kasih sudah berkenan mampir.”
Amir tersenyum, kemudian mengucapkan salam. Aku menjawab salamnya, dia bangkit dari tempat duduk keluar ruangan. Aku juga keluar bersamaan dengannya, kami berpapasan dengan pak Iwan. Amir berbincang-bincang, sementara aku meminta ijin untuk makan siang, sebab dari tadi perut ini sudah keroncongan.
Aku memesan bakso, kemudian duduk, memandang jalanan. Bebeapa pengamen sedang berteduh di bawah pohon, mereka bercanda, tawa riang terlihat dari mereka, seolah hidup memang untuk ditertawakan. Tak ada beban yang mereka pikul, seolah hidup bagi mereka adalah kesenangan.
Mungkinkah aku bisa menikmati kebahagiaan seperti mereka? Apakah masa depanku juga penuh canda dan tawa? Aku sudah bosan merasakan kepedihan dan kegagalan dalam hidup ini, dan aku yakin Tuhan tidak mungkin selalu memberikan kepedihan itu secara terus-menerus padaku.
__ADS_1
Tukang bakso itu mengejutkan lamunanku. Semangkuk bakso panas sudah ada dihadapanku, tanpa pikir panjang aku melahapnya. Hidup ini memang harus terarah, melupakan masa lalu, menikmati masa sekarang dan merencanakan masa depan, tidak harus mengingat dan menyalahkan masa lalu.
Rasa lapar membuatku semakin lahap memakan bakso, semuanya terasa nikmat jika makan pada saat lapar.
“Boleh Bapak bergabung?”
Pak Iwan berdiri di hadapanku, dia tersenyum, kemudian duduk dan memesan bakso. Aku menghentikan makan, mencoba agar tidak terlihat kelaparan.
“Silakan, Pak…”
Sementara langit meredup, cahaya matahari terhalang oleh awan, alam tengah bertasbih kepada Tuhan untuk umat manusia, dalam hati ini berdzikir, menyerahkan hidup ini hanya untuk beribadah. Sebab dalam beribadah tidak harus dalam keadaan shalat, dalam keadaan apapun dan dimanapun ibadah tetap paling utama.
“Amir sudah menceritakan semuanya kepada Bapak.”
Deg.
Mengapa Amir harus melibatkan pak Iwan. Bukankah ini urusan pribadi antara aku dan Amir. Ada rasa tak enak, aku harus jawab apa? Lebih baik diam, seba itu adalah hal yang paling mulia jika dalam kegelisahan.
“Memangnya Amir masih belum pas dengan tipe imam idamanmu?”
Pertanyaan yang membuatku semakin tak enak, ada makna sindiran di dalam pertanyaan itu. Aku bukan memilih calon imam yang sempurna, namun aku ingin orang yang kukenali, dan dia juga mengenaliku.
“Bukan itu Pak… saya…”
“Kamu masih belum yakin atas keseriusan Amir?”
Aku mengambil minuman, kemudian meminumnya, ada rasa kering dalam kerongkonganku. Lalu, aku mengangguk, tanda bahwa aku memang belum yakin atas keseriusan Amir.
“Bapak yakin Amir tidak main-main, dia keponakan Bapak. Jadi… kamu tidak usah khawatir,” katanya.
“Karena dia keponakan Bapak, sehingga Bapak tidak cemas dam mengetahui semua tentang Amir. Namun, aku orang lain, yang belum pernah mengenal dia sama sekali, jadi… aku hanya butuh waktu Pak.”
Pak Iwan memandangku, ada rasa sesal dalam pandangan itu, mungkin dia menyesal kalau aku terlalu lama mengambil keputusan.
Aku tahu, pak Iwan dan Amir ingin semuanya cepat selesai, mereka sudah tak ingin menunggu lama-lama lagi. Dan sebenarnya aku juga demikian dalam pernikahan, tidak baik mengenal laki-laki bertahun-tahun tanpa ada ikatan pernikahan.
Namun, ternyata tidak semudah itu mengambil sebuah keputusan dalam menentukan Imam dalam kehidupan ini.
Perempuan memang tergantung kepada laki-laki, begitu juga dengan laki-laki. Mereka saling membutuhkan, aku ingin mendapatkan imam yang bisa mengerti akan kebutuhanku, dan aku jug mengerti akan kebutuhan dia.
Pak Iwan menghela napas panjang.
“Baiklah… Bapak mengerti,” ucapnya.
__ADS_1
Tidak lama bakso pesanan pak Iwan datang, dan aku melanjutkan makan bersama pak Iwan, biarlah misteri jodohku terungkap dengan sendirinya, sebab jodoh adalah rahasia yang menjadi misteri Illahi, manusia hanya berusaha untuk mendapatkan yang terbaik dari yang terbaik.