Jodoh Pasti Bertemu

Jodoh Pasti Bertemu
Episode 32 - Matahari Sore di Pantai


__ADS_3

Aku merasakan seseorang berdiri di belakangku, menghalangi kehangatan matahari sore yang mulai terbenam di pantai Kejawanan, kapal-kapal barang terlihat terapung-apung mencari tempat untuk melemparkan sauh, beberapa nelayan sedang mencari ikan, anak-anak ramai berenang penuh tawa dan saling menceburkan temannya, sedang kaum muda lainnya asyik duduk sambil menikmati jajanan yang terpajang di sepanjang tepi pantai. Bahkan, tak sedikit pula mereka datang bersama pasangan sekadar berbincang duduk santai di hamparan batu yang tersusun rapi menuju ke tengah laut. Dan tentu saja, ada juga yang sengaja datang hanya untuk menunggu seseorang atau menemui seseorang. Seperti aku sore ini.


“Maaf aku telat datangnya.”


Kemudian aku membalikan tubuh, Yusuf tersenyum, dia memakai t-shirt dan jeans, sangat terlihat santai, berbeda dengan kali pertama aku bertemu di sekolah, dia sangat rapi, dan disegani oleh guru dan murid.


“Tidak apa-apa Pak, saya juga baru datang.”


“Jangan panggil Bapak, kita sedang tidak di sekolah. Lagipula, aku masih muda, belum menjadi Bapak-bapak.”


Aku tersipu malu. Sejak pertemuan di sekolah, Yusuf sering mengirim pesan dan mengobrol lewat ponsel, dia juga sangat ramah, dan cerdas. Sering kali aku dan dia berdiskusi di telepon, membicarakan tentang kenakalan remaja dan lainnya. Aku juga tahu, bahwa dia ternyata masih lajang, pikiranku pada awal pertemuan dengannya, dia sudah menikah, namun ternyata salah.


Usianya hanya berbeda dua tahun denganku, dia lebih tua dan dewasa. Pribadinya lebih terlihat matang daripada Amir, dan sepertinya dia seorang yang penyabar.


“Ke sana yuk!” ajaknya.


Kami berjalan beriringan, melangkah di atas batu yang tersusun, menuju ke tengah lautan. Di sekitar kami, ada banyak pengunjung sedang menikmati pantai Kejawanan di Cirebon ini, ada yang mengabadikannya dengan berfoto ria, sampai suasana penuh canda tawa itu mereka rekam dalam video, mungkin bagi mereka kebersamaan seperti ini memang patut diabadikan sebagai peristiwa yang mungkin menjadi bagian sejarah dalam perjalanan hidupnya. O ya, ada juga yang asyik memancing, terombang-ambing ombak pantai, acuh pada suasana sekitarnya yang ramai. Seolah ia hanya bergelut dengan pancing, umpan, dan ikan sebagai tujuan yang mereka


cari-cari.


Suara ombak sangat merdu di telinga, seperti suara Yusuf yang tengah bercerita bagaimana suka dan dukanya menjadi seorang guru. Apalagi dia ternyata datang merantau dari daerah Kuningan, kota kecil di kaki gunung Ceremai. Memang tidak jauh dengan Cirebon, hanya menempuh satu jam jika menggunakan kendaraan bermotor.


Aku tidak tahu, mengapa Yusuf begitu terbuka. Dia menceritakan seluruh perjalanan hidupnya, dari kehidupan kecilnya hingga suka dan duka kuliah di salah satu Universitas di Cirebon, dia harus bekerja untuk membiayai kuliahnya.


“Bahkan menjadi tukang becak aku jalanin,” katanya.


“Tukang Becak?” aku terkejut.


“Iya, kamu nggak percaya?”


“Mmm…”


“Mengayuh becak itu menyenangkan lho… walaupun memang sangat tersiksa jika harus menempuh jalan tanjakan.”


“Aku sudah sering naik becak jika ke kantor, dan memang sangat terasa berat, aku terkadang kasihan kepada para tukang becak yang kebanyakan orang-orang yang sudah tua.”


“Inilah hidup… terkadang kita dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang sebenarnya itu bukan keinginan hati kita sendiri.”


“Jadi… menjadi tukang becak itu bukan pilihanmu?” ledekku.


“Hehe, bukan. Hanya keadaan yang membuatku memilih menjadi tukang becak.”


Mata Yusuf memandang jauh ke tengah lautan. Seolah dia sedang menelusuri jalan yang menuju ke masa lalunya. Dalam hatiku berdecak kagum, ternyata kehidupan Yusuf tidak jauh beda denganku, hanya saja dia dapat mengatasinya dengan baik, dengan perjuangan yang membuahkan hasil.


