Jodoh Tuan Muda

Jodoh Tuan Muda
Mulai akrab


__ADS_3

Han dan Celin seakan berada di dunia lain karena hiruk pikuknya pasar sama sekali tak terdengar di telinga mereka. Tatapan mata dari setiap manusia yang ada disana untuk keduanya seolah tak mengusik ruang penglihatan mereka. Keduanya seakan berada di alam bebas di tengah tumbuhan hijau yang menghampar di atas bumi dan hanya ada mereka disana. Tak ada makhluk lain yang terlihat.


Hanya saja baik Celin maupun Han tak menyadari tentang hal itu. Mereka begitu khusuk berbincang berdua. Fokus mendengarkan lawan bicaranya dengan hati yang mulai merasakan kenyamanan satu sama lain. Tanpa disadari percikan asmara mulai merambat dalam sanubari.


"Tadi malam.... " Celin ingin bertanya apa yang terjadi semalam karena ia belum ingat sepenuhnya tapi ia masih merasa canggung pada Han yang tadi malam sudah ditolaknya.


"Siapa lelaki semalam?" Tanya Han tanpa ekspresi.


Celin menoleh pada lelaki yang berdiri di sampingnya agak sedikit ke belakang. Memang dia tampan sayangnya dia bukan yang kucari, batin Celin mengagumi Han yang kini sedang melihat ke arah depan.


"Namanya Han, dia mengirimkan data-datanya padaku dan kemungkinan dia adalah Han yang aku cari..." Kata Celin sambil memainkan jari-jarinya. Ia sendiri tidak yakin akan hal itu sekarang.


Mendengar hal itu sontak Han menoleh pada Celin dengan tatapan marahnya. Ia beranggapan kalau gadis cantik ini terlalu naif. Sebenarnya ia ingin marah-marah tapi Han tahu kalau dia tidak punya hak untuk memperlakukan Celin seperti itu.


"Caranya bicara mirip dengan Han ku dulu....." Kata Celin dengan raut muka kecewa.


"Lalu....?" Han masih bisa bersabar mendengar penjelasan Celin.


"Tapi.... saat aku meminta dia menceritakan kejadian waktu itu... dia malah mengarang cerita yang berbeda. Ternyata dia bukan Han yang kucari. Dia bukan Han ku..." Kata Celin dengan nada sedih.


Han mendengus kasar mendengar penuturan Celin. Bagaimana gadis secantik ini bisa terobsesi dengan seseorang di masa lalunya.


"Koh....!!" Suara mami Aya menyadarkan keduanya dari pembicaraan mereka yang belum selesai.


"Ya mi....!" Han bergegas mendatangi maminya dan dengan sigap mengambil kantong-kantong belanjaan yang ada di tangan Aya.


"Mami mau ajak Celin keliling pasar nggak papa ya Koh....?"


"Terus?"


"Koko nunggu di mobil aja. Habis ini anak-anak bawa belanjaan mami ke sana...!" Jelas Aya.


Han melirik Celin terlihat jelas kalau ia merasa keberatan berpisah dari Celin tapi sayangnya gadis itu seolah tak ada masanya tentang hal itu.


"Cik.... mau minta foto sebentar, boleh nggak?" Tanya pegawai wanita yang tadi melayani Sofiyah sambil berbisik di telinganya.


"Tanya langsung dong.....!" Kata Mami Aya menggoda. "Mau minta foto katanya...." Sofiyah menunjuk gadis tadi dengan gerakan kepala.


"Hehe....!" Si gadis malah cengengesan. Salah tingkah saat Han dan Celin sama-sama sedang memandangnya. Padahal cuma dilihat aja tapi sudah bikin dia grogi setengah mati.


"Sama siapa? Koko apa nonik?" Tanya Aya pada si gadis tadi.


"Emm..... dua-duanya Cik...." Jawab si gadis sambil berbisik lagi.


"Celin mau foto sama dia?" Tanya Mami Aya pada Celin yang sepertinya merasa kurang nyaman.


"Sekali aja ya...!" Sofiyah mengusap bahu Celin pelan agar gadis itu mau berfoto dengan gadis pegawai toko tadi.


"Buruan...Tin..... sekali aja ya! Kita masih ada acara setelah ini...!" Kata Aya memberi izin.


