
Pagi belumlah beranjak menuju hari yang panas. Dhuha baru saja aku selesaikan ketika pintu diketuk. Tanpa melepaskan mukena, aku membuka pintu, berdiri pak Iwan dengan pakaian kantor yang mencolok, dia juga memakai dasi, tubuhnya yang bulat itu semakin lucu saja terlihat.
“Sudah selesai?” tanyanya.
“Sebentar Pak, saya rapikan dulu,” jawabku.
Kemudian melepaskan mukena dan merapikan peralatan shalat. Pak Iwan menunggu di ruang tunggu kantor, hari ini ada jadwal kunjungan ke LAPAS Cirebon untuk mensosialisasikan bahaya AIDS. Sudah tiga tahun aku menjadi aktivis AIDS sejak meninggalkan pesantren pondok Jambu. Bu Masriyah yang mengirimkan aku kemari, di tempat ini aku bisa belajar lebih banyak tentang orang-orang yang menyesali hidupnya.
Aku berteman dengan mantan pecandu narkoba, mantan pelacur dan juga lainnya. Semua sering menceritakan pengalaman hidupnya, dan mereka menyesali telah banyak melakukan perbuatan dosa. Mungkin, ini maksud bu Masriyah, bahwa nafsu birahi tidak bisa dihilangkan, akan tetapi bisa ditahan. Jika aku bisa mengendalikan nafsuku saat itu, tak mungkin akan terjadi peristiwa yang memalukan.
Keputusan pesantren tidak bisa diganggu gugat, aku harus dikeluarkan, sedangkan Subhan dan Fatimah dinikahkan, kemudian mereka juga dikeluarkan. Aku menyesal tidak bisa lulus dari pondok itu, namun di sini, aku belajar lebih banyak lagi. Sungguh, bu Masriyah adalah seorang wanita yang bijaksana.
“Bahan presentasinya sudah siap?” tanya pak Iwan ketika aku menghampirinya.
“Sudah Pak, hanya butuh video saja. Dan… Pak Teguh yang sedang men-download-nya,” jawabku.
“Video? Untuk apa?”
“Video film pendek, hanya contoh-contoh bahaya AIDS saja Pak!”
“Oh… bagus itu, jadi mereka memiliki gambaran jika melihatnya.”
Pak Iwan meletakkan koran yang tengah dibaca, lalu memintaku untuk menyalin seluruh data dari laptopku untuk dipindahkan ke laptopnya agar nanti dia mudah untuk mempelajarinya. Aku mengikuti perintahnya, sebab di sini, dia adalah bos. Walaupun dia sendiri tidak mengatakan seorang bos. Lembaga ini memang didirikan oleh pondok pesantren pondok Jambu, dan kami hanya pelaksananya.
Sebelum ke LAPAS, biasanya kami ke sekolah-sekolah sekitar untuk mengkampanyekan anti **** bebas dan NARKOBA, sebab remaja adalah alat aktif untuk proses penyebaran AIDS. Pesantren memang sangat peduli terhadap permasalahan sosial yang berkembang di masyarakat, wajar jika pondok ini dikenal banyak orang.
“Ini sudah aku download, tinggal pakai!” seru pak Teguh.
Dia keluar dari ruangannya, hanya memakai kemeja biasa. Hari ini, dia tidak bisa ikut ke LAPAS, ada pertemuan dengan beberapa lembaga masyarakat dan lembaga mahasiswa di kantor, sehingga dia mewakili pak Iwan yang menemaniku pergi ke LAPAS Cirebon.
“Oke, jika sudah siap, mari kita berangkat!” ajak pak Iwan.
Aku mengikutinya keluar dari kantor masuk ke dalam mobil. Kemudian aku membuka pintu depan dan duduk di sampingnya, mobil melaju menuju kota Cirebon. Kota yang panas, hampir seperti Jakarta, dalam tiga tahun ini rupanya kota ini ikut dalam perkembangan pengembangan daerah.
Kubuka catatan-catatan bahan presentasi hari ini. Beberapa gambar kupisahkan, sementara pak Iwan menyetir, matanya sesekali melirikku. Bukannya aku tak tahu, tapi aku pura-pura tak tahu.
“Sudah dapat calon?” tanya pak Iwan mengejutkan aku.
“Eh? Apa Pak?” tanyaku.
“Jangan pura-pura tidak mendengar… udah punya calon Imam belum…,” ledek pak Iwan.
Aku diam sejenak, kemudian melemparkan senyum padanya. Sudah hampir tiga tahun aku tidak memikirkan itu. Kemudian, aku menjawab dengan menggelengkan kepala, malu rasanya jika harus mengatakannya.
“Bapak punya keponakan jauh, mau?” tanyanya.
Duh, kenapa jadi ajang jodoh menjodohkan? Aku sedang ingin memikirkan mencari imam, mungkin hati ini sudah beku akibat dua kali ditinggal seorang laki-laki. Tak ingin terjadi untuk yang ketiga kali, aku harus selektif dalam memilih.
“Kok Diem?”
