
Dia menatapku. Tatapan penuh sesal, mungkin dia tengah mengutuk dirinya sendiri sebab menyia-nyiakan hidupku, atau memang kecewa akan hidupnya yang harus berakhir di penjara. Aku duduk menunduk, ada rasa takut, benci, marah dan bingung harus memulainya darimana.
“Jika kamu tidak ingin mengakuiku sebagai Ayahmu, aku tak pernah menyesal. Semua memang salahku.”
“Mengapa Anda meninggalkan Ibu?” tanyaku tanpa menoleh padanya, perasaanku berkecamuk, entah harus menangis, entah harus marah memakinya karena telah membuat hidupku dan ibu hancur. Tanpa kusadari, wajahku terus saja mendongak ke atas. Menyadari itu, perlahan kurendahkan pandangku, lalu kuberanikan diri melihat wajahnya yang sudah tua.
“Hhh… sulit aku jelaskan. Tapi… ini semua karena aku terlalu gila harta, terlalu ingin mendapatkan kekuasaan. Itulah sebabnya aku memilih orang lain, seorang wanita kaya raya dengan memiliki beberapa perusahaan.”
“Apa, berarti Anda sangat mencintai Ibu?”
“Lebih dari nyawaku.”
“Tapi mengapa semua yang Anda lakukan tidak mencerminkan bahwa Anda mencintai kami!”
Aku memandang tajam, kebencian yang berubah amarah.
“Aku dipengaruhi alkohol.”
Dia menunduk, tekanan suara yang merendah sudah menyatakan dirinya menyesal. Haruskah aku
menghakiminya di sini?
“Ayah tahu, kamu tidak akan pernah bisa memaafkan semua perbuatanku. Dan Ayah juga tidak menuntutmu untuk itu. Ayah sudah dihukum di sini atas semua perbuatan yang tidak baik. Semuanya sudah aku serahkan kepada Tuhan. Ayah Ikhlas.”
“Aku hanya ingin Anda tahu, bahwa perbuatan itu membuat luka, membuat hidup seseorang dalam ketidak pastian, dan menggiring seseorang ke dalam sebuah dosa, sebab ada rasa putus asa. Aku hidup dengan cemooh, hinaan, sebab ibu menderita batin, putus asa, dan tak memiliki pegangan hidup. Namun, Anda dengan seenaknya saja memerlakukan kami dengan kemauan Anda sendiri. Yang tidak habis pikir olehku, Anda hampir setiap hari berkunjung ke rumah, namun mengapa tidak pernah tahu tentang aku, bahwa aku adalah anak Anda?”
Dia mengangkat kepala.
“Ibumu menyembunyikannya dariku, setelah kehamilanmu, hampir tujuh tahun aku tidak bertemu ibumu, dan aku menemukannya di diskotik, saat itu aku pikir dia menggugurkan kandungan itu. Dan dia mengatakannya padaku, bahwa janin itu digugurkan, tapi kenyataannya lain. Aku menemukan anak kecil di rumah ibumu, aku sempat bertanya padanya, tapi dia menjawab bahwa anak kecil itu adalah anak adiknya yang dititipkan. Anak kecil itu adalah kamu.”
Aku diam, memandang matanya yang mulai berkaca-kaca.
“Ibumu tahu aku sudah kaya, maka kami menjalin tali cinta lagi. Cinta yang terlarang tentunya, sebab aku sudah beristri. Tapi, aku tak peduli, aku yang sudah gelap mata menikmati keindahan duniawi. Hidup ibumu aku jamin, bahkan mungkin uang itu sebagian dipakai untuk membiayai sekolahmu.”
Kini hatiku yang menjerit. Mengapa harus terjadi semuanya kepadaku? Mengapa aku yang menerima semua ini Tuhan.
__ADS_1
“Tapi… nasib berkata lain. Setelah kejadian itu…”
Dia menunduk.
“Aku minta maaf! Aku sedang mabuk saat itu ingin merenggut kehormatanmu, aku benar-benar kacau. Perusahaanku juga sedang mengalami kekacauan, aku kalah tender dengan perusahaan lain.”
Dia menanangis tersedu-sedu, tak kuasa menahan gejolak batin yang menyiksa. Mungkin rasa sakit itu lebih pedih dari rasa sakit dalam hatiku.
“Aku terpaksa menyogok orang-orang pemerintah untuk memuluskan tender-tender lainnya. Namun semua terbongkar oleh KPK, aku ditangkap. Dijebloskan ke dalam penjara, keluargaku menjadi berantakan. Istriku menuntut cerai, anak-anakku entah kemana. Dari penjara ke penjara hidupku ini, hingga akhirnya aku ditempatkan di penjara ini.”
Tangannya mengepal, dia menjatuhkan kepalannya ke atas meja. Lalu menangis tersedu-sedu, seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. Air mata berjatuhan basahi pipiku, dia memiliki kepedihan yang lebih berat dariku. Dia menanggung beban yang sangat berat, inikah pembalasan sebuah dosa? Rasa penyesalan yang akan menghancurkan kepercayaan pada diri sendiri.
Aku belum bisa berkata apa-apa. Biarlah dia menghabiskan rasa kecewanya dengan air mata, dia tangisan mengiris hati. Sebab, hanya itulah yang sanggup dilakukan olehnya saat ini, dia terkunci di dalam penjara dalam hari-harinya. Dia tidak memiliki kebebasan, dia hanya seekor gajah yang terjebak di dalam lubang yang dalam. Walaupun berbadan besar, namun tak sanggup untuk keluar, mengangkat tubuhnya sendiri.
