
Bella duduk di depan meja ryan yang sedang kosong, sambil membersihkan beberapa kertas yang berantakan. Dia menyapu tumpukan kertas kecil ke dalam keranjang sampah, dan ketika dia mengambil stapler untuk menata beberapa kertas yang masih rapi, dia melihat sebuah foto yang terjepit di antara dua lembaran kertas. Bella meraih foto itu dan mendekatkan wajahnya untuk melihat dengan jelas.
Foto itu menunjukkan ryan bersama seorang wanita cantik. Bella mengenali wanita itu dari cerita-cerita ryan tentang mantan pacarnya, Lisa. Ryan tersenyum bahagia di sampingnya, sementara Lisa memeluknya erat-erat.
Bella merasa tidak nyaman saat melihat foto itu. Dia berdiri dan berjalan ke sofa, menggenggam foto tersebut dengan erat. Bella berpikir, "Apakah ryan masih menyimpan perasaan untuk Lisa?".
Ketika ryan pulang ke rumah, Bella mengajak ryan ke ruang tamu dan menunjukkan foto tersebut. "Ini foto apa, Ryan?" tanyanya dengan suara gemetar.
Ryan kaget melihat foto tersebut dan menyadari kesalahan besar yang telah dilakukannya dengan menyimpan foto tersebut. Dia merasa sangat menyesal dan berusaha menjelaskan semua kejadian saat itu.
"Maafkan aku Bella, aku tidak bermaksud menyimpan foto itu. Aku tidak pernah ingin melihatnya lagi. Aku sangat bahagia bersamamu dan tidak pernah memikirkan Lisa lagi," ujarnya dengan tulus.
Namun, Bella tetap merasa tidak yakin dan cemburu. "Aku tidak tahu, Ryan. Aku merasa tidak nyaman dengan keberadaan foto ini," katanya.
Ryan merasa sedih dan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dia mencoba meyakinkan Bella bahwa dia hanya mencintai Bella dan tidak pernah memikirkan Lisa lagi, tetapi Bella masih merasa tidak yakin.
Mereka berbicara selama beberapa jam, dan Ryan berusaha meyakinkan Bella dengan cara apapun. Dia menunjukkan bahwa Bella adalah yang terpenting dalam hidupnya dan bahwa dia tidak ingin kehilangan Bella.
Setelah beberapa saat, Bella akhirnya merasa tenang dan menerima penjelasan Ryan.
Beberapa hari kemudian setelah kejadian itu
Bella menghabiskan malamnya dengan gelisah. Dia terus memikirkan foto lama Ryan bersama mantan pacarnya, Lisa, yang ditemukan di ruang kerja Ryan. Bella merasa khawatir dan tidak bisa tidur nyenyak. Dia akhirnya memutuskan untuk bangun dari tempat tidurnya dan mencari Ryan yang masih berada di ruang kerja.
Bella mengetuk pintu ruang kerja Ryan dan dia meminta izin untuk masuk. Ryan yang sedang duduk di depan komputer terkejut ketika melihat Bella di depannya. “Ada apa, sayang? Kamu tidak bisa tidur?” tanya Ryan.
Bella mengangguk pelan dan menunjukkan foto lama Ryan bersama Lisa yang dia temukan waktu itu. “Ryan, kenapa kamu masih menyimpan foto ini? Apakah kamu masih memiliki perasaan untuk Lisa?” tanya Bella dengan suara gemetar.
Ryan tersenyum kecil. Dia meraih tangan Bella dan menariknya duduk di sebelahnya. “Tentu tidak, sayang. Saya hanya menyimpan foto ini karena ini adalah kenangan masa lalu saya. Saya tidak memiliki perasaan untuk Lisa lagi, saya sangat mencintaimu,” kata Ryan dengan lembut.
Bella merasa lega mendengar perkataan Ryan. Dia mengelus tangan Ryan dan mengatakan, “Maafkan aku, Ryan. Aku hanya khawatir dan merasa cemburu.”
Ryan menatap mata Bella dengan penuh kasih sayang. “Tidak perlu minta maaf, sayang. Aku mengerti perasaanmu dan aku sangat mencintaimu,” kata Ryan.
__ADS_1
Bella tersenyum lebar dan merasa lega. Dia merangkul Ryan dan mereka saling berpelukan. Mereka tahu bahwa setiap hubungan memiliki masa lalu, namun yang terpenting adalah bagaimana mereka bisa membangun masa depan bersama.
“ cemburu itu wajar sayang asal tidak berlebihan.” Ucap ryan kepada bella.
Mereka akhirnya kembali ke tempat tidur dan Bella akhirnya bisa tidur nyenyak. Dia tahu bahwa dia bisa mempercayai Ryan sepenuhnya dan dia sangat mencintainya.
Ryan merasa sedih dan bersalah ketika melihat Bella sedang merasa khawatir dan gelisah tentang foto lamanya dengan Lisa. Dia memutuskan untuk mengambil tindakan untuk membuat Bella merasa lebih baik.
