Jodoh Terbaik Diusia 25 Tahun

Jodoh Terbaik Diusia 25 Tahun
bella masih memikirkan nya


__ADS_3

Hari itu adalah hari yang cerah di kota tempat Bella tinggal. Dia baru saja selesai berbelanja di supermarket dan menuju pulang ketika tiba-tiba dia melihat seseorang yang dikenalinya di jalan. Dia terkejut dan menyadari bahwa itu adalah salah satu teman SMA-nya, Dinda.


“Bella, apa kabar?” kata Dinda sambil tersenyum.


Bella kaget melihat Dinda yang sudah menikah dan memiliki seorang anak. “Wow, kamu sudah menikah dan punya anak, Dinda. Aku belum bisa membayangkan hal itu,” kata Bella dengan sedikit gugup.


“Iya, aku sudah menikah dan punya seorang anak laki-laki yang berusia 2 tahun. Kamu sendiri, Bella? Sudah punya anak ?” tanya Dinda.


Bella menggelengkan kepalanya. “Belum, Dinda. Masih menunggu waktu yang tepat,” jawabnya.


“Mungkin kamu dan Ryan bisa segera memiliki anak,” ujar Dinda.


Mendengar nama Ryan membuat Bella sedikit kaku. “Ryan belum memikirkan itu, Dinda. Dia masih fokus dengan karirnya,” jawab Bella.


“Ah, itu hanya alasan belaka. Kamu harus meyakinkan dia, Bella. Setiap pasangan pasti ingin memiliki anak,” kata Dinda.


Bella merasa sedikit tersinggung. “Kamu tidak mengerti, Dinda. Memiliki anak bukanlah hal yang mudah. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan, seperti keuangan dan kesiapan emosional,” kata Bella.


Dinda mengangguk mengerti. “Maaf, Bella. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Aku hanya ingin kamu bahagia seperti aku,” ujarnya.


Bella tersenyum dan merasa lega. “Tidak apa-apa, Dinda. Terima kasih sudah mengingatkan aku tentang hal ini,” kata Bella.


Dinda tersenyum dan mengucapkan selamat tinggal. Bella melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah, tetapi pikirannya masih dipenuhi oleh percakapan mereka. Dia merasa terdorong untuk memikirkan tentang memiliki anak dan bagaimana cara membicarakannya dengan Ryan.


Bella terus merenungkan pikirannya tentang memiliki anak, dan ia merasa bingung dan tidak yakin apakah dia sudah siap untuk menjadi seorang ibu. Meskipun dia dan Ryan telah menikah selama beberapa tahun, Bella masih merasa ada banyak hal yang perlu dilakukan sebelum dia bisa memikirkan tentang memiliki anak.


Ryan memiliki karir yang sukses dan sibuk, sehingga memiliki anak akan memerlukan perubahan besar dalam gaya hidup mereka. Bella tidak tahu apakah dia siap untuk memberikan waktu dan perhatian yang cukup pada anak, dalam kehidupan rumah tangga.


Namun, di sisi lain, Bella merasa adanya tekanan dari lingkungannya untuk segera memiliki anak. Teman-temannya dan bahkan ibu mertuanya sering menanyakan kapan mereka akan memiliki anak. Bella merasa terjebak di antara keinginannya sendiri dan harapan orang lain.


Suatu hari, ketika Bella sedang berbicara dengan ibunya di telepon, ibunya kembali bertanya tentang keinginan Bella untuk memiliki anak. "Kamu tahu, ibu, aku tidak tahu apakah aku siap untuk memiliki anak," kata Bella dengan jujur. "Aku masih merasa bingung dan tidak yakin."

__ADS_1


Ibu Bella merespons dengan bijaksana, "Itu wajar, sayang. Tidak ada yang bisa mempersiapkan diri sepenuhnya untuk menjadi seorang ibu. Tapi ketika waktu tepat, kamu akan merasa siap. Dan kamu tidak perlu mendengarkan tekanan dari orang lain. Yang penting adalah kalian bertiga merasa siap, kamu, Ryan dan anakmu kelak."


Bella merasa lega mendengar kata-kata bijak ibunya dan merasa lebih yakin untuk mengambil waktu untuk mempertimbangkan kembali keinginannya untuk memiliki anak.


Suatu malam, ketika mereka sedang bersantai di sofa, Bella menarik nafas dalam-dalam dan akhirnya mengajukan pertanyaan itu lagi. "Ryan, apakah kamu pernah berpikir untuk memiliki anak?"


Ryan menatap istrinya, dan Bella bisa melihat kebingungan dalam matanya. "Tentu saja aku pernah berpikir tentang itu," jawabnya akhirnya. "Tapi, aku merasa masih terlalu dini. Kita masih memiliki waktu."


Bella merasa sedikit kecewa dengan jawaban Ryan. Ia merasa bahwa Ryan selalu menunda-nunda pembicaraan tentang memiliki anak. "Tapi, Ryan, aku ingin kita mulai memikirkannya sekarang," kata Bella. "Aku tidak ingin kita menunggu terlalu lama. Kita tidak bisa terus menunda-nunda ini."


Ryan menatap istrinya dengan serius. "Aku mengerti," katanya. "Tapi, aku hanya ingin kita siap sepenuhnya sebelum memulainya. Menjadi orangtua adalah tanggung jawab besar, dan kita harus memastikan bahwa kita siap untuk itu."


