Jodoh Pasti Bertemu

Jodoh Pasti Bertemu
Episode 29 - Sepasang Mata yang Bergetar


__ADS_3

Bekerja di bidang jasa harus banyak bergaul, dengan siapapun. Namun yang lebih penting adalah bergaul dengan orang-orang yang memiliki kepentingan di bidang pekerjaan itu sendiri. Pak Iwan banyak mengajarkanku cara bergaul, bekerja sama dan juga berdakwah. Semua yang diberikan olehnya dapat aku ambil dengan cuma-cuma, di sini, aku semakin dewasa, tumbuh menjadi wanita mandiri, tanpa tekanan dan juga memiliki harapan.


Hari ini, aku diminta menyerahkan proposal ke sekolah islam terpadu di kota Cirebon. Sekolah yang memiliki jaringan terbesar, dan terpercaya oleh masyarakat sekitar dalam mendidik anak-anak untuk belajar. Aku mengendarai sepeda motor kantor, dengan semangat yang menggebu-gebu. Pak Iwan sudah memercayaiku untuk bertemu dengan orang-orang penting, salah satunya adalah ketua yayasan Islam terpadu, sungguh luar biasa!


Rasa panas hilang seketika, rasa haus terobati oleh keringat yang bercucuran, dan rasa lapar sudah terisi oleh motivasi dalam hati. Mata mengawasi jalanan, harus teliti dalam mengendarai kendaraan, jangan sampai menabrak atau tertabrak. Sampailah di persimpangan empat, karena lampu masih hijau, segera aku memacu sepeda motor untuk menyebrang, namun tiba-tiba seorang pengendara motor melintas, padahal lampu masih merah dari arah dia menyebrang. Aku menginjak rem, kalau tidak bisa kutabrak dia, akan tetapi motor itu sudah melaju kencang.


Kuatur napas, kemudian segera melajukan motor menuju sekolah. Di sekitar perjalananku, sedang banyak pembangunan, pasti akan membangun mall, hotel, dan rumah-rumah toko, semakin terasa padat dan panas kota Cirebon, mungkin akan sama dengan Jakarta.


Beberapa menit kemudian aku telah sampai, kuparkirkan motor di tempat parkir yang disediakan. Aku melangkah menuju pos pengamanan dan mengatakan maksud serta tujuanku, lalu aku diantar olehnya munuju ruang ketua yayasan, kebetulan sudah menunggu.


“Assalamu’alaikum…,” sapaku.


“Wa’alaikumussalam… mari masuk, dan pilih tempat duduk sesukamu.”


Ternyata ketua yayasan adalah seorang perempuan setengah baya, memakai jilbab, dan wajahnya bercahaya, aku sungguh kagum melihatnya.


“Anggun?” tanyanya.


“Iya, Bu.”


“Nama saya Maemunah, panggil saja Mae,” katanya.


“Baik, Bu Mae.”


“Pak Iwan sudah menjelaskannya lewat telepon, dan saya sangat setuju dengan semua rencana itu, pelajaran mengenal bahaya AIDS memang harus sejak sekarang dikenalkan kepada para siswa, agar mereka berpikir dua kali untuk melakukan hal-hal yang memicu penyakit tersebut, apalagi, dalam agama semuanya berdosa.”


“Betul Bu, saya juga senang mengerjakan pekerjaan ini.”


“Alhamdulillah… itu yang terpenting dalam bekerja.”


Aku tersenyum, wanita ini sungguh luar biasa, cara bicara dan duduknya sangat berkarakter, dia memang wanita cerdas.


“Oh ya, kamu bawa proposalnya? Kita harus tetap mengikuti prosedur, agar tidak dibilang KKN.”


“Ada Bu.”


Segera kuambil proposal itu dari tas, dan kuserahkan padanya. Ibu Mae menerimanya, kemudian memeriksa.


“Baiklah, ibu akan rapatkan dengan kepala sekolah, sambil mengatur kapan waktu dimulai presentasi untuk dikampanyekan kepada siswa dan siswi.”


“Baik Bu, saya tunggu kabar selanjutnya.”


Setelah itu, aku segera pamit. Bu Mae mengantarkanku hingga pintu keluar gedung sekolah, dia juga sesekali mengenalkan padaku beberapa ruangan dan guru-guru yang melintas. Sesampainya di parkiran aku melajukan sepeda motor untuk kembali ke kantor, hari ini cukup menarik bertemu dengan ketua yayasan yang tidak sombong.


Beberapa hari kemudian, aku menerima telepon dari seorang laki-laki, dia mengaku dari sekolah islam terpadu, dan ibu Mae mewakilkan segalanya padanya.


“Kami hanya bisa memberikan waktu satu hari, sebab berdekatan dengan ujian anak-anak,” katanya setelah menjelaskan waktu dan tempat pelaksana.


“Baiklah, aku akan rundingkan dulu dengan Pak Iwan, selaku penanggung jawab,” jawabku.


