
Tetapi, ujian itu belum berakhir. Segalanya datang padaku lagi. Seorang laki-laki yang kuduga dia adalah seorang yang sholeh, seorang muslim sejati. Kejadian saat itu di sebuah pagi yang dingin. Ketika aku melangkah menyusuri pematang sawah, untuk sekadar menghilangkan kejenuhan di pesantren.
Awalnya aku tertarik dengan pemandangan di belakang pondok pesantren yang terdapat hamparan sawah milik penduduk setempat. Pesantren ini memang berada di kaki gunung, di kelilingi bukit hijau, pertanian juga perkebunan. Kawasan perbatasan antara Cirebon dan Kuningan.
Aku terus menyusuri pematang sawah, bermain dengan embun dan sinar matahari yang perlahan menyinari, suasana masih sangat sepi. Musim panen belum juga datang, sehingga sawah masih hijau terhampar bagaikan permadani hijau yang indah. Aku seperti menari di areal ini, menikmati kebebasan dengan alam, menikmati keindahan dunia yang diciptakan Tuhan.
Burung-burung beterbangan keluar dari sarang, capung juga ikut menyebar, dan beberapa serangga turut serta berhamburan disekitarku. Tidak ada angin, angin udara sejuk yang kurasakan. Kebebasanku terlepas, sungguh aku belum pernah merasakan ini semua, mungkin benar kata-kata motivasi dari bu Masriyah bahwa dibalik kepedihan ada kebahagiaan tersimpan, hanya bagaimana memulainya saja.
Kakiku terhenti di parit, tempat air mengalir untuk mengairi sawah-sawah yang luas ini. Ada ikan-ikan kecil bermain di dalamnya, airnya jernih, dan menggoda untuk aku mainkan. Kemudian, tanganku menyentuh air itu, dingin seperti menyentuh es. Ini adalah perjalanan alam yang menggoda hati.
Tengah asyik menikmati pemandangan pagi ini, mataku melihat seorang pemuda melangkah menghampiriku, jika dilihat dari cara berjalan dia adalah Subhan. Mau apa dia mengikutiku? Aku pura-pura tidak melihat, buru-buru saja melangkah kembali, aku ingin menghindar dari Subhan. Bukan tidak suka, tetapi Fatimah menyukainya yang membuat api cemburu dan permusuhan, aku menghindari permusuhan itu.
“Anggun, tunggu!” teriak Subhan.
Kalau sudah begini, aku tidak bisa menghindar, terpaksa harus menghentikan langkah dan menunggunya menghampiriku.
“Assalamu’alaikum,” sapanya.
“Wa’alaikumussalam, ada apa?”
“Tidak… aku hanya ingin menemanimu untuk menikmati suasana pagi ini, apakah kamu keberatan?” tanya Subhan dengan senyum yang paling manis yang pernah aku lihat.
“Mmm…”
“Aku tidak memaksa,” sambung Subhan.
Sejenak aku terdiam. Malu sebenarnya berduaan di tempat terbuka seperti ini dengan laki-laki, apalagi jauh dari keramaian, kami hanya berdua di tengah pematang sawah ini.
“Baiklah…”
Subhan menarik napas lega, seekor burung pipit terbang melintas dan hinggap di pohon jagung, di tepi pematang sawah.
“Burung itu tengah mencari ulat,” katanya.
“Ulat?”
“Iya, dia memakan ulat dan serangga kecil, burung yang banyak dicari orang untuk dipelihara, sebab suaranya bagus.”
“Aku memang tidak tahu tentang burung,” kataku.
Subhan hanya tersenyum, lalu dia bercerita tentang burung-burung yang sering ke sawah untuk sekadar mencari makan, ternyata memang banyak burung yang berterbangan di sini, walaupun jarang ada pohon, namun mereka hingga dimana saja sambil mencari makan.
Subhan mengajak menangkap burung pipit dengan tangan. Tentu itu sangat tidak mungkin, menangkap burung menggunakan tangan sangat sulit, memakai perangkap saja sulit. Tapi, dia malah terus memaksa, akhirnya aku dan dia mengejar burung pipit yang terbang dari pohon jagung ke yang lainya.
