
Bella dan Ryan merasa perlu untuk beristirahat dan memulihkan diri setelah beberapa minggu yang sibuk dan melelahkan. Mereka memutuskan untuk melakukan camping di akhir pekan, yang selalu menjadi kegiatan yang mereka nikmati bersama.
Mereka memilih lokasi di hutan nasional yang tidak terlalu jauh dari rumah mereka. Mereka menyiapkan segala keperluan seperti tenda, sleeping bag, peralatan memasak, dan sebagainya. Setelah mempersiapkan segalanya, mereka berangkat pada Sabtu pagi dan tiba di lokasi camping beberapa jam kemudian.
Saat mereka tiba, suasana di sekitar sangat tenang dan damai. Mereka memasang tenda di tepi sungai dan mulai menikmati waktu mereka bersama. Mereka berjalan-jalan di sekitar hutan dan mengagumi pemandangan yang indah. Mereka juga memancing di sungai dan berhasil menangkap beberapa ikan yang kemudian mereka masak di atas api unggun.
Setelah makan malam, mereka duduk di depan api unggun dan memandang bintang-bintang di langit. Ryan menyentuh tangan Bella dan berkata, “Aku sangat menyukai perjalanan ini. Aku merasa sangat dekat denganmu.”
Bella tersenyum dan membalasnya, “Aku juga merasa sama. Kita tidak pernah memiliki waktu untuk hanya berdua seperti ini di kota.”
Ryan mengangkat tangan Bella dan memeluknya erat-erat. “Aku tidak ingin kehilanganmu. Aku sangat mencintaimu.”
Bella terharu dengan kata-kata Ryan dan mencium bibirnya dengan lembut. “Aku juga mencintaimu, Ryan.”
Mereka terus duduk bersama di depan api unggun, berbicara dan tertawa hingga larut malam. Mereka saling bercerita tentang kehidupan mereka, mimpi mereka, dan harapan mereka untuk masa depan.
Ryan kemudian mengeluarkan gitar dan mulai memainkan beberapa lagu. Bella menyanyikan beberapa lagu yang ia sukai dan mereka berdua menikmati waktu yang menyenangkan bersama.
Akhirnya, mereka merasa lelah dan pergi ke dalam tenda untuk tidur. Di dalam tenda, mereka berbaring di dekat satu sama lain dan berbicara dengan suara pelan. Ryan mengatakan, “Kita adalah pasangan yang luar biasa. Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa kamu.”
Bella tersenyum dan membalasnya, “Aku merasa sama, Ryan. Kita adalah pasangan yang kuat dan tidak ada yang bisa memisahkan kita.”
Setelah beberapa jam, mereka akhirnya pergi ke tenda untuk tidur. Mereka merasakan kenyamanan sleeping bag yang hangat dan empuk. Mereka berpelukan erat dan saling mencium sebelum tertidur.
Mereka saling memuji satu sama lain dan berciuman sebelum tertidur. Mereka merasa sangat dekat satu sama lain dan senang bisa menghabiskan waktu bersama di tempat yang indah ini. Mereka merencanakan untuk melakukan perjalanan seperti ini lagi di masa depan.
Keesokan paginya, mereka bangun dan memasak sarapan di atas api unggun. Mereka menikmati waktu bersama-sama, menghirup udara segar dan menikmati keindahan alam. Setelah sarapan, mereka membersihkan lokasi camping dan kembali ke rumah dengan perasaan yang segar dan tenang setelah menghabiskan waktu bersama di alam bebas.
Bella berkata, “Terima kasih sudah membawa aku camping, Ryan. Ini sungguh merupakan pengalaman yang menyenangkan dan membuatku merasa segar kembali.”
Ryan menjawab, “Senang bisa membawa kamu kesini, Bella. Aku selalu merasa tenang dan damai saat kita berada di alam bebas bersama-sama. Kita harus melakukannya lebih sering di masa depan.”
Bella setuju dan mereka tersenyum satu sama lain, merasa bersyukur untuk memiliki satu sama lain dan untuk keindahan alam yang mengelilingi mereka.
*
__ADS_1
*
*
Bella berdiri di dapur rumah mereka, sibuk mengiris bahan-bahan untuk memasak makan malam. Ryan sedang sibuk bekerja di kantor dan Bella ingin menyenangkan suaminya dengan masakan yang lezat. Tiba-tiba, Bella merasakan sebuah sakit menusuk di jari telunjuknya. Pisau yang digunakannya untuk mengiris bawang tadi tergelincir dan melukai jarinya.
“Aduh!” pekik Bella kesakitan sambil memegang jari yang terluka.
Dia melihat jari telunjuknya yang berdarah, dan tiba-tiba merasa sedih. Bella merasa sedikit kesepian di rumah sendirian saat Ryan tidak ada di sana. Namun, dia mengusir pikiran negatif itu dan mulai memikirkan cara untuk merawat jarinya yang terluka.
