Jodoh Pasti Bertemu

Jodoh Pasti Bertemu
Episode 35 - Simfoni


__ADS_3

Yusuf masih memandang wajahku. Aku tak kuasa untuk menyatakannya, meski hati ini memang memilihnya untuk menjadi imamku. Ada perasaan bersalah kepada bu Masriyah dan pak Iwan jika aku memilih Yusuf. Mereka dua orang yang selalu membantuku dalam suka maupun duka, haruskah aku melupakan budi baiknya?


Tapi, memilih Amir tentu membiarkan diriku menyesal seumur hidup. Yusuf lebih mandiri, dia bisa bertahan dengan kakinya sendiri, sementara Amir, segalanya sudah tersedia oleh keluarganya, tidak terlalu berpikir tentang masa depan, dia hanya membutuhkan pernikahan untuk melengkapi hidupnya.


“Aku tidak memaksa, jika memang kita tak berjodoh, kita bisa menjadi teman. Itu mungkin lebih baik…,” ucap Yusuf.


“Aku…”


Suaraku tertahan lagi.


“Memang sulit untuk memutuskan sesuatu yang menyangkut hati. Mungkin aku terlalu cepat mengambil keputusan untuk menjadikan kamu pendampingku, maafkan aku…”


“Tidak Yusuf, aku yang bingung. Sebenarnya… ada orang lain yang dijodohkan untukku.”


Yusuf diam sejenak, ekspresi wajahnya terkejut. Namun, dia tersenyum, wajahnya kembali berubah cerah.


“Jika dia memang jodohmu, aku turut berbahagia…,” katanya.


Sungguh, hati ini ingin menjerit. Yusuf begitu ikhlas, sangat tulus memberikan kebebasan untukku, padahal, aku ini menyukainya, mengapa dia tidak mempertahankanku? Ya Allah… berilah hamba kekuatan untuk menghadapi kemelut hati ini, jangan sampai aku tergoda bisikan setan yang terkutuk, sehingga mendapatkan kesalahan dalam menentukan pilihan.


“Tapi…”


Lagi-lagi suaraku tersedak di tenggorokan.


“Anggun, aku ini laki-laki. Seorang laki-laki harus memilih seorang perempuan yang ikhlas untuk menjadi pendampinya, sebab, perjalanan pernikahan itu sangatlah panjang. Jika salah satunya tidak ikhlas untuk menghadapi perjalanan itu, maka semuanya akan berantakan. Lagipula… aku ini hanya seorang guru, gaji yang pas-pasan dan…”


“Tidak. Bukan itu masalahnya Yusuf. Aku yang terlalu takut untuk memilih, sebab… aku ini hanya sebatang kara, dan mereka telah membawaku keluar dari kegelapan. Aku tak ingin disebut sebagai orang yang tak tahu balas budi.”


Dahi Yusuf berkerut. Namun, dia terlihat berusaha untuk menguasai diri, bagaimanapun orang yang memiliki cinta, pasti akan tidak rela untuk melepaskan orang yang dicintai untuk pergi.


“Segala sesuatunya aku serahkan kepadamu…”


Ada rasa berdosa dalam diriku, mengapa aku terlalu bimbang. Mengapa aku harus mengorbankan perasaan ini?


“Tapi… ak… aku… aku ingin memilihmu untuk menjadi imam dunia dan akhirat.”


Aku langsung menunduk. Tak kuasa aku memandang wajahnya, walaupun akhirnya aku sanggup mengatakannya, dada ini terasa lega.


“Apakah kamu tidak dalam tekanan?”


Aku mengangkat kepala, kemudian menggelengkan kepala, menandakan bahwa aku telah siap menghadapi semuanya.


“Aku akan senang didampingi olehmu.”


Matanya berbinar-binar, sungguh Yusuf memang menginginkanku untuk menjadi pendampingnya. Cinta yang tulus, aku merasakannya dari pandangan matanya, dari sorot yang menyimpan kebahagiaan.


Sementara itu, orang-orang mulai berdatangan di taman daerah ini. Hari mulai sore, taman yang berada di tengah perkantoran daerah, kawasan Sumber yang rindang dan sejuk. Hati ini masih berdebar-debar, apakah yang aku lakukan ini tidak akan menimbulkan mala petaka?


“Jadi kapan aku bisa menemui orang tuamu?” tanya Yusuf.


Deg. Jantungku ini sepertinya akan berhenti, apa yang harus aku katakan? Ayahku di penjara, jika aku mengatakannya, apakah Yusuf masih mau meminangku?

__ADS_1


“Ayahku di penjara.”


Dengan berani aku katakan itu, Yusuf terkejut, ada pandangan tak percaya dengan ucapanku, namun dia berusaha untuk tetap tenang.


