
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam dan Bella duduk sendirian di sofa ruang tamu. Ryan belum juga pulang dari kantornya. Sebenarnya, Ryan seharusnya sudah pulang pukul 7 sore, tapi dia memberi tahu Bella bahwa dia harus mengantar Lisa, rekan kerjanya, pulang terlebih dahulu. Bella merasa agak cemas karena Ryan belum juga memberitahu keberadaannya. Dia mencoba menghubungi Ryan tapi tidak diangkat.
Beberapa menit kemudian, Bella memutuskan untuk melihat handphone Ryan yang ditinggalkannya di meja. Setelah membuka handphone itu, Bella melihat pesan Whatsapp dari Lisa dengan panggilan sayang “Ian”. Bella menjadi curiga dan merasa tidak nyaman. Dia tidak pernah mendengar Ryan dipanggil “Ian” sebelumnya, dan lebih buruk lagi, panggilan sayang itu datang dari rekan kerja Ryan yang selalu dia curigai sejak pertama kali bertemu dengannya.
Bella merasa marah dan sedih. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Apakah dia harus memanggil Ryan dan menunjukkan pesan itu padanya atau menunggu Ryan pulang dan menanyakan langsung padanya? Bella memutuskan untuk menunggu Ryan pulang dan mencari tahu alasan di balik panggilan sayang itu.
Setelah setengah jam, Bella mendengar suara mobil Ryan memasuki garasi rumah. Dia pergi ke depan pintu untuk menemui Ryan, yang kelihatan kelelahan setelah seharian bekerja. Namun, sebelum Bella sempat membuka mulutnya, Ryan berkata, “Maafkan aku, sayang. Lisa ada masalah, jadi aku harus menemaninya pulang.”
Bella merasa terkejut dan kesal karena Ryan tidak memberitahunya tentang hal itu. Namun, dia mencoba tetap tenang dan mengeluarkan handphone Ryan yang menunjukkan pesan dari Lisa. Ryan terlihat terkejut melihat handphone itu dan mencoba menjelaskan bahwa panggilan sayang itu tidak bermaksud apa-apa dan hanya kebiasaan di kantor.
Bella tidak tahu apakah dia harus mempercayai penjelasan Ryan atau tidak. Dia merasa terluka dan tidak nyaman dengan situasi ini. “Kenapa kamu tidak memberitahuku?” tanyanya dengan nada kesal.
Ryan meminta maaf dan mengatakan bahwa dia tidak ingin membuat Bella khawatir. “Aku hanya ingin menyelesaikan masalah Lisa secepat mungkin,” kata Ryan.
Bella masih merasa tidak yakin. Dia mencoba menjelaskan perasaannya pada Ryan. “Aku merasa tidak nyaman ketika melihat pesan itu. Aku merasa kamu menyembunyikan sesuatu dari aku,” katanya.
Ryan mencoba meyakinkan Bella bahwa dia tidak menyembunyikan apapun darinya. Namun, Bella masih merasa tidak yakin dan cemas. Dia tidak tahu harus berbuat apa selanjutnya. Apakah dia harus mempercayai Ryan atau mencari tahu kebenaran dari Lisa? Dia merasa terjebak dalam konflik yang rumit dan tidak tahu bagaimana harus menyelesaikannya.
Bella duduk sendirian di sofa, membiarkan pikirannya melayang-layang jauh. Dia masih memikirkan apa yang dia lihat di ponsel Ryan malam sebelumnya, pesan dari Lisa yang memanggil Ryan dengan panggilan sayang “Ian”. Bella tahu dia tidak seharusnya melihat pesan itu, tetapi dia tidak bisa menghindari rasa keingintahuannya.
Sekarang, Bella merenung, berusaha mencari jawaban dari rasa cemas dan kekhawatirannya. Dia tahu bahwa Ryan dan Lisa adalah mantan ryan, tapi dia tidak pernah merasa cemas seperti ini sebelumnya. Dia tahu bahwa dia harus menghadapi Ryan dan berbicara dengan jujur tentang perasaannya, tapi dia takut dengan konsekuensi dari percakapan itu.