Lalu aku? Apakah aku juga telah melewatinya dengan keberhasilan yang diraih, seperti Yusuf? Sejauh ini aku bersyukur bahwa aku juga masih diberikan kekuatan untuk menikmati hidupku yang sangat sederhana ini, dan tentu saja orang-orang di sekitarku yang selalu memberikan motivasi dalam hari-hariku.

__ADS_1


“Itu sebabnya, aku telat dalam menikah.”


“Eh?”


Aku terkejut. Mengapa tiba-tiba Yusuf menjadi polos, dan sepertinya tengah membuka jati diri dan keinginannya.


“Iya… usiaku sudah cukup untuk menikah, teman-temanku sudah memiliki anak yang lucu-lucu.”


“Tapi… kamu belum tua kok! Kan belum memakai tongkat,” aku nyengir.


“Begini dong?”


Yusuf mempraktekkan gaya seorang kakek-kakek yang membawa tongkat sambil terbatuk-batuk, ekskpresinya lucu, membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Ternyata, Yusuf berbeda terbalik jika di sekolah dia sangat formil, sedangkan di luar dia sangat humoris, tidak kaku, dan juga lembut.


Jika aku membandingkan Yusuf dengan Amir, sangat berbeda. Yusuf lebih realistis dalam memandang hidup, memakai logika, tidak selalu berandai-andai, dan langsung pada sasaran. Serta sifatnya yang penyabar dan terbuka inilah yang membuat pribadinya menyenangkan dikalangan orang-orang sekitar.


Berbeda dengan Amir, dia lebih tertutup, terburu-buru tanpa harus memberikan kesempatan kepada orang lain untuk membuka dirinya. Aku merasa, Yusuf tengah melakukan pencarian seorang istri yang sholehah. Seketika pikirku menerawang pada anganku yang belum juga terjawab, ya, aku pun sangat mendambakan sosok pendamping hidup yang sholeh.


Aku sangat memimpikan sosok imam yang penuh cinta kasih yang tulus dan sabar menuntunku menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah. Akan tetapi, aku tidak ingin berbesar kepala tentang Yusuf, pasti sosok sepertinya ini sudah banyak perempuan yang mengantri. Hanya saja, Yusuf sepertinya belum menentukan pilihan. Ah, apakah laki-laki seperti Yusuf ini tidak mudah untuk jatuh cinta? Apalagi sampai dia memilihku?


“Hei lihat! Ada perahu yang sedang menepi. Gimana kalau kita naik?” ajak Yusuf.


Sebenarnya aku ingin menolak ajakan Yusuf. Bukan karena apa-apa, tapi, dari dulu aku memang takut naik perahu, bayangan perahu terbalik selalu menghantuiku yang memang tak bisa berenang.


“Duh, naik perahu ya?” kebingunganku membuat Yusuf tertawa.


“Oh, nggak. Bukan itu maksudku. Aku…”


“Aku… aku kenapa?” Yusuf sepertinya penasaran.


Dalam hatiku ingin bisa berdua dengannya dalam satu perahu, tapi sungguh aku takut.


“Aku nggak apa-apa kok. Boleh deh kita naik perahu,” kataku yang sepertinya didengar aneh oleh Yusuf.


“Apakah kamu takut naik perahu bersamaku?” tanya Yusuf dengan nada hati-hati.


“Nggak. Bukan begitu. Jujur saja ya… dari dulu, aku memang nggak berani naik perahu.”


Dengan terpaksa aku harus jujur. Entah apa penilaian Yusuf mendengar alasanku yang konyol. Takut naik perahu yang jarak tempuhnya masih sangat dekat dengan tepian pantai ini. Ah, andai aku bisa kalahkan ketakutanku ini.


“Aku boleh kasih saran nggak?”


“Apa?”


“Sebaiknya kamu coba naik perahu.”

__ADS_1


Ya Allah… Aku bisa jantungan, terombang-ambing gelombangnya yang memabukkan. Tapi, entah mengapa ketika Yusuf berkata itu, apakah dia memang sengaja menguji keberanianku?


“Ketakutan harus dikalahkan, jangan dipelihara. Sebab ketakutan yang berlebihan akan membawa diri ke dalam rasa trauma.”


Aku diam, ada benarnya juga perkataan Yusuf, mungkin dulu aku terlahir di kota besar sehingga tidak pernah menyoba hal-hal yang ekstrim, apalagi menikmati pantai seperti ini.


