Jodoh Pasti Bertemu

Jodoh Pasti Bertemu
Episode 24 - Fitnah Lebih Kejam dari Membunuh


__ADS_3

Belum puas dengan merasakan kebahagiaan sebagai juara kedua lomba dakwah, tiba-tiba Aisyah masuk kamar dengan wajah semerawut, tatapannya aneh ketika melihatku. Tadinya aku ingin bertanya apa yang sudah terjadi, namun melihat gelagat itu, aku lebih baik tidak bertanya, nanti malah kena omel. Itulah sifatnya, jika sedang kesal, dia tidak mau ditanya-tanya, melainkan di diamkan saja hingga tingkat emosinya turun.


Khodijah belum terlihat, padahal sudah memasuki waktu shalat ashar, biasanya kami bertiga kumpul di kamar untuk melaksanakan shalat ashar berjamaah, sambil beristirahat setelah seharian lelah belajar.


“Jujur padaku, apa yang sudah terjadi antara kamu dan Subhan?” tanya Aisyah.


Suara lantangnya mengejutkan aku, ada apa ini? Mengapa tiba-tiba Aisyah mendengus bagaikan banteng?


“Maksud kamu apa?”


“Jangan pura-pura, kalian sudah berbuat mesum bukan?” serang Aisyah.


“Astagfirallah… aku tidak mengerti maksud kamu?”


“Alah… kamu itu telah mempermalukan aku, sok alim, sok nggak pernah bergaul, tapi buktinya….” Aisyah menghentikan ucapannya.


Pintu kamar terbuka, Khodijah masuk. Wajahnya merah, entah apa yang terjadi padanya. Namun, sikapnya masih tidak terlihat aneh, seperti Aisyah. Hanya pandangan matanya dingin. Ini pasti ulah Fatimah, aku sudah menduganya.


“Kak Khodijah tahu bukan, kalau gossip itu mempermalukan kita!” Aisyah langsung memberikan opini kepada Khodijah.


Khodijah menatapku.


“Apa itu benar Anggun?” tanyanya.


“Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan?”


“Jangan pura-pura tidak tahu!”


“Sabar… Aisyah… Sabar…, bagaimanapun Anggun adalah sahabat kita, harus didengarkan apa yang akan dikatakannya,” cegah Khodijah.


Aisyah duduk di kursi, wajahnya masih kesal.


“Kami baru saja diserang oleh kelompok Fatimah, dan mereka mengolok-olok kamu, bahwa…” Khodijah menghentikan ucapannya. Dia melirik Aisyah, yang dilirik hanya diam saja tidak bergeming dari tempat duduknya.


“Katanya kamu anak seorang pelacur,” lanjut Khodijah.


Seperti baru saja ditusuk jarum dada ini, terasa nyeri dan menyesakkan. Bagaimana mungkin Fatimah tega melakukan ini semua padaku, padahal aku tidak pernah sama sekali mengusiknya. Inikah rupa cemburu? Sudah tak ada hati, tak ada logika, ingin hasrat tercapai.


“Aku tidak tahu…,” jawabku menunduk.

__ADS_1


“Bagaimana kamu tidak tahu? Kamu kan anaknya?” tanya Aisyah.


Air mata perlahan membasahi pipi, jika harus mengingat itu semua tentu sangat menyakitkan, apalagi aku tak pernah tahu pekerjaan ibuku. Dia selalu keluar malam, dan pulang pagi. Seorang ibu yang pekerja keras, lalu harus meninggalkan dunia ini dengan mengorbankan nyawanya demi kehormatan seorang anak. Apakah ibu seperti itu adalah pelacur?


“Jika kalian tidak mempercayaiku, aku tak apa-apa. Aku ihklas lahir dan bathin, aku juga bersedia keluar dari kamar ini jika kalian jijik padaku,” kataku dengan terisak-isak.


