
“Mungkin bibir ini bisa saja membisu,
tapi maaf, hati dan pikiran adalah kemerdekaanku,
sebagai individu yang memiliki kehidupannya sendiri.
Maka biarkanlah ini menjadi melodi bagi hidupku,
jangan kau obrak-abrik seperti maumu,
sungguh itu tidak akan mungkin.”
Ingin kuteriakkan saja kata-kata itu kepada Fatimah. Seorang perempuan yang sok pemimpin. Seenaknya saja dia memerintahku. Walaupun secara organisasi, aku adalah anggotanya, namun bukan seperti itu sikap seorang pemimpin. Seorang pemimpin harus bisa membawa anggotanya kepada jalan yang baik dan benar, bukan malah menebarkan nafsu amarah, yang berakibat benci dan dendam.
Sudah tiga kali pertemuan, aku hanya dijadikan pesuruh, membersihkan tempat diskusi awal dan akhir, aku masih sabar. Tapi hari ini aku benar-benar kehilangan kesabaran, aku tidak mau jika harus membawa tumpukan buku-buku itu ke perpustakaan seorang diri, banyak anggota yang menganggur. Mengapa harus selalu aku?
Sepertinya Fatimah memang menyimpan dendam padaku, tapi apa? Aku tak tahu, aku tak mengerti jalan pikirannya. Kalau saja bukan karena bu Masriyah yang memintaku untuk bergabung di sini, aku tak akan sudi.
“Loh mengapa kamu masih diam saja? Ayo bereskan!” bentak Fatimah.
Ini sangat bertolak belakang dengan wajahnya yang cantik, seharusnya orang cantik memiliki kepribadian yang baik, sebagai muslimah, tentu itu yang didambakan oleh banyak orang, tapi Fatimah tidak seperti itu. Dia memiliki kepintaran, tapi kepintaran itu hanya kosong belaka jika melihatnya seperti itu.
“Maaf… aku…”
“Jangan membantah! Ingat, aku ini ketua di majelis ini!”
Suaranya semakin meninggi, sungguh ini membuat kebencianku tumbuh dan tumbuh, semakin besar.
“Fatimah, aku sudah terlalu cape!”
Akhirnya aku mengeluarkan suara tinggi, demi menjaga kehormatanku sebagai perempuan yang dewasa. Mungkin anak kecil saja akan melakukan hal yang sama jika diperlakukan seperti ini secara terus-menerus.
“Beraninya kamu memanggil namaku! Panggil aku Kakak!”
Alamak! Dia semakin angkuh saja, sudah tidak jaman di jaman pendidikan yang modern ini tentang senioritas dan yunioritas, semuanya sama. Yang membedakan hanya visi dan misi, dan tentu saja amal ibadah dalam konsep Islam.
“Tapi prilakumu terhadap aku tidak mencerminkan seorang pemimpin.”
“Oh begitu, jadi kamu ingin diperlakukan apa? Istimewa? Ingat, aku tak mau menerimamu di sini jika bukan karena permintaan Bu Masriyah.”
__ADS_1
“Aku juga tak mau bergabung di sini, jika Beliau tidak memintaku.”
“Baik kalau begitu, aku akan sampaikan bahwa kamu tidak layak berada di majelis tafsir ini, kemampuanmu nol, kamu hanya bisa mencari perhatian, tebar pesona kepada semua santri laki-laki.”
Tebar pesona? Apa maksudnya? Aku tidak pernah tebar pesona di dalam majelis ini, aku justru tidak bisa berpendapat ketika diskusi berlangsung, aku selalu disisihkan oleh Fatimah, padahal aku memiliki banyak argumen, dan itu layak menurutku, sebab aku juga merujuk kepada tafsir-tafsir ulama dari buku-buku yang kubaca.
Mata kami saling berpandangan, penuh kebencian aku menangkap makna dari pandangan itu, Fatimah memang tidak menyukaiku.
“Kamu memfitnahku!”
Aku berang, tak ingin aku dituduh seperti itu, sebab pada kenyataanya aku tidak pernah melakukan itu semua, aku bahkan menjaga jarak dengan para santri laki-laki, walaupun kenyataannya mereka lebih senang mengobrol denganku ketika diskusi sudah berakhir.
“Bukan fitnah, tapi fakta!”
“Buktinya apa?”
“Oh… jadi kamu mau bukti? Baik, tunggu saja, pasti kamu akan terkejut, dan tentu akan diusir dari pesantren ini!”
“Loh? Hak kamu apa membuatku terusir dari tempat ini, bukankah ini tempat umum, tempat semua orang belajar.”
“Tapi bukan tempat untuk anak seorang pelacur!”
Jantungku berdebar-debar, sungguh ucapan yang tidak layak bagi seorang muslimah, mengapa Fatimah seperti itu? Mengapa? Tak terasa air mata menetes, sakit hati aku dengan ucapannya, aku juga insan yang mempunyai perasaan. Aku mudah terlukai, aku sungguh sangat terpukul.
“Mengapa ribut?” tiba-tiba ada suara mengejutkan kami.
