Jodoh Pasti Bertemu

Jodoh Pasti Bertemu
Episode 14 - Simbol Kehormatan Wanita


__ADS_3

Fitrah seorang wanita adalah patut dilindungi oleh laki-laki, sekuat apapun wanita, tetap saja fisiknya tak sekuat lelaki. Mungkin di dunia ini banyak sekali wanita yang kuat, wanita karir, seorang ahli bela diri, namun pada kenyataannya mereka kalah dalam menghadapi kenyataan hidup yang pahit. Aku mungkin bagian dari wanita lemah itu. Sekalipun aku berkumpul dengan wanita lainnya di dalam kamar ini, tetap saja aku merasakan kelemahan menjadi seorang wanita.


Ada tiga kasur di dalam kamar ini, tersusun rapi. Dan di setiap sisi kasur ada lemari kecil, untuk menyimpan pakaian, sebuah meja belajar tersimpan di depan kasur-kasur kami. Dan di sampingnya rak buku berukuran kecil.


“Namaku Aisyah.”


Aku menyambut uluran tangannya.


“Aku Khodijah.”


Senyumnya yang tulus menghangatkan hati yang beku.


“Aku Anggun.”


Sejenak kami hanya saling pandang. Ada getaran yang tidak bisa aku tahan dari pandangan mereka, seolah mereka memiliki kepedihan yang sama dengan diriku. Namun, aku mencoba untuk tidak larut. Aku ingin bangkit di sini, aku tak ingin jatuh dalam keterpurukan, aku ingin menjadi seorang wanita yang kuat, dan wanita yang kuat mengetahui kelemahannya sebagai wanita.


“Sudah berapa lama di sini?” tanyaku.


“Aku baru tiga hari,” jawab Aisyah.


“Kalau aku baru kemarin,” Khodijah juga menjawab.


Aku menarik napas lega, dua wanita cantik ini tersenyum. Aisyah lebih terlihat kekanak-kanakan, hidung mancung, sepertinya dia warga keturunan, namun cara bicara sudah natural, sepertinya terlahir di negeri ini. Sedangkan Khodijah, lebih dewasa dan tenang. Aku menduga usianya lebih tua dari kami, mungkin dua puluh tahun.


“Ibuku dari Aceh, Ayahku Padang. Mereka…”


Aisyah menghentikan ucapannya. Seperti menelan batu besar yang mengganjal tenggorokannya sehingga tak lepas dia bicara.


“Sudahlah… di sini kita akan belajar dan meraih mimpi,” kata Khodijah.


“Iya… lebih baik kita bercerita tentang mimpi-mimpi yang ingin diraih,” jawabku.


Aisyah menunduk. Ini tidak bisa dipungkiri, bahwa aku berada di tengah-tengah dua orang yang bertolak belakang. Khodijah, memiliki keteguhan hati, tertutup dan selalu ingin terlihat sebagai wanita dewasa, sedangkan Aisyah masih manja, masih meluap-luap emosinya. Aku tak tahu, apakah aku bisa menjadi karakter yang seimbang diantara mereka, sedangkan aku sendiri masih labil.


“Ketika aku berkeliling bersama Hilmah, aku tak melihat santri laki-laki?”


Aisyah mengangkat kepalanya, mata bersinar.


“Kamu…. Masih jomblo ya?’ ledeknya.

__ADS_1


Perubahan wajah Aisyah membuatku yakin bahwa dia memang masih hijau, apalagi urusan laki-laki, sepertinya dia memang baru tumbuh, ingin merasakan cinta yang belum pernah ia rasakan, aku menduga seperti itu.


“Ah… kamu bisa saja. Memangnya kamu udah punya calon suami?” ledekku.


“Calon suami? Mmm… susah mencari calon suami, sekarang laki-laki banyak maunya,” Aisyah cemberut.


“Bukan banyak maunya, mungkin kita terlalu kaku kepada laki-laki, sehingga laki-laki merasa minder jika bersama kita,” sahut Khodijah.


“Loh kok begitu?” ketus Aisyah.


“Mmm… kita sebagai wanita muslimah, juga harus mengikuti perkembangan jaman, salah satunya dalam pergaulan.”


“Ih! Aku sih nggak mau, nanti pakai baju yang ketat-ketat. Risih melihatnya, masa pakai jilbab begitu!”


Khodijah tersenyum, sementara aku hanya diam saja. Menunggu penjelasan selanjutnya, sebab Khodijah pasti memiliki pernyataan yang mungkin bisa aku terima. Khodijah bangkit dari tempat duduknya, lalu melangkah menuju meja belajar, dia mengambil sebuah buku. Aku tak tahu apa judulnya. Buku itu digenggam olehnya, sepertinya akan menunjukan sesuatu. Beberapa detik kemudian, buku itu diletakkan lagi, dan dia duduk di bangku.


“Bukan masalah busana, tapi lebih kepada cara pandang,” katanya.


“Cara pandang?”


“Bisa kau jelaskan!” pintaku dengan penasaran.


“Maksudmu, wanita muslimah sekarang tidak berakhlak?” Aisyah nampak tidak suka dengan pernyataan itu.


“Bukan itu…”


“Lalu apa?” dia terus menyerang.


“Menjadi seseorang bukan berarti harus menyontek kelebihan orang lain. Sebagai wanita muslim, kita harus berbicara apa saja dengan laki-laki, termasuk cinta.”


“Loh? Kan sudah jelas, kalau pacaran itu haram?” Aisyah masih belum bisa terima.


“Pacaran yang seperti apa dulu. Jika hanya duduk untuk saling mengenal, bergurau, atau berdiskusi, aku rasa tidak jadi masalah. Itu proses menuju pernikahan. Memang setiap pasangan harus saling mengenal dulu bukan? Tapi, jika sudah keluar dari batas-batasnya, baru bisa dikatakan haram.”


