Jodoh Terbaik Diusia 25 Tahun

Jodoh Terbaik Diusia 25 Tahun
Ibu ryan datang berkunjung


__ADS_3

Ibu Ryan tiba di rumah Ryan dan Bella pada hari Sabtu pagi, membawa koper besar dan wajah yang cerah. Ryan menyambutnya dengan hangat dan menuntun ibunya masuk ke dalam rumah. Bella juga tersenyum dan menyapa ibu mertuanya.


"Mama, selamat datang di rumah kami. Kami senang bisa menyambut kedatanganmu," ucap Ryan sambil mencium pipi ibunya.


"Iya, aku juga senang bisa berkunjung ke rumah kalian. Apa kabar?" balas ibu Ryan.


Bella menawarkan minuman dan camilan untuk ibu mertuanya, sementara Ryan membantunya membawa koper dan barang-barang lainnya ke kamar tamu.


"Sudah lama sekali tidak bertemu denganmu, Mama," kata Ryan setelah selesai menaruh barang-barang itu.


"Iya, Ryan. Kali ini aku liburan ke Jakarta bersama teman-teman dari padepokan tari," jelas ibu Ryan.


"Oh, bagus sekali. Mama suka menari ya?" tanya Bella.


"Iya, Bella. Aku memang suka menari sejak muda. Dan sekarang, aku belajar menari tradisional. Biasanya aku tampil di acara-acara di kampungku," jawab ibu Ryan.


Ryan tertawa dan berkata, "Wah, kalau begitu Mama bisa mengajari kita menari nanti."


Bella ikut tertawa dan berkata, "Iya, Mama. Aku ingin belajar menari tradisional juga."


Hari itu, mereka berbincang-bincang dan tertawa bersama. Ryan dan Bella senang bisa bersama ibu Ryan, yang selalu membuat suasana menjadi lebih ceria. Namun, di balik senyum dan keceriaan itu, Bella masih merasa khawatir dan sedih tentang foto lama Ryan dan mantan pacarnya.


*


*


*


Bella sibuk di dapur untuk menyiapkan makanan kesukaan ibu Ryan. Dia ingin memberikan yang terbaik untuk ibu mertuanya yang baik hati itu. Bella merasa sedikit gugup karena ini adalah pertama kalinya dia menyiapkan makanan untuk ibu Ryan.


Sementara itu, Ryan membantunya dengan memotong bahan-bahan yang dibutuhkan dan membersihkan dapur. Mereka berdua saling membantu satu sama lain, menciptakan suasana yang hangat di dapur.


"Bella, kamu gugup ya? Jangan khawatir, ibu pasti akan senang dengan makanan yang kamu buat," ujar Ryan sambil tersenyum.


Bella mengangguk, "Iya, aku sedikit khawatir. Ini pertama kalinya aku menyiapkan makanan untuk ibu."


Ryan memeluk Bella dari belakang dan berkata, "Kamu hebat. Aku yakin makanan yang kamu buat akan enak."

__ADS_1


Bella tersenyum dan meneruskan pekerjaannya. Setelah selesai memasak, Bella membawa masakan itu ke meja makan.


"Ibu, ini makanan kesukaanmu. Semoga kamu suka," ucap Bella sambil menaruh mangkuk-mangkuk di meja makan.


Ibu Ryan tersenyum, "Terima kasih banyak, Bella. Kamu baik hati sekali."


Ryan memotong daging dan memberikannya pada ibunya, "Ini, ibu. Coba dulu, enak kan?"


Ibu Ryan mencicipi daging itu dan mengangguk, "Benar-benar enak. Kamu berdua hebat."


Mereka makan bersama dengan penuh sukacita. Suasana di meja makan sangat menyenangkan. Setelah selesai makan, mereka berkumpul di ruang keluarga sambil menikmati secangkir teh hangat.


Mereka berbicara selama beberapa jam, tertawa dan mengenang kenangan lama. Ibu Ryan merasa senang bisa bersama dengan anaknya dan menantu yang baik hati. Bella merasa lega karena hubungannya dengan ibu Ryan menjadi semakin dekat.


Setelah makan malam, Ryan dan Bella duduk bersama dengan ibu Ryan di ruang keluarga. Mereka ngobrol-ngobrol santai tentang kehidupan sehari-hari. Tiba-tiba, ibu Ryan menanyakan tentang anak pada Ryan dan Bella.


“Ryan, kamu dan Bella sudah menikah selama hampir 6 bulan, tapi kapan kalian akan memberikan cucu pada saya?” tanya ibu Ryan dengan nada bercanda.


Ryan merasa terkejut dan sedikit tidak nyaman dengan pertanyaan itu. Ia tahu bahwa istrinya, Bella, belum merasa siap untuk memiliki anak. Namun, dia tidak ingin membuat ibunya kecewa dengan jawaban yang kurang memuaskan.


“Maafkan kami, Ibuk. Kami masih menikmati masa-masa pernikahan kami dan belum siap untuk memiliki anak saat ini,” jawab Ryan dengan sopan.