“Apa kamu tidak sedang berbohong?”


Aku menggelengkan kepala.


Yusuf menarik napas, kemudian merebahkan punggung di kursi taman. Sebelum dia berpikir jauh, segera kuceritakan seluruh kehidupanku dari awal hingga akhir. Jika Yusuf memang tidak mau meminangku karena masa laluku, aku ikhlas, dan tak akan pernah menyesalinya, yang terpenting adalah aku telah berani mengatakannya.


Air mata mengalir deras, rasa perih terbuka kembali. Aku teringat ibu, teringat penderitaan akan hari-harinya. Aku teringat akan dosa-dosa ayahku, dan aku teringat akan kepedihan hidupku.


“Itulah masa laluku. Dan aku sadar akan kekuranganku, jika kamu tidak mau menerimanya, aku terima…,” ucapku mengakhiri cerita. Kucoba hapus air mata yang mengalir di pipi, isak tangis masih terdengar memburu.


“Semua orang memiliki masa lalu. Kamu telah berani mengungkapkannya padaku, kamu benar-benar seorang muslimah. Tidak semua orang yang sanggup menjalani ujian dari Allah ini.”


Yusuf memandang langit, burung-burung walet berterbangan, memperindah cakrawala sore ini.


“Aku tak pernah mengubah keputusanku. Temukan aku dengan ayahmu di penjara, aku akan melamarmu.”


Aku tersentak kaget. Benarkah yang diucapkan Yusuf? Apa aku tak salah dengar? Mungkinkah aku terlalu bermimpi sehingga aku salah dengar?


“Aku serius!” kata Yusuf menyakinkanku.


Keadaan mulai terang benderang, aku ingin memeluk Yusuf, melampiaskan rasa bahagiaku yang membuncah. Seperti ombak lautan yang menerpa karang, rasa senang ini berhamburan ke udara. Penantianku akan segera berakhir, masa-masa lajangku segera berakhir, aku akan menghadapi masa-masa pernikahan, yang penuh bunga bunga cinta. Yusuf, engkau adalah malaikat hidupku.


“Kapan kamu akan menemuinya?”


Aku memandang mata Yusuf, mencari apakah ini bukan sebuah kegombalan semata. Namun, matanya sungguh bercahaya, membuatku tak kuasa lagi untuk berkata-kata. Sejenak aku meredakan gejolak dalam dada, membiarkan rasa gelisah hilang, diterpa oleh angin sore ini. Setelah terasa tenang, aku tersenyum kepada Yusuf, lalu bersiap untuk bangkit dari tempat duduk.


“Baiklah, aku antarkan sekarang,” ucapku.


Yusuf juga berdiri, lalu kami menuju motornya yang terparkir di bawah pohon, dan kami melaju menuju penjara, menemui ayahku. Dalam perjalanan, hidungku kembang-kempis, aku masih tak percaya apakah ini benar atau tidak, semuanya seperti mimpi, semuanya begitu cepat terjadi, rasanya baru kemarin aku mengenal Yusuf, dan sekarang dia akan melamarku.


Angin sore semilir mengibas-ibas ujung jilbabku, matahari mulai condong ke barat, dan aku tersadar.


“Yusuf? Hari ini bukankah sudah sore?” tanyaku.


Perlahan Yusuf menepikan motornya, lalu  menoleh ke arahku yang duduk di belakangnya.


“Iya ya?” dia malah bengong.


Kami saling pandang, lalu tertawa. Mungkin karena terbawa rasa senang sehingga kami lupa bahwa jam besok di penjara tidak bisa dilakukan pada sore hari. Dan kami menggeleng-gelengkan kepala, merasa malu pada diri masing-masing.


“Sebaiknya besok saja kita ke sana,” ucap Yusuf.


Aku mengangguk, Yusuf menghidupkan mesin motor, lalu bersiap untuk jalan. Tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti di depan kami. Aku heran, sepertinya mobil itu aku kenali, mungkinkah…???


Seorang laki-laki turun. Dan menghampiri kami, pandangan matanya tajam, seolah ingin menusuk kami oleh amarah.


“Bisa kita bicara sebentar Anggun,” kata Amir.

__ADS_1


Dia pasti dibakar oleh api cemburu, aku turun dari motor. Aku dan Yusuf berpandangan, kemudian menghampiri Amir, menjauh beberapa meter dari Yusuf.


“Aku ingin menagih janjimu tentang pertanyaanku,” ucap Amir tanpa basa-basi.