Setelah pulang dari kerja, Ryan pergi ke toko perhiasan terdekat dan memilih kalung berlian yang indah untuk Bella. Dia tahu Bella selalu ingin memiliki kalung berlian dan dia berharap itu bisa membawa senyuman di wajahnya.
Ketika dia tiba di rumah, Bella sedang duduk di sofa dengan tatapan kosong di wajahnya. Ryan berjalan ke arahnya dan duduk di sebelahnya.
"Sayang, aku tahu kamu masih memikirkan foto itu, dan aku merasa bersalah. Aku ingin membuatmu merasa lebih baik. Ini untukmu," kata Ryan sambil memberikan kotak kecil berisi kalung berlian itu pada Bella.
Bella terkejut dan senang dengan hadiah itu. Dia membuka kotak dan melihat kalung berlian yang indah di dalamnya. Air matanya mulai menetes dan dia memeluk Ryan.
"Terima kasih sayang, ini sangat indah. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan," ucap Bella.
"Tidak perlu mengucapkan apa-apa. Aku ingin membuatmu bahagia dan aku berharap ini bisa membuatmu merasa lebih baik," kata Ryan sambil mengusap punggung Bella dengan lembut.
*
*
*
Hari itu adalah hari Senin yang cerah di bulan Mei. Pukul 10 pagi, Ryan sedang sibuk di ruang kerjanya yang terletak di lantai dua rumah mereka yang besar. Bella masih di dapur mempersiapkan sarapan pagi. Tiba-tiba telepon rumah berdering, Bella segera menjawab telepon tersebut.
"Assalamualaikum," sapa Bella sopan.
"Waalaikumsalam, Bella. Ini ibu Ryan," balas suara wanita tua di seberang telepon.
"Ibu, ada kabar apa ya?" tanya Bella penasaran.
__ADS_1
"Iya, Bella. Aku mau memberitahu kamu dan Ryan kalau aku bakal datang ke rumah kalian dalam tiga hari lagi," jawab ibu Ryan.
"Oooh, begitu ya ibu. Baiklah kami tunggu kedatangan ibu nanti," ujar Bella.
"Makasih, Bella. Nanti aku hubungi Ryan untuk keterangan lebih lanjut. Assalamualaikum," ucap ibu Ryan sebelum menutup telepon.
Bella segera menginformasikan kedatangan ibu Ryan ke suaminya yang masih sibuk di ruang kerjanya.
"Ryan, ibumu bakal datang ke sini dalam tiga hari lagi. Dia bilang akan menghubungimu untuk keterangan lebih lanjut," ucap Bella.
Ryan mengangguk sambil tersenyum. "Baiklah, nanti aku bicara dengan ibuku. Kamu sudah sarapan, sayang?" tanya Ryan.
"Sudah, Ryan. Aku mau membersihkan dapur dulu," jawab Bella.
Ryan kembali ke pekerjaannya, sementara Bella sibuk membersihkan dapur dan merapikan rumah. Pada saat siang hari, mereka bersama-sama menonton televisi di ruang keluarga.
Bella duduk di samping Ryan dan menatapnya dengan lembut.
"Bisa aku tanya sesuatu?" tanya Bella dengan suara lembut.
"Ya, tentu saja, apa itu?" jawab Ryan sambil mematikan televisi.
"Aku penasaran tentang makanan kesukaan ibumu. Karena ibumu akan datang dalam 3 hari lagi, aku ingin memasakkan makanan yang ia sukai," ujar Bella.
Ryan tersenyum dan mengelus lembut tangan Bella. "Ibu suka masakan Indonesia, khususnya masakan Padang," ujarnya.
"Oh, aku lihat di sini ada restoran Padang, mungkin kita bisa makan malam di sana bersama ibumu nanti?" kata Bella dengan senyum manisnya.
Ryan mengangguk. "Baiklah, itu ide yang bagus. Aku yakin ibu akan senang."
Bella mengambil ponselnya dan memesan meja untuk 3 orang di restoran Padang tersebut. Ryan dan Bella kemudian melanjutkan menonton televisi sambil berbincang-bincang tentang ibu Ryan dan rencana makan malam mereka.
Tiba-tiba Bella mengalihkan topik pembicaraan. "Ryan, maaf kalau aku terlihat curiga tentangmu dan Lisa. Aku tahu kita harus saling percaya dan aku seharusnya tidak meragukanmu," ujar Bella dengan nada rendah.
__ADS_1
Ryan merasa sedih mendengar ucapan Bella. Ia meraih tangan Bella dan menatapnya dengan penuh kasih sayang. "Tidak apa-apa, sayang. Aku mengerti kalau kamu merasa cemburu. Tapi percayalah, aku hanya mencintaimu," kata Ryan dengan tulus.
Bella tersenyum lega mendengar ucapan Ryan. Ia tahu bahwa Ryan memang benar-benar mencintainya dan tidak akan pernah menyakitinya. Mereka kemudian berpelukan dengan mesra, merasakan kehangatan satu sama lain.