“Duh… gimana ya Pak, belum kepikiran menikah,” jawabku.
“Jangan bilang gitu dong… coba aja dulu! Menikah itu enak tahu…,” ledek pak Iwan.
“Mmm… kalau tidak kenal baik, takut juga Pak.”
“Dijamin, dia orangnya baik.”
Baik? Semua laki-laki juga baik, tapi belum tentu benar bukan? Untuk ukuran perempuan aku sudah cukup umur untuk menikah, lagipula aku tak ingin menjadi perawan tua. Nanti malah dapat omongan kanan dan kiri.
__ADS_1
“Kalau untuk berteman, boleh saja Pak…”
Pak Iwan tersenyum senang. “Nanti aku berikan nomor HPmu kepadanya,” katanya.
“Asal jangan suka miscall aja Pak.”
“Ya enggaklah… dia udah bukan ABG lagi, hehe.”
Tapi, sekarang banyak orang dewasa seperti ABG, beraninya hanya dari jauh, giliran dekat, diam seribu bahasa.
“Memangnya dia belum punya calon Pak?”
“Nah… penasaran kan? Hehe.”
“Eh? Enggak… nanya saja…”
Keki juga digituin, tapi memang penasaran juga. Mengapa seorang laki-laki sulit mendapatkan jodoh, bukankah perempuan lebih banyak dari laki-laki, itu berarti banyak pilihan dan kesempatan.
“Dia itu pemilih, udah gitu sering disakiti perempuan.”
“Disakiti perempuan? Kok Bisa?”
Pak Iwan tertawa. “Kamu itu polos apa pura-pura nggak tahu ya? Memangnya laki-laki saja yang bisa menyakiti perempuan?” katanya.
“Menurut saya begitu sih Pak…”
“Mmm… tapi jangan sering berpikir begitu juga, nanti malah tertutup terhadap laki-laki. Kasihan bagi laki-laki yang sedang mengincar kamu.”
“Mengincar? Memangnya saya ini burung Pak!”
“Haha, ya burung dara.”
Begini asyiknya dengan pak Iwan. Dia itu orangnya tidak kaku, senang bercanda dan juga perhatian. Jarang memiliki bos seperti dia, aku senang bekerja di LSM Komunas, selain orang-orangnya ramah, aku dapat belajar banyak di sini, menjadi pribadi yang dewasa, dan memiliki cita-cita.
“Memangnya kenapa Pak?”
“Dia itu suka sama kamu.”
“Ah yang benar? Bukannya dia udah punya istri?”
“Loh? Memangnya kenapa kalau udah punya istri, nggak boleh?”
“Bukan begitu… sayanya yang nggak mau.”
Pak Iwan hanya cengar-cengir, pasti ada sesuatu. Duh, gimana ini? Kalau saja benar pak Teguh ada rasa padaku, akan tidak harmonis dalam hubungan pekerjaan.
“Jangan cemas gitu dong!”
“Saya bingung kalau dia ada rasa…”
“Hehe, nggak ada. Cuma ngeledek saja, kirain kamu itu tipe perempuan yang mau di poligami.”
“Nggak bohong kan Pak?”
“Nggak tenang saja…”
Mobil terus melaju, hingga tak terasa sudah sampai di pekarangan LAPAS, kemudian masuk ke parkiran. Pak Iwan turun, diikuti olehku, kami disambut oleh penjaga, dan digiring menemui kepala LAPAS. Rupanya, dia sudah menunggu kami, setelah mengobrol sebentar, kami dibawa ke aula.
Di sini, para narapidana sudah berkumpul, ada lima puluh tujuh narapidana yang positif kena AIDS, kami memberikan motivasi kepada mereka untuk tetap semangat bertahan hidup, kemudian memberikan arahan dan pencegahan penyebaran. Semua narapidana memerhatikan dengan seksama.
__ADS_1
Hanya saja, dari tadi aku risih dengan pandangan seorang narapidana, perkiraan usianya lima puluh tahunan, wajahnya lesu, seolah tidak ada gairah untuk hidup. Matanya sayu, seolah menyimpan kepedihan yang dalam. Aku mencoba untuk tidak memerhatikannya, namun dia terus melihat ke arahku, seolah tengah mengembalikan ingatannya. Pak Irwan sangat semangat memberikan arahan kepada para narapidana, begitu juga sebaliknya, para narapidana sangat antusias memerhatikan. Sesekali pak Irwan memberikan lelucon agar suasana tidak kaku, dia sangat ramah dan menyenangkan dalam melakukan presentasi. Aku harus belajar banyak darinya.
Hampir satu jam kita memberikan arahan, dan waktunya makan siang lalu kembali ke kantor. Pak Iwan tengah mengobrol dengan kepala LAPAS sementara aku membereskan peralatan presentasi. Tiba-tiba lelaki paruh baya itu berdiri di sampingku, wajahnya semakin gelisah memandangku.
“Apa kamu anak perempuan Siti?”
