
Baiklah, aku tak ingin mengingat lagi kejadian bersama Fatimah. Yang lebih menarik sekarang adalah Khodijah dan Aisyah, ternyata mereka berdua mencintai orang yang sama. Abdullah namanya, santri dari Semarang. Orangnya ramah, aku pernah bertemu dengannya sekali, itupun Aisyah yang mengenalkannya padaku ketika kami sedang menghadiri tabligh akbar. Khodijah juga demikian, mengenalkannya padaku di hari yang lain, dan dalam acara yang berbeda.
Tadinya aku berpikir bahwa antara Khodijah dan Aisyah tidak tahu kalau mereka mencintai orang yang sama, tapi ternyata tebakanku salah. Mereka mencintai orang yang sama, sungguh sangat aneh. Bagaimana bisa mereka tidak bermusuhan?
Biasanya jika dua wanita mencintai satu pria dan mengetahui satu sama lainnya tentu akan menimbulkan konflik, apalagi kami tinggal bersama dalam satu ruangan. Namun, berbeda dengan mereka, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Pernah aku bertanya kepada Aisyah tentang itu, namun dia hanya tersenyum, begitu juga dengan Khodijah, dia menjawabnya dengan senyuman.
Hari ini aku melihat mereka sedang berbincang-bincang sambil menikmati kesejukan alam pegunungan di kota Cirebon. Pegunungan ini berbatasan dengan Kuningan, sehingga tampak jelas tidak ada angin laut dan panasnya pantai. Setiap minggu kami para santri pondok Jambu menikmati udara pagi, hari minggu adalah hari libur, hari yang bebas untuk bermain di sekitar pondok, atau bisa juga hari untuk pulang mengunjungi sanak-keluarga.
Kuberanikan diri untuk mendekati mereka.
“Assalamu’alaikum,” sapaku.
“Wa’alaikumussalam,” mereka menjawab serentak.
“Anggun, sejak kapan kamu berada di belakang kami?” tanya Khodijah.
“Sejak tadi…”
“Pasti nguping yaaa…!!!!” ledek Aisyah.
“Ah, tidak… hanya mendengar sedikit!” godaku.
“Biarkan menguping juga, toh memang tak ada rahasia diantara kita,” sahut Abdullah.
“Wah… seperti judul filmnya saja, tidak ada rahasia diantara kita,” ulang Aisyah.
“Hehe. Memang sekarang sedang musim sinetron,” sambung Abdullah.
Beberapa santri melintas dan mengucapkan salam kepada kami, begitu juga dengan kami, serentak menyambut salam. Pagi yang cerah, dan senyum lebar terukir dari bibir para santri, semua tampak bergembira di hari minggu ini. Kegembiraan itu tercermin dari wajah kedua sahabatku.
“Dari tadi aku perhatikan, kalian begitu bersemangat dalam mengobrol, memangnya sedang membicarakan apa?” tanyaku.
Khodijah dan Aisyah saling pandang, kemudian tersenyum malu, pasti mereka sedang membicarakan hal-hal yang sifatnya pribadi sehingga timbul rasa malu, atau mereka sudah mempersiapkan untuk menyatakan perasaan masing-masing?
“Oh… kami hanya sedang berdiskusi tentang istri-istri Nabi,” jawab Abdullah.
“Istri Nabi?” aku terkejut.
__ADS_1
“Betul itu Anggun, Nabi adalah penyebar agama Allah, dia juga hidup normal layaknya manusia seperti kita. Memiliki nafsu dan juga rasa kasih sayang, namun tugas yang paling utamanya adalah menegakkan kebenaran tentang keagungan Allah,” jawab Aisyah begitu semangat.
“Lalu hubungannya dengan pembicaraan kalian itu apa?” aku masih belum mengerti.
“Aku ingin bertanya dulu kepadamu, bagaimana rasanya jika kamu hidup pada jaman Nabi, lalu dinikahi olehnya?” tanya Abdullah.
Aku tak langsung menjawab pertanyaan Abdullah yang mendadak itu. Apalagi jika menyangkut pernikahan lebih dari satu. Ya, bukankah pada jaman Rasulallah, pernikahan bukanlah soal nasfu semata, tapi lebih kepada karena kondisi peperangan yang memang para wanita sangat membutuhkan perlindungan.
“Hei, Anggun! Kok malah melamun?” suara Abdullah lagi-lagi mengejutkan dan membuyarkan lamunan yang tak ingin kuakui.
“E-eh. Siapa juga yang melamun. Aku hanya sedang sedikit memikirkan pertanyaanmu tadi.”
“Loh? Memangnya kamu nggak mau dinikahi Nabi? Bukankah itu pasti jaminannya surga? Karena nabi adalah manusia pilihan Allah.”
“Mmmm… mungkin, aku pasti akan menjadi salah satu wanita yang beruntung dan berbahagia bisa dinikahi beliau,” jawabku sambil terus membayangkan diriku berada di jaman jahiliyah.
Mendengar jawabanku, Abdullah malah menyunggingkan seulas senyum. Dia seolah menemukan makna dari jawabanku.
“Tidak harus menjadi istri nabi untuk masuk ke dalam surganya Allah. Menjadi istri yang sholehah bagi suami juga pasti masuk surga.”
“Tapi bagaimana dengan suami yang poligami?” tanyaku.
“Perempuan yang ikhlas merelakan suaminya menikah lagi di jalan Allah, surga jaminannya. Tapi ingat ya… ikhlas.”
“Tapi sulit untuk menemukan perempuan ikhlas itu,” kata Khodijah.
“Iya, di jaman sekarang, poligami adalah aib bagi perempuan,” sambung Aisyah.