Namun, ibu Ryan tidak puas dengan jawaban mereka. Ia merasa bahwa sudah saatnya Ryan dan Bella memiliki anak, mengingat usia mereka yang sudah tidak muda lagi.


“Ibu hanya ingin melihat keturunanmu, Ryan. Kamu dan Bella sudah menikah cukup lama. Ibunya juga ingin melihat cucu dari Bella, kamu tahu betapa bahagianya jika melihat cucu,” kata ibu Ryan dengan sedikit nada kesal.


Ryan dan Bella saling pandang. Mereka tahu bahwa ibu Ryan benar-benar ingin melihat cucu dari mereka, tetapi mereka juga tidak ingin terburu-buru dan membuat keputusan yang salah.


“Ibu, kami memahami keinginanmu, tapi kami membutuhkan waktu. Kami akan memberikan kamu cucu ketika kami siap,” kata Ryan mencoba menenangkan ibunya.


Ibu Ryan masih terlihat kesal, namun dia tahu bahwa dia tidak bisa memaksakan kehendaknya pada anaknya dan menantunya. Dia berusaha untuk memahami situasi dan memberikan mereka waktu yang cukup.


“Baiklah, kalau begitu ibu akan sabar menunggu. Tapi, jangan terlalu lama ya,” kata ibu Ryan sambil tersenyum.


Ryan dan Bella merasa lega bahwa mereka berhasil mengatasi konflik ini dengan baik. Namun, mereka juga menyadari bahwa mereka harus mempersiapkan diri dengan lebih matang jika ingin memiliki anak, agar bisa memberikan yang terbaik bagi anaknya kelak.


Tak terasa waktu begitu cepat, akhirnya ibu akan pulang kembali ke rumah nya.

__ADS_1


“ hati – hati ya bu, jaga kesehatan selalu “ ucap ryan dan bella sambil mengantar kan ibu ke mobilnya.


“ iya, jangan lupa nanti kasih kabar baik buat ibu ya, kabar baik tentang cucu ibu” jawab ibu sambil tersenyum.


“ iya bu insyaallah, nanti kami kabari”. Jawab ryan. Lalu ibu pergi dengan mobilnya dan kami pun kembali ke rumah.


*


*


*


Hari berikutnya, Bella terbangun dengan kepala yang masih pening dan lelah. Ia merasa terusik oleh kata-kata ibu Ryan semalam. Saat sarapan pagi, Bella tampak murung dan tidak bersemangat. Ryan melihat hal itu dan bertanya pada istrinya.


“Kamu kenapa, sayang? Masih sakit?” tanya Ryan.


Bella menggeleng pelan. “Tidak, Cuma rasanya kurang enak saja.”


“Mungkin kamu butuh istirahat yang lebih,” saran Ryan.


Bella tersenyum lebar mendengar saran suaminya. Ia benar-benar merasa membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri. Ryan yang peka dengan perasaan istrinya, langsung menyetujuinya dan mengusulkan untuk berlibur di pantai.


“Bagaimana kalau kita pergi berlibur ke pantai untuk beberapa hari?” tawar Ryan.


Bella mengangguk senang. “Bagus ide kamu, Ryan. Aku merindukan suasana pantai dan ombaknya.”


Mereka segera membuat rencana dan memesan tiket pesawat ke destinasi liburan mereka. Semua sudah terorganisir rapih dan kini mereka berdua sudah tiba di pantai yang dipilih.


Dari balkon kamar mereka, mereka dapat melihat pemandangan indah pantai dan suara ombak yang berirama. Suasana sekitar terasa sangat tenang dan damai. Ryan dan Bella bersantai di pantai dan menikmati waktu bersama, tanpa ada pikiran lain. Mereka juga mengunjungi beberapa tempat wisata dan melakukan aktivitas yang menyenangkan.


Saat sore tiba, mereka berdua duduk di tepi pantai, menikmati senja yang indah. Ryan melihat istrinya masih murung dan bertanya, “Kamu masih terusik dengan kata-kata ibuku semalam?”


Bella mengangguk perlahan. “Aku merasa bersalah karena belum bisa memberikan cucu pada ibumu.”


Ryan meletakkan tangannya di atas tangan Bella dan berkata, “Kamu tidak perlu merasa bersalah, sayang. Kita masih punya waktu. Lagipula, keputusan ini bukan hanya tergantung pada kita, tapi juga pada Tuhan Yang Maha Esa.”


Bella tersenyum dan merasa lega mendengar kata-kata suaminya. Ia memang merasa terbebani dengan ekspektasi keluarga Ryan terhadap mereka, terutama dari ibu Ryan.

__ADS_1


“Terima kasih, Ryan. Kamu selalu bisa membuatku merasa lebih baik,” ujar Bella sambil memeluk suaminya.


Mereka berdua lalu kembali menikmati indahnya pantai dan senja yang mempesona. Bella merasa sangat bahagia dan bersyukur memiliki suami yang selalu mendukungnya. Ia tahu bahwa bersama Ryan, ia akan mampu melewati semua rintangan dan masalah yang akan datang.


__ADS_2