Setelah beberapa saat, Ryan akhirnya tiba di rumah. Bella berusaha untuk tersenyum ketika dia melihat Ryan, tetapi hatinya merasa berat. Ryan melihat Bella dan mencoba untuk menciumnya, tetapi Bella menghindar.
“Ada yang salah?” tanya Ryan.
Bella menggelengkan kepala, “Tidak, hanya sedikit lelah.”
“Kamu yakin?” Ryan bertanya lagi.
Bella mengangguk, “Ya, aku baik-baik saja.”
Mereka duduk bersama di sofa, tetapi suasana menjadi canggung. Bella berusaha mencari keberanian untuk berbicara, tetapi kata-kata tidak keluar dari mulutnya.
“Apa kamu ingin menonton film?” Ryan bertanya, mencoba untuk mengalihkan perhatian.
Bella mengangguk, “Ya, itu baik.”
Mereka memilih film dan menonton bersama. Tetapi Bella tidak bisa berkonsentrasi pada film, pikirannya masih tertuju pada pesan Lisa. Dia merasa tersesat, tidak tahu harus berbuat apa.
Setelah film berakhir, Ryan mencoba untuk berbicara dengan Bella lagi. “Kamu tadi bilang kamu lelah, mungkin kamu perlu istirahat.”
Bella menggelengkan kepala, “Tidak, aku masih ingin berbicara denganmu.”
Ryan merasa sedikit lega mendengar itu, “Tentang apa?”
Bella menghela napas dan akhirnya berbicara, “Aku melihat pesan dari Lisa di ponselmu. Dia memanggilmu dengan panggilan sayang ‘Ian’.”
Ryan terdiam sejenak, tampak terkejut oleh pengakuan Bella. “Oh,” dia berkata akhirnya, “Itu karena dulu kami mempunyai kode panggilan seperti itu ketika kami masih berhubungan”.
Bella merasa sedikit lega mendengar itu, tetapi masih merasa tidak yakin. “Apakah kamu yakin tidak ada yang terjadi antara kamu dan Lisa?”
Ryan merasa sedikit terganggu, “Tentu saja tidak, Bella. Lisa adalah teman baikku, tetapi aku hanya mencintaimu.”
Bella menatap mata Ryan dan merasa lega. Dia tahu bahwa dia bisa mempercayai Ryan dan dia merasa bersyukur memiliki dia dalam hidupnya. Mereka saling tersenyum dan mencium satu sama lain, merayakan kembali cinta mereka.
*
*
*
Setelah beberapa hari berlalu, Bella mulai merasa sakit, kehilangan nafsu makan dan sulit untuk berpikir jernih.
Ryan merasa khawatir dengan kondisi Bella yang semakin hari semakin buruk. “Bella, kamu tidak terlihat sehat. Apa yang terjadi? Apakah kamu sakit?” tanyanya khawatir.
Bella mencoba tersenyum, “Tidak apa-apa, Ryan. Aku hanya merasa sedikit lelah.”
Ryan tidak percaya dengan alasan Bella, “Bella, aku tahu kamu lebih dari itu. Apa yang terjadi?”
Bella merasa sedikit takut untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. “Ryan, aku hanya merasa sedikit cemas tentang hubungan kita. Aku melihat pesan dari Lisa di handphonemu, dan itu membuatku khawatir.”
Ryan merasa lega setelah mengetahui apa yang membuat Bella merasa sedih, “Bella, kamu tidak perlu khawatir tentang Lisa. Dia hanya teman lama saya. Aku mencintaimu, Bella, dan kamu satu-satunya yang ada dalam hatiku.”
__ADS_1
Bella merasa sedikit lega setelah mendengar kata-kata dari Ryan, “Terima kasih, Ryan. Aku percaya padamu.”
Ryan mencium kening Bella dengan lembut, “Jangan khawatir lagi, Bella. Aku di sini untukmu dan aku selalu mencintaimu.”