Setelah itu kami mengakhiri pembicaraan. Aku melaporkan semuanya kepada pak Iwan, kemudian menunggu jawaban darinya. Setelah beberapa menit, dia memberikan jawaban, meminta aku menggantikannya presentasi dengan ditemani pak Teguh, sebab dia ada urusan pada tanggal tersebut. Aku diam sejenak, ini adalah pengalaman pertamaku presentasi, dan aku mengambilnya. Kesempatan ini tak boleh disia-siakan, bukankah aku pernah berhasil dalam lomba dakwah, walaupun hanya pemenang kedua.


Pak Teguh hanya mengacungkan jempol saat aku bicarakan semua yang diperintahkan pak Iwan, lalu dia melahap kembali mi ayam yang sedang dimakannya. Aku masuk ke dalam ruangan, duduk memandang langit-langit kamar. Kini, aku sudah menjadi lebih matang, aku semakin bertekad untuk terus belajar, meraih impian.


***


Jam delapan pagi, aku dan pak Teguh sudah berada di sekolah Islam terpadu, aku disambut oleh seorang laki-laki, dan ternyata dia adalah yang meneleponku. Usianya, mungkin sudah dua puluh delapan tahun, dia seorang laki-laki yang ramah, badannya sedikit kurus, tinggi, pandangan matanya tajam.


Cara bicaranya juga berkarakter, sudah dipastikan dia adalah seorang yang cerdas, apalagi dipercaya oleh bu Mae untuk mengatur semua acara ini.

__ADS_1


“Jadi, Ibu Anggun sudah lama bekerja di LSM?” tanyanya.


“Tidak terlalu lama,” jawabku.


“Pasti sering berkunjung ke tempat-tempat yang berbahaya…”


“Maksud Bapak?”


“Tempat-tempat seperti penjara, yang memang positif terkena AIDS.”


Mendengar penjara, ingatanku seperti tengah dibuka kembali, aku bertemu dengan ayahku, apakah dia baik-baik saja? Mengapa aku tiba-tiba mengkhawatirkannya, sementara dia belum tentu mencemaskan aku. Dia sudah menganggap aku orang lain sejak pertemuan pertama kali di rumah, sejak aku kecil.


“Bu? Ibu…”


“Eh? Mmm… itu bukan tempat yang berbahaya kok Pak, justru itu tempat yang sangat menarik, dan sebagai seorang pekerja di LSM harus berani menghadapi segala kemungkinan,” kataku cepat.


Dia hanya tersenyum menyaksikan kegugupanku akibat terkejut, sementara itu aku menarik napas, mengatur agar tidak berlarut kegugupanku ini.


“Pak Yusuf, semua siswa sudah ada dalam ruangan.” Seseorang menghampiri kami.


“Baiklah, mari Bu Anggun!” ajaknya.


Aku mengikutinya, ternyata dia bernama Yusuf, pantas saja wajahnya tampan dan ramah, mungkin seperti nabi Yusuf, namun pikiran itu segera aku tepiskan, tidak baik menyamakan seorang nabi dengan manusia biasa seperti kami. Langkah Yusuf jika sangat berwibawa, walaupun badannya tidak besar, namun terlihat ketegasan pada laki-laki ini, tentu sangat beruntung istrinya memilikinya.


Kami masuk ke dalam aula, pak Teguh sudah mempersiapkan segalanya, kemudian, Yusuf memberikan arahan kepada siswa dan siswi, lalu memintaku untuk memulai. Awalnya aku grogi, namun pada akhirnya menikmati, aku bisa membangun suasana, dan kulihat pandangan Yusuf bercahaya, seolah dia menemukan hal yang berharga menatapku, aku mencoba untuk tidak memedulikannya.


Hampir satu jam aku mempresentasikan materi, kemudian dilanjut dengan tanya dan jawab. Ternyata mereka semua antusias, banyak pertanyaan dilontarkan, aku dengan hati-hati menjawab, sesekali pak Teguh membantu untuk menjawab. Kegiatan ini sangat menyenangkan, dan aku semakin banyak mendapatkan ilmu.


Setelah acara selesai, beberapa siswa menghampiriku dan tertarik untuk menjadi sukarelawan, tentu saja kusambut dengan baik. Aku mencatat nama-nama mereka beserta nomor telepon untuk dihubungi.


“Berarti kita harus hati-hati bergaul ya Kak Anggun?” tanya seorang siswa.


“Apakah setiap yang mempunyai penyakit AIDS akan mati?”


“Hanya Tuhan yang tahu, sebab mati dan hidup bukan kuasa manusia. Kita hanya berusaha…”


“Tetapi secara medis bisa dikatakan begitu bukan?”


“Bisa. Tapi, kita jangan memperburuk keadaan bagi orang yang terjangkit, sebagai sukarelawan, kita harus membangkitkan semangat mereka dalam menjalani hidup sehari-hari.”


“Aku harus banyak baca nih!”


“Hehe… tentu saja… kalian semua harus banyak membaca, sebab membaca adalah kunci mendapatkan ilmu pengetahuan.”


“Kak Anggun sudah menikah?” celetuk salah satu siswi.


