Jodoh Tuan Muda

Jodoh Tuan Muda
Kediaman Adi Wijaya


__ADS_3

Han memilih membawa Celin pulang ke rumah keluarganya karena dia tidak tahu harus mengantarkan Celin kemana. Ia ingat keterangan dari Yeye yang mengatakan kalau Celin tinggal di apartemen sendirian sedangkan orang tuanya tinggal di rumah yang berbeda, begitu pun dengan rumah nenek Celin.


"Han.....!" Maminya membelalakkan mata saat melihat putranya sedang menggendong seorang gadis yang berpakaian minim dengan tubuh moleknya.


"Tolong bukain kamar tamu dulu mi, nanti Han cerita "


Buru-buru Mami Sofiyah membuka kamar tamu yang pintunya terkunci. Sedangkan papi Basofi yang duduk di kursi ruang tengah menatap putranya dengan wajah penuh selidik. Untung penghuni rumah lainnya sudah masuk ke kamar masing-masing karena malam ini hawanya cukup dingin.


"Sudah sana...!" Mami Aya mengusir anaknya yang masih berdiri sambil memandang Celin yang sudah ditaruhnya di atas tempat tidur.


Han menghembuskan nafasnya kemudian keluar dari kamar tamu. Ia menuju ke ruang makan terlebih dahulu untuk minum air karena tenggorokannya terasa haus setelah ia menggendong Celin. Bukan karena gadis itu terlalu berat tapi karena hatinya yang sedari tadi berdesir tak tahu tempat. Bagaimana halusnya kulit Celin dengan dua bongkahan padatnya yang kini berjejalan di dalam kepalanya.


Sementara itu mami Sofiyah membenarkan posisi Celin agar gadis itu bisa tidur dengan nyenyak. Diselimutinya gadis cantik yang sama sekali tak membuka mata, ia sama sekali tak terganggu meskipun badannya dipindahkan kesana kemari oleh mami Aya.


Mami Aya yang baru pertama kali melihatnya secara langsung mengakui kecantikan wajah Celin. Meski sesama wanita mami Aya tahu kalau tubuh Celin adalah tubuh ideal yang didambakan setiap wanita dan diinginkan oleh pria. Pantas saja kalau Han kepincut dengan pesonanya.


Setelah selesai mami Aya menutup pintu dan berjalan menuju ruang tengah. Suami dan putranya sudah duduk manis disana menunggunya.


"Gimana ceritanya Han?" Tanya mami Aya dengan tak sabaran.


Han memainkan gelas yang ada ditangannya. Wajahnya terlihat gusar seperti enggan untuk bercerita.


"Han...!"


"Kami tadi cuma ketemuan sebentar saja di restoran setelah itu Celin meninggalkan Han dan pergi ke lantai dua"


"Kalian tidak makan malam bersama ?" Tanya mama Aya lagi.


Han menggelengkan kepalanya sambil menunduk dan itu terlihat menyedihkan di mata maminya.


"Kalau nggak dinner terus ngapain ketemuan?"


"Dia.... dia cuma mau bilang kalau dia tidak menginginkan perjodohan ini" Jawab Han terbata-bata dibalut rasa malu dan tidak percaya diri.

__ADS_1


"Ehem....!!" Papi Basofi yang sedari tadi diam saja mendengarkan percakapan anak dan istrinya mulai berdehem. Sebenarnya ia ingin sekali tertawa melihat putranya yang sedang sedih karena ditolak seorang gadis. Sikap macam apa itu, lelaki kok lembek begitu.


Mami Aya dan Han memandang papi Babas dengan mata sipit mereka yang membuat Babas menelan ludah dan segera memalingkan mukanya.


"Setelah ngomong begitu Celin langsung pergi?" Mami Sofiyah lanjut interogasi.


"Hem.... bahkan minumannya aku yang minum...."


"You makan sendirian?" Mami Aya menginterupsi putranya sampai paham betul apa yang terjadi di restoran tadi.


Sekali lagi Han menganggukkan kepalanya sambil menunduk. Hatinya sedih campur malu.


"Setelah Celin pergi ke lantai dua lalu you makan sendirian setelah itu....?"


"Ketika mau pulang I lihat Celin bergelayut manja pada lengan seorang lelaki. Lalu Han mendatanginya mi...."


"Kamu cemburu?" Papi Basofi memotong perkataan Han yang belum selesai.


Han hanya melengos saja tanpa berkata apa-apa dan itu semakin membuat si papi ingin menertawakan putranya yang melow.