Bella merasa tenang setelah mendengar kata-kata dari Ryan dan merasa lebih baik. Dia memutuskan untuk tidak memikirkan tentang Lisa lagi dan fokus pada hubungan mereka.
Beberapa hari kemudian, Bella merasa lebih baik dan sehat kembali. Dia mulai bekerja lagi dan menikmati waktu bersama Ryan. Mereka melakukan hal-hal yang mereka sukai bersama-sama dan Bella merasa senang.
Suatu malam, ketika mereka duduk di depan perapian, Ryan berkata, “Bella, aku tahu kamu khawatir tentang Lisa sebelumnya. Tapi, aku ingin kamu tahu bahwa aku mencintaimu, Bella. Kamu adalah orang yang membuatku bahagia dan aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpamu.”
Bella merasa bahagia mendengar kata-kata dari Ryan dan menciumnya dengan lembut, “Aku mencintaimu juga, Ryan. Kamu membuat hidupku lebih baik dan aku tidak ingin kehilanganmu.”
Ryan dan Bella kemudian melanjutkan malam mereka bersama-sama, menikmati waktu yang mereka miliki bersama-sama. Mereka menghabiskan malam itu dengan tertawa dan berbicara tentang masa depan mereka bersama-sama.
Akhirnya, Bella belajar untuk mempercayai Ryan dan tidak memikirkan tentang Lisa lagi. Mereka tetap bahagia bersama-sama dan mencintai satu sama lain setiap hari.
*
*
*
Ryan berjalan masuk ke dalam kamar dengan hati yang penuh kekhawatiran. Ia melihat Bella yang terbaring lemah di atas tempat tidur dengan wajah yang murung dan lesu. Ryan tahu bahwa Bella sedang dilanda rasa cemas yang sangat berat. Ia duduk di samping Bella, mengambil tangannya dan mengusap lembut.
"Bella, aku khawatir denganmu. Kau harus berbicara denganku," kata Ryan dengan suara lembut.
Bella menatap Ryan dengan mata yang sayu. Ia merasakan kehangatan tangan Ryan dan itu membuatnya merasa lebih baik. "Ryan, aku tidak bisa menahan perasaan cemasku lagi. Aku terus memikirkan Lisa dan hubungannya denganmu. Aku takut kau pergi meninggalkanku untuknya," kata Bella dengan suara lirih.
Ryan menggenggam tangan Bella dengan lebih erat dan mengatakan, "Bella, kau tahu bahwa aku mencintaimu, dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu untuk siapa pun. Kau adalah orang yang sangat berarti bagi diriku dan aku akan selalu ada untukmu."
Bella tersenyum kecil mendengar kata-kata Ryan. Ia merasa lega dan tenang. Namun, rasa cemasnya tidak hilang begitu saja. Ryan tahu itu, dan ia mencoba melakukan sesuatu untuk membuat Bella merasa lebih baik.
"Bagaimana kalau kita menghabiskan waktu bersama-sama dan melakukan sesuatu yang kita sukai?" tanya Ryan.
Bella mengangguk lemah. "Baiklah," jawabnya.
Ryan bangkit dari tempat duduknya dan mengulurkan tangannya untuk membantu Bella bangun. Mereka berjalan bersama keluar dari kamar dan masuk ke ruang keluarga. Ryan membuka kotak berisi permainan papan dan menunjukkan permainan catur pada Bella.
"Bisakah kita bermain catur bersama-sama?" tanya Ryan.
Waktu berlalu begitu cepat, dan mereka terus bermain hingga malam tiba. Ryan bangkit dari tempat duduknya dan mengambil secangkir teh untuk Bella.
"Bagaimana perasaanmu sekarang, Bella?" tanya Ryan dengan lembut.
Bella menatap Ryan dan mengatakan, "Aku merasa lebih baik sekarang. Terima kasih sudah bersamaku dan membuatku merasa lebih tenang."
Ryan tersenyum dan mencium kening Bella. "Aku selalu ada untukmu, Bella. Kau tahu itu."