Si gadis bernama Kartini itu segera memposisikan dirinya di depan Han dan Celin yang kini berdiri berdekatan agar terlihat di kamera Tini. Kartini dengan centilnya tersenyum sambil jari-jarinya membentuk huruf v . Sayangnya dua orang di belakangnya hanya diam dengan mata menatap kamera.


Cekrek!!


"Sekali lagi ya koh.... senyum ko....!" Kartini merengek karena hasil jepretan yang pertama menurutnya kurang bagus.


"Sudaaah....!" Kata Aya tak enak hati pada Celin yang terlihat seperti tertekan.

__ADS_1


"Ayo sekali lagi....!" Han justru meminta take ulang karena ia juga ingin punya foto berdua dengan Celin.


Celin menatap Han seolah bertanya kenapa. Dan Han membalasnya dengan senyuman.


"Smile plis....!" Kata Han sambil menatap kamera Kartini dan memamerkan senyum tampannya pada benda berbentuk pipih itu.


Cekrek....!


Han mengambil hape Kartini dan memeriksa hasilnya. Ia tersenyum karena cukup puas dengan hasilnya.


"Nanti kirimin ke mami yaa.!" Han berbisik pada Tini yang membuat gadis itu bersemu merah.


Semoga saja ia tidak salah sangka dan kegeeran karenanya.


"Be careful mami.....!" Kata Han sambil membawa tentengannya kembali dan pergi dari sana untuk menuju ke tempat parkiran mobilnya.


Salah seorang pegawai lelaki kemudian mengikuti Han dengan membawa kardus berisi bahan-bahan kue milik Sofiyah.


Sementara itu mami Aya menggandeng Celin dan membawa gadis itu pergi ke tempat jajanan pasar. Sofiyah biasanya membeli banyak jajanan tradisional untuk mengobati kerinduan pada maminya. Dulu saat keluarga mereka sedang jaya-jayanya maminya pernah beberapa kali membelikannya jajanan tradisional. Dan ia masih ingat akan hal itu sampai sekarang.


" Maaf ya.... kalau Celin nggak nyaman sama orang Indonesia yang suka minta foto sama bule-bule" Kata Mami Aya dengan mengeratkan pegangannya pada Celin karena keadaan pasar sedang ramai-ramainya.


"I masih orang Indonesia aunty. Memang sedikit aneh masyarakat kita ini tapi ya apa boleh buat .... Kita diperlakukan seperti artis padahal kita ini orang biasa dan orang Indonesia pula....bukan bule seperti yang mereka sangka" Jawab Celin dengan suara lebih keras karena hiruk pikuk pasar menenggelamkan suara keduanya.


"kuenya Ci......!" Sapa setiap penjaga stand jajanan saat melihat Aya.


"Silahkan diserbu diserbu di serbu.... !!!" Suara bariton seorang lelaki menggelegar memenuhi lorong pasar. "Jajanan pasar tradisional dengan aneka macam rasa dan tampilan dari daerah-daerah di seluruh Indonesia yang tidak kalah dengan jajanan orang luar negeri...... Mari mari mari.... !!!! Dijual murah saja. Hanya seribu sampai lima ribu saja perbijinya..... Ayo ayo ayo ayo ayo di beli dibeli dibeli!!!Murah meriah......!" Seorang lelaki bertubuh tambun memakai kaos dan sarung sedang menjajakan jualannya di depan kios dengan menggunakan topi kelinci yang bisa ditarik dan telinga kelinci akan bergerak ke atas dan ke bawah.


Sofiyah kemudian menarik Celin ke situ karena tertarik dengan promosi yang dilakukan oleh bapak paruh baya tadi.


"Murah sekali aunty....!" Bisik Celin yang belum mengerti.


"Beli satu dapatnya satu bukan gratis satu....!" Kata Sofiyah menjelaskan yang kemudian baru disadari oleh Celin kalau itu cuma permainan kata dari si pedagang.


"Minta semuanya masing-masing tiga ya!" Kata Aya pada si ibu yang sedang melayani pembeli, mungkin istrinya si bapak.


"Abis ini ya ci....!" Kata si ibu yang kewalahan melayani para pembeli yang berjubelan.


"Iya...." Jawab Sofiyah sambil melihat aneka jajanan dengan berbagai bentuk dan varian. Ini pertama kalinya ia kesini. Biasanya ia beli jajanan yang serupa seperti itu di stand toko paling pojok di pertigaan jalan keluar. Promosi yang menarik membuat orang-orang tertarik untuk membeli di sini, termasuk Sofiyah.


