Jodoh Pasti Bertemu

Jodoh Pasti Bertemu
Episode 15 - Api di Atas Lilin


__ADS_3

Ibu Masriyah masuk ke dalam kelas. Semua santri terdiam, mereka memang segan terhadap ibu Masriyah. Dia mengisi kelas motivasi, setiap kelas di pesantren ini memiliki pelajaran tambahan kelas motivasi yang diisi oleh ibu Masriyah sendiri. Aku, Khodijah dan Aisyah baru kali pertama mengikuti kelas motivasi ini.


“Manusia jangan pernah menjadi api di atas lilin,” ucapnya.


Semua orang terdiam, memerhatikan ibu Masriyah yang juga terdiam, Matanya mengawasi kami, mata yang teduh. Wajahnya tenang, dan setiap gerakannya lembut, perempuan ini yang membuat aku ingin tahu segalanya. Sangat jarang, seorang perempuan bisa menjadi pemimpin dalam sebuah pesantren, bukankah terkadang perempuan selalu tidak dilibatkan dalam urusan memimpin.


“Apa itu berlaku untuk wanita juga Ibu?” tanya Khodijah.


“Pasti, Khodijah. Karena wanita adalah manusia.”


“Api di atas lilin? Kamu paham?” bisik Aisyah.


Aku menggelengkan kepala. Tentu saja setiap santri di kelas ini juga berpikir yang sama, namun Khodijah sepertinya sudah tahu makna dari itu.


“Ada yang tahu maknanya?” tanya ibu Masriyah.


Kami saling pandang, belum mengerti arah pembicaraan ibu Masriyah. Sebenarnya dia itu sedang memberikan motivasi, atau mau membuat judul puisi.


“Menurutku, kita jangan seperti api yang membakar lilin hingga habis. Artinya tidak boleh serakah,” kata Maesaroh.


“Itu juga bisa,” ibu Masriyah tersenyum.


“Atau bisa berarti manusia jangan suka menindas orang-orang kecil,” sahut Maslaha.


“Itu juga sebuah pengertian yang bagus.”


Aku hanya memandang wajah ibu Masriyah yang puas dengan jawaban-jawaban dari para santri. Tapi, aku menunggu jawaban yang sebenarnya, jawaban dari pemikiran ibu Masriyah. Aku ingin tahu apa yang ada dalam pemikirannya, aku tidak ingin menebak, aku tidak ingin mengungkapkan sebuah pengertian yang aku maknai sendiri, aku masih belajar untuk tidak terjebak dengan pikiran sendiri.

__ADS_1


“Anggun?” tanya ibu Masriyah.


Suaranya mengejutkan aku.


“Iya, ada apa Bu?” aku balik bertanya.


Semua mata memandangku, termasuk ibu Masriyah. Apa yang dia inginkan dariku?


“Apa kamu memiliki jawaban?”


Aku hanya menggelengkan kepala, memang buntu otak ini untuk memberikan jawaban, aku masih mencari diriku sendiri setelah semua kepedihan menerjang hidupku. Aku baru lahir kembali, belum mengerti apa-apa.


“Yang lain?”


“Semangat yang mudah padam,” kata Khodijah.


“Tepat.”


Semua saling pandang. Sementara aku mencoba mengurai maknanya, memang api yang menyala di atas lilin sangat mudah padam, tertiup angin atau ketika lilin itu habis. Dan api itu bisa diibaratkan semangat yang menyala dalam diri manusia, jika semangat itu hanya sebatas api di atas lilin, maka akan mudah padam.


“Sebagai perempuan, kita sering terjebak dengan kekecewaan dan rendah diri, merasa terlecehkan. Padahal, perempuan sebenarnya adalah makhluk luar biasa yang diciptakan untuk mendampingi laki-laki, memberikan semangat dalam hidup terhadap kaum laki-laki. Lalu, jika perempuan mudah patah semangat, bisa-bisa melahirkan anak laki-laki yang pesimistis,” jelas bu Masriyah.


