
“Tuhan, Engkau telah menganugerahi keindahan-keindahan kepadaku, demikian juga dengan kesedihan-kesedihan. Dan Kau taburi hidup ini dengan kilau-kilau keagungan-Mu, sementara aku masih ingkar pada-Mu. Aku masih melakukan dosa, tidak mensyukuri setiap kenikmatan keindahan dan ujian kesedihan.”
Mataku mengucurkan air mata, diri ini merasakan kotor oleh dosa-dosa yang mungkin telah aku lakukan, secara sadar maupun tidak sadar. Diri ini kecil, sangat kecil jika dibandingkan dengan kuasaan Allah. Aku seorang musafir di kota yang asing ini, kota yang jauh dari tempat asalku.
Aku hanya ingin menimba ilmu di sini, aku tidak berpikir mencari jodoh, bagiku rahasia jodoh adalah rahasia Tuhan. Tidak pernah ada yang tahu jodoh itu akan datang atau tidak dalam waktu dekat, dengan siapa kita berjodoh, tidak pernah ada yang tahu. Bagiku, ilmu lebih bermanfaat daripada mencari jodoh untuk saat ini, lalu mengapa banyak santri perempuan mencari jodoh di sini?
Malam ini, aku seorang diri di dalam masjid. Tak ada satupun yang berada di sini, jam dua pagi. Aku hanya ingin mendekatkan diri kepada Tuhan. Terasa ada harapan jika selalu dekat dekat Tuhan. Seolah permasalahan yang paling sulit telah tuntas terselesaikan. Aku sangat bersyukur, fitnah itu tidak merebak kemana-mana, hanya baru diketahui oleh Khodijah dan Aisyah, walaupun hati ini cemas, pasti akan segera meluas.
Jika itu terjadi, maka aku melawannya seorang diri. Tidak rela ibuku dikatakan pelacur, dia segalanya bagiku. Dan aku hanya bisa berdoa untuknya agar selalu diselamatkan, dimudahkan di akhirat, tidak ada halangan untuk masuk surga.
Aku memang sering tampak seperti orang lemah tak berdaya mempertahankan harga diri hingga aku seperti tak mampu melawan setiap perkataan dan perbuatan dari seseorang. Namun, hati ini menjerit ingin berontak dan melawan sekuat tenaga, sebab hanya aku seorang diri yang harus membela diriku sendiri.
Akhir-akhir ini aku memang merasakan kepuasan batin di sini, merasakan kemajuan, merasakan kekuatanku pulih kembali, akan tetapi, bukan berarti aku harus melawan ketidak adilan yang datang padaku, aku harus menimbang-nimbang, apakah itu akan berdampak buruk kepada semuanya.
Air mata semakin deras membasahi pipi. Cintaku hanya akan kuberikan kepada Tuhan, aku ingin menjadi seorang penyembah, hari-hariku dihabiskan untuk menyembahku Engkau, ya Tuhan. Sepatutnya memang kusembah, Engkau seorang pemimpin, namun memberikan rasa aman, adil dan damai. Sedangkan Fatimah, hambamu yang memiliki segalanya, tidak dapat menguasai diri. Aku tidak sanggup lagi untuk terus bertahan.
Haruskah kulabrak dia, bahkan berkelahi agar terpuaskan rasa pedih ini. Engkau menciptakan kekuatan dan kelemahan, ya Tuhan. Apakah kekuatan itu memang untuk menghancurkan yang lemah? Aku masih tidak mengerti tentang segala peristiwa-peristiwa yang menimpaku, yang membuat hati ini harus rela teriris.
Aku bermunajat kepada-Mu Ya Rabb, memohon petunjuk untuk setiap langkah-langkahku, aku masih menganggap setiap kesakitan ini adalah anugerah tak terhingga dari-Mu. Bimbinglah aku menuju cahaya-Mu maha terang agar hatiku senantiasa hangat, jangan biarkan aku dikalahkan oleh nafsu amarah, nafsu yang dapat menghancurkan segalanya.
“Jangan bersedih Anggun… kami ada untukmu,” suara Khodijah mengejutkanku.
Aku membalikkan badan, Khodijah dan Aisyah duduk di belakangku. Senyum yang manis terukir dari kedua bibir mereka.
__ADS_1
“Maafkan aku yang telah membuatmu terluka…,” kata Aisyah.
Apakah yang diucapkan mereka itu benar? Atau mereka hanya berpura-pura saja, untuk memancingku agar aku menceritakan tentang kisah hidupku sebenarnya.