Aku mengatur napas, agar tidak salah ucap. Ini harus segera diselesaikan, aku tak tahu jika Amir memata-mataiku, atau mungkin dia tak sengaja melihatku ketika berboncengan dengan Yusuf. Entahlah… yang pasti aku tak ingin ada kesalahpahaman, apalagi cemburu buta, meskipun aku tidak memberikan harapan untuk menerima pinangannya.


“Maaf jika apa yang Ang Amir lihat membuat perasaan Ang Amir terluka. Tapi, Yusuf adalah pilihanku, maafkan aku Ang…, aku tidak bisa memilihmu,” kataku.


“Seharusnya kamu jujur dari awal.”


“Aku sudah berusaha jujur, tapi…”


“Ternyata kamu tidak ada bedanya dengan perempuan lain! Jilbabmu hanya topeng, menutupi seluruh keburukanmu.”


Ya Allah, mengapa Amir berkata begitu? Tak ada niat hati untuk melukainya, tak ada, aku benar-benar ingin melakukan untuk masa depanku.


“Maafkan aku Ang… tapi aku tak bermaksud untuk menutupi semuanya, aku sudah memberi tahu semuanya kepada Bu Masriyah, pada saat itu aku masih bimbang. Tetapi, sekarang aku telah memutuskan bahwa Yusuf adalah calon imamku, calon Ayah bagi buah hatiku.”


Tiba-tiba Amir melangkah mendekati Yusuf. Apa yang akan dilakukan olehnya? Jangan sampai terjadi perkelahian, apalagi di tepi jalan raya seperti ini. Aku ikuti dia untuk berjaga-jaga agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


“Namamu Yusuf?” tanya Amir.


“Assalamu’alaikum…,” sapa Yusuf.


“Wa’alaikumussalam!” jawabnya ketus.


“Benar nama saya Yusuf, apa ada yang salah dari saya?” tanya Yusuf, dia masih saja tenang.


“Saya Amir, calon suami Anggun! Sebaiknya kamu menjauh darinya, sebab haram hukumnya jika kamu berdekatan dengan perempuan yang akan menjadi istri orang lain!”


Astaghfirullah… mengapa Amir berkata begitu? Tapi, Yusuf tenang saja, apa mungkin dia sudah tahu dari ceritaku tadi?


“Lebih baik kita mendengar langsung dari Anggun,” ucap Yusuf sambil melirik ke arahku.


Ya Allah, apa yang harus aku katakan? Lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, hilangkanlah kekeluan lidahku supaya orang mengerti ucapanku ini, yaa Rabb. Kuatkah hati ini untuk meneguhkannya.


Tatapan Yusuf menembus mataku, kemudian jatuh ke jantung, terasa hangat dada ini, ada semangat dan keyakinan dari tatapannya, seolah dia mengatakan akan selalu melindungi apa yang terjadi.


“Ang Amir… Yusuf adalah calon suamiku, semoga Ang Amir ikhlas  menerima keputusanku,” ucapku tegas.


Amir menoleh ke arahku, mungkin dia terkejut aku berani mengatakan itu. Dia berpikir aku akan kalah jika dia berani menyerang Yusuf, tetapi aku malah lebih tegas darinya. Amir terdiam sejenak, wajahnya penuh kebingungan dan kekecewaan, aku merasa kasihan kepadanya, namun semua sudah terucap, tak mungkin aku ganggu gugat.


Tanpa berkata apa-apa, Amir melangkah meninggalkan kami. Langkah yang membawa luka, sangat perih, hingga suara sepatunya menyayat hatiku. Mobilnya segera melesat, kecepatan yang tidak biasanya. Hati ini cemas, aku takut terjadi sesuatu yang buruk menimpa Amir, dia pasti sangat kecewa.


“Apakah aku berdosa Yusuf, melukai seorang laki-laki yang ternyata dia juga  mencintaiku?” tanyaku.


“Jangan hukum dirimu dengan pikiran itu, hanya Allah yang bisa menentukan dosa atau tidak. Yang utama sekarang adalah memberikan doa kepada Amir agar hatinya dibuka, diterangkan dari kegelisahan, kekecewaan yang dalam.”


Aku menoleh kepada Yusuf. Dia tersenyum, menawarkan rasa cemas dalam hatiku. Sungguh seorang laki-laki yang patut menjadi tauladan. Akhlak yang mulia. Mungkin ini adalah hasil dari kegetiran hidup yang dialaminya di masa masa sulit dulu, yang dijadikannya hikmah untuk terus memperbaiki diri. Dia telah bisa mengubah cara pandangnya, prilakunya dengan ilmu yang dimiliki. Aku semakin yakin bahwa Yusuf adalah jodoh yang dihadiahkan Tuhan untukku. Insya Allah.


Matahari semakin tenggelam, menyisakan jingga di langit.

__ADS_1


__ADS_2