Celin melihat tempat jualannya cukup bersih meskipun masih saja ada lalat yang berterbangan di sekitar kue-kue yang dipajang. Padahal semua berbungkus plastik atau daun.


Celin baru sadar kalau banyak yang mengambil gambarnya secara diam-diam saat pandangannya menelisik mengitari keadaan sekitar.


"Hai....!! Boleh minta foto?" Kata seorang gadis yang sedari tadi memvideokan Celin secara sembunyi-sembunyi.


Celin tersenyum dengan kaku karena merasa risih dengan keadaan itu. Sudahlah hawanya panas dan berdesakan ini malah minta foto segala. Ia merasa ketenangannya terusik.


Sofiyah yang melihat hal itu kemudian segera mengambil kresek yang sudah disediakan dan mengambil beberapa makanan yang menarik dan segera mengangsurkannya pada si bapak tadi untuk dihitung berapa jumlah yang harus ia bayar. Ternyata si bapak juga bertugas menjadi kasir karena sedari tadi ia yang menerima uang dan memberi kembalian kepada para pembeli.


" Senyum sayang...!" Kata Sofiyah memberi semangat pada Celin agar mau tersenyum pada kamera si gadis meskipun Celin belum menyatakan bersedia tapi gadis tadi sudah mengarahkan kameranya pada dirinya sendiri dan Celin.


"Makasih ya ... maaf kami buru-buru!" Kata Sofiyah sambil tersenyum pada penggemar dadakan Celin dan segera menarik si cantik yang sedari agar mereka bisa segera keluar dari kerumunan.


Sofiyah mengajak Celin berlari untuk keluar dari area pasar menuju ke tempat parkiran karena sejak masuk ke dalam pasar gadis blasteran itu menjadi pusat perhatian setiap orang.


"Huft huft.......huft....!" Nafas Sofiyah tersengal-sengal ketika keduanya sudah sampai di samping mobil Han.

__ADS_1


"Kenapa mi?" Han buru-buru keluar dari mobil saat melihat maminya bernafas dengan terengah-engah seolah habis dikejar-kejar orang.


"Ayo masuk dulu....!" Kata Aya sambil menyerahkan kresek yang dibawanya pada Han. Dia masih mencoba menetralkan nafas nya yang tidak beraturan.


Mereka bertiga pun segera masuk ke dalam mobil dan menempati posisinya seperti semula. Han di depan sebagai pengemudi sedangkan Mami Aya dan Celin duduk di kursi penumpang.


"Hah..... ternyata umur itu tidak bisa berbohong. Dulu biasa saja kalau lari-lari, sekarang lari sedikit saja capeknya sudah setengah mati..." Tangan Aya masih memegang dadanya yang berdetak kencang karena olahraga yang dilakukan secara tiba-tiba tanpa pemanasan terlebih dahulu.


"Kalau masih muda itu enak.... " Manik mata Aya memandang gadis yang duduk disampingnya. Ia merasa iri karena Celin tak terlihat lelah sama sekali.


"Di Belanda kami sudah biasa berjalan. Kalau seandainya perjalanannya cukup jauh kami biasanya menggunakan sepeda...." Kata Celin menjelaskan.


Ia jadi merasa seperti sedang berada di tengah keluarganya. Ia pun mulai tak canggung lagi untuk berkata panjang lebar di depan Sofiyah dan Han.


"Iya ya, di Indonesia itu sedikit-sedikit naik mobil. Masih jarang yang suka jalan kaki. Lagipula kalau Celin jalan kaki seperti tadi, mungkin semua orang kayak tadi. Semuanya pada minta foto. Ya inilah kita.... orang Indonesia" Sofiyah mendesah mengingat kebiasaan orang Indonesia adalah kebiasaannya juga.


"Pakai masker saja biar enggak kelihatan cantiknya" Han ikut nimbrung diantara pembicaraan kedua wanita yang duduk di belakangnya sedang pandangannya fokus ke depan.


"Memangnya Celin cantik ya koh?" Tanya Mami Aya menggoda putranya.


"Kan setiap wanita mi?" Han mencoba mengecoh dirinya sendiri.


"Ehm.....!" Sofiyah berdehem mendengar jawaban putranya.