Subhan berdiri di ambang pintu, matanya mencerminkan pertanyaan kepada kami, Fatimah berubah, wajahnya kemerahan, malu mungkin, dia hanya tersenyum ke arah Subhan, sementara aku tak menentu, perasaan ini sudah sangat tak menentu.
“Tidak ada apa-apa Kak, hanya sedang berdiskusi saja, ternyata Anggun sungguh cerdas, tak heran jika Bu Masriyah merekomendasikan ke majelis ini.”
Apa? Mengapa tiba-tiba Fatimah berubah seratus delapan puluh derajat? Wajah yang bengis berubah bersei-seri, ini pasti ada apa-apanya. Mungkinkah ini semua tentang Subhan? Apakah dia memendam rasa kepada Subhan?
“Tentu saja… bagaimana dakwahnya membuat semua orang terkagum-kagum, aku yakin dia akan memenangkan lomba itu,” ucap Subhan.
Wajah Fatimah geram mendengar itu, tapi dia menahannya. Sudah dipastikan ada penyakit hati yang tersimpan di dalam dadanya, dia pasti membenciku karena Subhan perhatian padaku selama ini.
“Tidak ada yang hebat dalam kemunafikan,” kataku.
Subhan terkejut.
__ADS_1
“Kak Subhan ada perlu apa kemari?” tanya Fatimah.
Aku yakin dia ingin mengalihkan pembicaraan, dia tidak ingin keributan ini diketahui oleh Subhan. Tapi, aku tak bisa terima dengan perlakuan gadis cantik berkelakuan iblis ini, dia seperti duri dalam daging, jika tidak segera dicabut, akan terus melukai.
“Aku hanya mendengar ribut-ribut dari luar.” ucap Subhan.
“Kami memang sedang ribut!” jawabku.
Fatimah mulai menunjukan reaksi cemas.
“Ribut? Apa yang kalian ributkan?”
“Tidak… tidak… bukankah hal biasa dalam diskusi terjadi keributan?” tanya Fatimah.
“Kami sedang meributkan soal pelacur!” suaraku tak kalah lantang.
“Pelacur?”
“Iya. Ada seorang pelacur yang menyelamatkan anjing dari kematian ketika dia pulang dengan kelelahan setelah melayani tiga orang lelaki hidung belang, namun dia masuk surga. Apakah itu bisa dikatakan pelacur?” serangku.
Subhan diam sejenak, dia memandang ke arahku, dan juga memandang Fatimah. Seolah menyakinkan apakah diskusi ini tentang pelacur.
“Untuk urusan masuk surga, manusia tidak pernah bisa menentukan, itu semua rahasia Allah,” jawab Subhan.
“Itu yang aku maksud, mengapa manusia selalu membuat hukuman terhadap seseorang dengan opini buruknya, bukankah manusia tidak pernah bisa memiliki kekuasaan untuk menyatakan buruk dan baik, tanpa adanya ilmu yang tepat.” Ungkapku.
Wajah Fatimah memerah, dia benar-benar kalah. Aku sudah tak kuasa menahan amarah, seluruh tubuhku mendidih, seolah ingin menambahkan wajah merah Fatimah dengan tamparan yang sangat keras di pipinya.
“Aku sependapat dengan itu.”
“Dan jika aku ini Anjing yang ditolong oleh pelacur itu, tentu aku akan sangat berterima kasih, dan tidak akan pernah mengatakan bahwa dia adalah seorang pelacur, bagiku dia adalah malaikat penyelamat. Mungkin, Fatimah tidak pernah memakai ilmunya dalam memahami sesuatu, dia dipenuhi kebencian!”
Semua hening, Fatimah menahan amarah. Dia menjaga emosinya di depan Subhan, sepertinya dia memang tidak ingin terlihat jelek dimata Subhan, dia ingin dikenal sebagai perempuan penyabar, sungguh munafik.
“Sebenarnya, aku belum mengerti arah pembicaraan ini,” kata Subhan. Tentu saja dia tidak mengerti, sebab tidak sejak awal dia berada di sini, dia hanya seorang pengganggu bagi Fatimah yang sengaja akan mengulitiku.
“Lebih baik, kamu tanyakan kepada Fatimah, mungkin dia bisa memberikan pengertian. Aku masih ada urusan dengan teman-teman, terima kasih banyak atas waktunya.”
Aku melangkah meninggalkan ruangan, namun sebelum sampai ke pintu keluar, aku membalikan badan.
__ADS_1
“Oh ya, Fatimah aku minta tolong untuk membereskan buku-buku itu ke perpustakaan. Dan… Sekarang pasti akan ada yang membantu bukan?” mataku melirik ke Subhan. Lalu aku pergi meninggalkan mereka.
Aku yakin mereka memandangku meninggalkan tempat ini. Tetapi, aku sudah tak peduli, aku sungguh marah terhadap sikap Fatimah, mengapa seorang perempuan muslim, cantik dan cerdas tega melakukan itu padaku. Bukankah kecerdasan itu dipakai untuk kedewasaan, bukankah kecantikan itu dipakai untuk kerendahan hati, bukankah seorang muslim harus bisa menghargai satu sama lainnya, apalagi dia seorang manusia. Fatimah memang perempuan munafik, seluruhnya hanyalah topeng! Astaghfirullah…