Aku tertegun. Sehebat itukah perempuan? Dalam pengalamanku, aku melihat karakter perempuan, namun tidak secerdas ibu Masriyah. Aku semakin penasaran, apakah pengalaman hidup bu Masriyah pernah tergelincir dalam kepedihan dan kesepian? Perempuan pasti akan lemah jika masuk ke dalam dunia itu.


“Tuhan telah menciptakan sejuta jalan untuk menuju kebahagiaan, jika kita lemah, maka kita tak akan bisa meniti jalan-jalan itu.”


Semua hening. Aku yakin semua santri di kelas ini terhipnotis dengan perkataan bu Masriyah, terlebih lagi aku. Sungguh aku terkagum-kagum dengan jalan pikiran bu Masriyah. Kemudian, kesadaranku mulai tumbuh, bahwa tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini. Dan ketidakmungkinan itu adalah salah satu jalan yang bisa mencapai apa yang diinginkan.

__ADS_1


Sebelumnya, aku tidak pernah mengenal kota Cirebon, tak tahu pesantren pondok Jambu, tak mengenal ibu Masriyah, Khodijah dan Aisyah, tak tahu sama sekali. Namun, bu guru Umay memberikan jalan padaku. Inilah wujud jalan Tuhan, sehingga aku dapat belajar menguasai keadaan yang sebelumnya telah membuat hatiku terpuruk.


“Dan semangat yang tidak pernah padam, berwujud kesabaran dalam diri kita. Sabar bisa menelan segala kepahitan dan kepedihan walau sangat menyakitkan, juga menguras air mata.”


Siapa pun orang yang mendengar kalimat itu pasti akan menyadari kelemahannya dalam mengatasi permasalahan hidup. Ya, kelemahan itu adalah ketidaksabaran yang selalu ingin segalanya cepat selesai, padahal, semuanya harus memiliki proses, tidak serta merta langsung berhasil, tidak segampang itu.


Jika semuanya mudah, maka tak perlu Tuhan membuat surga dan neraka, justru itu tercipta adalah wujud bahwa kita sebagai manusia harus memiliki kesabaran dalam menjalani hidup, apa pun itu masalahnya.


“Apa kalian mengerti?”


Sejenak semua diam.


“Lalu bagaimana memelihara kesabaran itu, Bu?” tanya Khodijah.


“Cukup dengan iman. Jika kita selalu mengasah iman, memasrahkan diri kepada Allah, maka kesabaran itu akan muncul dengan sendirinya, tanpa harus kita minta. Dia akan menggerakkan seluruh indera kita. Allah Maha Menggerakkan.”


“Tapi, bukankah itu wajar jika seseorang ingin mudah meraih mimpinya?” tanya Aisyah.


“Memang wajar, namun apakah mengambil buah jambu cukup dengan memandang?”


“Mmm… iya juga sih…”


“Api di atas lilin bisa juga berbahaya, jika kita tidak menjaganya, dia bisa membakar rumah. Begitu juga dengan semangat yang mudah padam, dia bisa menggiring kita ke dalam keterpurukan, dan jika sudah masuk ke dalam jurang itu, maka kita akan sulit untuk mendakinya, kita akan terjebak dalam waktu yang lama, atau bisa selamanya.”


“Lalu, seharusnya kita harus menjadi apa?” tanyaku.


“Menjadi diri sendiri.”

__ADS_1


Jawaban yang mengagumkan. Memang seharusnya kita tidak perlu berandai-andai untuk menjadi orang lain, cukup menjadi diri sendiri, sebab dari situ kita bisa mengenal siapa kita, mengukur kekuatan yang ada pada diri kita, dan dapat membuat kita menjadi lebih berarti dalam hidup ini. Ibu Masriyah memberikanku pelajaran yang berarti hari ini. Aku harus bersungguh-sungguh belajar di pesantren ini. Man jadda wa jadda!


__ADS_2