"Sudah berapa lama sih nggak ke Indonesia? Ngalamin culture shock nggak?" Tanya Sofiyah sambil memandang Celin yang masih saja cantik.


"Sejak SMA sudah nggak pernah ke sini lagi kira-kira 5 atau 6 tahun yang lalu. Tadi waktu lihat pasar cukup kaget juga sih soalnya dulu seingat saya.. waktu lewat depan pasar kayaknya kumuh gitu dulu. Sekarang sudah cukup bersih dan tempatnya lebih tertata meskipun kalau dibandingkan dengan Belanda masih sangat jauh. Yang buat Celin shock tadi itu, waktu orang-orang itu....kayaknya tiap orang membawa kresek barang belanjaan. Kayaknya habis beli apa saja pakai kresek. Beli sayur pakai kresek, habis beli tempe pakai kresek, habis beli ini pakai kresek, habis beli itu pakai kresek. Di Belanda sejak tahun 2016 pemerintahnya menerapkan larangan pemberian kantong plastik secara cuma-cuma.


Edukasi diberikan kepada masyarakat agar setiap orang tahu bahayanya sampah plastik. Jika dibuang begitu saja


sebagian besar akan berakhir di lautan, yang akibatnya bisa berbahaya bagi kelangsungan hidup para makhluk di dalamnya.


Walau sudah terbuang, sampah plastik tak bisa terurai dengan cepat. Dibutuhkan waktu hingga sampai 1.000 tahun sampai bisa terurai dengan baik dan hilang dari bumi.


Pusat perbelanjaan dan toko-toko roti maupun daging juga menerapkan peraturan itu dengan meminta pembeli membawa kantong sendiri dari rumah atau mereka bisa menebusnya dengan harga yang cukup mahal. Adapula yang memberikan kantong dari kertas jika ada pembeli yang meminta kantong kresek.


"Semoga kedepannya seluruh masyarakat Indonesia juga mau menjalankan hal serupa bersama-sama. Jadi kita bisa sedikit berbuat baik untuk alam sekitar kita. Padahal tadi mami bawa kantong sendiri lho tapi lupa waktu lihat Celin di serbu para penggemar nya" Katanya sambil membuka tasnya dan mengeluarkan tas kantong belanjaan miliknya yang terlipat rapi.


"Diserbu penggemar gimana mi?" Tanya Han penasaran.


"Itu tadi pada minta foto.... kalau menurut Mami sih kalau ada orang minta foto ya kasih aja waktu sebentar terus jangan lupa senyum.


Dulu mami juga kayak kalian gitu kalau tiba-tiba pas jalan sama papi ada yang minta foto. Rasanya aneh dan cukup mengganggu kenyamanan kita. Tapi suatu saat Mami pernah lihat ada artis Indonesia yang hatersnya itu banyak sekali, yang nyanyi alamat palsu tahu kan siapa? Itu dia selalu bilang kalau ada orang yang minta foto pasti di sempat-sempetin, alasannya dia bilang, namanya bisa besar seperti sekarang karena para penggemarnya. Toh apa susahnya memberikan waktu sedikit sambil tersenyum tapi bisa membuat orang lain bahagia. Katanya begitu, padahal dia itu orangnya pecicilan lho.


Dan netizen Indonesia itu Masya Allah ya. Apa-apa bisa aja jadi viral. Ada juga artis Indonesia yang terekam gak mau dimintain foto sama penggemar. Itu sampai heboh beritanya. Akhirnya dia klarifikasi, ternyata dia bilang sedang buru-buru mau ada syuting kok malah dicegat buat minta foto. Akhirnya dia minta minta maaf kalau nggak bisa memenuhi semua permintaan para penggemar.


Jadi.... kalian sampai nanti jadi tenar gara-gara nggak mau dimintain foto"


Celin memandang bola mata Sofiyah yang berbinar-binar saat bercerita. Ia jadi ingat mamanya yang lebih pendiam tak seperti wanita disampingnya. Ia jadi rindu pada mamanya.


"Celin mau telpon mama ya Aunty...?"


"Iya silahkan ! Sudah kangen ya sama mamanya...."


"Too much..." Jawabnya sambil mengambil ponsel yang ada di dalam tas kecilnya.


Han dan Sofiyah hanya menjadi pendengar saat Celin menelpon mamanya. Celin bicara dalam bahasa Belanda kadang campur bahasa Inggris dan Indonesia.

__ADS_1


__ADS_2