Aku tak pernah tahu ekspresi wajah Aisyah dan Khodijah, sebab tak sanggup mata ini memandang mereka. Biarlah aku diasingkan dari pesantren ini, namun jangan cegah aku untuk tidak belajar di sini.


“Kami hanya butuh kebenaran Anggun,” kata Khodijah. Tempo suaranya rendah, tidak seperti tadi.


Aku masih menangis, tak kuasa melawan kesedihan ini. Baru saja akan bangkit, sudah mendapatkan ujian yang sangat luar biasa. Apakah Tuhan tengah memilihku untuk menjadikan aku hambanya yang taat?


“Aku tidak pernah tahu, apakah ibuku seorang pelacur atau bukan. Kalaupun iya, aku tetap mengakuinya sebagai Ibu, sebagai wanita terhormat yang telah berjuang mati-matian untuk membuatku hidup,” kataku tegas.


Aisyah dan Khodijah saling pandang. Tiba-tiba saja muncul keberanian dalam diriku untuk menghujat kedua sahabatku ini.


“Kalian mungkin dilahirkan dari keluarga yang mampu, keluarga utuh, dan hidup kalian pasti tercukupi. Kalin dibiasakan hidup manja, sehingga yang dianggap kotor dan menjijikan selamanya di mata kalian itu najis! tapi, ibuku bukan najis, dia memiliki surga di kakinya. Dan aku sebagai anaknya, tak akan pernah melukainya, mendurhakainya walaupun dia sudah tiada.”


“Tapi mengapa kami harus tahu dari orang lain?” sahut Aisyah.


“Apa bedanya? Dari mulutku atau dari orang lain, tetap kalian berpikir bahwa ibuku adalah seorang pelacur, dan itu kalian juga berpikir, bahwa buah tidak akan jatuh dari pohonnya. Itu berarti aku juga pelacur!” keberanianku semakin muncul. Khodijah masih diam saja.


“Tapi, Fatimah melihatmu turun dari menara masjid bersama Subhan pada tengah malam, apa itu berarti tidak ada apa-apa?” kata Aisyah.


“Aku tidak melakukan apa-apa bersama Subhan, tidak pernah sama sekali!” bentakku.


Aku mencoba dengan sangat gigih untuk tidak terjerumus kepada fitnah Fatimah, dan hatiku kucoba untuk tidak membencinya, walaupun pertengkaran dengan sahabatku ini bukan hal yang biasa. Aku tidak pernah bertengkar sehebat ini sebelumnya, tak pernah sama sekali.


“Tapi kalian saling suka bukan?” Aisyah masih berusaha untuk menekanku.


Khodijah masih diam saja, rupanya dia juga terlibat emosi di dalam dadanya, hanya saja dia berusaha untuk menahan. Tidak ingin gegabah dalam melakukan sesuatu, walaupun dia sudah masuk ke dalam fitnah Fatimah.


“Aku tidak tahu,” jawabku.


“Dari tadi selalu tidak tahu. Berarti semua itu benar, mengapa kamu harus menutupi itu semua dari kami? Kalau memang tidak bisa menjadi seorang muslim sejati, untuk apa masuk ke pesantren!” celetuk Aisyah.


Tentu saja aku tersinggung dengan ucapannya.


“Apakah seorang muslim sejati itu harus ada di pesantren?”

__ADS_1


“Jelas!”


“Lalu, kamu menganggap semua orang di luar pesantren ini bukan muslim? Astaghfirullah…”


Aisyah terdesak, aku yakin dia juga tidak bermaksud demikian, hanya saja Aisyah terlalu cepat mengambil kesimpulan, dia tidak mateng. Gadis ini akan sangat bahaya jika keluar dari pesantren dalam keadaan cara pandang yang seperti itu.


“Lebih baik, kamu ceritakan dari awal apa yang sebenarnya terjadi!” perintah Khodijah.


