
“Akan kujaga hati ini dengan menikahimu.”
Kalimat Yusuf masih saja terngiang di telinga usai bertemu ayahku di penjara, setelah kami ikut menghantarkan jenazah Amir ke tempat peristirahatan terakhir seminggu yang lalu. Sebuah pesta pernikahan kecil telah disiapkan oleh bu Masriyah di aula pesantren, ternyata beliau menyambut baik pernikahan kami, bahkan dia meminta untuk menjadi tuan rumah, aku salah menilai selama ini.
Bu Masriyah sudah menganggap aku adalah anaknya sendiri, padahal aku sempat berpikir yang tidak-tidak jika gagal dengan Amir. Aku sungguh sangat beruntung, inikah hadiah dari Tuhan setelah aku menghadapi ujian-Nya aku diberikan keluarga, dikasihi orang-orang sekitarku. Ya, setiap orang di sekitarku dijadikan keluarga.
Mungkin, ketika aku merasa seorang diri, merasa sebatang kara, sebenarnya itu awal untuk menemukan keluarga, aku belajar memahami ilmu yang didapat baik secara teori maupun prakteknya, belajar bergaul, belajar menolong sesama. Semua yang aku dapatkan sekarang adalah hasil dari upayaku yang jatuh bangun dalam belajar memaknai hidup di dunia ini.
Tukang rias dari tadi sibuk merias wajahku. Bu Masriyah mengijinkan kami untuk memakai adat dalam pernikahan, sebab adat pernikahan memang harus dilestarikan selama itu tidak merugikan kedua belah pihak. Hanya pakaiannya saja yang tetap tertutup, aku memakai pakaian pengantin dengan tetap memakai jilbab, sehingga pakaian pengantin ini malah tambah menakjubkan.
Di luar kamar pengantin ini, terdengar riuh orang-orang, hatiku berdebar-debar, bahagia bercampur sedih, seandainya ibu ada di sini, tentu akan sangat bahagia, wajahnya aku berseri-seri, wajah yang biasa menyimpan duka. Namun, aku berusaha menyakinkan diri, bahwa ibu menatapku di surga, dengan tatapan paling bahagia.
“Loh… kok menangis?” ucap tukang rias.
Aku tak sadar air mata ini jatuh.
“Nanti make up-nya luntur,” katanya lagi sambil menghapus air mataku dan merapikan make up-ku.
Aku diam saja, memandang wajahku di cermin.
“Udah biasa kalau pengantin nangis… nanti malam pertama juga malah ketawa-ketawa,” katanya.
Aku tersipu malu mendengarnya.
Bu Masriyah masuk, aku melihatnya dari cermin, wajahnya sangat bergembira melihatku dengan memakai pakaian pengantin muslim.
“Mari keluar, semua undangan telah menunggu kehadiran mempelai wanita.”
Aku bangkit, hati ini sungguh terharu bu Masriyah mau menjemputku, dia memang seorang wanita pilihan Allah untuk menjagaku. Ingin rasanya kucium kakiknya untuk mengucapkan rasa terima kasih ini.
Kami perlahan mendekati pintu, suara riuh sudah terdengar di telinga, perlahan mendekat, dan ketika tirai pintu terbuka, semua orang bertepuk tangan menyambutku, air mata kebahagaiaan tak kuasa kubendung lagi, aku melihat ayah memakai jas, memakai kopiah, dia mendapatkan ijin untuk menghadiri akad pernikahanku. Di sebelahnya, pak Iwan tersenyum padaku, sambil mengacungkan jempol.
__ADS_1
Ada dua orang perempuan melambaikan tangan padaku, Khodijah dan Aisyah? Ya Allah sudah lama aku tidak
bertemu dengan mereka, ingin rasanya kupeluk mereka, dan diantara keduanya ada Abdullah berdiri, menggenggam kedua tangan perempuan itu, rupanya mereka berdua telah memilih jalan hidupnya untuk mencintai satu laki-laki, jika melihat keakraban bertiga, tentunya mereka bertiga sudah menikah. Tapi, aku tak tahu siapa yang pertama dinikahi, mungkin Khodijah sebab dia lebih terlihat dewasa, aku tak pernah mendapat undangannya.
Aku digiring ke tengah aula, dimana ada berbagai macam bunga hiasan, dan Yusuf berdiri di situ, sungguh wajahnya sangat lain, lebih tampan dengan pakaian pengantinnya. Di sebelahnya berdiri ayahnya, dan seorang penghulu, hati ini semakin berdebar-debar, hari ini aku akan menjadi seorang pengantin. Seorang istri.
Seolah ada puisi dalam hatiku bergema:
Aku sedia
menyerahkan hidup ini
ke dalam jalanmu.
sehabis terucap janji
ke ujung ufuk paling akhir
amin.
Semua berkumpul untuk menyaksikan ijab qobul dalam pernikahan, dimana seorang laki-laki mengucapkan janji untuk menikahi dan memberikan mas kawin sebagai ikatan keduanya untuk menjalani hari-hari di masa mendatang.
“Kamu seperti bidadari turun dari surga,” bisik Yusuf.
Aku tersipu.
“Maukah kita mengarungi lautan dunia ini?” bisiknya lagi.
“Insya Allah, aku akan selalu di sampingmu, dalam suka maupun duka,” jawabku dengan berbisik.
“Ehem!” ayah berdehem di sampingku.
__ADS_1
Kami segera sadar proses pernikahan akan segera dimulai. Lalu ayah meminta kepada penghulu untuk mewakilkan pernikahanku, setelah semuanya siap, penghulu menikahkan kami.
“Saya terima nikahnya, Anggun binti Ahmad Fatonah dengan mas kawin sebuah cicin emas dibayar tunai,” ucap Yusuf lantang.
Semua berseru ‘sah,’ dan penghulu menutup dengan doa. Alhamdulillah… akhirnya aku mendapatkan imam yang kuimpikan.
***
Yusuf mendekatiku yang baru saja selesai shalat. Kemudian dia mengecup keningku, dan memberikan senyuman. Malam mulai larut, hujan jatuh, suaranya gemiricik di luar kamar. Aku sadar bahwa ini adalah malam yang selalu dinanti oleh setiap pasangan pengantin.
“Pernahkan terlintas olehmu sebuah penyesalan, menikah denganku?” tanyanya.
“Kenapa bertanya seperti itu?” aku balik bertanya.
Namun Yusuf malah terdiam, mengapa dia bertanya seperti itu? Apakah kegelapan akan mendatangiku lagi?
“Tentu saja, aku tak pernah menyesal menikah denganmu, sayang,” jawabku.
“Bisa kamu ulangi lagi, aku belum mendengar,” Yusuf tersenyum.
Wajahku mungkin memerah, sebab malu, Yusuf tengah menggodaku.
“Aku tak pernah menyesal…hhfhf.”
Tiba-tiba ciuman mendarat di bibirku.
“Kenapa kamu tidak pernah menyesalinya?”
“Sebab aku mencintaimu,” jawabku.
Setelah itu, hanya terdengar bunyi hujan jatuh di luar kamar. Lampu di dalam kamar ini redup, semua menuju cinta yang sejati, cinta yang menyatukan dua hati, yang tak pernah ingin berpisah. Dan dalam diri masing-masing, ada lautan asmara yang terus bergelombang, mencapai kebahagiaan, menyatu menjadi bahtera rumah tangga. Sakinah, mawaddah, warrahmah. Aamiin.
__ADS_1
SELESAI