Burung ini terbang sangat rendah, dan tidak terlalu gesit, namun memang menggoda, ketika kami sudah dekat dia terbang lagi, membuat kesal. Namun ide ini ternyata menyenangkan, aku dan Subhan tertawa bersama, bahagia rasanya hati ini. Hilang sudah rasa khawatir tentang Fatimah yang memiliki api cemburu.
Perlahan matahari mulai meninggi, rasa letih mulai datang. Subhan mengajakku untuk beristirahat di saung, rumah kecil dari bambu di tengah-tengah sawah untuk beristirahat para petani. Hanya ada bangku anyaman bambu di dalamnya, aku duduk di sana, gerah kurasakan. Subhan masih berdiri bersandar.
“Kamu mempunyai mimpi?” tanya Subhan.
“Tentu saja, aku banyak memiliki mimpi…”
“Hhh… suatu saat aku akan mempunyai pesantren,” ucap Subhan.
“Aamiin…”
Mataku memandang jauh ke pematang sawah. Angin mulai datang sepoi-sepoi menggerakan padi yang hijau.
“Kalau kamu?”
“Aku hanya ingin dapat pekerjaan, belajar lagi dan membangun panti asuhan.”
“Mimpi yang mulia.”
“Membangun pesantren juga mimpi yang mulia.”
Subhan duduk di sampingku, aku menggeserkan tubuh, tak ingin berdekatan dengannya. Dulu,ketika sekolah di Jakarta, aku senang jika Roman duduk di sampingku, namun sekarang, aku mengerti bahwa tidak boleh yang bukan muhrim saling berdekatan. Subhan memandang wajahku, aku menunduk malu.
“Sudah lama aku ingin mengatakannya,” kata Subhan.
Hati ini berdebar-debar.
“Jika ingin mengatakan sesuatu, katakan saja…”
“Tidak mudah, sebab kata-kata itu munculnya dari dalam hati.”
“Bukankah yang dari dalam hati akan terasa mudah untuk dikatakan?”
__ADS_1
“Bagiku tidak.”
“Kalau begitu tidak harus mengatakan apa-apa.”
Subhan malah meraih tanganku, aku melepaskannya.
“Sebaiknya kita pulang!” kataku.
Tapi, Subhan semakin mendekat membuat aku terdesak.
“Anggun, aku mencintaimu, maukah kamu menjadi istriku? Kita bangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warohmah,” katanya.
Hati ini semakin berdebar-debar, mengapa Subhan mengatakannya denga tiba-tiba? Dan ini terlalu terburu-buru, seolah dia tidak ingin kesempatan ini berakhir.
“Aku belum siap untuk menjadi istri yang solehah, masih butuh belajar lagi…”
“Kita bisa belajar bersama-sama,” katanya.
Sejujurnya aku memang menyukai Subhan. Hati ini tak bisa kubohongi jika dia membuat aku lupa akan Roman. Tapi, apakah ini terlalu cepat? Subhan sudah masuk kategori seorang Imam, dia berwawasan luas, dan bisa diandalakan dalam segala hal, memiliki ilmu agama yang bagus.
“Jika kamu bersedia, aku akan melamarmu,” kata Subhan.
Hatiku mulai goyah. Hidupku sudah dipenuhi oleh derita, aku ingin merasakan kebahagiaan tentunya. Apakah ini kebahagiaan yang diberikan oleh Tuhan? Seorang Subhan yang bisa membawaku ke dalam kelengkapan hidup.
“Tapi…”
“Aku yakin hidup berumah tangga adalah impianmu yang paling utama, aku sudah ada di sampingmu, mengapa kamu membiarkan kesempatan ini lolos?” lanjut Subhan.
Aku memberanikan diri memandang wajahnya.
“Mengapa kamu ingin menikahiku? Aku tak memiliki kelebihan apa-apa,” kataku.
“Dalam hidup berumah tangga, bukan saling menonjolkan kelebihan, namun saling melengkapi kekurangan.”
