
Celin melihat ponselnya yang berdering kemudian segera meninggalkan Han yang masih berdiri terpaku di tempatnya. Lelaki dewasa itu begitu kesal pada Celin yang meninggalkannya begitu saja. Jatuh harga dirinya sampai ke dasar jurang yang paling dalam.
Han menatap kepergian Celin sampai gadis itu naik ke lantai dua. Ia menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya untuk menghilangkan kemarahan. Ia masih diambang kewarasan dan lebih memilih duduk kembali setelah menyadari kalau sedari tadi ia dan Celin menjadi pusat perhatian para pengunjung yang lain.
Han kemudian menaruh serbet di atas pangkuannya dan mulai memakan steik pesanannya. Belati kecil berada di tangan kirinya dan dia gunakan untuk mengiris daging steik yang matang 80 persen itu. Ditangan kanannya ada garpu yang ditancapkan pada daging kemudian daging yang sudah teriris kecil ia masukkan ke dalam mulutnya.
Netranya tak sengaja melihat uang yang ditinggalkan oleh Celin tadi. Ia segera mengambilnya kemudian memasukkannya ke dalam dompetnya. Lumayan, satu lembar uang kertas berwarna merah. Bisa dijadikan jimat untuk menarik hatinya.
Han tersenyum kecut menanggapi kekonyolannya sendiri. Sudah lama tak naksir gadis tapi sekalinya sudah tertarik pada lawan jenis ia justru ditolak mentah-mentah sebelum menyatakan cinta, ditinggal begitu saja.
Makanan yang ada di depannya ia habiskan sampai habis tak bersisa. Berharap makanan yang sudah masuk ke dalam perutnya bisa mengurangi rasa tidak percaya dirinya. Ia pun mengusap bibirnya dengan serbet yang ada di atas pangkuannya seperti kaum atas.
Saat ia sudah berdiri hendak pergi meninggalkan meja ia membuang nafasnya keras-keras kemudian mendaratkan pantatnya dengan kasar di atas kursi.
Dengan mata terpejam ia meminum orange juice milik Celin dan meneguknya beberapa kali hingga habis. Perutnya terasa penuh dengan makanan dan minuman sampai tak tersisa ruang untuk udara.
Saat ia selesai membayar makanannya pandangannya melihat Celin yang kini sedang berjalan dengan seorang pria sambil berpegangan pada lengannya. Tampak akrab dan mesra sekali.
Han merasa tertampar karena merasa kalau Celin mempermainkannya. Dia bilang sedang mencari seorang pria bernama Han tapi sekarang dia malah nampak intim dengan seorang pria padahal belum ada satu jam sejak mereka bertemu.
__ADS_1
Merasa tak terima, Han kemudian berjalan dengan tergesa-gesa menuju Celin dan si pria yang kini sedang membuka pintu mobil untuk Celin.
Ia menyentak tangan Celin sampai tubuh gadis itu jatuh dalam pelukannya. Han sudah kehilangan kesabaran dan tak perduli lagi meskipun semua mata sedang memandang mereka.
"Siapa kamu ?" Tanya lelaki yang bersama Celin.
"Aku calon suaminya...." Jawab Han sambil memeluk Celin yang sama sekali tidak memberontak. Gadis itu malah mengendus bau parfum mewah yang menguar dari tubuh Han dengan mata terpejam.
"Aku tidak percaya. Celin tadi tidak mengatakan apa-apa. Kamu jangan menagada-ada...!!" Lelaki itu mendorong lengan Han tapi Han tak bergeming.
Justru Celin yang bereaksi. Gadis itu perlahan membuka matanya.
Tak ayal hal itu membuat darah Han berdesir tapi ia masih waras dan memilih mengabaikan Celin yang terlihat aneh, Han bahkan mengira kalau Celin kini sedang mabuk.
"Kau mencekokinya dengan obat ya ?" Tuduh Han sambil tetap memeluk Celin.
"A-aku? Tidak....! Untuk apa?" Terlihat sekali kalau lelaki tadi gerogi dan mulai ketakutan.
"Oh ya? Lalu mau kau bawa kemana dia?" Tanya Han mengintimidasi.
__ADS_1
"Ta-tadi dia minta diantarkan pulang ke apartemennya..." Jawab lelaki itu gugup.
"Dimana apartemennya ?" Tanya Han galak padahal dia sendiri belum tahu dimana apartemen Celin.
"Eh....ituuu.... di...."
"Dimana ?" Han semakin mendesak si lelaki yang terlihat hidung belang ini.
"Eh...itu... tadi..... dia belum sempet mengatakan dimana?"
"Oh ya.... siapa namamu? Aku akan menelpon neneknya untuk memastikan kalau keluarga nya mengenalmu..."
"Tolong antarkan dia ke rumahnya karena aku sedang ada perlu dan harus pergi buru-buru...." Kata lelaki tadi. Dia kemudian bergegas menutup pintu belakang dan berlari menuju ke pintu dekat kemudi.
Tak lama setelah itu mobilnya sudah melaju meninggalkan Han dan Celin yang kini nampak seperti orang pacaran. Berpelukan mesra membuat Han berkali-kali menelan ludah.
Satu tangan Han merengkuh tubuh Celin agar gadis itu tak jatuh sedang kan tangan yang lainnya berusaha menggapai ponselnya untuk memesan mobil online untuk pulang karena tadi dia datang membawa motor kesayangannya.
Celin yang memejamkan mata tak bisa lagi diajak bicara membuat Han menahan diri untuk tetap berdiri menunggu mobil pesanan mereka datang.
__ADS_1