Bella pergi ke wastafel dan mencuci jari telunjuknya dengan air dingin. Lalu, dia mengambil plester dari kotak obat di laci dapur dan membalut jari yang terluka. Ketika dia melihat darah di plester, Bella merasakan sedih dan kesepian kembali.
Tapi tiba-tiba, ponselnya berdering. Bella meraih ponselnya dan melihat nama Ryan di layar.
“Halo, sayang,” sapa Bella sambil tersenyum.
“Hai, Bella. Bagaimana keadaanmu?” tanya Ryan.
“Baik-baik saja. Aku sedang memasak makan malam untuk kita berdua. Tapi aku teriris pisau tadi,” jawab Bella dengan nada kecewa.
“Kamu bisa pulang lebih cepat hari ini, dan makan malam bersama-sama. Aku merindukanmu,” balas Bella dengan lembut.
“Tentu saja, aku akan segera pulang. Aku merindukanmu juga. Aku mencintaimu, Bella,” kata Ryan dengan penuh cinta.
Mendengar kata-kata itu, Bella merasa sedikit lebih baik. Dia tahu bahwa dia tidak perlu merasa kesepian ketika dia memiliki suami yang mencintainya seperti Ryan.
Setelah menyelesaikan panggilan telepon, Bella kembali ke dapur dan melanjutkan memasak makan malam. Tiba-tiba, pintu depan terbuka, dan Ryan masuk ke dalam rumah.
“Hai, sayang,” sapa Ryan dengan senyum lebar.
“Hai, Ryan,” balas Bella, lalu menatap suaminya dengan tatapan penuh cinta.
Ryan mencium pipi Bella dan kemudian melihat jari telunjuknya yang terluka.
“Aduh, kau baik-baik saja?” tanya Ryan dengan perhatian.
__ADS_1
“Iya, aku baik-baik saja. Aku merindukanmu,” ucap Bella dengan tersenyum.
“Aku juga merindukanmu, Bella. Dan aku punya kejutan untukmu,” ucap Ryan sambil menunjukkan bungkusan kecil yang ia bawa.
Bella membuka bungkusan itu dan menemukan selembar kertas yang berisi tiket konser band favoritnya.
"Ryan, kamu luar biasa. Aku sudah menunggu untuk konser ini selama bertahun-tahun," ujar Bella sambil memeluk Ryan.
"Tentu saja, sayang. Aku ingin kamu bahagia dan merasa dicintai," ucap Ryan sambil mencium kening Bella.
Bella sangat bahagia dan merasa sangat dicintai. Ryan selalu memberikan perhatian dan kejutan kecil yang membuat hatinya berdebar-debar.
Lalu mereka makan malam dan setelah nya.....
Bella dan Ryan baru saja selesai makan malam di rumah mereka. Saat sedang mencuci piring, Ryan melihat Bella memegang tangannya dengan wajah yang kesakitan. "Kamu terluka?" tanyanya dengan cemas.
"Iya, tadi waktu memotong sayur tangan saya teriris," jawab Bella sambil meremas jari yang terluka.
Ryan segera menghampiri Bella dan melihat luka pada jarinya. "Kasihan, kamu harus segera diobati," ujarnya.
Bella menggeleng, "Tidak apa-apa, nanti besok pasti sembuh sendiri."
Ryan tidak ingin membiarkan luka itu terus terbengkalai, dia kemudian mengambil obat merah dan kasa dari laci dapur dan mulai membalut jari Bella. "Kamu harus menjaga luka ini agar tidak terkena air atau kotoran, supaya cepat sembuh," katanya sambil membalut dengan hati-hati.
Bella tersenyum terharu. "Terima kasih, sayang. Kamu selalu perhatian padaku," ucapnya sambil menatap mata Ryan dengan penuh cinta.
Ryan tersenyum dan mencium kening Bella. "Tentu saja, kamu sangat berarti bagi saya," ujarnya dengan lembut.
Mereka kemudian duduk di sofa, menikmati kebersamaan mereka sambil menonton acara televisi. Bella merasa sangat nyaman berada di dekat Ryan, dia merasa seperti sedang berada di pelukan keamanan dan cinta.
"Kamu tahu, sayang, kamu selalu membuat hari-hariku menjadi lebih baik," ucap Bella sambil menatap Ryan dengan penuh kasih.
Ryan tersenyum bahagia mendengar ucapan Bella. "Sama-sama, kamu juga membuat hidupku penuh warna," balasnya sambil memandangi mata Bella.
Mereka kemudian berpelukan erat, merasakan kehangatan tubuh satu sama lain. Bella merasa sangat beruntung memiliki seorang pria seperti Ryan di sampingnya, seseorang yang selalu perhatian dan selalu membuatnya merasa istimewa.
__ADS_1
Waktu terus berjalan, tapi mereka tidak merasa bosan atau lelah bersama-sama. Mereka saling menemukan kebahagiaan dan kehangatan di setiap momen yang mereka habiskan bersama. Hingga akhirnya mereka merasa sangat lelah dan memutuskan untuk tidur bersama-sama di atas sofa, dalam pelukan yang hangat dan cinta yang tulus.