Jodoh Terbaik Diusia 25 Tahun

Jodoh Terbaik Diusia 25 Tahun
ryan pulang


__ADS_3

Waktu berjalan dengan cepat, Ryan akhirnya kembali dari luar kota. Bella merasa senang dan sedikit gugup. Dia masih mengingat telepon yang terakhir kali ia lakukan dengan Ryan dan suara Lisa yang terdengar di latar belakang. Namun Bella mencoba untuk tidak memikirkannya terlalu banyak dan memilih untuk fokus pada kebahagiaan bahwa Ryan akan segera kembali.


Saat Ryan akhirnya tiba di rumah, Bella langsung berlari ke arahnya dan memeluknya dengan erat. Ryan juga terlihat senang melihat Bella. Mereka saling berbicara tentang kabar terkini, tentang perjalanan Ryan dan juga tentang Bella yang sibuk membuat kue. Namun, Bella tidak bisa menahan perasaan cemasnya dan akhirnya ia mengungkapkan kekhawatirannya tentang suara Lisa yang terdengar di telepon yang terakhir kali mereka bicarakan.


“Ryan, aku harus jujur. Waktu terakhir kita bicara, aku mendengar suara Lisa di latar belakang. Kamu berdua ada di luar kota bersama-sama, bukan?” ujar Bella perlahan.


Ryan tampak terkejut dan agak tidak nyaman. “Eh, iya, kita bertemu klien bersama-sama, tapi itu hanya untuk urusan pekerjaan. Kamu tahu aku mencintaimu, Bella, dan tidak ada yang bisa menggantikan tempatmu.”


Bella merasa lega mendengar itu dan mereka pun melanjutkan obrolan mereka. Namun, suara Lisa masih terus mengganggu Bella. Ia mencoba untuk menghilangkan pikiran itu, tetapi semakin ia mencoba, semakin kuat perasaan cemburunya.


Beberapa hari kemudian, Ryan memintanya untuk menemani ke kantornya. Bella tidak bisa menolak dan akhirnya ia menemani Ryan di sana. Namun, Bella merasa tidak nyaman saat bertemu dengan Lisa. Lisa terlihat sangat cantik dan terampil, dan Bella merasa seperti dia tidak bisa bersaing dengan Lisa dalam hal keahlian pekerjaan dan kecantikan.


Suasana di kantor menjadi tegang dan canggung. Ryan mencoba untuk mengalihkan perhatian Bella dengan membicarakan pekerjaan mereka dan mengajaknya untuk makan siang bersama-sama. Tapi Bella masih merasa tidak nyaman. Di dalam hatinya, ia merasa Ryan tidak memberitahunya semuanya.


Ketika mereka sedang makan siang, Lisa tiba-tiba menanyakan kepada Bella, “Bella, apakah kamu tidak khawatir ketika Ryan bekerja dengan banyak wanita di luar kota?”


Bella merasa tersinggung oleh pertanyaan Lisa dan berusaha menjawab dengan santai, “Tentu saja aku khawatir. Tapi aku tahu bahwa Ryan mencintai saya dan ia tidak akan melakukan apapun yang bisa menyakiti hatiku.”


Kemudian lisa menceritakan perjalan lisa dan ryan yang menikmati makanan khas dari daerah sana.


Bella merasa kebingungan dan sedikit marah setelah mendengar cerita Lisa. Dia tak bisa menyangkal kalau dia merasa cemburu, meski sebenarnya tidak seharusnya. Bella tahu bahwa Ryan mencintainya dan tidak akan pernah membiarkan orang lain masuk ke dalam hubungan mereka.


Setelah itu...


Lisa pergi dan tak berapa lama ryan dan bella pun pergi dari kantor.


Mereka berada di sebuah kafe yang tenang dan nyaman di pusat kota. Lampu-lampu kecil menyala lembut di meja-meja kayu yang tertata rapi. Di luar, hujan gerimis turun dan membasahi trotoar.

__ADS_1


“Maaf Bella, aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu,” kata Lisa dengan nada lembut. “Aku hanya ingin berbagi pengalaman denganmu.”


Bella mengangguk, mencoba menenangkan dirinya sendiri. “Aku tahu, Lisa, Aku seharusnya tidak merasa seperti ini.”


Ryan meletakkan tangannya di atas tangan Bella. “Bella, aku mencintaimu. Aku hanya ingin kamu.”


Bella tersenyum kecil dan menggenggam tangan Ryan. Dia tahu bahwa Ryan berkata jujur, tapi cemburu itu sulit dihindari.


“Sudahlah, mari kita makan,” ujar Ryan sambil membuka menu.


