Jodoh Terbaik Diusia 25 Tahun

Jodoh Terbaik Diusia 25 Tahun
bertemu lisa


__ADS_3

Bella dan Ryan berdiri di depan pintu ruang perawatan di rumah sakit. Mereka sedang bersiap untuk menjenguk teman Ryan, Irfan, yang telah dirawat di sana selama beberapa hari. Bella menatap Ryan dengan tatapan khawatir di matanya.


"Kamu yakin dia baik-baik saja?" tanyanya khawatir.


Ryan mengangguk dan memeluk Bella. "Irfan kuat. Dia pasti baik-baik saja."


Mereka masuk ke dalam ruangan dan melihat Irfan yang terbaring di tempat tidur dengan infus yang terpasang di tangannya. Irfan tersenyum melihat kedatangan mereka.


"Hey, kalian berdua," sapa Irfan dengan suara lemah.


Bella mendekati tempat tidur Irfan. "Bagaimana kabarmu, Irfan?"


"I'm hanging in there," jawab Irfan sambil tersenyum.


"Mau kita bawakan makanan atau minuman untukmu?" tanya Ryan.


"Tidak perlu, terima kasih. Aku sudah diberi makan oleh perawat," jawab Irfan.


Bella dan Ryan duduk di sisi tempat tidur Irfan dan mulai mengobrol dengan dia. Mereka bercerita tentang kehidupan sehari-hari mereka, pekerjaan, dan keluarga. Mereka mencoba untuk membuat Irfan tertawa dan melupakan sakitnya.


Namun, suasana menjadi hening saat Irfan bertanya tentang kabar anak-anak mereka.


"Bagaimana dengan mu, Ryan? Sudahkah kalian berpikir untuk memiliki anak?"


Bella dan Ryan saling pandang dan tersipu malu. Mereka tidak pernah membicarakan topik itu dengan Irfan sebelumnya.


"Belum, Irfan. Kami belum merasa siap," jawab Ryan dengan suara terbata-bata.


Irfan mengangguk dan tersenyum. "Saya mengerti. Anak-anak bisa menjadi tanggung jawab yang besar. Tapi, ketika saatnya tiba, kalian pasti akan menjadi orang tua yang hebat."


Bella dan Ryan merasa sedikit lega setelah mendengar kata-kata Irfan. Mereka tahu bahwa mereka harus berbicara tentang masa depan mereka lebih serius lagi, tapi saat ini, yang terpenting adalah kesehatan dan kebahagiaan teman mereka.


Setelah beberapa saat, mereka meninggalkan ruang perawatan dengan harapan Irfan cepat sembuh dan pulih sepenuhnya. Bella dan Ryan berjalan keluar dari rumah sakit.


"Mungkin memang waktunya belum tepat, tapi aku yakin suatu saat nanti kita akan siap untuk memiliki anak," kata Ryan.

__ADS_1


Bella mengangguk dan memeluk Ryan. "Aku percaya itu juga. Yang penting, kita akan selalu saling mendukung dan mencintai satu sama lain."


Saat keluar dari rumah sakit, Ryan dan Bella tidak sengaja bertemu dengan Lisa, mantan pacar Ryan, yang sedang menunggu di luar pintu masuk. Mereka saling melihat satu sama lain dan saling memberi senyuman lemah. Lisa tampak terlihat agak berbeda dari waktu terakhir Ryan melihatnya, namun tetap cantik seperti biasa.


"Hey Ryan, lama tidak bertemu," kata Lisa dengan senyuman lemah.


"Hai, Lisa. Ya, memang sudah cukup lama," jawab Ryan dengan ragu.


Bella merasa sedikit gugup dengan kehadiran Lisa, tetapi mencoba tersenyum ramah kepadanya. Lisa menatap Bella, mencoba membaca situasi dan mungkin merasakan ketidaknyamanan Bella.


"Hai, aku Lisa," kata Lisa sambil mengulurkan tangan ke arah Bella.


"Hai, aku Bella," jawab Bella sambil menggenggam tangan Lisa.


Mereka berbincang-bincang singkat dan Ryan memberitahu Lisa tentang temannya, Irfan, yang sedang sakit dan di dalam ruangan perawatan. Setelah itu, mereka berpamitan dan melanjutkan perjalanan pulang.


Setelah mereka sampai di rumah, Bella merasa sedikit gelisah. Dia bertanya kepada Ryan tentang hubungan Ryan dan Lisa dan apakah dia masih memiliki perasaan terhadap mantannya.


