Jodoh Tuan Muda

Jodoh Tuan Muda
Celin


__ADS_3

Ama memelukku lama sekali. Ia nampak sudah tak kuat berdiri. Duduk diatas kursi roda di tengah-tengah ruangan yang luas tanpa sekat. Tempat ku bermain bersama para sepupu saat aku masih kecil dulu. Lebih tepatnya aku hanya melihat mereka karena wajahku yang terlihat Belanda sekali ditambah lagi dengan tubuh gembrotku yang mengundang decak kesal para sepupu dan orang tua mereka.


Meskipun begitu satu hal yang aku sukai dari tempat ini adalah Ama dan Apa sangat menyayangiku. Mungkin karena itu pula yang membuat mereka semua menjadi lebih benci padaku.


"Celin....." Ama meneteskan air mata dalam pelukanku yang berdiri dengan bertumpu pada kedua lutut ku.


"Sayaaaang ama....!" Tak pelak aku pun menangis karena terharu dan ingat betapa sayangnya Ama padaku.


"Kamu tambah cantik sekarang.... Ama hampir saja tak mengenalimu... " Kata Ama setelah melepaskan pelukan kami. Ia menangkup kedua pipiku dan memandangi cucunya yang sudah lama tak datang berkunjung ini.


"Ama juga semakin menggemaskan....." Balasku sambil menangkup wajahnya yang sudah penuh dengan keriput.


"Ahahaha..... Kenapa selama ini tidak ada yang menyadari kalau Ama ini menggemaskan? Kenapa cuma kamu yang tahu hal itu ?"


"Hehe..... Celin rinduuuu.... sekali pada Ama...." Kataku sambil menciumi tangannya yang lembut seperti bayi.

__ADS_1


"Kalau rindu kenapa tak pernah datang ke Indonesia ?" Ama sedikit menggerutu padaku.


"Ada banyak hal yang harus Celin lakukan di Belanda, salah satunya biar Celin bisa jadi cantik dan langsing seperti saudara-saudara Celin yang lain....." Jawabku.


"Baiklah.... alasan diterima tapi sekarang kamu sudah tidak boleh kemana-mana. Mamamu harus mau mengalah. Dia sudah memiliki cucuku ini selama bertahun-tahun sekarang dia harus mau gantian. Kamu harus menemani Ama sampai meninggal...."


"Ama ..... jangan ngomong gitu.... Ama harus panjang umur biar bisa menyaksikan Celin menikah dan punya anak....."


Ama tiba-tiba tersenyum kemudian ibu dari papa ku ini membelai rambutku.


"Kamu benar.... kamu harus menikah sebelum nenek meninggal.... Kamu sudah ketemu Tuan muda Han kan?"


"Dia bukan Han yang Celin cari Ama...."


"Tuan muda Han sudah setuju untuk melanjutkan perjodohan ini. Ini juga menjadi salah satu wasiat dari Apa mu Celin...." Kata Ama sambil menggenggam tanganku.

__ADS_1


Kami saling memandang untuk memberi pengertian lewat sorot mata masing-masing. Aku ingin menikah dengan orang yang tepat, dengan orang baik yang mencintaiku tanpa pamrih dan menerima segala kekurangan yang ada padaku.


"Apa pernah berjanji pada keluarga besar Han akan menikahkan cucu-cucu kami. Ama berharap kamu menepati janji Apa agar dia tenang di alam kuburnya...."


"Celin tidak ingin berakhir seperti mama papa. Celin ingin menikah sekali saja sampai waktu yang memisahkan kami... Celin harap Ama bisa mengerti..." Kataku sambil menaruh kepalaku di atas pangkuannya.


"Kalau dia tidak mau kenapa harus dipaksa Ama? Aku lebih mengenal keluarga Han daripada Celin. Kenapa Ama tidak menjodohkannya dengan Luna?" Salah satu sepupuku ikut menyela pembicaraan kami.


Ama melihat Luna sesaat kemudian kembali melihatku. Sepertinya Ama sangat berharap agar aku yang mau dijodohkan dengan Tuan muda Han Itu.


"Apa berharap kamu yang akan menjalani perjodohan ini ...." Kata Ama pelan.


Aku merasa menjadi cucu yang tega pada neneknya tapi hatiku tak bisa dipaksa. Aku tak mau anak-anak ku seperti aku dulu. Cukup aku yang hidup dengan penuh kesedihan, tidak dengan anak-anakku.


"Ama pilih kasih....!!!" Luna menghentakkan kakinya kemudian keluar dari ruang tamu tempat kami berbincang sejak tadi.

__ADS_1


Keluarga besar papa yang tadinya menyambutku kini melihatku dengan tatapan penuh selidik. Mereka seperti membenciku untuk yang kedua kali.


Tuan muda Han.... mungkin sebaiknya kami berbincang-bincang lagi untuk membicarakan semuanya. Aku harap ia tak lagi memaksakan perjodohan ini.


__ADS_2