Mereka berpelukan dan saling mencium. Bella merasa sangat bahagia di pelukan Ryan. Ia tahu bahwa ia memiliki seseorang yang selalu mendukungnya dan mencintainya. Mereka merasa senang bisa bersama-sama dan menghabiskan waktu bersama-sama.
Selanjut nya bella.....
Bella merasa sangat cantik dan seksi saat memakai lingerie merah kesayangannya. Ia sengaja memakainya untuk merayu Ryan yang sedang berada di kamarnya. Ryan sedang duduk di atas tempat tidur, membaca buku ketika Bella masuk ke dalam kamar.
“Malam, sayang,” ucap Bella sambil tersenyum manis.
“Malam, sayang juga. Wah, kamu cantik sekali malam ini,” balas Ryan sambil menatap Bella dengan penuh cinta.
Bella merasa senang mendengar pujian Ryan, ia menghampiri Ryan dan duduk di sebelahnya di atas tempat tidur. Mereka bercanda dan bermesraan sambil menonton film romantis yang sedang diputar di televisi.
Tiba-tiba Bella meraih buku yang sedang dibaca oleh Ryan dan melemparkannya ke samping. Ryan pun langsung memeluk Bella dengan penuh kasih sayang. Mereka saling memandang dan bibir mereka pun bertemu dalam ciuman yang penuh gairah.
Ryan mencium leher Bella dan tangan kanannya mulai meraba-raba bagian atas paha Bella. Bella menggigit bibirnya dan merapatkan tubuhnya ke arah Ryan. Mereka mulai merayu dan berciuman dengan penuh gairah, lama kelamaan semakin intens.
Sampai akhirnya mereka berhenti dan saling tersenyum dengan rasa puas. Bella merasa lelah dan melemparkan dirinya ke atas tempat tidur, sedangkan Ryan menggenggam erat tangan Bella dan duduk di sebelahnya.
“Kamu lelah ya, sayang?” tanya Ryan sambil mengelus rambut Bella yang masih berkeringat.
“Iya, aku capek,” jawab Bella sambil tersenyum kelelahan.
“Mau istirahat dulu atau makan malam dulu?” tanya Ryan sambil menatap Bella dengan penuh kasih sayang.
“Aku lapar, mungkin kita bisa makan dulu,” jawab Bella dengan senyum lelahnya.
__ADS_1
Ryan dan Bella kemudian bangkit dan keluar dari kamar menuju ke dapur untuk makan malam. Di dapur, mereka menikmati hidangan yang sudah disiapkan sebelumnya oleh Bella. Mereka bercerita tentang kegiatan masing-masing hari itu dan tertawa bersama-sama.
Setelah makan malam, mereka kembali ke kamar dan Ryan membantu Bella membuka resleting lingerie merah yang dipakainya. Bella kemudian mengenakan piyama dan berbaring di atas tempat tidur dengan mata yang semakin berat.
Ryan pun ikut berbaring di samping Bella dan merangkulnya dengan penuh kasih sayang. Mereka saling memandang dengan tangan saling berpegangan dan mulai merasa kantuk.
“Tidur yang nyenyak ya, sayang,” ucap Ryan sambil mencium kening Bella.
“Iya, kamu juga ya,” balas Bella sambil tersenyum ke arah Ryan.
Mereka pun berdua terlelap dalam pelukan satu sama lain. Suasana kamar menjadi begitu tenang dan hening, hanya terdengar suara napas mereka yang teratur dan
*
*
*
Bella merasa ada yang berbeda dengan tubuhnya, ia merasakan beberapa gejala seperti mual dan lelah yang terus berlanjut selama beberapa hari. Bella mencoba mengabaikan gejala tersebut, menganggap bahwa itu hanya karena dia terlalu banyak bekerja, belakangan ini. Namun, suatu malam, Bella merasa sangat tidak enak badan dan memutuskan untuk membeli alat tes kehamilan di apotek terdekat.
Bella tidak sabar untuk memeriksa hasilnya, sehingga dia memutuskan untuk melakukan tes segera setelah sampai di rumah. Setelah beberapa menit menunggu, hasilnya keluar dan Bella terkejut saat melihat dua garis merah yang jelas terlihat di alat tes kehamilan itu. Dia merasa campur aduk, bahagia dan sedikit takut, karena ia tidak pernah membayangkan bahwa ia akan menjadi seorang ibu.
