Jodoh Tuan Muda

Jodoh Tuan Muda
Han


__ADS_3

Di sepanjang jalan aku hanya berpikir tentang kata-kata papi.


Apa salahnya membantu orang lain keluar dari permasalahan mereka?


Apa salahnya membantu meringankan kesusahan yang sedang dialami orang lain?


Lagipula aku tidak punya bakat di bidang di industri yang digeluti oleh keluarga kami.


Aku masih muda, nanti kalau sudah waktunya aku pasti kerja. Sekarang aku mau berkelana dulu, aktif di bidang sosial, hang out sama temen-temen. Kenapa papa sama yeye maksain sesuatu yang aku sendiri belum siap? Kenapa mereka memaksaku untuk mengerjakan sesuatu yang tidak kusukai?


Berbagai jawaban atas permintaan papi dan yeye yang naif dan egois berkecamuk di kepala.


"Ko....sudah sampai...!" Aku kaget saat Lana menepuk pundakku. Ternyata kami sudah sampai di toko milik nya.


Di luar ekspektasiku, ternyata tokonya hanyalah bangunan kecil. Kira-kira hanya tiga kali empat meter. Kukira tokonya berada di pusat perkotaan yang tempatnya luas dan terlihat megah. Ternyata kenyataannya sangat jauh berbeda.


Aku melepaskan helm dari kepalaku dan menaruhnya di stang motor bebek Lana. Kenapa dia bisa hidup sesederhana ini ya? Apa mungkin uncle Daniel hanya memberi uang jajan sedikit saja tapi itu tidak mungkin.


"Gradaakkkk!!!"


Bunyi rolling door yang sedang ditarik ke atas oleh Lana cukup keras membuat Orang-orang yang sedang berlalu lalang menoleh ke arah kami.


Ternyata letak toko milik Lana ini berada di luar pasar. Makanya jalanannya padat merayap. Posisinya berada di tengah-tengah area pertokoan di sepanjang jalan dan tidak terlalu mencolok.


Aku memperhatikan daerah sekitar situ sementara Lana membersihkan etalase dengan kemucing kemudian dia mengangkat plang papan promo keluar. Ia menaruhnya di trotoar tapi ia hadapkan kedepan.


"Kenapa nggak di miringin aja biar lebih keliatan ?" Tanyaku.


"Biar nggak ganggu jalan. Kasihan kalau ada orang mau lewat..." Katanya sambil tersenyum.


Sementara aku memperhatikan berbagai aktifitas yang dilakukan semua orang, Lana menyapu dan menata ini itu di dalam counter nya.


"Kamu nggak ada pegawai?"


"Ada ko.... tapi datangnya jam sembilanan nanti soalnya dia harus ngurusin ibunya dulu." Jawabnya sambil bekerja.


"Masa bosnya datang lebih awal daripada pegawainya...." Tanyaku penasaran.


"Ibunya sakit ko.... Jadi dia harus nyiapin semuanya dulu sebelum dia kesini..."


"Sakit apa?"

__ADS_1


"Stroke katanya...."


"Mas Lana..... beli pulsa.....!!" Tiba-tiba ada seorang ibu yang datang dengan membawa tentengan beraneka ragam sayuran.


Aku yang masih berada di luar bisa melihat keranjang yang dibawa si ibu ini penuh sesak.


"Peket internet yang kayak biasanya mas Lana.....!"


"Nomer apa, Indosat atau Telkomsel ?"


"Yang biasanya itu lohhh masak lupa siih....?"


"Saya periksa nomer hapenya dulu ya bu...."Kata Lana sambil mulai menggeser layar hape si ibu.


"Aktor nyasar dari mana ini mas Lana?" Tanya si ibu dengan suara agak dipelankan tapi masih bisa kudengar.


"Koko saya itu bu...." Kata Lana sambil tersenyum tapi masih tetap fokus pada layar hape konsumen di depannya.


Ibu itu melihat ku dengan seksama yang membuatku menoleh ke arahnya dan kami pun saling melempar senyuman.


"Baru tahu kalau mas Lana ini keturunan Cina...." Kata si ibu lagi yang tidak ditanggapi olehnya.


"Yang biasanya itu loh mas.... yang harganya 56 apa 57 ribu itu loh..."


"Oh....ini yang 57 ribu ini dapatnya 19 gb. Kuota nasional 2, lokal 10, chatting 7..."


"Ya pokoknya yang biasanya itu...." Kata si ibu sambil mengeluarkan uang lembaran 100 ribuan.


