
Pagi ini aku terkejut, pak Iwan meneleponku bahwa Amir sedang kritis di rumah sakit. Dia mengalami kecelakaan tunggal di jalan raya akibat terlalu kencang mengendarai mobil hingga hilang keseimbangan ketika lampu lalu lintas berwarna merah, katanya dia membanting setir ke sebelah kiri, namun menabrak pohon besar.
Tanpa pikir panjang aku segera keluar rumah, lalu naik angkutan umum menuju rumah sakit, dalam perjalanan aku sempat mengabari Yusuf, dan memberikan alamat rumah sakit, agar dia bisa langsung menuju ke rumah sakit. Hati ini berulang kali berdoa kepada Tuhan agar Amir diselamatkan.
Apakah sebab aku hingga dia mengalami kecelakaan itu? Apa yang harus aku katakan kepada bu Masriyah dan pak Iwan. Sungguh hati ini tidak menentu membayangkan mereka marah padaku. Aku tak ingin orang-orang yang dulu menyayangiku berubah malah membenci.
Tidak lama aku sudah berada di depan rumah sakit daerah Cirebon, segera aku menuju ruang UGD, kaki ini berlari, mata mencari kesana-kemari, aku harus tahu keadaannya, harus tahu.
Kaki terhenti, di lorong UGD bu Masriyah dan pak Iwan sedang berdiri, dan ada beberapa orang lagi, wajah mereka cemas, cemas sekali.
“Bu, Pak… bagaimana keadaan Ang Amir?” tanyaku.
Mereka terkejut, kemudian serempak semua yang ada di situ menengok ke arahku. Bu Masriyah memeluk aku, sedangkan pak Iwan diam menatap ke dalam ruangan, dimana Amir tengah terbaring lemah, ditemani oleh seorang perempuan, sudah dipastikan dia adalah ibunya.
“Kamu sabar ya… Anggun, ini hanya ujian Allah.”
Aku diam saja, andai bu Masriyah tahu yang sebenarnya, pasti dia tidak akan mengatakan ini semua, pasti akan memandangku benci, geram, atau apalah… aku sendiri tak bisa menebak sikap bu Masriyah.
__ADS_1
Ingin rasanya aku mengatakan apa yang terjadi dan jujur kepada bu Masriyah, akan tetapi lidahku kelu, kerongkongan ini masih terasa kering.
“Kita berdoa saja semoga semuanya akan baik-baik saja,” kata pak Iwan.
Semua hening, mata ini memandang ke dalam ruangan, dari balik kaca ini. Ruang UGD ini khusus hanya di isi oleh Amir, orang tuanya pasti meminta orang UGD VIP, sehingga tidak mengganggu pasien lainnya.
Dari kejauhan terdengar suara langkah sepatu, semakin dekat, kami menoleh ke arah suara.
“Bagaimana keadaannya, Anggun?” Yusuf berdiri dengan keringat bercucuran. Dia pasti mencari-cari ruangan ini.
Semua orang saling pandang, aku paham dengan pandangan itu, mereka tidak mengenal siapa Yusuf.
“Assalamu’alaikum…,” sapa Yusuf.
“Wa’alaikumussalam…,” semua menjawab.
Aku tidak bisa menjelaskan apa-apa kepada Yusuf tentang kondisi Amir, hanya memberi isyarat untuk melihat ke dalam ruangan. Ibunya Amir terlihat menuju pintu keluar, matanya sembab oleh air mata. Semua segera menyambutnya, dan bu Masriyah memberikan tissue, untuk menghapus linangan air matanya.
__ADS_1
“Sabar… Kakak… serahkan semuanya pada Allah,” ucap bu Masriyah.
Dengan isak tangis ibu Amir menyodorkan sepucuk kertas kepada bu Masriyah, semua mata saling pandang, mereka ingin tahu apa yang tertulis dalam kertas itu. Bu Masriyah membuka perlahan, matanya meneliti, seolah membaca dalam hati, dan matanya beralih memandangku, lalu memberikan surat itu padaku.
Aku bingung, kemudian menatap Yusuf, dia hanya mengangguk memberikan isyarat untuk aku membacanya. Tangan ini gemetar meraih kertas itu, jantungku berdebar, apa yang tertulis di secarik kertas dalam genggaman tanganku ini?
Wajah itu masih membayang di tembok sulit kudekati kecuali dengan sepi pada puncak gelisah yang tinggal hanya getir aku telah patah, oleh cintaku sendiri Air mata ini menetes membacanya, puisi yang pasti ditujukan kepadaku. Mengapa aku tidak sadar jika Amir memang bersungguh-sungguh mencintaiku.
“Kertas itu terus digenggamnya dalam keadaan kritis,” kata ibu Amir.
“Tengoklah ke dalam, mudah-mudahan kehadiranmu memberikan harapan bagi kami,” pinta bu Masriyah.
Hati ini bergetar, haruskah aku menemuinya yang terbaring, atau aku pergi dari rumah sakit ini lalu menangis sekeras-kerasnya? Tentu saja, lari bukan sebuah perbuatan terpuji, apalagi di sini, orang-orang yang sangat kuhormati mengharapkan aku berada di samping Amir. Perlahan kubuka pintu, kemudian melangkah mendekati Amir.
Aku mematung, memandang Amir yang terbungkus seperti mumi dengan bantuan tabung oksigen dan infus, kondisinya memang sangat parah, bagian kepalanya yang lebih parah, mungkin dia mengendarai tanpa menggunakan seat belt. Mata ini terus memandang dirinya, berharap dia membuka mata dan tersenyum padaku. Amir harus sembuh, dia harus mengarungi hidup yang masih panjang dan berliku.
Tiba-tiba ada gerakan pada tangan Amir, sepertinya dia merasakan kehadiranku, jantung ini semakin berdebar-debar. Aku semakin mendekat, dan gerakan itu semakin merespon, perlahan mata Amir terbuka, aku tersenyum menatapnya. Mungkin Amir juga tersenyum, hanya saja aku tak bisa melihat senyumnya, perlahan tangan Amir mengangkat, berusaha menggapai wajahku. Aku lebih dekat, lalu kuulurkan tangan ini, dan kedua tangan kami saling menggenggam, aku merasakan kehangatan dari setiap jemarinya, mengalir ke dalam tubuhku.
__ADS_1
Mata Amir memandangku, lelehan air mata, lalu tangannya terasa dingin. Perlahan-lahan kaku, dan dia menutup matanya, aku menangis menjerit, Amir telah pergi. Sementara di luar ruangan, semua orang berlinang air mata menyaksikan peristiwa itu dari balik jendela, semua merasa kehilangan.
Langit mendung, gerimis jatuh membasahi bumi.