“Jadi… beneran mau coba?” tanyanya lagi.


Aku mengangguk. Walau masih berat, tapi tidak ada pilihan. Yusuf tersenyum, kemudian dia menghampiri tukang perahu itu, dan menanyakan berapa sewanya. Awalnya tukang perahu itu menolak, sebab waktu sudah sore dan sebentar lagi lau akan pasang. Hatiku yang berdebar-debar menjadi senang, sebab pasti batal naik perahu. Akan tetapi, Yusuf meyakinkan tukang perahu itu, bahwa dia hanya sebentar.


Yusuf mengajakku. Kaki ini berat mendekati perahu, namun aku paksakan. dan ketika dekat di tepi perahu, kepalaku mendadak pusing, mual. Namun, aku mencoba bertahan. Yusuf sudah naik ke atas perahu, tukang perahu sudah siap dengan dayungnya, kakiku perlahan mengangkat untuk naik, namun keseimbanganku goyah, karena gugup. Aku hampir terjatuh jika Yusuf tidak memegang tanganku.


“Terima kasih,” kataku.


“Kuasai dirimu, ingat yang mengontrol berani dan takut adalah kamu, bukan rasa itu yang mengontrol.”


Yusuf bagaikan seorang motivator, memberikanku semangat. Sedangkan aku sangat malu, masa naik perahu saja harus seheboh ini. Dan akhirnya aku bisa berdiri di atas perahu, tangan Yusuf masih memegangiku, lalu aku duduk. Yusuf juga ikut duduk di hadapanku, wajahku pucat pasi.


“Lihatlah!” Yusuf menunjuk ke arah matahari terbenam.


Subhanallah… ini menakjubkan! Matahari bulat dan merah, warnanya membias ke langit hingga membentuk jingga. Matahari itu seperti akan jatuh ke dalam lautan, sangat dekat dengan permukaan lautan. Sementara, beberapa kapal-kapal barang terapung-apung satu garis lurus. Sungguh tidak menyangka, begitu indah pemandangan ini, mungkinkah orang-orang di sini menunggu peristiwa ini?


Keteganganku kini perlahan surut, aku merasakan kenikmatan di atas perahu, memandang matahari terbenam, dan Yusuf. Seorang pemuda yang tidak kusangka ada di depanku, seorang pemuda yang dulu aku impikan. Tuhan memang maha segalanya, manusia tidak bisa menebak arah kerjanya. Kemarin, aku masih merasakan kesepian di dalam kamar, namun sekarang, aku merasakan bahagia di atas perahu.


“Kamu sering kemari?” tanyaku.


“Tidak… baru kali ini. Kudengar dari murid-murid di sekolah tentang pantai ini, tempat yang gratis, alami dan indah.”


Aku tersenyum, memang masuk ke pantai ini tidak harus mengeluarkan uang, tempat ini bebas untuk dinimati siapa saja.


“Kalau kamu?” tiba-tiba Yusuf bertanya.


“Aku sempat nyasar datang kemari, maklum sejak dulu aku tidak pernah pergi ke pantai, jadi… pantai


adalah tempat yang asing bagiku.”


Tukang perahu terus mendayung, dia seolah tidak peduli dengan obrolan kita. Seolah kehidupan dia lebih berharga daripada harus mendengarkan obrolan kita, atau memerhatikan tentang kehidupan kita.


Ombak datang perlahan, menggoyangkan perahu. Tanganku segera mencengkram tepi perahu, aku takut jatuh.


“Tenang saja… Ombak juga sebuah keindahan, kita harus menikmatinya, bukan mencemaskannya.”


Perlahan aku melepaskan pegangan. Aku mencoba mengikuti ucapan Yusuf untuk selalu santai, awalnya masih takut ketika ombak datang, namuan lama kelamaan terasa nyaman, bahkan aku ingin ombak selalu datang untuk membuatku merasa diayun-ayun di atas perahu.


Matahari mulai jatuh ke dalam lautan, tukang perahu itu menepikan perahu ke tepian pantai. Yusuf turun, diikuti olehku, setelah membayar dia mengajakku keluar dari wilayah pantai untuk mencari makan. Awalnya aku mengira akan makan di restoran atau mall. Akan tetapi, dia mengajakku mencari warung nasi Jamblang, Yusuf memang sederhana.

__ADS_1


Kemudian kami naik becak, duduk berdampingan di dalam becak, menikmati suasana malam di kota Cirebon, mencari warung kaki lima untuk mengisi perut yang sudah lapar. Indahnya hari ini bersama Yusuf.


__ADS_2