Aku mulai terhayut oleh kalimat itu, memang begitulah seharusnya dalam berumah tangga. Tidak seperti baru-baru ini, banyak terjadi ketidak seimbangan antara suami dan istri, mereka saling menunujkan siapa dirinya.
“Aku… aku tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini, apakah kamu masih menerimanya?”
Subhan meraih tanganku, kali ini aku diam saja. Keimananku luntur oleh kata-kata yang ditawarkan oleh Subhan, memang itulah yang aku didambakan, mungkin oleh setiap wanita. Mendambakan calon suami yang dapat membawanya keluar dari jurang kegelapan. Aku sudah lelah harus selalu merasakan kebingungan dalam menjalani hidup ini, aku membutuhkan pegangan, dan Subhan mungkin pilihanku.
“Pada akhirnya kita tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini, jangan pernah untuk menyalahkan diri sendiri.”
Subhan menggenggam tanganku, kemudian dia merapatkan tubuhnya. Jantungku berdebar-debar, lalu dia memiringkan kepalanya, dia pasti akan menciumku, apa yang harus aku lakukan? Setiap belajar di pesantren ini, kami selalu diberikan arahan untuk tidak bersentuhan lain jenis, apalagi berciuman.
Namun, ada perasaan yang tidak menolak, aku ingin merasakan ciuman hangat dari Subhan, aku tidak memungkiri kalau aku juga memiliki nafsu. Subhan semakin mendekat, bibir kami akhirnya menyatu, jantung ini berdebar-debar, rasanya tak menentu, berkecamuk, namun ada keindahan di dalamnya, ada kenikmatan yang tiada tara.
“Aku tak akan menyia-nyiakanmu,” kata Subhan.
Sudah tak bisa aku tahan, gejolak hati ini semakin menyebar ke seluruh tubuh. Aku terangsang dengan kata-kata itu, apalagi aku juga mengagumi sosok Subhan, tidak mungkin seorang santri seperti Subhan berkata dusta, dia pasti akan melamarku.
Sementara Subhan perlahan merebahkanku di kursi anyaman bambu, sayup-sayup kudengar suara burung pipit berkicau, sangat merdu membuat aku semakin terbuai oleh keadaan ini. Subhan mulai mencumbuku, perlahan kerudung dilepasnya, aroma tubuhnya membuatku semakin terangsang, apakah aku akan kehilangan keperawananku?
Bagi remaja kota kehilangan keperawanan adalah hal yang wajar, bahkan mereka bangga setelah tidur dengan laki-laki, tapi, aku adalah seorang muslimah, tentu ini adalah aib, dosa besar. Namun, bagaimana aku menolak hasrat ini, dia telah menguasai sekujur tubuhku, hingga aku merasakan gigil, aku menikmati keadaan ini, haruskah aku lepaskan kenikmatan ini begitu saja?
Kedua tangan Subhan sudah mulai meraba-raba daerah pribadiku, dengus napasnya menderu bagaikan mesin kereta, sangat berat terdengar. Aku semakin bernafsu, hilang sudah ajaran agama yang kami terima, lupa sudah semua janji kepada ustadz dan ustadzah untuk tidak melanggar aturan.
Subhan adalah juara pertama dakwah, sementara aku juara kedua, kami sangat dibanggakan oleh pesantren dan para santri lain, kami telah dijadikan panutan. Namun, mengapa harus melakukan ini semua? Apakah ini yang dinamakan cinta?
“Mesum! Kalian akan dilaknat Allah!”
Terdengar suara teriakan dan tiba-tiba tubuh Subhan terangkat, dia dibanting oleh seorang santri laki-laki. Beberapa saat kemudian tempat ini ramai oleh para santri lainnya. Aku terkejut setengah mati, segera kusambar jilbab dan kupakai sembarangan. Apa yang sudah aku lakukan? Oh Tuhan, mengapa aku terbuai!