“Kamu boleh menghukumku sepuasnya! Aku terima…”
“Aku datang kemari bukan untuk menghukum Anda…”
Dia menghentikan tangisnya. Aku memberikan tissue, kemudian kami menghapus air mata masing-masing.
“Lalu untuk apa kamu datang menemuiku?”
“Apa Anda masih mengakui aku sebagai anakmu?” tanyaku.
Dia terkejut, mungkin dia heran mengapa aku bertanya seperti itu? Padahal dia telah menyakitiku, menanamkan kebencian padaku. Aku sendiri tidak tahu mengapa aku bertanya seperti itu? Mungkinkah aku sudah menjadi pribadi yang dewasa, memaafkan sebuah kesalahan, mesti kesalahan itu memiliki dosa berlipat-lipat ganda.
“Tentu saja aku masih mengakuimu sebagai anakku. Setelah kejadian itu, aku sangat menyesal, sangat menyesal, mengapa aku begitu kejam terhadapmu.”
“Jika memang benar Anda ayahku, aku ingin bertanya, jika seorang anak meminta nasihat kepada seorang Ayah, apakah ayahnya akan memberikan nasihat yang diminta?”
“Aku akan berusaha memberikan nasihat itu, walaupun aku sendiri belum benar dalam menjalani hidup.”
Kemudian aku menceritakan permasalahanku, tentang kebingungan memilih calon suami. Dia menyimaknya, dengan sangat perhatian. Dia berusaha menganalisa setiap perkataan yang aku lontarkan. Mungkin dia ingin menjadi seorang ayah bagiku, tapi pada kenyataannya dia memang seorang ayah, meski aku tidak pernah merasakan sentuhan kasih sayangnya.
“Begitulah…”
__ADS_1
Dia menarik napas panjang. Kemudian memandang jauh ke luar jendela, ruangan ini hanya kami berdua, dan mungkin ada penjaga di belakang pintu itu, mengawasi kami. Tapi aku tak peduli, aku sudah bertekad untuk tidak mengungkit lagi kejadian di masa lalu.
“Aku hanya bisa memberikan saran, pilihlah yang lebih suka. Diantaranya keduanya, pasti kamu memiliki rasa lebih kepada seseorang. Dan rasa itu, tidak dipengaruhi oleh orang lain, murni atas penilaianmu sendiri.”
Kami saling berpandangan. Jawaban itu menyegarkan kepalaku, tentu saja hati ini ada pilihan sendiri. Ada yang lebih suka, lebih diperhatikan, dan lebih diutamakan. Hanya saja, orang-orang yang membantuku selama ini, memberikan jodoh yang terbaik juga padaku, itu yang membuatku semakin bimbang. Aku tak ingin dikatakan sebagai orang yang tak tahu balas budi.
“Percayalah padaku, bahwa kamu akan bahagia.”
Dia tersenyum, membuat keyakinanku semakin kuat. Aku harus segera menuntaskan ini semua.
“Aku akan berusaha untuk mengikuti kata hati,” jawabku.
“Itu yang terbaik.”
“Kalau begitu aku pamit dulu.”
Aku bangkit dari tempat duduk. Kami berpandangan sejenak, pandangan matanya sendu seolah tak rela aku meninggalkannya di sini.
“Jangan baik-baik diri Anda,” kataku.
Aku melangkah bermaksud meninggalkan ruangan ini, akan tetapi langkahku terhenti oleh suaranya.
“Ahmad, namaku Ahmad Fatonah,” ucapnya.
Aku membalikan badan. Kembali pandangan mata kami beradu, selama ini aku memang tidak mengetahui siapa nama ayahku, bagaimana sosoknya. Baru kali ini, di dalam penjara ini. Ada rasa menyesal dalam hatiku jika melihat keadaannya begini, wajah tua yang lelah, seharusnya aku menjaganya sebagai anak.
Tanpa kusadari, aku menghampirinya dan memeluk tubuhnya. Dia tetap ayahku, dan keluargaku satu-satunya. Jemarinya perlahan mengusap kepalaku, terasa berat usapannya, seolah kali ini dia tidak ingin melakukan sebuah kesalahan dengan meninggalkanku. Kami bercucuran air mata lagi, terharu akan kehidupan kami yang sangat misteri.
Setelah itu, aku memberikan alamat dan nomor telepon padanya dalam secarik kertas. Mungkin lain waktu dia bisa mengunjungiku, walaupun dia sudah mengatakan bahwa hukumannya masih lama. Kini, aku harus meninggalkannya lagi seorang diri dalam penjara, menyesali hidupnya.
“Aku akan rajin shalat dan berdoa kepada Allah,” katanya.
“Itu sudah keharusan…A.. Ay.. Ayah,” jawabku agak terhenti ketika memanggilnya ayah. Sebab, aku belum terbiasa.
Lalu aku meninggalkan ruangan ini, membawa harapan baru, membawa kehidupan baru. Ayahku memang orang yang bersalah, namun sebaik-baiknya orang yang bersalah adalah orang yang bertaubat. Ayahku dalam proses itu, aku harus mendukungnya, membantunya untuk menuju jalan taubat yang benar-benar taubat.
__ADS_1
Sebab jalan taubat begitu terjal, tidak semua orang sanggup untuk bertaubat, tidak semua orang sanggup menjalaninya. Ayahku membutuhkanku, begitu juga aku. Kami saling membutuhkan, itulah keluarga.
Ya Allah… terima kasih atas hidup yang kamu berikan kepadaku, atas pertemuan kami, atas rasa kasih kami.