Abdullah duduk di batu, di bawah pohon. Matanya memandang burung yang tengah asyik bermain di dahan-dahan pohon. Khodijah dan Aisyah juga ikut duduk di rumput jalan yang hijau, begitu juga dengan aku. Tampaklah kami seperti tiga orang murid yang tengah diberikan nasihat oleh seorang guru.
“Mengapa sekarang banyak suami melakukan selingkuh?” tanya Abdullah.
“Sebab mereka hidung belang!” seru Aisyah.
“Bukan… justru karena banyak perempuan tidak ikhlas untuk di poligami sehingga suami diam-diam melakukan itu,” jawab Abdullah.
Jawaban yang sungguh sangat bertentangan dengan kami, seolah dia menuduh kaum perempuan penyebab kehancuran moral para suami.
__ADS_1
“Jadi, kamu menyalahkan perempuan?” serang Khodijah.
“Tidak… bukan itu maksudnya.”
Abdullah menarik napas panjang.
“Mmm… kalian lebih baik memilih suami berjinah atau menikah lagi secara halal?” Abdullah bertanya.
Kami saling pandang, kedua tentu tidak disepakati oleh kami, lebih baik kami memilih suami yang setia.
“Tidak keduanya,” kataku.
“Itulah yang membuat terjadi banyak perselingkuhan. Allah memberikan kemudahan bagi laki-laki dan perempuan dalam pernikahan. Tanpa biaya besar pun pernikahan bisa terlaksana, tapi karena keegoisan dengan dalih setia itu mengakibatkan banyak terjadi perselingkuhan. Aku bukan penganut poligami, tapi dalam agama ada anjurannya, ada tata caranya berpoligami, untuk menghindari jinah dan perselingkuhan, agar keutuhan keluarga tetap terjaga dalam norma-norma keislaman.”
“Jadi menurutmu, para istri harus mengikhlaskan suami mereka untuk menikah lagi?” tanya Khodijah.
“Jika memang itu terjadi, itulah cara yang tepat untuk menjaga keduanya dari siksa api neraka.”
Jawaban Abdullah membuat merinding bulu kuduk, aku tak menyangka santri ini memiliki pemahaman yang logis, tidak mengada-ada, dan memang itu terjadi di lingkungan sekarang. Seolah poligami adalah kerendahan bagi perempuan, sebaliknya, Abdullah memberikan pandangan bahwa poligami adalah kemuliaan perempuan, dan perempuan jugalah yang memegang kunci, apakah suami masuk surga atau neraka dalam kehidupan di pernikahan.
Mungkin, karena emansipasi wanita yang sedang digalakkan oleh para kaum perempuan hingga membuat poligami itu rendah. Tapi entahlah… aku tidak ingin membuat argumen sendiri, sebab pernikahan sebuah tali untuk menyatukan dua keluarga, dua suku, dua kota, dua Negara, dua dunia. Sehingga tidak harus dinodai oleh perselingkuhan.
Khodijah dan Aisyah hanya terdiam. Perubahan sikap dari Khodijah juga membuatku heran, biasanya dia paling sering memberikan nasihat dan pandangan ketika kami berdiskusi bertiga, tapi saat ini, sepertinya dia kehilangan kata-kata. Dia seperti burung yang dimasukan ke dalam sangkar, diam seribu bahasa.
“Dan ikhlas itu memang tak mudah. Makanya, jika tidak ada keikhlasan dari istri lebih baik suami jangan melakukan poligami,” lanjut Abdullah.
Cerdas! Abdullah ternyata tidak egois, dia memandang poligami dari obyek, bukan subyek, sebagai dirinya laki-laki. Pantas saja Khodijah dan Aisyah mengagumi Abdullah, ternyata santri ini sangat bijaksana, dia bisa memberikan solusi dari suatu masalah, dan solusi itu bukan atas keinginannya sendiri, melainkan melihat titik masalahnya.
“Mudah-mudahan para laki-laki memahami poligami, seperti kamu…,” kataku.
“Haha. Semua adalah pelajaran, begitu juga denganku, masih belajar untuk melakukan hal yang benar. Bukan hal yang baik, sebab baik dan benar itu berbeda makna, berbeda perbuatan.”
“Tapi… kamu cocok untuk poligami kok!” ledekku sambil melirik Khodijah dan Aisyah.
Kedua sahabatku mendelikkan matanya, hati ini tertawa terbahak-bahak, baru kali ini dua sahabatku mati kutu, tak banyak omong di depan Abdullah, tandanya hati mereka sudah terpanah asmara, terbakar api cinta. Dan aku tak tahu apakah Abdullah juga mencintai keduanya, atau salah satu dari mereka.
Namun aku tidak melihat kecemburuan antara Khodijah dan Aisyah, mereka sungguh perempuan yang luar biasa. Menyerahkan nasib cintanya kepada sang pemiliki cinta, yaitu Tuhan semesta alam, mereka adalah sahabat terbaik yang dikirim oleh Allah untukku.
__ADS_1
Seperti halnya dengan cinta, dia hadir di dunia ini untuk mendamaikan, bukan untuk mengacaukan. Cinta yang tulus adalah cinta yang bisa memberi tanpa harus pamrih dan hanya menerima, cinta yang seperti itu dimiliki oleh Tuhan. Dzat yang selalu memberikan apa yang dibutuhkan oleh manusia, dan malah memberikan pilihan kepada manusia, untuk menyembahnya atau tidak. Sungguh, kami manusia yang begitu picik sehingga selalu lupa akan kenikmatan yang telah diberikan oleh Tuhan. Wallahu a’lam.