"Ryan, kamu baik-baik saja, kan? Apakah kamu masih memiliki perasaan terhadap Lisa?" tanya Bella dengan ragu.


Merka pun akhirnya pulang kerumah.


*


*


*


Ryan dan Bella sedang berjalan-jalan di mal dekat rumah mereka. Bella teringat dengan martabak manis kesukaannya yang selalu ia beli ketika kecil. Ryan yang ingin memenuhi keinginan Bella segera mengajaknya mencari martabak manis tersebut.


Mereka berjalan ke arah sudut mall yang paling terdalam. Bella melihat sebuah toko kecil yang menjual martabak manis. Ryan membuka pintu dan aroma manis langsung menyapa hidung mereka.


"Ini dia Bella, toko martabak manisnya," ujar Ryan sambil menunjuk toko itu.


Bella langsung melangkah masuk ke toko tersebut. Ia melihat penjual martabak yang sedang menggoreng di atas wajan besar. Aroma manis kian kuat tercium olehnya.

__ADS_1


"Halo, apa yang bisa saya bantu?" tanya sang penjual.


"Martabak manis satu, Pak," jawab Bella dengan senyum lebar.


Sang penjual segera meracik adonan martabak manis dan memasukkan beberapa topping kesukaan Bella. Setelah beberapa menit, martabak manis pun siap dihidangkan. Bella dan Ryan langsung memakannya sambil duduk di sebuah meja kecil di depan toko.


"Mmm, enak banget," puji Bella sambil terus memakan martabak manisnya.


Ryan hanya tersenyum melihat kebahagiaan Bella. Setelah selesai, mereka beranjak dari tempat duduk dan bersiap untuk pulang. Namun, tiba-tiba Bella memandangi toko martabak manis tersebut dengan rasa nostalgia.


"Kau tahu Ryan, dulu aku selalu membeli martabak manis di toko ini ketika kecil," ungkap Bella.


"Oh ya? Aku tidak tahu," jawab Ryan.


"Biar kita beli lagi sekali lagi untuk stok di rumah ya, Ryan?" pinta Bella.


"Boleh, sebentar lagi kita akan melewati sini lagi kok," kata Ryan.


Bella dan Ryan pun kembali memasuki toko dan memesan satu lagi martabak manis untuk dibawa pulang. Mereka merasa senang bisa membawa pulang kebahagiaan dalam bentuk martabak manis kesukaan Bella.


Malam itu, Bella dan Ryan makan martabak manis sambil menonton film di rumah mereka. Bella merasa senang bisa memakan makanan favoritnya sambil berada di dekat Ryan. Perlahan Bella merasa ia semakin dekat dengan Ryan, dan ia berharap suatu saat bisa memiliki anak bersama Ryan.


Mereka memilih sebuah film yang disarankan oleh salah satu teman Ryan. Mereka memulai film tersebut dengan semangat tinggi, tetapi setelah beberapa adegan, suasana mulai terasa canggung di antara mereka. Adegan-adegan romantis yang dipertontonkan dalam film tersebut terlalu vulgar dan terasa memaksa.


Bella merasa agak tidak nyaman dengan adegan tersebut dan mulai merasa canggung. Ryan juga merasakan hal yang sama. Meskipun begitu, keduanya berusaha untuk menikmati film tersebut.


“Apa kamu merasa canggung?” tanya Bella dengan ragu.


Ryan mengangguk dan membalas, “Ya, aku juga merasa canggung. Adegan-adegan ini terlalu vulgar dan terasa memaksa.”


Bella mengangguk setuju. “Iya, aku juga merasa sama. Tapi mungkin ini hanya bagian dari film, ya?”


Ryan mengangguk. “Mungkin. Tapi tetap saja, terkadang saya merasa bahwa kebanyakan film romantis terlalu memaksa adegan-adegan vulgar.”


Bella setuju. “Ya, mungkin terkadang kita bisa mengekspresikan rasa cinta dengan cara yang lebih sopan.”

__ADS_1


Keduanya menatap satu sama lain dengan senyum kecil di bibir mereka. Mereka menikmati kebersamaan mereka meskipun merasa canggung dengan adegan-adegan yang terlalu vulgar. Setelah beberapa saat, mereka memutuskan untuk menyelesaikan film tersebut dan beralih ke film yang lebih santai dan lucu untuk menenangkan suasana.


__ADS_2