“Kami tulus, tidak seharusnya kami memercayai ucapan Fatimah,” lanjut Khodijah.
“Betul itu, kalaupun Ibumu seorang…” Khodijah menghentikan ucapannya.
“Kami akan tetap menerimamu sebagai sahabat baik kami, dan kami akan selalu menjagamu dalam suka maupun duka,” lanjut Khodijah.
“Setiap manusia memiliki takdirnya masing-masing. Tidak selayaknya kami menghukummu dengan pikiran-pikiran jelek kami sendiri.”
Mereka masih menatapku, sementara aku berusaha untuk menerjemahkan segala ucapan yang dikeluarkan oleh mereka. Sudah berbulan-bulan aku bersama mereka, dan aku juga sudah merasakan bahwa aku memiliki keluarga baru bersama mereka. Tidak sepatutnya juga aku membenci mereka, bahkan mereka juga melakukan pembelaan untukku ketika Fatimah mengatakan itu semua.
“Jangan!” ucapku.
“Tapi dia memang layak mendapatkan pelajaran,” sambung Khodijah.
“Itu bukan perbuatan seorang muslimah. Bukankah kita sering mendengar ucapan ustadz dan ustadzah bahwa keburukan jangan pernah dilawan dengan keburukan, melainkan dengan kebaikan. Aku sudah ikhlas dengan apa yang dikatakan Fatimah, walaupun aku tidak pernah mendengarnya langsung,” kataku.
“Subhanallah… mulia sekali hatimu,” Aisyah memelukku.
Khodijah hanya tersenyum memandang air mata yang masih meleleh di pipi, kemudian dia menghapusnya dengan jemari. Aku merasakan ada kembali, hati yang kosong seorang diri, kini sudah terisi oleh dua sahabat cantikku. Ternyata Tuhan selalu menjawab apa yang aku doakan, begitu sangat baik Tuhan itu, hanya saja manusia memang selalu ingkar, selalu merasa lemah.
__ADS_1
“Malam ini bertabur bintang, kamu tidak ingin melihatnya?” tanya Khodijah.
Aisyah melepaskan pelukannya.
“Iya… yuk, keluar!” tarik Aisyah.
Aku menahan mereka sebentar, kemudian melepaskan mukenah. Lalu kami bertiga segera melangkah keluar mesjid. Suasana tampak terang malam ini, seolah lampu tidak berfungsi untuk menyinari kegelapannya, sebab bintang-bintang bercahaya di atas langit, jumlah mungkin lebih dari ribuan.
Langit menjadi terang, aku melihatnya seperti ribuan kunang-kunang yang tengah bermain di langit. Sungguh, ciptaan Tuhan memang indah tiada tara, tidak ada yang bisa menandingi kekuasaan-Nya. Sekalipun manusia memiliki kecanggihan yang paling hebat, mataku tidak berkedip memandangnya.
“Sebaiknya kita lihat di tempat yang lebih tinggi!” seru Aisyah girang.
Aku langsung menarik Aisyah. Khodijah juga mengikuti kami, aku masuk ke arena menara mesjid, kemudian menaiki tangga. Kami berlari kecil, sungguh sangat riang, kami ingin segera sampai. Suara langkah kami bergema di dalam sini, namun tak ada siapapun untuk kami khawatirkan, semua sudah tertidur lenyap di kamar masing-masing. Beberapa menit kemudian kami sudah berada di atas menara, di tepi menara memandang langit yang sangat bercahaya. Mata kami takjub memandang itu semua, sungguh luar biasa.
“Mari kita berdoa!” ajak Khodijah.
“Memohon kepada bintang-bintang? Itu perbuatan syirik,” cegah Aisyah.
“Bukan kepada bintang tapi kepada Allah, kita diperbolehkan berdoa pada peristiwa-peristiwa yang menurut kita mengesankan,” jawab Khodijah.
“Ayo kita berdoa dalam hati!” seruku.
Semua memejamkan mata.
__ADS_1
“Ya Allah… dalam mengarungi hidup ini ternyata banyak sekali godaan dan rintangan, aku hanya ingin terjaga dari siksa api neraka, dan dikumpulkan dengan orang-orang yang teguh berkeyakinan kepadaMu. Segala godaan dan rintangan adalah ujian-Mu sebagai ilmu untukku agar semakin dewasa dalam melangkah di dunia yang fana ini…”