Aku tersenyum memandangnya. Pertanyaan yang membuatku sedikit malu, tapi, sebuah pertanyaan pasti ada jawaban, dan aku harus menjawabnya. Dan ketika aku akan menjawabnya, Yusuf menghampiri kami.


“Wah… semangat sekali murid-muridku ini,” katanya.


Semua siswa tersipu malu.


“Ini waktunya kalian untuk istirahat. Bu Anggun juga tentu membutuhkan waktu untuk istirahat bukan?” lanjut Yusuf.


Setelah berkata demikian, para siswa dan siswi itu bubar dengan menyalami kami terlebih dahulu. Tinggalah aku dan Yusuf, sejenak hanya saling pandang, dan tersipu malu, lucu memang peristiwa ini.


“Maafkan anak-anak kalau ada perkataan yang tidak berkenan,” kata Yusuf.


“Tidak Pak, semua baik-baik saja. Mereka justru mendaftarkan diri untuk menjadi relawan.”

__ADS_1


“Alhamdulillah… semangat remaja memang harus selalu ditumbuhkan, dan mereka juga harus banyak melakukan kegiatan positif.”


“Betul itu Pak, sebab pergaulan jaman sekarang sangat luar biasa bebasnya. Saya cemas akan perkembangan remaja masa kini.”


“Jika dulu, remaja-remaja terbatas, namun mereka memiliki sopan santun yang terarah, di masa sekarang, kita banyak menemukan remaja-remaja yang tidak terarah akhlaknya.”


“Saya juga berpikir begitu.”


“Sebab itulah saya memilih menjadi guru, paling tidak bisa mengubah sebagian kecil remaja-remaja dalam akhlak.”


“Pak Yusuf ternyata mempunyai tujuan yang mulia.”


“Bu Anggun juga memiliki pekerjaan yang mulia. Tidak semua orang yang sanggup menjalani pekerjaan Bu Anggun.”


“Kalau itu terlalu berlebihan Pak…”


Beberapa saat kami terdiam, aku mencoba mengalihkan suasana dengan membereskan makalah, serta peralatan yang telah aku gunakan. Pak Teguh sudah merapikan sebagian, dia mengangkutnya ke mobil di parkiran sekolah.


Tiba-tiba pak Yusuf juga ikut membantu membereskan makalah, aku agak kaget dengan itu.


“Biarkan saya saja, Pak!” cegahku.


“Tidak apa-apa, Bu,” Yusuf masih membereskan kertas.


Dan tanpa sengaja jarinya menyentuh jariku yang akan mengambil makalah yang sama. Ada getaran terasa dalam dada, sebagai perempuan muslim aku belum tersentuh oleh laki-laki sejak kejadian di pesantren.


“Maaf…,” kata Yusuf.


Aku hanya tersenyum, lalu melanjutkan membereskan semua makalah. Kemudian memasukannya ke dalam tas.


“Baiklah, Pak… terima kasih banyak atas bantuannya di sini. Pak Teguh pasti sudah menunggu di dalam mobil,” kataku.


“Sama-sama Bu, semoga sukses.”


Aku melangkah meninggalkan Yusuf, namun beberapa langkah kemudian kakiku terhenti oleh panggilan Yusuf.


“Bu Anggun! Jika suatu hari nanti saya berkunjung ke rumah Ibu, apakah suami Ibu mengijinkan?” tanyanya.


Kami berpandangan, getaran ini semakin berdebar-debar.


“Tentu boleh Pak, dan saya kebetulan belum menikah.”


Ada cahaya dari mata Yusuf, seolah dia menemukan mutiara di tengah lautan. Sementara aku merasakan cahaya itu memantul ke sekujur tubuhku, membuat inderaku hangat dan bergairah. Entah apa ini namanya, aku tak pernah tahu. Jika aku berpikir bahwa ini cinta, tentu aku akan berdosa. Sebab tidak seharusnya aku mencintai seorang laki-laki dengan bergairah.


“Insya Allah… saya akan mengabari jika ingin berkunjung,” kata Yusuf.


“Baik Pak. Assalamu’alaikum…”


“Wa’alaikumussalam…”


Kemudian aku melangkah meninggalkan aula ini. Meninggalkan Yusuf yang pasti tengah memandangku. Getaran di dalam dada semakin terasa lebih kencang. Ya Tuhan, jauhkan aku dari cinta yang berdosa. Aku ingin menjalani hidup ini dengan limpahan rahmatmu, dengan jalan suci.


Sesampainya di luar, kuhirup napas dengan bebas. Aku merasa lega, jantung ini berdetak lebih stabil, dan getaran-getaran itu perlahan menghilang. Aku masuk mobil, duduk di samping pak Teguh yang sudah bersiap menjalankan mobil.


“Selamat Anggun, kamu memang hebat!”


“Terima kasih, Pak.”


“Oh ya, Pak Yusuf ganteng juga ya. Dia nggak pernah berkedip menyaksikan kamu presentasi tadi.”

__ADS_1


Aku hanya tersenyum. Tak pantas aku membicarakan seorang laki-laki dengan laki-laki, biarlah Allah yang menentukan segalanya.


__ADS_2