Mungkin dia juga sudah malas mendengar keributan, apalagi waktu sudah mendekati magrib, aku yakin dia tidak ingin semua santri perempuan datang kemari disebabkan mendengar keributan.


“Tidak harus aku ceritakan atau jelaskan di sini. Kalaupun aku ini anak pelacur, aku akan merasa bangga, apalagi ibuku rela mati untukku.”


Khodijah diam, mata memandang mataku yang masih menyimpan amarah. Air mata yang meleleh perlahan lenyap, tergantikan oleh ketegaran dan kesabaran, sudah saatnya aku tidak menangis, sudah saatnya aku bangkit untuk meraih masa depan. Aku tak harus kalah oleh sebuah fitnah.


“Aku yakin kamu memiliki hidup yang lebih keras dariku, dan mungkin juga dengan Aisyah. Dan kamu tahu apa yang barusan terjadi? Aku melabrak Fatimah, tidak seharusnya dia memperlakukan kamu seperti itu,” kata Khodijah.


Aisyah bangkit dari tempat duduknya, seolah ingin mengatakan bahwa mengapa Khodijah harus melakukan itu? Bukankah kita sudah dipermalukan? Namun, aku melihat sinar persahabatan dari Khodijah. Mungkin dia hanya butuh penjelasan.


“Aku tidak memintamu untuk membelaku,” kataku.


“Memang tidak. Tapi aku merasa kamu adalah sahabatku, sudah seharusnya seorang sahabat saling membantu.”


“Tapi apakah layak seorang sahabat mencurigai bahwa aku adalah anak seorang pelacur?” tanyaku.


“Bukan layak atau tidak. Jika kami tahu persoalanmu tentu dengan mudah kami juga bisa meluruskannya. Aku dan Aisyah terkejut dengan kabar itu, kami tidak tahu kebenaran apa yang tengah kamu sembunyikan!”


“Tidak ada yang disembunyikan?”


“Tapi…”


“Lebih baik kalian tanya ke mereka, khususnya Fatimah. Apakah aku ini anak seorang pelacur? Atau aku telah berbuat mesum bersama Subhan seperti yang mereka katakan!”


Aku bangkit dari tempat duduk. Waktu maghrib telah tiba, suara adzan berkumandang dari masjid, langsung saja kusambar mukenah yang teregletak di atas kasur dan keluar kamar menuju mesjid. Aku sudah tak ingin berdebat lagi dengan mereka. Bagiku, penghinaan ini cukup sampai di sini, tak ada lagi yang harus dibahas.


Sementara Khodijah dan Aisyah masih terdiam, mereka pasti belum puas dengan semua yang aku katakan. Mereka butuh penjelasan, tapi aku tak memiliki penjelasan. Hidupku sudah seperti ini, sudah tak punya pilihan lagi. Hanya, aku masih memiliki api yang bisa membakar apa saja. Api itu adalah semangat dalam hati.


Dalam langkah ini, aku mencoba untuk tetap tenang. Di masjid, aku pasti akan bertemu dengan Fatimah. Aku harus berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi walaupun sebenarnya sakit jika harus berpura-pura. Tidak ada pilihan lagi, daripada aku terlihat menyedihkan, akan membuat mereka semakin tertawa terbahak-bahak. Kini, aku sadar bahwa Fatimah memang membuat permusuhan denganku. Dia cemburu kepadaku, sebab Subhan memberikan perhatian padaku.


“Assalamu’alaikum Anggun…”

__ADS_1


“Wa’alaikumussalam…”


Aku terkejut, Subhan sudah berada di sampingku. Mata ini mencari Fatimah, Khodijah dan Aisyah. Aku takut mereka melihatnya, lebih baik aku segera pergi, menjauh dari Subhan. Tanpa berkata apa-apa, aku segera berlari meninggalkan Subhan, menuju ke mesjid. Subhan hanya bengong melihat aku berlari. Ya Allah… lindungilah hamba-Mu ini. Aamiin…


__ADS_2