Mereka memesan makanan dan minuman, lalu duduk menunggu pesanan datang. Bella masih diam-diam merenungkan cerita Lisa, berusaha untuk melepaskan perasaan cemburunya.


Tiba-tiba, Ryan bersuara. “Bella, apakah kamu tahu bahwa Lisa sebenarnya sudah punya pacar?”


Bella terkejut. “Apa? Tapi tadi dia bilang—”


Bella merasa lega mendengarnya. Dia tersenyum kecil dan mencoba memikirkan hal lain. “Terima kasih, Ryan. Kamu selalu mengerti aku.”


Makanan mereka pun tiba dan mereka pun mulai makan sambil bercanda dan tertawa. Bella merasa senang kembali bersama Ryan, dan tidak sabar untuk menghabiskan waktu yang lain bersama kekasihnya.


Setelah makan, mereka berjalan-jalan di sekitar kota, menikmati hujan gerimis yang masih turun. Mereka berhenti di sebuah toko buku, dan Bella membeli beberapa novel yang sudah lama ingin dibaca.


“Kita harus kembali ke rumah sekarang,” kata Ryan. “Aku sudah merindukan kasurku sendiri.”


Bella mengangguk dan mereka berjalan menuju mobil Ryan. Mereka menyetir dalam hening, hanya suara hujan dan klakson mobil yang terdengar. Bella merenung tentang cerita Lisa, tapi dia merasa lebih tenang sekarang. Dia tahu bahwa Ryan mencintainya dan tidak akan pernah meninggalkannya untuk orang lain.


Mereka akhirnya tiba di rumah, dan Bella merasa lega. Dia mengeluarkan buku-bukunya dan mulai membaca, sambil menikmati ketenangan malam.

__ADS_1


Ryan terlihat sedikit canggung mendengar pertanyaan itu. Ia mencoba untuk menenangkan Bella dan memastikan bahwa dia tidak perlu khawatir tentang apapun.


Setelah makan siang selesai, Bella dan Ryan kembali ke rumah.


*


*


*


Waktu terus berlalu, Ryan kini telah kembali dari luar kota dan bertemu kembali dengan Bella. Namun, sejak Bella mendengar suara Lisa di telepon Ryan, hubungan mereka terasa sedikit tegang dan Bella merasa curiga terhadap Ryan dan Lisa. Meskipun Ryan mencoba memastikan Bella bahwa tidak ada yang terjadi, Bella tetap tidak bisa menyingkirkan keraguannya.


Suatu hari, saat Ryan dan Bella bersiap-siap untuk pergi ke suatu acara formal, Lisa datang ke kantor Ryan untuk memberikan sebuah dasi yang tertinggal di mobilnya. Bella yang sedang menunggu di mobil, melihat Lisa masuk dan keluar dari kantor Ryan, membuat kecurigaannya semakin tinggi. Saat Ryan masuk ke mobil dan melihat Bella yang terlihat sedikit gelisah, dia langsung bertanya, “Ada yang salah, sayang?”


Bella merespon, “Tidak, tidak ada yang salah.”


Namun Ryan merasakan bahwa ada sesuatu yang mengganggu Bella. “Kau pasti curiga terhadap Lisa,” ujar Ryan, mencoba membuka pembicaraan.


Bella mengangguk perlahan, “Aku tidak tahu, mungkin iya. Aku tahu mungkin aku berlebihan, tapi aku tidak bisa menyingkirkan rasa cemasku.”


Ryan meraih tangan Bella dan menggenggamnya dengan lembut. “Kamu tidak perlu khawatir, sayang. Lisa hanyalah klien yang aku harus bertemu dalam pekerjaanku. Aku memang sudah lama bekerja dengannya dan memang memiliki hubungan kerja yang baik. Tapi aku mencintaimu dan hanya kamu yang ada di dalam hatiku.”


Bella melihat ke mata Ryan dan melihat kejujuran di dalamnya. Dia tahu bahwa Ryan adalah orang yang bisa dipercaya dan memang mencintainya. Akhirnya, Bella mengambil nafas dalam-dalam dan mencoba melepaskan rasa cemasnya.


“Terima kasih sudah memberitahuku, Ryan. Aku tahu aku harus lebih mempercayaimu,” kata Bella.


Ryan tersenyum dan mencium kening Bella. “Kita harus bersama-sama melewati ini. Dan percayalah, aku tidak akan pernah melupakan rasa cinta kita.”

__ADS_1


Mereka melanjutkan perjalanan mereka ke acara formal itu dengan perasaan lega dan rasa cinta yang semakin dalam satu sama lain. Meskipun kecurigaan Bella masih ada, dia memilih untuk mempercayai Ryan dan membiarkan cinta mereka tumbuh bersama-sama.


__ADS_2