Aku terkejut, dia menyebut nama ibuku. Seorang perempuan yang gigih, hingga rela mati demi aku. Pandangan mata ini beradu, dari dekat sepertinya aku pernah bertemu dengan laki-laki ini, siapakah dia?
“Bapak siapa?” tanyaku.
“Apa kamu anak perempuan dari Siti?”
Matanya masih sendu menatapku, air mata seperti ini jatuh dari pelupuknya, namun dia menahan sekuat tenaga untuk tidak menangis di hadapanku.
“Ibuku memang bernama Siti,” jawabku.
Setelah mendengar itu, air matanya tak tertahan lagi. Dia menangis di hadapanku, penuh rasa sesal dan dosa, sementara aku masih bingung harus berbuat apa? aku tak mengenalinya sama-sekali.
“Maafkan aku… Nak… maafkan aku…,” katanya sambil menangis.
Dia bersujud di depanku. Aku semakin bingung, ingatanku mencoba untuk dikembalikan, jika memang dia mengenaliku pasti pernah bertemu sebelumnya.
“Ibu sudah meninggal, dan dia tidak pernah berbicara tentang Bapak.”
“Ibumu meninggal karena aku, aku adalah seorang Ayah yang pantas dilaknat, pukul aku!” katanya.
Mendengar ucapannya aku teringat, dia adalah laki-laki yang akan memerkosaku, dan ibu pernah mengatakan bahwa aku anaknya. Hati ini menjadi kacau, aku harus bersikap seperti apa? Ibuku meninggal karena dia, dan mengapa dia ada di sini? Bukankah dia berada di Jakarta?
“Kau…” Aku tidak meneruskan perkataan itu.
“Iya, aku Ayahmu! Aku yang menodai Siti, hingga dia hamil, aku tak ingin bertanggung jawab, aku yang menjadikannya istri simpanan, aku yang bertanggung jawab akan dosa-dosa itu!”
Jantung ini rasanya mau copot. Benarkah dia ayahku? Mengapa begitu keji perbuatannya? Mengapa ini semua terjadi padaku?
“Kamu boleh tidak mengakuiku, kamu boleh dendam padaku, kamu boleh menyiksaku. Tapi, maafkan segala perbuatanku ini… aku tak bisa hidup menanggung derita dan dosa.”
Aku tak sanggup melihatnya, aku tak sanggup menerima ini semua. Kenyataan ini pahit, aku belum siap. Aku sudah senang dengan hidupku sekarang, aku tak ingin ada bayang-bayang masa lalu menghampiriku, aku ini merasakan ketenangan. Tanpa berkata apa-apa, aku lari keluar LAPAS, dengan air mata menetes tanpa henti. Mengapa pertemuan ini begitu hina? Di dalam sebuah jeruji besi.
“Ada apa?” tanya pak Iwan ketika masuk mobil.
Aku menghapus air mata dengan tisu, mungkin pak Irwan melihat kejadian itu, atau dia memerhatikan mataku yang sembab dan merah.
“Tidak ada apa-apa Pak.”
“Jangan bohong, kamu boleh bercerita apa saja kepada Bapak.”
Aku menunduk, tak kuasa mata ini melihat sorot matanya. Dia seorang bos yang baik hati, aku tak mungkin membagi luka ini.
“Tidak ada yang harus diceritakan Pak.”
Pak Iwan diam sejenak.
“Baiklah, mari kita makan siang!”
Kemudian mesin mobil dihidupkan. Pak Iwan menginjak pedal gas, dan melesatlah mobil ini. Seperti ingatan ini yang menerobos ruang dan waktu, aku berada di masa lalu, dimana aku harus menelan pil pahit.
Bukan tidak menyukai masa laluku yang penuh kepedihan itu. Melainkan aku ingin membuangnya, aku ingin merasakan hidup yang normal, aku sudah sebatang kara, tak ingin dibebani dengan hal yang membuatku sengsara lagi. Hidupku sudah banyak yang menolong, sudah banyak yang peduli, bahkan ketika aku khilaf, bu Masriyah dengan suka rela membantuku. Lalu, apakah aku harus menerima ayahku yang membuatku seperti ini?
Jelas bahwa perbuatan ayah yang membuat hidupku kacau, karena perbuatan ayah ibuku meninggal. Karena perbuatan ayah aku harus melihat ibu menerima tamu laki-laki asing di rumah, karena perbuatan ayah aku merasakan kesendirian, terasing di rumah sendiri, tersakiti oleh lingkungan.
__ADS_1
Aku melihat gedung LAPAS itu dari kaca spion. Mungkinkah ayah juga memandang mobil ini dari balik kaca jendela? Atau dia hanya menangis menyesali keadaannya di dalam penjara? Menerima pukulan dari sesama tahanan, atau diperbudak? Dia sudah terlihat tua, berbeda ketika bertemu di Jakarta. Mungkinkah penderitaannya yang membuat dia menua dan selalu gelisah?
Yang aku tahu, dia ternyata masih mengenaliku, padahal aku sudah melupakannya, membuang wajahnya dari ingatan dan hidupku.