“Itu juga bisa menimbulkan pelanggaran batas, apalagi kalau hanya berdua.”


“Maka dari itu, aku bilang tetap menjaga akhlak. Jika seorang wanita tetap menjaga akhlak, maka laki-laki akan menghormatinya, sekaligus mengagumi.”


Aku yang dari tadi diam saja, tertarik juga untuk ikut bicara.

__ADS_1


“Jadi… menurutmu wanita muslimah sekarang sudah keluar dari akhlak?” tanyaku.


“Bukan itu maksudku. Wanita yang berjilbab, saat ini sudah jauh dari akhlak, walaupun itu tidak semua. Busana muslim hanya menjadi sebuah trend, bukan sebagai simbol kehormatan wanita. Kamu hidup di kota Jakarta, pasti pernah main ke supermarket, dan di sana bisa ditemuin busana-busana muslim yang jauh dari anjuran Al-Quran.”


“Lalu hubungannya dengan mencintai?” tanyaku lagi.


“Jelas sangat berhubungan. Wanita-wanita berjilbab sekarang berani tampil seksi dengan jilbabnya, sehingga laki-laki mengiranya berbeda, maka seperti Aisyah menyimpulkan bahwa laki-laki banyak maunya, itu disebabkan kita sendiri yang membiarkan orang lain bersikap di luar harapan kita. Pakaian muslim, bukan hanya untuk sebuah trend, tapi sebuah kehormatan bagi wanita.”


Khodijah memperjelas lagi, membuat aku mengerti sekarang, mengapa ibu dulu mengatakan untuk tidak melepas jilbab, walaupun aku hidup di tengah kemaksiatan. Ibu tidak ingin hidupku berantakan, ibu ingin aku menjaga kehormatanku sebagai wanita. Dengan jilbab yang kukenakan ini, setidaknya menyelamatkanku dari kejahatan besar lelaki hidung belang.


“Untungnya aku belum pernah memakai jilbab dengan celana ketat, hehe.”


“Tapi… walaupun kita berjilbab tertutup, bukan berarti tidak bergaul dengan laki-laki. Kita juga harus mengenal orang lain, sebab dengan itu ada pendewasaan diri.”


“Ternyata aku satu kamar dengan wanita-wanita hebat,” ucapku senang.


“Ah… jangan terlalu berlebihan,” kata Khodijah.


“Iya… aku juga senang, banyak mendapatkan tambahan ilmu. Aku panggil Kak Khodijah saja gimana? Sepertinya aku harus banyak belajar dari Kakak.”


“Silakan saja… aku juga senang memiliki adik seperti Aisyah.”


Tiba-tiba terdengar azan, kami menghentikan obrolan. Aku, Khodijah dan Aisyah mengambil wudhu, sudah saatnya untuk shalat isya. Setelah semua rapi, aku mengikuti Khodijah dan Aisyah keluar dari kamar menuju masjid. Pondok pesantren ini ternyata terbagi dua bangunan yang dipisahkan oleh masjid. Dan memiliki dua pintu gerbang, aku memasuki pintu gerbang khusus wanita sehingga tidak berpapasan langsung dengan kaum laki-laki.


Rupanya ibu Masriyah mengelola santri perempuan, sedangkan suaminya mengelola santri laki-laki. Kerja sama yang sangat baik, diam-diam aku semakin mengagumi ibu Masriyah, dia bisa menjadi seorang wanita yang hebat, berdiri sendiri, namun tetap patuh terhadap suami, begitu pun dengan suaminya, demokrasi dan bijaksana.


Dalam hati, aku memiliki keinginan untuk mendapatkan suami seperti suami ibu Mariyah. Dia bisa menjadi imam, membimbing, memberikan lampu terang dalam keluarga, dan tentu saja kharismatik.


Aku berterima kasih kepada bu guru Umay yang merekomendasikanku ke pesantren ini. Perjalanan yang tidak sia-sia, harapanku akan segera terwujud, aku akan menemukan tempat terindah di dunia ini, mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Kebangkitan dalam diri ini ingin sekali cepat terjadi, aku yang sudah terbelah-belah, akan menyatu kembali. Semoga aku akan terlahir lagi di tempat ini menjadi pribadi yang kuat jiwa raga. Ya, di sebuah kota yang memiliki julukan kota Wali. Kota yang melahirkan banyak falsafah hidup.


Langit malam ini bermandikan cahaya bintang. Bulan di atas sana, berkilauan, aku melihat masa depan di sana, di langit yang berlapis-lapis ini. Tuhan, berilah jalan yang terbaik untuk diriku, dan pertemukan aku dengan jodohku yang Engkau indahkan budi pekertinya, aku yakin, setiap yang terjadi padaku adalah sebuah cara dari-Mu untuk meneguhkan imanku.


“Sst… jangan melamun!” Aisyah mengejutkanku.


“Anggun, lihatlah!”


Aku melirik ke arah santri laki-laki yang berduyun-duyun menuju mesjid. Kemudian aku melirik ke arah Khodijah. Dia hanya tersenyum, sepertinya dia hanya menjawab dari pertanyaanku, ketika menanyakan santri laki-laki.


“Ingat… Akhlak, Akhlak sebagai wanita muslimah,” ucap Khodijah.

__ADS_1


Lalu kami tersenyum, menyetujui ungkapan itu. Suara azan berhenti, tergantikan dengan puji-pujian terhadap Tuhan yang Maha Suci. Hati ini semakin yakin bahwa inilah tempat yang paling aku dambakan. Aku akan maju di sini. Insya Allah!


__ADS_2