Sofiyah melihat wajah sedih putra semata wayangnya dan ia tahu kalau Han tidak ingin memaksakan kehendaknya pada Celin. Meskipun usianya sudah bisa dikatakan dewasa namun sifat Han terkadang kekanakan bahkan kadang terkesan manja.


"Lantas kenapa sekarang dia tak sadarkan diri?"


"Itu juga Han tidak tahu mi. Padahal tadi saat datang dia baik-baik saja. Waktu dia sama lelaki tadi jalannya sudah agak sempoyongan tapi dia masih bisa berjalan. Lalu saat Han menariknya dia cuma melihat Han sebentar kemudian tak sadarkan diri. I nggak tahu harus bawa dia pulang kemana jadi Han bawa dia ke rumah mi...."


Han menjelaskan secara detail kejadian yang baru saja ia alami pada maminya.


"Kalau mami bisa meyakinkan Celin agar mau melanjutkan perjodohan ini bagaimana?"


Han memandang wajah maminya karena belum mengerti dengan pertanyaan mami Aya.


"Kalau mami bisa meyakinkan Celin, apa kamu mau bekerja sama papi?" Jelas mami Aya yang menginginkan perjanjian simbiosis mutualisme dengan putranya sendiri.

__ADS_1


"Entahlah mi....!" Jawab Han bimbang.


Di satu sisi dia tidak ingin Celin melakukannya dengan terpaksa tapi di sisi lain ia tak rela kalau Celin sampai berakhir dengan pria lain.


Basofi yang kesal dengan putranya yang tidak punya pendirian ini kemudian pergi meninggalkan istri dan anaknya menuju ke kamarnya. Ia merasa gagal sebagai seorang ayah karena tidak bisa menjadikan putranya sebagai seorang pria sejati. Sudah tidak mau bekerja tidak punya pendirian juga.


"Mami tunggu jawabannya sampai besok pagi!" Kata Mami Aya kemudian segera berjalan menyusul suaminya. Sudah malam ia tak ingin berdebat dengan putranya.


.


.


.


Selepas sholat Subuh mami Aya segera menuju ke kamar tamu untuk melihat Celin. Han sudah setuju untuk bekerja di perusahaan keluarga karena itu sekarang waktunya menjalankan misi untuk meyakinkan Celin.


Ternyata gadis itu bahkan belum membuka matanya, masih asyik bergelung di bawah selimut yang sudah tidak beraturan. Kakinya jenjangnya bahkan terekspos dengan indah.


"Haish...!!" Han yang baru mengintip kamar tamu yang sudah terbuka itu mendesis sambil berjalan pergi. Pagi-pagi sudah dapat suguhan indah dan menggiurkan tapi belum halal.


Mami Sofiyah menoleh sambil tersenyum melihat ulah putranya. Ia bersyukur meskipun Han punya banyak kekurangan tapi dia masih bisa menjaga dirinya dari pergaulan bebas. Itu yang selalu disyukuri oleh Aya.


Celin membalikkan badan saat merasa kan kehadiran seseorang di sampingnya. Ia mengucek mata dan melihat siluet wanita berkerudung sedang duduk di sampingnya.


Celin memejamkan mata mencoba mengingat kejadian sebelumnya. Ia memijat kepalanya yang berdenyut nyeri.


Ia langsung terlonjak bangun saat menyadari kalau saat ini ia tidak sedang bersama keluarga atau orang yang dikenalnya.


"Sudah bangun?" Suara keibuan Sofiyah mampu menghipnotis Celin yang belum sepenuhnya sadar. Ia pun segera menganggukkan kepala kemudian memindai tubuhnya sendiri dan bernafas lega saat mengetahui kalau baju yang fia kenakan masih sama dan masih melekat di tubuhnya.


"Sa-saya sedang ada di mana ini?" Tanya Celin ragu.


"Kamu sedang ada di rumah keluarga Han........ Barangkali mau ke kamar mandi dulu setelah itu kita bicara. Kamar mandinya di sebelah sana....! Barang kali mau ganti baju silahkan pakai baju yang ada di lemari sini!" Mami Aya menunjuk tempat-tempat yang disebutkannya.

__ADS_1


"Tidak usah panik....! Anggap saja di rumah sendiri!" Kata Aya sambil menoleh sebelum akhirnya menutup pintu.


Meninggalkan Celin yang masih kebingungan sendirian. Gadis cantik itu kemudian memaksakan diri untuk berdiri meski kepalanya cukup berat dan rasanya ingin terus berbaring di atas kasur kalau dia tidak ingat sekarang ini sedang berada di mana.


__ADS_2