Fatimah masuk, wajahnya sinis memandangku, namun dia tidak sedikit pun menoleh ke arah Subhan. Mati aku! Habislah aku di sini, tak ada ampun, mungkin aku akan dikuliti, dicambuk dan diasingkan, seperti yang kudengar dari riwayat yang diajarkan, bahwa orang yang berbuat mesum, hukumannya adalah cambuk.
“Sudah kukatakan bukan, jika dia anak seorang pelacur!”
Kata-kata itu menikam jantungku, Fatimah sudah tidak segan-segan untuk menghancurkanku, dia juga terbakar api cemburu.
“Seret dia seperti binatang!” perintahnya.
Dua orang santri perempuan menghampiriku, kemudian menarik kedua tanganku, aku berontak, namun tidak kuasa sebab tenagaku tidak sebanding untuk dua orang. Aku diperlakukan seperti binatang, diseret dan ditendang oleh para santri ini, mereka memang sudah menyimpan kebencian padaku sehingga tak memandang rasa kasihan sedikit pun.
Sementara Subhan? Aku tidak melihatnya, tidak kuperhatikan apakah dia perlakukan sama atau tidak. Aku tidak pernah tahu, sebab mengurusi diriku saja aku sudah sangat payah. Sesampainya di pelataran pesantren, semua santri terkejut dengan keributan-keributan, mereka berhamburan mengelilingi. Aku hanya menunduk, aku benar-benar sebuah kotoran dihadapan mereka.
“Teman-teman, Anggun, anak kota ini telah membawa virus, dia seorang pelacur! Dan seorang pelacur harus dicambuk!” teriak Fatimah berorasi.
Aku masih bingung, apa yang aku lakukan mengapa tidak ada Subhan di sini, mengapa hanya aku yang dihakimi? Bukankah Subhan yang pertama kali merangsangku?
__ADS_1
“Dia telah menggoda santri laki-laki dan berbuat mesum!”
“Tidak!” bantahku.
Fatimah malah mengambil gesper lalu mencambuk punggungku. Aku menjerit, rasa sakit yang tak bisa kutahan, mengapa aku selalu disalahkan?
“Akui saja kalau kamu memang berbuat mesum!”
“Aku yang digoda oleh Subhan, dia berjanji akan menikahiku!” bantahku.
Gesper itu mendarat lagi di punggungku, aku tersungkur.
“Bohong! Kamu itu memang pelacur!”
Fatimah akan melancarkan serangannya lagi, namun Khodijah segera menangkap lengan Fatimah, dan Aisyah memelukku. Aku menangis dalam pelukannya, aku sudah tak kuasa menahan rasa sedih, dipermalukan seperti ini.
“Jangan main hakim sendiri, lebih baik kita tanyakan kepada Subhan!” ucap Khodijah lantang.
Kemudian, bu Masriyah datang bersama pak Kyai, diiringi oleh para ustadz dan ustadzah.
“Ada apa ini?” teriak bu Masriyah.
Keadaan jadi semakin tegang, aku sendiri sudah pasrah, sudah tak akan sanggup menolongku, bahkan mungkin Allah juga tak ingin menolongku, seorang yang telah berbuat nista, memang keperawananku belum terenggut, namun aku sudah ternodai.
“Sebaiknya Ibu tanyakan kepada Anggun, perbuatan dosa apa yang dia lakukan!” Fatimah semakin berani. Mungkin dia akan merasa menang, sehingga berani mengatakan itu di hadapan bu Masriyah.
Aku memeluk kaki bu Masriyah.
“Ampun Bu… saya tidak bermaksud untuk menodai pesantren ini, ampuni kekhilafan saya, Bu…,” ucapku tersedu-sedu.
Bu Masriyah masih bingung, dia memandang wajah pak Kyai. Yang pandang hanya mengangguk, tandanya memberikan tanggung jawab kepada bu Masriyah.
“Coba kamu ceritakan yang sebenarnya!” bu Masriyah mengangkat tubuhku.
