Jodoh Pasti Bertemu

Jodoh Pasti Bertemu
Episode 33 - Kerikil Tajam


__ADS_3

Ibu Masriyah menatapku. Tatapan seorang ibu, sebab aku sudah menganggapnya ibu kandungku. Aku sengaja berkunjung ke pesantren untuk meminta petunjuk. Sebab kegalauan hatiku mulai memuncak. Malam itu, setelah makan nasi Jamblang Yusuf memintaku untuk menjadi istrinya. Sungguh bukan aku tidak mau, tetapi aku merasa tidak enak terhadap Amir, apalagi pak Iwan yang sudah mengenalkanku padanya.


“Apa memang kamu sudah siap lahir dan batin?” tanya bu Masriyah.


“Insya Allah Bu…”


“Menikah itu, bukan hanya mencocokan dua orang, tapi dua keluarga.”


Dua keluarga? Aku terdiam, sebab aku memang tidak memiliki keluarga. Lalu apakah calon imamku nantinya akan menerimaku apa adanya?


“Dan menikah bukan untuk main-main, kalian akan berlayar mengarungi dunia berdua, susah dan senang, sepi dan ramai, bahkan dalam keadaan yang capek sekalipun kalian dituntut untuk tetap istiqomah.”


“Insya Allah mental saya sudah siap Bu…”


“Jika kamu sudah siap, maka tentukanlah pilihan.”


“Itulah yang membuat saya bimbang. Keduanya adalah orang-orang baik,” jawabku.

__ADS_1


“Baik belum tentu benar bukan? Diantara keduanya pasti ada yang benar menjadi suamimu, imam di dunia dan akhirat.”


“Harus bagaimana aku memilihnya Bu?”


“Istikharah, minta petunjuk kepada Allah. Dan kamu juga harus mengenal pasanganmu lebih dalam lagi, mengenal dirinya, keluarganya juga lingkungannya untuk menyakinkan dalam memilih.”


Aku menunduk. Yusuf memang sudah sangat kukenal daripada Amir, artinya Yusuf selalu terbuka jika mengobrol denganku, dia lebih periang dan realistis, membimbing serta memberikan banyak pelajaran hidup. Haruskah aku memilih Yusuf?


“Amir adalah seorang pemuda yang baik, aku mengenalnya. Beberapa waktu pernah bertemu jika sedang


ada kumpul keluarga,” kata bu Masriyah.


“Ibu tidak memintamu untuk menikah dengan Amir, semua tetap keputusanmu. Hanya saja, jika kamu meminta pendapat, ibu lebih mengenal Amir daripada Yusuf, sebab Ibu belum pernah bertemu dengannya.”


“Akan aku coba untuk lebih mengenal Amir lagi Bu…,” jawabku pasrah.


“Itu lebih baik.”

__ADS_1


Obrolan kami terhenti, sebab ada seseorang membawakan minuman dan makanan kecil.


“Lalu, jika kamu menikah siapa yang akan menjadi walinya?” tanya bu Masriyah.


Ini yang tidak bisa aku pungkiri bahwa aku tak memiliki keluarga, kecuali Ayah. Iya, Ayah? Dia ada di penjara di Cirebon, di kota ini. Haruskah aku memintanya untuk menikahkanku? Padahal dia seorang ********, orang tua yang tega akan berbuat nista kepada anaknya sendiri.


“Saya belum tahu Bu…”


“Saran Ibu, kamu pikirkan semuanya dengan matang. Lalu tentukan pilihan, sehingga semuanya berjalan lancar. Percayalah, Amir pasti akan sabar menunggu keputusan itu, dan Ibu juga berharap kamu mengobrolkan ini semua dengan keluargamu. Mm… keluargamu yang lain.”


Aku menunduk. Ada perasaan perih di dalam dada, tapi inilah kenyataan, jadi aku harus menghadapi dengan lapang dada. Setelah merasa cukup, aku berpamitan kepada ibu Masriyah. Walaupun aku tidak menemukan jawaban yang tepat, ibu Masriyah lebih cenderung memintaku memilih Amir. Dan itu bukan keinginan hatiku, pulang dari pesantren bukan merasa lega, malah semakin bingung.


Nasihat bu Masriyah menjadi kerikil tajam yang terinjak oleh kakiku, aku belum bisa menghindarinya, sebab dia adalah guru dalam setiap langkah hidupku. Tentu saja, aku juga tidak menyalahkan akan sikapnya yang lebih cenderung ke Amir, sebab Yusuf belum dikenal olehnya. Haruskah aku mengenalkan Yusuf padanya?


Mataku memandang gerbang pesantren ini, aku teringat pertama kali masuk ke sini, dalam kecemasan aku datang kemari, dan aku meninggalkan tempat ini dalam kegalauan. Hanya berbeda maknanya. Kegalauan saat ini adalah sebuah puncak keberhasilanku dalam mencari masa depan. Sebuah titik dimana aku harus memulainya lagi dari awal, namun tidak ke dalam keterpurukan, akan tetapi memperbaiki kesalahan itu.


Jawabannya adalah ayah. Aku harus menemuinya, mencari kejujuran pada dirinya, tentu dia yang dulu, bukan ayah yang sekarang. Aku mempunyai keyakinan itu, hanya butuh implementasi, sebuah aksi untuk mewujudkannya.

__ADS_1


Baiklah, aku akan menemui ayah di penjara. Walaupun berat, tapi ini harus dilaksanakan. Aku tidak ingin semuanya menjadi gelap kembali, di usiaku yang sudah matang, aku harus menyikapi ini dengan dewasa, dengan tidak memakai rasa amarah, benci. Sebab rasa itu akan menggiringku ke sebuah lorong yang hitam, pekat, tanpa pintu.


__ADS_2