Bella merasa berdebar-debar ketika akhirnya memutuskan untuk memberitahu Ryan bahwa dia hamil. Mereka telah berbicara tentang memiliki anak sebelumnya, tetapi kenyataan bahwa sekarang dia benar-benar hamil membuatnya merasa sedikit cemas.
Ryan dan Bella sedang berada di restoran favorit mereka ketika Bella memutuskan untuk mengungkapkan berita besar itu. Mereka sedang makan malam romantis dan suasana restoran yang tenang memberikan nuansa intim yang sempurna.
“Ryan,” kata Bella dengan suara lembut sambil menatap mata Ryan, “Aku punya kabar yang baik untukmu.”
Ryan merasa penasaran dan bertanya-tanya tentang apa yang ingin dikatakan Bella.
“Apa itu, sayang?” tanya Ryan sambil tersenyum.
Bella mengambil napkin dan mulai mengelap bibirnya dengan perlahan. Dia merasa gugup dan sulit untuk menemukan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan berita ini.
“Aku...aku hamil, Ryan,” kata Bella akhirnya.
Ryan terkejut dan matanya melebar. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa selain terkejut.
“Kamu serius?” tanya Ryan.
“Ya, aku sudah memeriksakan diri ke dokter dan dia memastikan itu. Kita akan memiliki bayi,” jawab Bella dengan senyum bahagia di wajahnya.
Ryan mengambil tangan Bella dan menciumnya lembut.
“Ini adalah kabar terbaik yang pernah kudengar, Bella. Aku sangat senang,” kata Ryan sambil tersenyum lebar.
Bella merasa lega dan bahagia mendengar reaksi Ryan. Mereka berbicara tentang bagaimana hidup mereka akan berubah dengan kehadiran bayi baru dan merencanakan masa depan mereka bersama.
Beberapa minggu kemudian, Ryan dan Bella pergi ke dokter kandungan untuk memeriksa kesehatan janin mereka. Mereka sangat bahagia ketika mendengar detak jantung bayi yang sehat dan melihat gambar ultrasound pertama mereka.
Sementara itu, Bella mulai merasakan gejala-gejala kehamilan seperti mual dan kelelahan yang terus-menerus. Ryan memperhatikan perubahan di tubuh Bella dan mencoba membantunya dengan menangani tugas-tugas rumah tangga dan memasak.
“Hai sayang, bagaimana perasaanmu hari ini?” tanya Ryan saat Bella sedang duduk di sofa sambil mengelus perutnya.
“Aku merasa lelah dan mual lagi, tapi aku akan baik-baik saja,” jawab Bella.
Ryan memeluk Bella dan mencium kepalanya.
“Jangan khawatir, aku akan selalu ada untukmu. Kita akan menjalani ini bersama-sama,” kata Ryan dengan penuh kasih sayang.
Bella merasa sangat bersyukur memiliki Ryan yang selalu mendukung dan memperhatikan dia selama kehamilan mereka. Mereka terus berbicara tentang bayi mereka dan merencanakan masa depan mereka bersama.*
*
*
*
Ryan meraih tangan Bella dan membisikkan, “Saya sangat bahagia, sayang. Kita akan menjadi keluarga yang indah.”
Namun, Bella masih merasa cemas dan takut tentang masa depan. Dia berbicara dengan lirih, “Aku khawatir tentang Lisa. Aku tidak ingin ada drama di antara kita dan aku tidak ingin dia memisahkan kita.”
Ryan memeluk Bella erat-erat dan berkata dengan tegas, “Jangan khawatir tentang Lisa, sayang. Dia tidak memiliki tempat di hatiku. Kamu dan bayi kita adalah yang terpenting bagiku. Kami akan bersama-sama dan melalui semuanya bersama.”
__ADS_1
Nantikan kelanjutan nya di series yang kedua ya, terima kasih sudah membaca.