Setelah Lana memberikan kembalian ibu itu menoleh padaku lagi tapi aku cuek saja. Malas meladeni yang caper-caper begini. Aku pun masuk ke dalam ruangan sederhana yang terdapat banyak dagangan milik Lana.


"Makasih ya bu...." Kata Lana ramah.


"Iya mas sama-sama. Boleh kali kalau mau kenalan sama anak saya yang baru liulus kuliah...." Katanya sambil menatapku lagi.


"Haha.... jangan bu.... Nanti ada yang marah...." Jawab Lana sambil tertawa.


"Memangnya siapa yang marah?" Tanyaku sambil menelisik mukanya yang selalu ceria ketika si ibu tadi sudah pergi.


"I ' ie lah ko.... Emang siapa lagi? Atau mungkin sekarang koko udah punya pacar ya ko?"


"Pacar apanya?" Jawabku pesimis.

__ADS_1


Ada orang yang kutaksir tapi dia menolakku saat pertama kali bertemu, batinku miris.


"Mas La-na!"


"I-ya!" Jawab Lana mengikuti irama seorang gadis yang kini berdiri di depan toko.


"Voucher Telkomsel yang 2.5 lima hari mas...!"


"Tiga belas ribu..." Jawab Lana sambil mengangsurkan vocer yang diminta pada si gadis.


"Siapa tuh mas, bagi ig nya dong....!" Kata si gadis kecil sambil menutup mulutnya dengan tangan setelah tadi ia melirikku.


"Jangan..! orangnya lagi bete.... Nanti dia marah...!" Jawab Lana sambil menutupi mulutnya dengan tangan tapi suara mereka jelas terdengar di telingaku.


Si gadis hanya mencibir sambil berlalu pergi.


Setelah itu orang-orang hilir mudik untuk membeli pulsa paket dan vocer sementara aku duduk di meja kasir sambil membantunya menjadi kasir dadakan.


Sekitar jam sembilan pegawai Lana yang ternyata masih berusia sekitar 18 tahun datang dan ia langsung disibukkan dengan para pembeli yang keluar masuk.


Kami sempat dikenalkan ole Lana tapi setelah itu aku kembali duduk di kasir sementara mereka berdua melayani pembeli.


Diantara riuh rendah suara-suara manusia dan bisingnya jalanan pasar aku baru menyadari bagaimana setiap orang berjalan kesana kemari untuk mencari rezeki. Ada yang mengangkut galon, menawarkan serbet pada setiap orang yang lewat, ada yang mengantri sampai panjang untuk membeli minyak yang dibanderol dengan harga dibawah dua puluh ribuan.


Selama beberapa tahun berkecimpung di bidang sosial kenapa baru kali ini aku baru tahu kalau setiap orang bekerja hilir mudik kesana kemari untuk mencari rizki? Ternyata tidak semua orang mendapatkan kemudahan untuk mendapatkan uang seperti keluargaku.


Pikiranku campur aduk antara merasa bersalah karena selama ini hanya berpangku tangan tanpa mau bekerja tapi di sisi lain aku masih mempertahankan egoku bahwa selama ini apa yang telah kulakukan itu benar dan tidak salah. Justru aku membantu papi dan yeye untuk bersedekah. Kalau tidak begitu mana mau mereka mengeluarkan uang buat bersedekah ? Benar begitu kan?


Setelah pembeli agak berkurang akhirnya Lana bisa duduk-duduk santai sambil melihat ponselnya.


"Beli bubur kacang ijo tiga ya Pur!" Kata Lana menyuruh Purwanto.


"Apa uncle nggak nawarin tempat yang lebih bonafit di pusat kota nyo?" Tanyaku pada lelaki yang usianya dua tahun dibawahku ini.


"Waktu pertama kali aku beritahu papa langsung nawarin bantuan buat carikan tempat tapi aku langsung nolak. Aku kepingin memulai semuanya dari bawah ko. Aku ingin tahu sejauh mana kemampuanku untuk mewujudkan cita-citaku..."


"Apa cita-cita you?" Tanyaku penasaran.


"Ada deh...." Jawabnya sok main rahasia-rahasiaan.


"Kenapa you bisa kerja keras seperti ini? Padahal kalau you mau Uncle Daniel pasti mau nransfer uang tiap bulan ke rekening you....." Kataku mencoba menggali alasan dibalik semua yang ia lakukan.

__ADS_1


__ADS_2