Bella mengangguk. Ia juga merasa bahwa menjadi orangtua adalah tanggung jawab besar, dan ia tidak ingin terburu-buru. Namun, ia merasa sedih karena ia telah menunggu lama untuk memiliki anak. Setiap kali ia melihat teman-temannya yang sudah memiliki anak, ia merasa iri dan sedih.


"Mungkin kita bisa mencari tahu lebih banyak tentang apa yang harus kita lakukan untuk mempersiapkan diri kita menjadi orangtua," saran Ryan. "Kita bisa membaca buku atau mengikuti kelas parenting."


Bella mengangguk. Ia merasa senang bahwa Ryan akhirnya membicarakan hal ini dengan serius. Mereka berbicara lebih lama tentang persiapan menjadi orangtua dan apa yang harus mereka lakukan untuk mempersiapkan diri mereka.


Bella merasa lega bahwa mereka akhirnya membicarakan hal ini dengan jujur. Meskipun ia masih merasa sedih karena belum memiliki anak, ia merasa bahwa mereka sedang berada di jalur yang benar. Mereka akan terus membicarakan hal ini dan mempersiapkan diri mereka sampai mereka siap untuk memiliki anak.


Ryan dan Bella sedang duduk santai di ruang tamu setelah makan malam, ketika tiba-tiba bel berbunyi. Ryan segera mengambil telepon genggamnya dan melihat pesan dari salah satu temannya, Fajar, yang berkunjung ke kota dan ingin mampir ke rumah Ryan. Ryan dengan senang hati menyetujuinya dan memberi tahu Bella tentang kedatangan Fajar.


“Sayang, teman saya Fajar akan datang ke sini. Dia ingin mampir sejenak sebelum kembali ke kota,” kata Ryan.


“Teman dari mana?” tanya Bella.


“Dia teman SMA saya dulu. Kami belum pernah ketemu lagi sejak lulus,” jawab Ryan.


Bella mengangguk mengerti, lalu merapikan sofa dan meja kopi di ruang tamu. Beberapa saat kemudian, bel berbunyi lagi dan Ryan pergi ke depan pintu untuk membuka. Bella membungkus kue cokelat yang dia buat untuk Fajar dan menyambutnya dengan senyuman hangat.


Setelah bersalaman dan berpelukan, mereka bertiga kembali ke ruang tamu dan duduk di sofa. Suasana hangat dan akrab segera tercipta, dengan Fajar bercerita tentang kehidupannya di kota dan Ryan dan Bella membagikan pengalaman mereka tentang bekerja dan tinggal di kota.

__ADS_1


“Bagaimana dengan kesibukan mu saat ini, Fajar” tanya ryan


“Aku baru saja memulai bisnis kuliner. Aku membuka sebuah restoran kecil di kota. Kamu harus mencobanya suatu saat nanti,” jawab Fajar dengan senyumnya yang lebar.


Mereka melanjutkan obrolan tentang bisnis kuliner dan Bella menceritakan tentang masakan padang kesukaan ibu Ryan yang mereka makan bersama. Ryan tertawa dan menyatakan bahwa dia juga menyukai masakan padang.


“Nah, besok kita makan malam di restoran Fajar ya,” ajak Ryan.


“Bagus sekali, saya akan membuatkan kalian beberapa hidangan khas yang kami miliki di restoran saya,” kata Fajar dengan antusiasme.


Malam itu berlalu dengan sangat menyenangkan. Mereka tertawa, bercerita, dan menikmati hidangan cokelat buatan Bella. Ketika Fajar pamit untuk pulang, Ryan dan Bella mengantarnya ke pintu dan berjanji untuk bertemu lagi suatu saat nanti. Dan tidak lupa Fajar memberikan kado untuk ryan dan bella.


Bella duduk di sofa dengan sebuah kotak hadiah di pangkuannya. Ryan berdiri di depannya dengan senyum lebar di wajahnya. "Buka kotaknya, sayang," ajaknya.


Bella membuka kotak hadiah itu dan melihat isinya. Dia terkejut melihat lingerie merah muda dengan renda yang indah. "Wow, ini sangat cantik," katanya, masih terkejut dengan hadiah itu.


Ryan tertawa dan duduk di samping istrinya.


Ryan dan Bella saling berpandangan sambil tersenyum malu, Ryan hanya bisa tertawa dan menepuk bahunya.


“Sudahlah, Fajar selalu seperti itu. Kamu tidak perlu memakainya jika tidak suka,” kata Ryan sambil menenangkan Bella.


“Tidak, tidak. Saya suka, tapi saya malu untuk memakainya,” jawab Bella sambil tersenyum.


Bella memegang lingerie itu dan merasakan kainnya yang lembut. "Ini pasti sangat mahal," katanya.


Ryan menggelengkan kepala, iya terlihat mahal.


Bella menatap lingerie itu lagi dan tersenyum. "Mungkin aku akan memakainya untukmu suatu hari nanti," katanya dengan senyum nakal.


Ryan tersenyum dan mencium pipi istrinya. "Aku menunggu hari itu," katanya sambil memeluk Bella.

__ADS_1


Malam itu, mereka tidur dengan senyum di wajah mereka, menunggu hari-hari yang akan datang. Bella merasa beruntung memiliki suami yang peduli.


__ADS_2