Kemudian aku menceritakan semua yang terjadi, tidak ada satu pun yang aku tutupi semua jelas terperinci dari awal hingga akhir. Wajah Fatimah semakin memerah, amarah yang tidak bisa dikendalikan, beberapa temannya masih berdiri di sampingnya, mungkin mereka akan segera menyerangku, sementara Khodijah dan Aisyah membentengi diriku.
“Di mana Subhan?” tanya bu Masriyah.
Wajahnya juga menyimpan amarah, dia mencari ke sekeliling santri laki-laki yang mengumpul, menyaksikan cambukan Fatimah terhadapku. Tak lama kemudian, Subhan muncul dengan wajah menunduk, semua mata memandang ke arahnya, aku yang tiba-tiba mencintainya, berubah menjadi benci, mengapa laki-laki begitu pengecut.
“Kemari kamu!” bentak bu Masriyah.
Subhan melangkah gontai, mendekati bu Masriyah. Semua mata memandangnya, bahkan ada yang berbisik-bisik.
Plak!
Tamparan mendarat ke wajah Subhan ketika sudah di depan bu Masriyah. Semua hening, semua mata memandang ke arah Subhan, sementara Aisyah memelukku, sebab tak kuasa aku menahan rasa malu ini. Aku masih menangis, air mata seolah tak pernah habis untuk aku keluarkan.
“Seharusnya kamu menjadi contoh, menjadi teladan!” bentak bu Masriyah.
Subhan tidak berkata apa-apa, hanya menunduk. Fatimah yang menyaksikan itu, perlahan melepaskan gespernya, lalu dia juga menangis. Khodijah memandang heran, beberapa teman-temannya juga.
“Ada apa Fatimah?” tanya Khodijah.
Aku menengadahkan kepala, mungkin Fatimah menyesal telah melakukan main hakim sendiri, atau…
“Ternyata aku salah mencintai seseorang,” ucap Fatimah.
Bu Masriyah melirik ke arahnya.
“Dia juga mengatakan janji yang sama padaku, dan aku hamil!” teriak Fatimah.
Semua tercengang. Aku juga kaget mendengar pengakuan itu, ternyata sebelum merayuku, Subhan telah merayu Fatimah terlebih dahulu, lalu dia menidurinya? Ya Allah… begitu hebat setan menggoda kami, menyesatkan kami, hingga di tempat suci seperti ini, dimana setiap orang belajar agama, dapat setan jebak.
Fatimah lalu berlari meninggalkan kerumuman, pak Kyai paham yang terjadi, dan tahu apa yang harus dia lakukan, segera saja Subhan dibawa olehnya, sementara aku digiring ke rumah bu Masriyah bersama Khodijah dan Aisyah. Ya Allah… lindungilah aku dari godaan setan yang terkutuk.
Semua segera membubarkan diri. Hatiku berkecamuk, apakah bu Masriyah akan mengeluarkan aku dari pesantren ini? Apakah Subhan akan menikahi Fatimah? Apakah Khodijah dan Aisyah masih mau berteman denganku? Semua masih dalam pertanyaan-pertanyaan. Sebab, bu Masriyah terdiam selama perjalanan menuju rumahnya. Hanya Asiyah saja yang dari tadi berbisik genit.
“Enak nggak ciuman?” bisik Aisyah.
Aku hanya diam. Perasaan ini masih tak menentu, dan Aisyah malah mengajak bercanda.
“Katanya kalau ciuman itu bikin deg-degan ya?” tanyanya lagi.
“Sstt… jangan kecentilan. Kalau mau kamu rasakan saja sendiri!” bisik Khodijah.
“Nanti kalau sudah menikah dengan Kak Abdullah,” kata Aisyah sambil nyengir.
__ADS_1
Mendengar nama Abdullah, Khodijah langsung terdiam. Ada perubahan raut wajah, mungkinkah dia cemburu? Entahlah… yang pasti kini dia tahu bahwa Aisyah juga ternyata mencintai Abdullah, sama seperti dirinya. Ya Allah… lindungi kedua sahabatku ini, jangan sampai dia mengalami nasib yang sama seperti diriku, terjebak oleh seorang laki-laki yang salah, yang hanya menginginkan keindahan dunia saja.